PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SITUASI DI ISTANA PERUT BUMI


"Apa kamu datang kemari membawa teman ?"


tanya Meng Yu sambil menatap tajam kearah Fei Yang.


Fei Yang mengerutkan keningnya menatap Meng Yu dengan heran, sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah aku percaya padamu,.."


"Tapi bila berani menipu ku, pertemuan kedua kita nanti, aku tidak akan lagi mengampuni mu.."


"Rawatlah luka mu dengan baik, aku masih ada urusan.."


ucap Meng Yu kemudian melayang di udara berusaha secepatnya kembali ke Istana yang di jaganya.


Karena terlalu buru buru, sedangkan kondisinya belum stabil benar.


Meng Yu beberapa kali memuntahkan darah segar dalam perjalanan nya.


Sambil memegangi dada kirinya yang terasa sedikit nyeri, Meng Yu berusaha secepat mungkin kembali ke istana nya.


Dia sadar betul bila tidak dalam keadaan sangat terdesak, kedua ajudannya tidak mungkin melepaskan tanda bahaya.


Fei Yang yang mulai merasa ada yang tidak beres, dia segera mempercepat penyembuhan nya, dengan menelan beberapa pil berwarna putih, yang bisa membantu menyembuhkan luka dalam nya yang cukup parah.


Tenaga api dan es serta Qian Kun Im Yang Sen Kung, Fei Yang kerahkan untuk sesegera mungkin memulihkan luka dalam nya.


Fei Yang sadar pasti ada sesuatu yang terjadi di istana, makanya Meng Yu terlihat begitu khawatir.


Fei Yang sendiri juga cukup khawatir dan penasaran penuh tanda tanya.


Tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk berpikir banyak,.dia harus cepat memulihkan kondisi nya.


Bila sudah pulih, dia akan segera pergi mencari tahu, apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Beberapa saat kemudian Fei Yang yang merasa kondisinya mulai berangsur stabil, kekuatannya mulai pulih hingga 60%.


Tiba-tiba tanah tempat dia duduk bergetar hebat, yang di akibatkan oleh suara ledakan dahsyat, yang berasal dari arah Meng Yu pergi tadi.


Cahaya keemasan dan Cahaya kehijauan bersinar terang membumbung naik ke langit.


"Apa yang terjadi ?"


batin Fei Yang di dalam hati.


Fei Yang segera menghentikan proses pemulihannya.


Lalu dengan ringan dia melayang kembali kearah istana yang di jaga oleh Meng Yu dan kera emas.


Dari udara Fei Yang sudah melihat kekacauan, mayat mayat kera emas berserakan di atas lantai.


Mayat bertumpuk tumpuk, bercampur antara mayat kera emas dengan mayat manusia, yang dari seragam yang di kenakan, itu adalah pasukan kerajaan Pagan dan pasukan yang lainnya Fei Yang yakin itu adalah mayat pasukan Champa.


Selain itu mayat mayat hewan buas dengan kepala pecah juga terlihat berserakan di lokasi.


Fei Yang mendarat ringan di halaman tersebut, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Yang pertama dia temukan adalah mayat, kera emas besar, yang masih dalam keadaan tertotok, tidak bisa bergerak, dengan tongkat emas masih di tangan.


Tapi kepalanya sudah terpisah dari badannya, menggelinding diatas tanah, sedang melotot menatap kearah Fei Yang dengan penuh penasaran.


Dari keadaan ini, Fei Yang menebak, kera besar itu mati tanpa bisa melawan, karena tubuhnya terkena totokan darinya.


Dalam hal ini Fei Yang jadi merasa bersalah, secara tidak langsung dia lah penyebab monyet besar yang sakti ini mati mengenaskan.


Fei Yang berjongkok, kemudian menggunakan telapak tangannya membantu menutup sepasang mata monyet besar itu.


Tapi di ulang hingga dua kali, mata tersebut tetap tidak mau menutup.


