
Tempat ini batin Fei Yang, kemungkinan besar gua itu ada di tebing tersebut.
Melompat kesana agak beresiko, bila tidak sampai, taruhannya dia akan terjungkal kedalam jurang tak berdasar.
Tapi bila tidak kesana, bagaimana dia bisa menemukan tempat yang di carinya.
Naik lagi lakukan persiapan ulang, akan membuang banyak waktu dan tenaga.
Setelah berpikir bolak balik, akhirnya Fei Yang mengambil keputusan nekad.
Tidak ada cara lain, tidak masuk gua harimau, bagaimana mau mendapatkan anak harimau, itulah kiasannya.
Fei Yang menggoyang goyangkan tali yang di peganginya, dengan menendang dinding tebing batu di hadapannya.
Tubuhnya mulai terayun ayun ayun di udara, saat di rasa sudah maximal mendekati tebing di bawah sana.
Fei Yang melepaskan pegangan tangannya, melayang sejauh mungkin yang dia bisa.
Tanpa bisa menggunakan ilmu ringan tubuhnya, karena untuk menggunakan ilmu ringan tubuhnya, sedikit banyak harus menggunakan Hawa sakti.
Sedangkan dirinya, Hawa sakti nya tidak seimbang, memaksa menggunakannya, hanya mengundang penyakit bagi dirinya sendiri.
Tubuh Fei Yang meluncur dengan sepasang kaki tangan terpentang, mirip gerakan bajing loncat.
"Brukkkk,..!"
Saat mencapai bibir tebing itu, Fei Yang langsung menggulingkan tubuhnya untuk mengurangi efek benturan.
Dengan gerakan Tiger Sprong, Fei Yang berhasil mendarat dengan mulus tanpa cedera sedikitpun.
Begitu bangkit berdiri, Fei Yang menepuk nepuk tanah dan debu yang menempel di tangan dan pakaiannya.
Setelah dirasa cukup bersih, Fei Yang baru mengedarkan pandangannya untuk melihat situasi di sekitarnya.
Tebing yang bertanah datar itu tidak begitu luas, mungkin hanya sekitar 3 tombak luasnya.
Di ujung tebing, ada sebuah gua gelap hitam seukuran tinggi manusia dewasa.
Fei Yang merasakan hawa Yang yang pekat keluar dari tempat tersebut secara terus menerus.
Fei Yang melangkah menghampiri gua itu dengan hati hati, Fei Yang tidak tahu ada apa di dalam sana.
Jadi dia harus extra hati hati, karena kondisinya kini hanyalah seorang manusia biasa.
Di mana dia kini tidak bisa menggunakan hawa sakti memainkan jurus jurus yang di milikinya.
Satu satunya yang masih bisa dia lakukan, hanya dengan mengandalkan gerakan langkah ajaib miliknya.
Setelah memasuki mulut gua, dengan ragu ragu, Fei Yang mengeluarkan sebatang pemantik api.
Pemantik kuno ini agak mirip dengan batangan es lilin yang berukuran sekitar 20 cm panjangnya.
Pemantik api ini ujungnya, memilki penutupnya.
Begitu penutup pemantik api kuno itu di buka, sambil di tiup tiup pelan, bagian ujung pemantik api itu.
Api pun menyala, sehingga gua yang tadi nya gelap gulita, kini mulai bisa terlihat dengan lebih jelas.
Dengan pemantik di tangan yang di angkat keatas, selangkah demi selangkah Fei Yang melangkah memasuki gua yang memancarkan hawa hangat yang sangat nyaman bagi tubuhnya.
Fei Yang terus melangkah masuk kedalam gua, menyusuri lorong gua yang memanjang ke bawah.
Tidak jauh di depan Fei Yang, Fei Yang mulai melihat ada cahaya merah, yang terpancar keluar dari balik tingkungan itu.
Semakin mendekati tingkungan yang mengeluarkan cahaya, hawa mulai semakin panas.
Fei Yang berusaha menahannya, untuk melihat apa sebenarnya yang ada di balik tingkungan itu.
Saat mencapai posisi tingkungan itu, ternyata asal cahaya berasal dari pantulan dinding yang masih merupakan sebuah tingkungan lainnya.
