
Guci arak yang melayang kearah wajah Fei Yang langsung hancur berkeping-keping sebelum menyentuh Fei Yang.
Karena membentur diagram kuno berbentuk Pat Kwa merah biru, yang muncul otomatis melindungi seluruh tubuh Fei Yang.
Li Dan yang sedang mabuk, menggeleng gelengkan kepalanya mengusir mabuk, lalu mengucek ngucek matanya, menatap kearah Fei Yang dengan kaget dan berkata,
"Kamu,..siapa kamu,..!?"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Teman lama, kamu tidak mengenal wajahku,.. setidaknya kamu kenal ini kan..?"
Fei Yang menghunus dua pedang mengeluarkan cahaya merah biru di kedua tangan nya.
"Bagaimana sudah ingat,..?"
tanya Fei Yang,.sambil menyimpan kembali kedua pedangnya.
"Ping,... Huo,.. Ta,.. Sia,...!!"
ucap Li Dan gugup.
Dia segera menegakkan badannya menatap kearah Fei Yang dengan sepasang mata terbelalak.
Sesat kemudian di saat pikiran dan pandangan nya mulai jernih, dia langsung menunjuk wajah Fei Yang dengan kaget.
"Kamu,..kamu,.. ! Afei,..! bagaimana mungkin..!?"
Fei Yang tersenyum lebar, menghampiri Li Dan dan berkata,
"Ayo teman, ikut dengan ku.."
"Tunjukkan pada ku, tempat yang enak untuk bicara dengan bebas berdua.."
"Nanti bila pekerjaan kita selesai, mau mabuk, aku akan temani kamu mabuk,.. tapi bukan sekarang.."
"Sekarang,.. waktunya tidak tepat.."
ucap Fei Yang menatap Li Dan dengan serius.
Li Dan tiba-tiba timbul gairah hidupnya, bila tidak berhasil jadi jendral di Xi Xia.
Biarlah dirinya ikut dengan Ping Huo Ta Sia bertualang, belajar satu dua jurus darinya, itu tentu akan jauh lebih baik daripada kehidupannya sekarang..
Berpikir seperti itu, langsung bangkit semangat Li Dan, dia langsung berdiri menepuk nepuk pakaiannya yang penuh debu.
Lalu dia bergegas berjalan naik keatas tembok benteng dan berkata,
"Ta Sia,..lewat sini.."
Fei Yang mengangguk, dia pun berjalan mengikuti langkah Li Dan dari belakang.
Mereka berdua terus menyusuri tangga naik keatas tembok benteng kota Yin Chuan.
Li Dan melewati beberapa petugas penjaga di atas tembok, tapi tidak ada yang berani menegur, bahkan menatap wajahnya, meski dia membawa bawa orang asing ikut naik keatas tembok, mereka memilih pura-pura tidak melihatnya.
Reputasi Li Dan yang pemabuk, ringan tangan, bahkan atasannya pun babak belur di hajarnya, membuat tidak ada orang yang berani mencampuri urusannya.
Li Dan mengajak Fei Yang naik keatas sebuah menara pengawas, di atas tembok benteng yang sepi.
Setelah tiba di atas menara, dan hanya ada mereka berdua, Li Dan pun berkata,
"Di sini aman Ta Sia, katakan lah apa yang bisa Li Dan lakukan untuk mu..?"
"Meski harus naik ke gunung golok, turun kelautan minyak panas, aku tidak akan pernah mundur.."
Fei Yang tersenyum lebar dan berkata,
"Teman, apa kamu benar benar tidak mengenali ku lagi.?"
Li Dan mencoba mengingat ingat dan memperhatikan dengan seksama.
Tapi dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku hanya tahu kamu Afei, lainnya aku tidak tahu.."
Fei Yang maju memeluk Li Dan dengan erat sambil tertawa gembira.
Sedangkan Li Dan hanya berdiri diam ditempat, dengan bingung menanggapi sikap Fei Yang.
Menyadari hal itu, Fei Yang sambil tertawa, berbisik di samping telinga Li Dan.
"Saudara sepupu, teman baik ku.."
"Apa,...,!!"
teriak Li Dan kaget.
