
Uhuk,..! Uhuk,..! eehhm,..!"
Belum juga Fei Yang menjawab, dia mendengar suara batuk batuk di belakangnya.
Fei Yang buru buru menoleh kebelakang untuk memastikan asal suara.
Begitu melihat siapa yang sedang pura pura batuk dan sedang menatapnya sambil tersenyum senyum.
Fei Yang buru buru membuang muka, tidak berani melihatnya.
Fei Yang terlihat gelisah, hilang sudah semua moodnya, untuk mengobrol panjang lebar dengan Zhu Li.
Gadis bercadar, yang sempat menggelitik rasa penasaran ingin melihat wajahnya secara lebih dekat.
"Maaf Nona Zhu, itu tidak bisa,..sampai jumpa.."
ucap Fei Yang terburu buru.
Seperti tengkuknya habis di tampol sama setan.
Belum juga ucapan nya selesai, Fei Yang sudah melayang ke udara menunggangi Kim Tiaw meninggalkan tempat itu.
Zhu Li menatap kesal kearah nenek nenek buruk rupa yang telah mengganggu acaranya.
"Kenapa tidak senang, percaya tidak, aku akan mencungkil mata mu buat makan ikan.."
ucap Hoa San Lao Lao dingin.
Sesosok bayangan berkelebat menghadang di antara mereka, terdengar Pai Su Seng berkata,
"Zhu Li jangan tidak sopan, cepat minta maaf kepada Lao Lao,..!"
Zhu Li dengan sikap kesal dan wajah kurang puas, mengangkat kedua tangannya menjura kearah Hoa San Lao Lao.
Lalu dia langsung membalikkan badannya meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun.
"Maafkan sikap murid ku, aku pasti akan mengajarimu dengan baik.."
"Harap Lao Lao tidak ambil hati dengan sikap kekanak-kanakan murid ku.."
"Sudahlah lupakan saja,..permisi..!!"
ucap Hoa San Lao Lao sambil mengulapkan tangan nya, lalu melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pai Su Seng menghela nafas lega, sesaat kemudian dia kembali menoleh kearah Zhu Li dan berkata,
"Zhu Li, aku akan pergi sementara waktu."
"Tanpa ijin dari ku,.. siapapun tidak di ijinkan meninggalkan lembah ataupun membiarkan orang luar masuk kedalam lembah,..!?"
"mengerti,..!?"
"Murid terima perintah,..!"
ucap keempat orang itu kompak, sambil menjatuhkan diri berlutut di hadapan Pai Su Seng.
Pai Su Seng mengangguk puas, lalu dia sendiri juga berkelebat meninggalkan tempat itu.
Fei Yang hanya menggunakan Kim Tiaw beberapa waktu, untuk menghindar dari nenek peot itu.
Setelah di rasa tidak ada yang mengikutinya, dia segera melayang turun dari punggung Kim Tiaw.
Fei Yang memutuskan melanjutkan perjalanan, lewat darat lebih santai bisa sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya.
Hamparan ladang yang menguning di kiri kanan jalan membentang luas, tertimpa matahari sore.
Udara sejuk, angin sepoi sepoi membuat Fei Yang merasa sangat nyaman menikmati perjalanan indahnya.
Dia merasa sangat lepas dan terbebas dari semua himpitan tugas tanggung jawab, sebagai seorang raja, yang membuatnya merasa tertekan dan tidak nyaman.
Fei Yang berulang kali menghirup udara sejuk tersebut memenuhi rongga dadanya, lalu menghembuskan nya.
Saat melihat di depan sana ada rombongan petani yang terlihat tergesa-gesa meninggalkan lahan sawah mereka.
Fei Yang pun merasa heran, dan mempercepat langkahnya mengikuti rombongan tersebut.
Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi, kenapa mereka terlihat begitu panik, hingga pacul alat kerja paling berharga pun mereka tinggalkan.
Saat tiba di lokasi Fei Yang pun bisa menyaksikan keributan yang sedang terjadi.
Terlihat masyarakat di sana sedang dorong mendorong dengan sekelompok pasukan.
Bila di lihat dari seragam yang mereka kenakan, Fei Yang mengenali itu adalah seragam pasukan Liao.