Cahaya yang di sini jauh lebih panas dari sangat terang, hingga bersinar kuning kemerahan.
Meski seluruh kulit hingga mulai terasa perih, Fei Yang terus mencoba bergerak maju selangkah demi selangkah.
Tapi baru di tengah jalan, ujung rambut, ujung pakaian, hingga sepatu yang di kenakan nya mulai terbakar.
Sampai di sana Fei Yang terpaksa menghentikan langkahnya.
Fei Yang tahu dia tidak mungkin bisa melanjutkan nya.
Mungkin hanya sampai di sini saja, untuk saat ini .
Fei Yang segera mengambil posisi duduk bersila, dia mulai menyerap hawa panas itu masuk kedalam tubuhnya sedikit demi sedikit berdasarkan pelatihan dari kitab tanpa tanding.
Tehnik pengendalian kekuatan alam semesta.
Sekali ini yang di serap Fei Yang adalah hawa Yang, hawa panas di dalam gua tersebut.
Diserap kemudian dia ubah menjadi Qi panas, untuk mengimbangi kekuatan Ping Feng yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Begitu Hawa Yang masuk, sedikit demi sedikit Hawa Im dari Ping Feng mulai bergolak melawannya.
Tapi kini Fei Yang tidak khawatir, karena ada hawa Yang berlimpah di dalam gua ini, yang bisa dia serap dan ubah menjadi Chi Yang untuk menghadapi pergolakan hawa Im nya.
Perlahan-lahan tubuh Fei Yang melayang di udara, sambil terus menerus di kelilingi oleh cahaya merah memasuki tubuhnya.
Cahaya merah yang mirip gulungan kain sutra tipis transparan.
Terus berputaran mengelilingi seluruh tubuh Fei Yang.
Tubuh Fei Yang yang menghadap pergolakan hawa Im, tanpa di sadarinya.
Secara perlahan-lahan terus terseret mendekati ujung tingkungan, yang mengeluarkan hawa panas, yang bisa membakar apapun yang mendekat.
Tapi bagi tubuh Fei Yang tidak terpengaruh, hawa Im di dalam tubuhnya bergerak otomatis melakukan perlawanan, melapisi bagian luar tubuhnya dengan hawa dingin.
Sedangkan dari dalam, Fei Yang terus menerus menyerap hawa Yang yang semakin lama semakin kuat memasuki tubuhnya.
Untuk mengimbangi hawa Im di dalam tubuhnya.
Tanpa di sadari oleh Fei Yang, tubuhnya telah melayang melewati tingkungan terakhir itu.
Kini sedang mendekati sebuah gua yang berukuran lebih kecil.
Tapi terus memancarkan sinar merah yang sangat pekat.
Fei Yang tertahan cukup lama di sana, belum bisa bergerak maju.
Dia hanya terus menerus menyerap hawa Yang di sana memasuki tubuhnya.
Waktu terus berjalan tanpa di sadari oleh Fei Yang dia sudah menghabiskan waktu selama hampir 3 bulan di sana.
Kini Fei Yang sudah memasuki gua yang mengeluarkan cahaya putih terang.
Sampai di sini pergerakan Fei Yang kembali terhenti.
Gua Api Surgawi terbagi dalam beberapa tahapan cahaya, yang paling awal adalah kuning setelah kuning jadi merah, dari merah jadi biru, dari biru terakhir menjadi cahaya putih berkilau.
Kini Fei Yang sudah sampai di mulut Gua cahaya Putih berkilauan.
Tapi untuk masuk kedalam gua yang menjadi titik sumber asal dari Api Surgawi.
Pergerakan Fei Yang terhenti di sana.
Fei Yang yang merasa kekuatannya Yang nya sudah pulih sempurna, mampu mengimbangi kekuatan Im nya yang berasal dari Ping Feng.
Fei Yang akhirnya membuka sepasang matanya, yang kembali bercahaya mencorong seperti sepasang mata Naga Sakti.
Fei Yang menghembuskan nafas lega, merangkapkan sepasang tangannya di depan dada dan berkata,
"Apapun kamu yang di dalam sana, bisa mendengar ataupun tidak.."
"Di sini aku akan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada mu.."
