
"Paman Li, itu suara tantangan dari musuh terhadap Ping Huo Ta Sia."
"Bila Ping Huo Ta Sia tidak ada di sini, mampuslah kita.."
ucap Afei sambil menatap wajah Li Cing dengan ekspresi cemas dan ketakutan.
"Mari kita lihat kedepan dan temui mereka di depan sana.."
ucap Li Cing tenang sambil bangun dari duduknya.
Tapi saat melewati Afei tangannya di tahan oleh Afei yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Paman Li apa tidak sebaiknya, kita bersembunyi saja,? ini bukan masalah kita.."
"Toh mereka datang untuk mencari Ping Huo Ta Sia, bukan kita."
Li Cing menghela nafas panjang, dan berkata.
"Tidak bisa seperti itu, ini rumah ku."
"Ada tamu datang tentu aku harus keluar menyambutnya.."
"Lagipula Ping Huo Ta Sia terhadap keluarga ku ada Budi, aku mana boleh berpangku tangan."
Afei menghela nafas panjang dan berkata,
"Paman Li, bila itu keputusan paman, aku tidak bisa apa-apa.."
"Setiap orang punya prinsip, tapi aku sendiri tidak bisa ikut kesana paman.."
"Aku sadar kemampuan ku sendiri, aku kesana sekalipun hanya akan menambah kerepotan dan tidak bisa membantu banyak.."
"Jadi maaf paman Li, aku tidak ikut dengan Paman kedepan.
"Ping Huo Ta Sia,..!! cepat keluarlah,.. atau kami akan ratakan tempat ini..!!"
teriak suara yang berputar-putar dari langit untuk kedua kalinya.
Wajah paman Li seketika berubah dan berkata,
"Situasi mendesak, aku harus segera kedepan sana, setiap orang punya prinsip dan pilihan, aku tidak akan memaksa mu.."
"Jaga diri mu Afei,.. aku pergi dulu.."
ucap Li Cing, lalu tanpa menoleh dia terburu buru berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Afei menatap bayangan punggung Li Cing sejenak kemudian berkata pelan,
"Aku tidak akan biarkan siapapun menganggu mu paman Li.."
Afei berjalan kebalik sebuah rerimbunan pohon, lalu dia melesat meninggalkan tempat tersebut, dengan jalan memutar menuju ke halaman depan.
Saat paman Li tiba di halaman depan rumah, dia melihat Sian Sian sudah ada di sana sedang menonton perkelahian yang berjalan dahsyat dan menggetarkan.
Di sana terlihat Ping Huo Ta Sia sedang melawan dua orang lhama jubah merah yang berusia 60 an tahun.
Ping Huo Ta Sia memegang sepasang pedang biru merah.
Sedangkan lawannya menghadapi nya dengan sepasang Cakra emas ditangan mereka.
Di tempat terpisah terlihat Kok Su Vipasana lhama, sedang berdiri menonton pertandingan itu dengan serius.
Di belakangnya terlihat Dote Jigme dan Kipu Lhama, yang juga terlihat sedang menonton pertandingan itu dengan tatapan mata takjub, hingga sepasang mata mereka hampir tidak pernah berkedip sama sekali.
Fei Yang sendiri masih bergerak santai dengan langkah ajaib, di padu dengan Wu Ying Thian Shang Fei, melayani serangan kedua Biksu itu
Untuk sementara waktu, belum ada satupun serangan kedua orang itu, yang berhasil menyentuh ujung baju Fei Yang.
Fei Yang bagaikan bayangan yang terus bergerak kesana kemari sangat sulit di jangkau.
Serangan kedua biksu yang menimbulkan petir kecil dan angin puyuh dari sepasang tangan mereka.
Fei Yang sambil menghindar, dia sedang mempelajari titik lemah serangan kedua orang lawannya itu.
Serangan kedua orang itu sangat teratur dan rapi hampir tidak ada celahnya.
Tapi setelah sekian lama mengamati Fei Yang mulai berhasil menebak Setiap arah serangan mereka sebelum sempat di lepaskan.
Tapi Fei Yang masih belum berhasil menemukan titik lemah dari serangan mereka.
