
Nan Thian melangkah masuk dengan hati hati, bau menyengat keluar dari bagian tengah dan bagian depan ruangan.
Untuk mengurangi aroma memuakkan itu, Nan Thian membuka jendela dan pintu belakang rumah lebar lebar.
Agar ada cahaya masuk dan ada pertukaran sirkulasi udara.
Baru dia melanjutkan langkahnya, memasuki bagian tengah ruangan, melihat di sana ada buah kamar.
Nan Thian menyingkap tirai penutup kamar pertama.
Segera terlihat pemandangan mengerikan di dalam sana.
Di mana terlihat seorang pria tergeletak diatas lantai kamar, bersimbah darah yang telah mengering.
Di sekitar luka pria itu dan beberapa bagian tubuhnya, terlihat sudah mulai ada ulat belatung bermunculan.
Nan Thian sampai harus menutupi hidung dan mulutnya dengan lengan baju, untuk mencegah dirinya muntah.
Nan Thian mengedarkan pandangannya ketempat lain.
Di atas pembaringan juga ada 2 sosok lain yang tewas dengan kondisi lebih mengenaskan.
Terlihat seorang wanita muda tewas dengan tubuh tanpa Bu sana, sedangkan di sisi lainnya seorang bocah lelaki berusia sekitar 4 tahunan juga tewas dengan luka di leher terbuka lebar, tergeletak tidak jauh dari sisi wanita yang tewas dengan luka di perut.
Di sisi lain nya di sebuah sudut terlihat sesosok mayat lain yang masih terbungkus dalam kain bedong merah.
Dari bentuknya jelas itu adalah bayi yang masih kecil mungkin tidak sampai 5 bulan.
Di bagian sedikit keatas di tembok terlihat percikan darah mengering.
Jelas bayi itu di lempar membentur tembok hingga tewas.
Nan Thian tidak tahan menyaksikan terus kejadian mengerikan dan sangat menyedihkan yang terjadi di dalam kamar tersebut.
Sambil membuang muka, Nan Thian buru buru berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.
Setelah menenangkan perasaan nya, Nan Thian kini beralih ke kamar kedua.
Tapi di sini kamar terlihat kosong, saat tirai tersingkap.
Nan Thian kemudian melanjutkan langkahnya menuju keruang depan.
Di sana dia menyaksikan ada seorang pria dan wanita paruh baya tergeletak di atas lantai bersimbah darah mengering.
Belatung juga terlihat berada di mana mana.
Kedua pasangan itu tewas dengan leher hampir putus.
Nan Thian berjalan pergi, membuka pintu depan dan beberapa jendela lebar lebar.
Agar cahaya dan udara bisa bebas keluar masuk.
Setelah itu Nan Thian langsung melangkah keluar dari rumah tersebut.
Nan Thian mengambil jalan memutar melewati halaman samping.
Hingga tiba kembali di halaman belakang rumah, di mana Zi Zi dan Sun Er sedang duduk santai bermain ayunan sambil menanti kedatangan dirinya.
"Paman kecil kemarilah..!"
panggil Nan Thian dari jauh, sambil melambaikan tangannya.
Sun Er mengangguk patuh, lalu berlari menghampiri Nan Thian.
Melihat hal itu Zi Zi terlihat ingin ikut menyusul.
Tapi Nan Thian kembali berkata dengan suara sedikit keras,
"Tidak Zi Zi kamu tetapi sana saja, jangan ikut..!"
Zi Zi dengan bibir cemberut kembali duduk di ayunan nya, gadis kecil itu tidak membantah, tapi dia jelas terlihat kurang senang.
Nan Thian tidak sempat untuk menjelaskan nya.
Jadi dia terpaksa mengabaikan nya, Nan Thian langsung mengajak Sun Er meninggalkan halaman belakang.
Mengambil jalan memutari samping rumah kembali ke halaman depan rumah.
Saat tiba di depan halaman rumah, Nan Thian pun berkata,
"Paman kecil di dalam ada dua sosok mayat, coba kamu bantu kenali, apakah mereka Paman Fu dan bibi Lai mu.."