"Tanpa bantuan cahaya hawa Yang mu, takutnya seumur hidup ku akan ku lewatkan sebagai orang cacat."
"Terimakasih,.. sampai jumpa.."
ucap Fei Yang sambil memberi hormat tiga kali.
Setelah itu dia langsung melayang meninggalkan gua tersebut.
Fei Yang tahu, di dalam sana ada kekuatan Yang yang sangat dahsyat.
Bila bisa menahlukkan kekuatan itu untuk dirinya, itu akan meningkatkan kemampuan hingga ke puncak kekuatan Api Surgawi.
Tapi Fei Yang tidak menghendakinya,
Pertama resikonya dia bisa saja hangus menjadi debu tidak kuat menyerapnya.
Nanti dia harus pergi mencari Gua Es Surgawi dari dewa air gong gong, baru bisa menyeimbangkan dan menyempurnakan kedua kekuatan dahsyat itu.
Fei Yang sudah tidak tertarik untuk itu, saat ini yang terpenting adalah keselamatan keluarganya.
Dengan kekuatan Pedang Berpasangan Lima Elemen pun, dia dan Xue Lian sudah menjadi pasangan yang sulit di cari tandingannya.
Jadi semua itu Fei Yang merasa, dia sudah tidak memerlukan nya lagi.
Dia sudah meninggalkan Xue Lian yang sedang hamil cukup lama.
Dia tidak boleh lama lama lagi di tempat ini, yang hanya akan membuat Xue Lian mengkhawatirkan keadaan nya.
Fei Yang yang tidak tahu sudah menghabiskan waktu 3 bulan di Gua Api Surgawi yang terpencil.
Dengan perasaan cemas dan khawatir, dia langsung melesat meninggalkan gua tersebut.
Tenaganya sudah pulih, Fei Yang kembali bisa terbang bebas di angkasa, dengan ilmu meringankan tubuh kitab tanding yang mencapai level 6.
Fei Yang bisa bergerak meluncur ringan keluar dari dalam jurang tanpa perlu bantuan tali akar rotan yang dia tinggalkan begitu saja di sana.
Dengan gembira dan puas Fei Yang menikmati tubuhnya yang bisa terbang ringan meluncur keatas.
Fei Yang mendarat ringan di bibir tebing Yu Ni Feng sebelah barat.
Saat kembali lagi ketempat tinggalnya, Fei Yang menatap kaget kearah pemandangan di hadapannya.
Kebun bunga di halaman depan rumah kini bunganya sudah bermekaran.
Kebun sayur dan buah di belakang rumah juga terlihat sudah tumbuh dengan suburnya.
Kandang ayam yang dulu di buatnya, kini terlihat sudah di perbesar.
Juga ada kandang tempat induk ayam dan anak anak ayam yang kecil.krcil dan lucu lucu sedang bermain.
Melihat semua itu, Fei Yang jadi berpikir, sebenarnya sudah berapa lama dia menghabiskan waktu berlatih di Gua Api Surgawi.
Pandangan mata Fei Yang berhenti pada istrinya, yang kini terlihat perutnya sangat besar, hingga untuk sekedar duduk pun terasa sulit.
Istrinya terlihat duduk termenung di sana dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.
Fei Yang seumur hidup bersama ini adalah kali kedua dia melihat ekspresi wajah Xue Lian seperti itu
Kali pertama adalah pertemuan mereka di pulau ikan di mana waktu itu dia sedang bersama Fei Hsia yang mengaku ngaku sebagai istrinya.
Melihat hal itu Fei Yang benar benar merasa tidak tega, rasa bersalah menyelimuti perasaannya.
Sekali bergerak Fei Yang sudah menghilang dari posisinya, muncul lagi tepat duduk di belakang istrinya.
Xue Lian yang merasa ada desir halus di belakangnya, secara reflek dia langsung ingin bergerak.
Tapi berhubung perutnya begitu besar, pergerakannya menjadi kurang leluasa.
Belum sempat dia bergerak, sepasang tangan sudah melingkar di atas perutnya yang besar.
Xue Lian merasakan ada dada bidang yang menempel di punggungnya.
"Heiii..!"