Beberapa kali pedang Fei Yang berbenturan dengan sepasang tangan kedua orang itu.
Tapi sepasang tangan kedua orang itu sangat kuat dan keras.
Sepasang tangan mereka di lindungi oleh semacam asap tipis bersinar kebiruan, dimana senjata Fei Yang tidak mampu menembus dan melukai sepasang tangan itu.
Sepasang Cakra emas di tangan mereka juga sanggup menangkis dan menghalau sepasang pedang Fei Yang dengan baik.
Dimana sepasang Cakra mereka, setiap kali berbenturan dengan sepasang pedang Fei Yang di udara.
Cakra mereka sama sekali tidak mengalami goresan, atau pun retakan akibat berbenturan keras dengan pedang Fei Yang.
Bahkan beberapa kali pedang Fei Yang berhasil menembus pertahanan mereka, dan mengenai leher punggung dan dada dengan tepat
Tapi senjata Fei Yang tertahan oleh kabut asap biru yang melindungi tubuh mereka.
Sehingga pedang Fei Yang tidak berhasil melukai bagian tubuh tersebut.
Malah akibat kejadian yang di luar dugaan itu, Fei Yang hampir kehilangan lengan berikut pedangnya.
Terkena sambaran Cakra emas yang bergerak memotong tangan Fei Yang, yang sedang melakukan serangan.
Untungnya Fei Yang bisa membaca arah gerakan Cakra emasnya, sehingga sebelum tiba, Fei Yang sudah menarik kembali pedangnya, sambil melompat mundur menjauh dari kedua biksu itu.
Melihat Fei Yang terbang mundur, kedua biksu itu melepaskan sepasang Cakra mereka terbang mengejar kearah Fei Yang.
Tapi serangan mereka dengan mudah di gagalkan oleh pedang Fei Yang, yang tahu letak titik lemah serangan Cakra itu
Keempat Cakra tertahan berputar-putar di badan pedang Fei Yang.
Sebelum kemudian dengan serangan dua tebasan panjang, yang mengeluarkan cahaya merah biru, melesat kearah kedua biksu, yang menjadi lawan Fei Yang.
Sepasang Cakra juga bergerak melesat kedepan ikut menyerang kedua pemiliknya.
Dua Cakra bersinar kemerahan di selimuti api, dua Cakra lagi bersinar kebiruan di selimuti lapisan es beku.
Kedua tebasan Fei Yang berhasil di hindari oleh Sangha dan Dheva lhama, dengan jalan terbang keatas.
Saat berputaran di udara, kedua orang itu menangkap senjata Cakra mereka masing masing.
Meski kedua Cakra berhasil kembali ketangan mereka, tak luput lengan baju Sangha terbakar.
Sangha mendesis lirih karena merasa tubuhnya seperti habis di lempar kedalam lautan api yang panas membara
Sedangkan lengan baju Dheva membeku membuat tubuh Dheva sedikit mengigil, seperti habis di celupkan kedalam kolam es yang sangat dingin.
Tapi kejadian itu hanya berlangsung sejenak, ketika kedua orang itu mengerahkan tenaga sakti mengelilingi seluruh tubuh mereka.
Tubuh mereka pun kembali normal pulih seperti sedia kala lagi.
Karena belum berhasil memecahkan jurus serangan, kedua telapak tangan mereka yang dahsyat.
Fei Yang kembali melesat maju kedepan, menyerang seluruh tubuh Sangha dan Dheva dengan meningkatkan kekuatan serangan nya hingga level 5.
Terlihat dua ekor naga es dan Phoenix Api, melesat kedepan, sambil mengeluarkan pekik nyaring dan raungan keras, sebelum kemudian menerjang kearah Sangha dan Dheva lhama.
Melihat kedatangan serangan Fei Yang, Sangha dan Dheva masing masing membentuk mudra.
Memunculkan sebuah lonceng bercahaya kebiruan, yang di lapisi tulisan huruf kuno mengelilingi badan lonceng.
Cahaya lonceng biru yang menutupi seluruh tubuh kedua orang itu, di gunakan untuk menahan serangan Naga Es dan Phoenix Api yang sedang bergerak menyerang mereka.