Sun Er mengangguk pelan, lalu dia mengikuti Nan Thian untuk mengenali wajah dua sosok mayat, yang tergeletak di atas lantai, dalam kondisi mengenaskan.
Sun Er meski sedikit mengerutkan keningnya, tapi bocah itu memilki keberanian besar.
Sesaat kemudian dia baru menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Benar kak, mereka berdua adalah Paman Fu dan bibi Lai.."
Nan Thian mengangguk, lalu dia membimbing Sun er menjauhi rumah itu.
"Paman kecil kamu ajaklah Zi Zi dan Siau Hei ke halaman depan di luar pagar sana.."
"Aku akan membereskan mayat mayat di dalam sana.."
ucap Nan Thian pelan.
"Baik kak, Sun er kebelakang dulu kalau begitu ."
ucap Sun Er cepat.
"Pergilah.."
ucap Nan Thian sambil membelai kepala Sun Er dengan lembut.
Setelah melihat Sun er pergi, Nan Thian mulai membuat api membakar rumah tersebut.
Ini adalah cara penguburan yang paling mudah, pikir Nan Thian.
Dia tak perlu repot mengurus mayat yang sudah rusak hancur dan mulai membusuk itu
Setelah si jago merah melahap habis bangunan rumah tersebut, Nan Thian yang merasa tubuh dan pakaian nya berbau aneh dan tidak sedap.
Dia memutuskan pergi ke halaman belakang rumah, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian baru.
Setelah itu baru kembali ke halaman depan menemui Zi Zi dan Sun Er.
"Kakak tampan gendong.."
ucap Zi Zi manja.
Nan Thian sambil tersenyum berjongkok memunggungi Zi Zi, agar bocah itu bisa naik ke punggung nya
Melihat sikap Zi Zi, Nan Thian paham Zi Zi tidak marah lagi.
Mungkin Sun er sudah menjelaskan padanya, mengapa dirinya tidak di ajak tadi.
Kini jejak satu satunya telah hilang, tiada pilihan lain selain membawa kedua bocah ini ikut dalam perjalanan nya, menuju puncak gunung Lian Hua San.
Di mana perguruan Hua San Pai berada.
Mereka akan ikut dengan Nan Thian, menyaksikan keramaian pertandingan.
Untuk mencari pemuda paling berbakat dan terbaik dari kelima perguruan aliran lurus terbesar dewasa ini.
Sepanjang perjalanan menuju puncak Lian Hua San di mana perguruan Hua San Pai berada.
Mereka selalu di sambut oleh dua hingga empat orang murid perguruan Hua San Pai.
Yang sengaja di tempatkan di 7 pos penjagaan, untuk memberikan pelayanan dan petunjuk.
Agar para tamu tidak nyasar ke wilayah lain dari perguruan tersebut.
Nan Thian bersama rombongan kecil nya, mengikuti rombongan lain.
Bergerak menuju puncak Lian Hua San.
Dalam perjalanan menuju pos terakhir, di sana Nan Thian secara kebetulan kembali bertemu dengan Rombongan Bai Xue Sethai.
Di dalam rombongan tersebut, selain ada Kim Hong.
Siau Yen dan Siu Lian ternyata juga ikut bergabung dalam rombongan tersebut menuju Hua San Pai.
Melihat ada teman lamanya di sana, Zi Zi langsung melompat turun dari punggung Nan Thian.
Dia langsung berlari kearah mereka sambil berteriak,
"Kakak cantik kita bertemu kembali..!'
Ketiga gadis cantik, itu sangat kaget melihat kehadiran Nan Thian, yang sedang bertegur sapa dengan Bai Xue Sethai.
Mereka baru tersadar dari kagetnya, saat melihat Zi Zi sambil berteriak gembira, berlari menghampiri mereka.
Siau Yen Siu Lian dan Kim Hong, secara bergantian memeluk bocah itu dengan gembira.
Mereka bertiga secara bergantian langsung menanyakan kepada Zi Zi , tentang kejadian di Cang Lung Lin..