Fei Yang pun menghela nafas panjang dan berkata,


"Harap kamu beristirahatlah dengan tenang di sana, siapapun pelakunya, aku pasti akan membantu mu membalasnya.."


ucap Fei Yang dengan perasaan bersalah.


Lalu dia kembali mencoba mengulanginya lagi, sekali ini dengan ajaib, sepasang mata monyet besar itu pun menutup sempurna.


Fei Yang menghela nafas sedih, lalu melayang ringan menuju halaman depan istana bagian atas.


Di sana Fei Yang kembali menemukan mayat kera emas dan pasukan kedua kerajaan berserakan, di samping itu juga ada beberapa ekor binatang buas seperti harimau, beruang, macan tutul dan macan hitam pada membujur kaku di sana dengan kepala pecah.


Melihat dari situasi ini, Fei Yang sadar pasti telah berlangsung pertempuran sengit dan mati matian di tempat ini.


Sehingga baru ada pemandangan yang begitu banyak korban membujur kaku di sana.


Fei Yang setelah melakukan pemeriksaan sejenak, dia pun bergerak memasuki kedalam ruangan sidang istana yang luas.


Di sini Fei Yang menemukan begitu banyak pasukan kerajaan Pagan dan Champa yang mayatnya bertumpuk tumpuk berserakan di sana.


Tiga tetua yang mengawal Shanti Dewi dan beberapa pawang hewan buas, juga terlihat terkapar di sana dalam posisi tak bernyawa.


Fei Yang menelusuri hingga masuk keruangan tengah istana, di sana juga terlihat mayat mayat pasukan kedua kerajaan bertumpuk tumpuk, berserakan di sana.


Fei Yang menggelengkan kepalanya melihat situasi tersebut.


Melihat begitu banyak korban di pihak kedua kerajaan, Fei Yang perlahan-lahan mulai sadar.


Kedua kerajaan itu datang kemari mendompleng dirinya dari belakang, tentu bukan dengan maksud baik, ingin membantunya menolong Wei Wen.


Sebaliknya kemungkinan besar mereka datang karena rakus dan tamak dengan harta Karun di tempat ini.


Selama ini harta Karun ini tak tersentuh, karena jalan menuju kemari penuh dengan bahaya.


Tapi setelah dia menerobos kemari membuka jalan, rombongan kedua kerajaan itu menjadi.lebih mudah bergerak kemari, tanpa harus melalui berbagai hambatan yang sudah di buka oleh nya.


Mereka juga menjadi jauh lebih enteng karena monyet emas yang sakti tertotok oleh nya.


Hanya saja mereka menemui hambatan yang cukup berat harus menghadapi kedua ajudan Meng Yu yang meski sudah terluka oleh nya.


Tapi mereka masih tetap sangat kuat dan sulit di tundukkan.


Fei Yang sambil menebak situasi yang terjadi, dia terus melangkah menyusuri istana yang cukup luas itu.


Di area pintu belakang istana akhirnya Fei Yang menemukan kedua ajudan Meng Yu gugur dalam tugas mereka dalam posisi berdiri.


Dengan sekujur tubuh penuh dengan luka panah tombak dan goresan pedang.


Sampai mati pun, mereka masih berdiri menghadang di depan pintu menuju halaman belakang.


Diam diam Fei Yang sangat kagum dengan kesetiaan kedua ajudan Meng Yu itu.


Pantas saja Chin Shi Huang Di, Ying Zheng pernah begitu berkuasa dan berhasil mempersatukan seluruh China daratan.


Semua ini menjadi sangat mungkin, bila dia memiliki bawahan setia dan sakti seperti Meng Yu dan kedua ajudannya ini.


Batin Fei Yang dalam hati.


"Yu Shu,...!! Jangan,..!! apa yang kamu lakukan,..!!!"


"Arggghhh,..!!!"


"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian semua, manusia rakus,..!!!"


Fei Yang tiba-tiba mendengar suara teriakan menggelegar, yang berasal dari halaman belakang istana.


Fei Yang segera melesat melewati mayat kedua ajudan Meng Yu.