"Siapa..?"
jerit Xue Lian kaget ingin meronta.
"Lian Mei tenanglah, ini aku.."
ucap Fei Yang lembut, sambil mengeratkan pelukan di perut istrinya.
Menahan nya agar tidak banyak bergerak.
Xue Lian sebenarnya agak kaget,
Tapi suara itu, suara yang sangat dia kenal, suara yang selalu menghiasi pikirannya siang dan malam.
Xue Lian akhirnya batal bergerak, dia hanya menolehkan kepala nya sedikit kebelakang, untuk melihat dan memastikan pemilik suara itu.
Apakah benar suara itu adalah suara dari orang yang sangat di rindukan nya.
"Maafkan aku sayang, telah pergi meninggalkan mu begitu la..."
Belum selesai ucapan Fei Yang, belakang kepalanya sudah ditarik lembut oleh Xue Lian.
Agar menunduk kebawah, sambil menoleh dan sedikit menengadah.
Xue Lian yang sudah mematikan yang di belakang nya, adalah suaminya Fei Yang.
Dia langsung menempelkan mulutnya dengan lembut di sana.
Melepaskan semua perasaan nya yang bercampur aduk.
Tertahan begitu lama, selama ini tanpa ada tempat untuk di lepaskan.
Kini setelah bertemu wadahnya, dengan penuh perasaan yang bergejolak hebat.
Xue Lian melepaskan semuanya dalam sebuah ciuman hangat dan panjang.
Perlahan-lahan Xue Lian bahkan bertukar posisi, memutar tubuhnya menghadap kebelakang.
Duduk di atas pangkuan suaminya, dengan tangan melingkar dibelakang leher dan kepala Fei Yang.
Di mana dengan posisi ini Xue Lian bisa lebih bebas melepaskan perasaan rindunya.
Fei Yang melayani kemauan istrinya dengan lembut.
Hingga akhirnya Xue Lian melepaskan nya sendiri.
"Mengapa begitu lama ? apa kamu tidak rindu ? dan sudah lupa dengan kita .?"
tanya Xue Lian sambil memandang sepasang bola mata suaminya yang indah, bagaikan lautan biru yang tenang.
"maafkan aku sayang, aku juga tidak menyadarinya sudah berapa lama di sana.."
"Aku hanya tahu, ada hawa hangat yang terus mengalir masuk kedalam tubuh ku."
"Mengimbangi hawa dingin yang sangat kuat di dalam tubuhku, hingga kedua hawa berimbang.."
"Aku pilih kembali, akupun segera kembali kemari.."
"Ternyata.."
ucap Fei Yang sambil menatap istrinya penuh perasaan bersalah dan menyesal.
"Ternyata apa ? ternyata istri mu sudah gendut dan jelek bukan..?"
tanya Xue Lian pura pura cemberut.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kamu yang bilang bukan aku, bagi ku kamu malah semakin cantik.."
"Membuat ku semakin jatuh cinta, untuk yang sudah bisa terhitung lagi berapa kali nya ."
ucap Fei Yang sambil tersenyum.
Sambil menahan senyum, Xue Lian berkata,
"Gombal lagi, mungkin maksud mu saking banyaknya kamu jatuh cinta dengan wanita sekitar mu hingga kamu sulit hitungnya, bukan begitu..?"
Fei Yang dengan wajah panik langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tentu bukan, maksud ku adalah aku cuma jatuh cinta berulang kali sama kamu saja.."
"Termasuk saat aku jadi Hua San Lao Lao gitu..?"
tanya Xue Lian sambil menahan tawa bahagia nya
"Hmm kalau itu,..kalau aku tahu itu kamu tentu aku akan jatuh cinta juga.."
"Tapi kalau bukan kamu, aku pasti akan membenci dan menyesali diri ku seumur hidup.."
ucap Fei Yang sambil menatap kearah istrinya dengan serius.
Xue Lian akhirnya tersenyum bahagia, dia menggeser posisi duduknya menjadi menyamping, agar bisa lebih leluasa menyandarkan wajahnya di dada suaminya.
Sambil bersandar manja, Xue Lian bertanya,
"Bagaimana dengan keadaan mu sekarang ? apa sudah pulih sepenuhnya..?"