
Selain kegelapan dan suara teriakan ketakutan Wei Wen, Fei Yang tidak melihat atau mendengar apapun ada di dalam lubang gelap itu.
Tubuhnya terus meluncur kebawah dengan cepat, Fei Yang membuat tubuhnya meluncur lebih cepat, dengan ilmu pemberat tubuh seribu kati.
Tubuhnya meluncur dengan sangat cepat menyusul kearah asal suara Wei Wen.
Fei Yang mengeluarkan mutiara malamnya sebagai penerangan, Fei Yang melihat dirinya di kelilingi oleh tembok persegi empat seluas 2x2 meter.
Sedangkan bagian bawah tidak terlihat dasarnya, hanya saja matanya yang tajam, sempat melihat titik kecil.
Di mana Wei Wen ikut terbawa meluncur bersama kursi giok yang berat itu.
Pantas saja Fei Yang yang sudah mengerahkan ilmu pemberat tubuh seribu kati.
Tetap saja, tidak berhasil menyusul Wei Wen.
Fei Yang mempercepat luncuran tubuhnya kebawah dengan pengerahan Ilmu pemberat tubuh Sepuluh ribu kati.
Kini tubuh Fei Yang meluncur deras kebawah dengan kecepatan 10 kali lipat.
Sekali ini akhirnya dia berhasil menyusul Wei Wen, begitu berhasil merendengi Wei Wen.
Fei Yang langsung berkata,
"Wen Wen jangan takut, kak Yang di sini..!"
"Ulurkan tangan mu kemari..!"
Wei Wen sangat girang melihat Fei Yang sudah menyusulnya.
Dia segera mengulurkan kedua tangannya kearah Fei Yang, mulutnya terlihat tersenyum bahagia, tapi sepasang matanya jelas masih basah oleh air mata ketakutannya tadi.
Fei Yang dengan cepat meraih kedua tangan Wei Wen, menariknya kedalam pelukannya.
Dengan menendang kursi kursi Giok itu sebagai batu loncatan, Fei Yang berhasil mendekati dinding batu di sekelilingnya.
Dengan menendang dinding itu berulang kali, menahan luncuran tubuhnya.
Fei Yang berhasil mengurangi kecepatan luncuran tubuhnya bersama Wei Wen.
Fei Yang menggunakan sebelah tangan nya mencengkram dinding di dekatnya.
Sehingga kini dia sambil merangkul erat Wei Wen dengan tangan nya yang lain tergantung di sana.
"Kakak apa yang akan kita lakukan ?"
tanya Wei Wen sambil mengeratkan pelukan lengannya, dibelakang leher Fei Yang.
"Wen Wen kakak bisa saja membawa mu kembali keatas.."
"Tapi kembali keatas, meski tidak langsung mati, tapi tetap saja cepat lambat kita akan mati tersiksa kelaparan secara pelan pelan."
"Bila kita biarkan tubuh kita terus meluncur kebawah, pertama ada kemungkinan kita bisa keluar hidup hidup.."
"Kedua kita mungkin mati terbanting dengan tubuh hancur, karena aku sendiri tidak tahu berapa dalam dasar tempat ini.."
"Bila energi murni ku habis, sebelum kita tiba di dasar, maka aku sudah tidak bisa mempertahankan tubuh kita, untuk bisa terus terbang ringan kebawah sana..."
"Ketiga adalah kita mungkin selamat mendarat di dasar, tapi tetap terkurung di bawah sana, mati kehabisan udara.."
"Apa kamu takut ? kalau takut, kakak akan mengantar mu keatas sana.."
"Setelah itu baru kembali turun memeriksa kebawah seorang diri.."
Wei Wen menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Aku tadi memang sangat ketakutan, aku takut aku akan meninggal seorang diri di bawah sana, ditemani kursi jelek itu.."
"Tapi kini bersama kakak aku tidak takut lagi.."
"Aku tidak mau menunggu di atas seorang diri, bila harus mati sekalipun, aku ingin mati bersama kakak,.."
"Hidup kita bersama, matipun aku tak ingin berpisah.."
ucap Wei Wen penuh tekad.
Fei Yang mengangguk terharu dan berkata,
"Baik aku berjanji padamu, kita akan mati hidup bersama selamanya.."