Dia buru-buru menjauhkan Fei Yang dan berkata,
"Afei kamu serius,..? hal ini tidak boleh di buat candaan,.aku akan marah..!"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Tentu saja aku serius saudara ku, aku adalah Li Fei Yang, Ping Huo Ta Sia, juga Afei.."
"Kami adalah orang yang sama.."
"Kalau tidak percaya, seminggu lagi Nenek ayah ibu ku dan Sian Sian kembali ke ibukota, kamu boleh tanya ke mereka.."
"Ini adalah kalung masa kecil ku, kamu tentu masih mengingatnya bukan..?"
ucap Fei Yang sambil menunjukkan sebuah liontin, yang berada dalam telapak tangannya.
Li Dan menatap liontin itu dengan tatapan mata tak percaya, lalu menatap wajah Fei Yang lekat lekat.
Sesaat kemudian sambil tertawa gembira dengan airmata bercucuran, Li Dan maju merangkul Fei Yang dengan hangat dan berkata,
"Saudara ku,..ohh saudara ku, yang baik,.. akhirnya kamu kembali juga.."
"Syukurlah,... syukurlah,..Lao Thian,..terimakasih,..terimakasih,..
kamu sudah mempertemukan kami kembali.."
Fei Yang balas memeluk Li Dan dengan gembira, inilah satu satu teman masa kecilnya yang sangat bisa di percaya.
Tidak terpengaruh oleh harta kekuasaan dan kecantikan wanita sekalipun.
Benar benar sangat mirip dengan karakter pamannya Li Yuan Tan, pikir Fei Yang di dalam hati dengan penuh kebanggaan.
Fei Yang balas memeluk Li Yuan Tan dengan erat.
Sesaat kemudian setelah melepaskan kegembiraannya, Li Dan perlahan-lahan melepaskan pelukan nya dari Fei Yang.
Dia menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Adik Fei Yang, kamu telah kembali."
"Bagaimana dengan ayah ku, kalian dulu berangkat bersama, kamu pasti tahu di mana keberadaan nya bukan ?"
"Apa yang sebenarnya terjadi ? kenapa kalian semua menghilang begitu lama tidak pernah pulang pulang..?"
Sesaat Fei Yang kesulitan menjawab, dia hanya bisa menatap Li Dan dengan tatapan sedih.
Tanpa terasa dua butir air bening , mengalir dari kedua sudut matanya.
Sambil menghela nafas panjang, Fei Yang menarik Li Dan untuk duduk dan berkata,
"Kak Li Dan, kamu harus lebih tenang dan tabah, berjanjilah padaku kamu tidak boleh emosi dan bersikap gegabah.."
Li Dan bukan orang bodoh, malahan dia adalah seorang jendral yang cerdas dan gagah perkasa.
Melihat sikap yang ditunjukkan oleh Fei Yang, di hati kecilnya, dia sudah bisa menebak, apa yang sudah terjadi dengan ayahnya.
Kini dia hanya ingin mendengarkan selengkapnya proses kejadiannya lewat mulut Fei Yang langsung.
Li Dan menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Jangan khawatir, ceritakan lah, aku sudah siap mendengarkan nya."
Fei Yang mengangguk, lalu dia pun mulai bercerita, bagaimana mereka di cegat, bagaimana mereka di bantai, siapa pelakunya dan bagaimana dia bisa selamat semuanya Fei Yang ceritakan dengan sangat jelas.
Seolah olah dia sedang kembali ke masa itu, dan menyaksikan ulang peristiwa tragis dan mengenaskan itu..
Setelah menyelesaikan ceritanya, Fei Yang menatap kearah Li Dan dengan penuh simpati.
Li Dan terlihat bercucuran air mata, sepasang matanya menjadi merah, tubuhnya gemetaran menahan suara Isak tertahan.
Tapi dia sama sekali tidak menyela, juga melakukan sesuatu, yang anarkis sesuai janjinya,.hanya terdengar gemerutuk suara gigi beradu Li Dan, yang berusaha menahan geram, setelah dia tahu siapa otak pelaku pembantaian itu.
Li Dan kemudian berlutut menghadap kearah selatan dan berkata,
"Ayah maafkan Dan er yang tidak berbakti, "