
Fei Yang sendiri begitu keluar dari dalam portal dimensi, dia sudah kembali berdiri di hadapan ke 9 biksu tua di halaman belakang kuil.
"Bagaimana pendekar muda,? kamu sudah berhasil menemukan yang kamu cari ?"
tanya salah satu Biksu tua itu.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Terimakasih banyak, berkat bantuan dan doa dari biksu senior sekalian, Fei Yang akhirnya berhasil mendapatkan buah tersebut.."
Kesembilan biksu itu menganggukkan kepala mereka serentak dan berkata dengan kompak,
"Namo Budaya,..!"
Lalu mereka bersembilan pun melanjutkan meditasi mereka, menutup mata dan tidak berkata apa-apa lagi.
Fei Yang juga tidak berani lama lama di sana menganggu mereka.
Setelah memberi hormat kepada mereka semua, Fei Yang pun bergegas meninggalkan tempat tersebut.
Setelah keluar dari wilayah belakang kuil, Fei Yang langsung di sambut oleh Kok Beng lhama yang sudah menantinya di sana.
"Maaf pendekar muda, aku di tugaskan untuk menunggu dan membawa mu menghadap pimpinan kuil Halilintar, Dalaii lhama Candreva,. Charvaka dan Chudamani.."
ucap Kok Beng lhama sambil memberi hormat.."
Fei Yang membalas penghormatan Kok Beng lhama dan berkata,
"Silahkan Suhu,.."
Lalu Kok Beng lhama bergerak sebagai penunjuk jalan, membawa Fei Yang kembali kesebuah ruangan, yang menjadi tempat pertemuan pertama Fei Yang dengan Dalai lhama Candreva, sebelum dia pergi ke halaman belakang kuil menemui ke 9 orang biksu suci itu.
Setelah masuk kedalam ruangan, dan saling memberi hormat, Fei Yang pun di persilahkan untuk duduk di hadapan ketiga lhama kepala kuil halilintar.
"Bagaimana pendekar muda,? apa kamu sudah berhasil mendapatkan yang kamu cari..?"
ucap Dalaii lhama Candreva.
Fei Yang memberi hormat kemudian berkata,
"Berkat doa dari para Suhu, akhirnya Fei Yang di beri berkah, untuk mendapatkan barang langka yang Fei Yang cari."
"Namo Budaya,.."
ucap ketiga lhama itu menatap Fei Yang dengan penuh kagum.
Bila Fei Yang berhasil menemukan yang di carinya, berarti Fei Yang telah berhasil melewati ujian dari ke 9 paman guru mereka, yang sakti dan berhasil menahlukkan mahluk legenda itu.
Berpikir sampai disana, ketiga orang itu tidak bisa menutupi rasa kekagumannya terhadap kemampuan yang Fei Yang miliki.
Setelah berbincang bincang sejenak, Fei Yang pun pamit kepada ketiga biksu senior itu.
Lalu dia pun bergerak meninggalkan kuil halilintarh dan kota Lhasa, untuk melanjutkan perjalanan berikutnya menuju puncak gunung Khanchenjunga.
Burung Rajawali Emas dengan setia membawa Fei Yang terbang menuju puncak gunung yang dia cari.
Tapi cuaca di puncak Khanchenjunga bahkan jauh lebih buruk dari puncak Chomolungma.
Setelah memaksakan diri hampir seminggu mencoba terbang keatas puncak gunung bersama Kim Tiaw sahabatnya.
Akhirnya Fei Yang harus membatalkan menempuh perjalanan bersama Kim Tiaw.
Demi keamanan Kim Tiaw,. Fei Yang dan Kim Tiaw terpaksa berpisah di salah satu puncak terdekat dengan puncak Khanchenjunga yang tinggi menjulang menembus awan, hingga tidak terlihat puncaknya.
Meski dari bawah puncak terlihat cuaca sangat baik dan bersahabat.
Tapi begitu terbang menembus awan, cuaca pun langsung berubah drastis, angin kencang, badai salju, dan sambaran petir, siap menanti siapapun yang mencoba menembus awan, yang menutupi puncak gunung tersebut.