Tapi bila di lihat dari wajah wajah para prajurit itu, Fei Yang yakin mereka bukan orang Khitan, mereka semua adalah orang Han.
Orang Khitan hanya satu yaitu komandan pasukan mereka, yang kini sedang menggunakan cambuknya, memukuli sepasang kakek nenek, yang terlihat merangkul sekarung beras mereka, sambil menangis.
ucap kakek itu memelas.
"Itu urusan kalian, yang jelas kalian harus bayar setoran sesuai jadwal dan jumlah yang sudah di tentukan pemerintah setempat.."
ucap komandan itu tanpa perasaan.
Fei Yang yang melihat hal itu sudah tidak bisa menahan diri untuk berdiam saja
Dengan ringan, dia melayang melewati barisan kerumunan yang sedang saling dorong.
Fei Yang berdiri tepat di belakang komandan khitan itu.
Sambil menahan cambuk di belakang kepala komandan itu.
Sebelum komandan itu sempat melecutkan cambuk nya kearah tubuh pasangan tua itu.
Karena tertahan cambuknya oleh Fei Yang, komandan itu langsung menoleh kearah Fei Yang dan membentaknya dengan galak,
"Keparat siapa kamu ? berani mencampuri urusan kami, yang sedang menjalankan tugas negara.."
"Plakkk, .! Plakkk, .! Plakkk, .! Plakkk, .!"
Komandan itu belum sempat melakukan sesuatu, tubuhnya sudah terpelanting mencium tanah.
Saat dia berusaha bangkit berdiri, dan meludah keatas tanah, terlihat 3 giginya copot tergeletak di sana.
"Kau,..!!"
teriak komandan itu dengan mulut berlumuran darah, sambil menunjuk kearah Fei Yang.
"Plakkk,..! Plakkk, .! Plakkk, .! Plakkk, .!"
Sebelum sempat menegur Fei Yang dia kembali tersungkur, dengan mulut dan hidung berlumuran darah.
3 giginya yang lain kembali copot, tergeletak di hadapannya.
Sepasang wajahnya telah merah hijau biru bengkak bengkak, hingga wajahnya terlihat Cubby.
"Katakan pada Agoda, bila dia terus seperti ini,.. jangan salahkan aku mengusir'nya kembali ke Da Ding,..!"
ucap Fei Yang membentak komandan itu dengan nada dingin..
"Si,..sia,..pa kamu,..!?"
tanya komandan itu gugup dan suara kurang jelas.
"Katakan saja, aku dari barat,.. orang yang membebaskan nya dari penjara.."
"Dia akan tahu.."
Komandan itu segera merangkak bangun, lalu buru buru memimpin pasukannya meninggalkan desa itu.
Seluruh penduduk di sana langsung berlutut pada Fei Yang dan mengucapkan terimakasih berulang kali.
Fei Yang membangunkan pasangan tua itu dan bertanya,
"Kakek Nenek,..apa yang sebenarnya terjadi..?"
"Terimakasih banyak anak muda, tapi kami sarankan sebaiknya kamu segera tinggalkan tempat ini."
"Sebentar lagi mereka pasti akan datang dengan kekuatan yang jauh lebih besar."
ucap kakek itu tanpa menghiraukan lukanya dan menatap Fei Yang dengan khawatir.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kakek tenang saja, aku mampu menghadapi mereka.."
"Sekarang lebih baik kakek gunakan salep ini, untuk mengobati luka luka kalian, baru nanti kita bicara lagi.."
Seorang pria paruh baya menghampiri Fei Yang dan berkata,
"Anak muda biar saya saja, yang bercerita."
"Kepala desa dan istrinya perlu beristirahat setelah terluka seperti itu.."
Fei Yang mengangguk, pria itu memberi kode, agar kawan kawannya membawa beras yang tersisa sekarung itu untuk di simpan.
Pria itu mengajak Fei Yang, untuk duduk di sebuah bilik bambu. Tempat warga berdebat santai selepas pulang dari sawah.
"Begini anak muda, kira kira seminggu yang lalu mereka datang kemari untuk memungut pajak."
"Kami sudah menyerahkan semua yang kami punya, tapi mereka masih bilang itu kurang.."