"Kakak Yang,.."
ucap Wei Wen kaget bercampur bahagia.
Dia menatap kearah Fei Yang dengan kurang percaya dan berkata,
"Kakak serius kah,? bagaimana dengan Xue Lian dan Sian Sian ?"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kapan kakak pernah bohong pada mu ? kapan kakak pernah berani bermain main dengan hal seperti ini.."
"Tidak Wen Wen, kalaupun kita berhasil selamat dari sini, kakak akan membawa mu ikut bersama kakak kemanapun.."
"Kakak akan perkenalkan kamu kepada mereka, dan mencoba menyelesaikan hubungan kami secara baik baik.."
Wei Wen tersenyum manis, lalu dia bergerak maju menciumi bibir Fei Yang dengan lembut.
Saat Fei Yang membalasnya, dia pun memejamkan sepasang matanya.
Menikmati ciuman hangat dari pria yang sudah sangat lama, dia kagumi ini.
Bahkan sebelum mereka saling mengenalpun , dia jauh jauh hari sudah sangat mengagumi Fei Yang.
Sesaat kemudian sambil berciuman mesra Fei Yang sudah melepaskan cengkraman tangannya yang melekat di dinding.
Kini kedua tangannya dia gunakan untuk memeluk dan membelai punggung Wei Wen dengan lembut dan mesra.
Fei Yang membiarkan tubuh mereka berdua meluncur melayang turun dengan ringan kebawah.
Saat bibir mereka berpisah, Wei Wen menyandarkan kepalanya didada Fei Yang dan berkata,
"Saat ini mati. pun aku tidak akan pernah menyesalinya lagi.."
Fei Yang membelai kepala Wei Wen dengan lembut dan berkata,
"Aku tidak akan membiarkan kita mati begitu saja.."
"Kamu tenang saja..."
Tidak tahu berapa lama mereka meluncur, Fei Yang yang sudah kehabisan energi murninya, dia hanya bisa membiarkan tubuh mereka berdua meluncur ke bawah dengan pasrah.
Sedangkan Wei Wen yang kekurangan oksigen, sudah lama pingsan dalam pelukan Fei Yang.
Tiba-tiba tubuh Fei Yang menghantam dinding licin yang miring kebawah, Fei Yang buru buru mengerahkan sisa energinya yang tinggal sedikit untuk melindungi tubuhnya.
Tapi berhubung bidang benturan itu miring, maka benturan yang terjadi pun tidak keras.
Di tambang lagi dinding miring itu sangat licin di penuhi lumut dan kucuran air yang tidak pernah putus.
Jadi tubuh Fei Yang yang sedang memeluk Wei Wen, seperti sedang meluncur di lintasan Waterboom.
Dengan cepat dia mengikuti luncuran tubuhnya membelah air, hingga akhir keluar dari mulut terowongan terbang keluar melayang di udara.
Lalu terjun bebas meluncur kebawah jatuh kesebuah kolam berair biru langit yang sangat jernih.
Begitu tercebur ke dalam kolam berair biru jernih, Wei Wen tersadar dari pingsannya dan gelagapan.
Tapi Fei Yang dengan sigap langsung mendaratkan ciuman nya ke mulut Wei Wen memberikan bantuan pernafasan.
Agar Wei Wen tidak kaget dan bisa bernafas dengan lancar.
Sepasang mata Wei Wen terbelalak kaget, tapi saat melihat siapa yang ada di hadapannya, dia pun menjadi tenang.
Wei Wen memejamkan matanya mengeratkan pelukannya dileher Fei Yang dengan pasrah.
Fei Yang menendang nendang kan kedua kakinya kebawah, sehingga tubuhnya yang sedang menggendong Wei Wen melayang naik keatas.
Saat tiba di permukaan air, Fei Yang pun melepaskan ciumannya, dia membiarkan dirinya dan Wei Wen, bisa bernafas dengan lega.
Fei Yang mengedarkan pandangannya, tempatnya berada sejauh mata memandang hanya ada tebing batu karang.
Tidak ada daratan, selain kolam biru dan air terjun kecil dari atas, hanya ada lautan luas yang terbentang.