Setelah berpisah dari Kim Tiaw, Fei Yang mulai melakukan pendakian secara manual,. dengan mengandalkan ilmu ringan tubuh nya.
Dia bisa terbang ke udara mengendarai awan, hingga longsoran berhenti, Fei Yang baru turun melanjutkan perjalanan nya.
Fei Yang tidak mampu mengendalikan awannya, untuk menebus kearah puncak gunung.
Karena setiap dia mengendarai awan, dia akan mengalami hal yang sama seperti Kim Tiaw.
Kim Tiaw masih bisa mengandalkan sayap dan ekornya, untuk menembus badai dan melawan masuk
Tapi kalau awan begitu tertiup angin, kacau-balau lah arah tujuan Fei Yang, salah salah dirinya yang meluncur turun dari atas kebawah.
Fei Yang terus melakukan pendakian, meski terus di hadang longsoran salju.
Memasuki wilayah puncak yang tertutup awan, di mana ada longsoran salju dan badai dahsyat menghadangnya.
Fei Yang harus menggunakan ilmu ringan tubuhnya dan tenaga pukulan nya yang membantu nya untuk menerobos badai yang menerjang kearah dirinya.
Setelah memasuki wilayah pertengahan puncak, badai yang datang semakin kuat, hal ini membuat Fei Yang tidak bisa terbang lagi.
Fei Yang terpaksa bergerak sambil melangkah dan menggunakan sepasang pedangnya sebagai penahan, agar dirinya tidak terpental di terjang badai.
Dengan susah payah Fei Yang menerobos badai angin dan salju.
Akhirnya dia kembali di hadang oleh sebuah tebing yang tinggi menjulang keatas saking tingginya batas atasnya tidak terlihat.
Seolah-olah puncak gunung itu adalah sebuah tangga, untuk menuju langit.
Fei Yang mulai memanjat tebing curam tegak lurus itu, seperti yang dia lakukan saat mendaki dari sisi lain menuju puncak Chomolungma.
Longsoran salju dan batu gunung yang datang menerjang Fei Yang semakin lama semakin sering.
Fei Yang mencoba melewati rintangan seperti ini dengan melepaskan tapak api memecah longsoran salju, yang datang kearah nya.
Cara pendakian dengan cara ini sangat melelahkan dan menguras tenaga.
Tapi Fei Yang tidak punya pilihan lain, untungnya Fei Yang memiliki tehnik pemulihan tenaga yang sangat cepat, yang di dasarkan pada tehnik pengendalian kekuatan alam semesta dari kitab tanpa tanding.
Perjuangan keras Fei Yang akhirnya berhasil, dia akhirnya tiba di pinggir tebing, setelah naik keatas.
Sepanjang mata memandang hanya hamparan salju luas yang sedikit menanjak keatas.
Di sini angin tetap kencang badai salju dan petir pun masih kencang.
Hanya saja longsoran salju sudah tidak sesering di bawah sana.
Bila ada longsoran salju pun di sini terlihat dengan jelas saat datang, dan tidak terlalu besar.
Fei Yang terus menyusuri jalan yang terus menanjak keatas, sepanjang mata memandang hanya ada hamparan salju putih, yang menghiasi wilayah mendekati puncak tersebut.
Fei Yang terus bergerak keatas sambil terus mengedarkan pandangannya, mencari benda yang sedang di carinya itu..
Akhirnya Fei Yang tiba di sebuah hamparan salju yang tidak begitu luas dan datar.
Inilah bagian puncak tertinggi Khanchenjunga pikir Fei Yang dalam hati.
Fei Yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sambil terus bergerak mencari keberadaan kolam dipuncak gunung tersebut.
Setelah mencari kesana kemari, Akhirnya Fei Yang menemukan sebuah kolam di sebelah Utara.
Dari tempat Fei Yang harus bergerak menurun ke Utara.
Disana terlihat ada sebuah kolam air bening dan bersih.
Anehnya kolam itu tidak membeku saat terkena cuaca yang begitu dingin.
Melihat hal itu Fei Yang dengan hati gembira, segera bergerak menuju tempat tersebut.