
Rombongan Fei Yang dan rombongan kedua orang tuanya, akhirnya tiba di dalam ruangan istana.
Mantan ratu Sabrina maju memeluk putranya dengan penuh rasa kangen.
Mantan Raja Li Yuan Ming juga ikut maju memeluk putranya dan berkata,
"Baguslah kamu sudah pulang nak.."
"Ibu mu sudah sangat rindu dengan mu.."
"Siang malam yang disebut cuma nama mu.."
Ratu Sabrina melirik suaminya dan berkata,
"Apa kamu tidak,..?"
Li Yuan Ming tersenyum canggung dan berkata,
"Ya,..ya .aku juga.."
Fei Yang tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tua nya yang tidak pernah berubah.
Tapi dia tahu meski ibunya terlihat galak tapi sebenarnya, ibunya sangat sayang dan mencintai ayahnya.
Berkali kali ibunya selalu membahayakan nyawanya hanya demi untuk menyelamatkan ayahnya dan kerajaan ayahnya.
Ratu Sabrina menoleh kearah Xue Lian yang berdiri dengan kepala tertunduk.
Dia menatap Fei Yang dan berkata,
"Putra ku, siapa gadis yang sangat cantik ini..?"
Xue Lian langsung maju berlutut di hadapan Sabrina dan Li Yuan Ming.
"Li Xue Lian mantu yang tidak berbakti datang memberi hormat pada Ibu dan Ayah.."
ucap Xue Lian sambil menempelkan keningnya diatas lantai
Bersujud di depan kaki kedua orang tua Fei Yang.
Kedua orang tua Fei Yang agak kaget dan saling pandang.
Tapi mereka berdua buru buru membangunkan Xue Lian dan berkata,
"Tak perlu peradatan berdirilah anakku.."
Ratu Sabrina menoleh kearah putranya dan berkata,
"Yang er kapan kalian menikah ? di mana kalian menikah ? mengapa ayah ibu tidak di kabari..?"
Fei Yang maju menggandeng tangan ayah ibunya untuk duduk.
Dia juga menggandeng ayah ibu Xue Lian duduk di sebelah mereka berdua.
Lalu dia dan Xue Lian berlutut di hadapan mereka berempat dan berkata,
"Ayah Ibu terimalah sembah sujud kami berdua dulu, mohon ijin dan doa restunya.."
"Nanti Fei Yang akan jelaskan semuanya.."
Setelah berkata, Fei Yang dan Xue Lian terlebih dahulu bersujud di depan kaki Sabrina dan Li Yuan Ming sambil menyuguhkan teh buat kedua orang tua nya.
Lalu berpindah secara bergantian dia bersujud di depan kedua orang tua Xue Lian, disana dia dan Xue Lian juga menyuguhkan teh kepada kedua orang tua Xue Lian.
Setelah selesai Fei Yang dan Xue Lian dalam posisi berlutut mulai bercerita
"Ayah Ibu,.."
ucap Fei Yang sambil menatap kedua orang tua nya dan berkata,
"Sebelum aku bercerita ,kenapa aku dan Xue Lian bisa menikah, tanpa mengabari kalian."
"Aku akan bercerita dari awal biar kalian mengerti dan paham sepenuhnya.."
"Ayah Xue Lian adalah keturunan terakhir kaisar Li Shi Min dari dinasti Tang, beliau bernama Li Yu.."
"Sedangkan Ibu Xue Lian adalah keturunan terakhir Leluhur pendiri Xu San Dewa Fu Si dan Dewi Fu Si.."
"Karena ayah Xue Lian mengejar penghianat musuh keluarga Li, ayah dan ibu Xue Lian terjebak oleh musuh terkurung di sebuah lembah misterius.."
"Sedangkan pertemuan aku dan Xue Lian berawal dari saat aku hampir tewas di kejar oleh Ming Wang dan Xu Da dari aliran Hei Mo San."
"Waktu itu Xue Lian lah yang menyelamatkan ku, dan memberi ku ijin untuk tinggal sementara di sana.."
ucap Fei Yang sambil menatap kearah istrinya dengan senyum penuh rasa berterimakasih.
Xue Lian tersenyum malu dengan kepala tertunduk dan wajah sedikit merah, menanggapi pujian suaminya.
Sabrina dan Li Yuan Ming menatap menantu mereka dengan tatapan mata penuh terimakasih.
Ratu Sabrina bangun dari duduknya, dia maju membangunkan Fei Yang dan Xue Lian, lalu berkata,
"Ceritanya pasti masih panjang, akan melelahkan bila kalian terus berlutut di sini."
"Ayo bangunlah mari kita pindah ke taman, disana kita bisa ngobrol santai sambil makan minum..."
"Ayo semuanya kita pindah ke taman saja.."
ucap Sabrina memberi kode mengajak Li Dan juga Sian Sian ikut dengan nya.
Lalu dia menoleh kearah pelayan di sana dan berkata,
"Kalian cepat siapkan makanan dan minuman, kita akan rayakan pesta pertemuan ini di sana.."
Pelayan di sana bergerak cepat pergi menyiapkan segala sesuatunya.
Rombongan itu kemudian pindah ke taman istana yang santai, di sebuah pondok terbuka yang biasa di gunakan untuk bersantai.
Mereka duduk berkeliling mendengarkan cerita Fei Yang.
Fei Yang kembali melanjutkan ceritanya.
"Ibu ayah alasan ku dari awal tidak menerima perjodohan adalah sebenarnya di hati ku sudah ada dia.."
ucap Fei Yang sambil menoleh kearah istrinya, dan menggenggam tangan nya dengan lembut
Setelah itu dia baru melanjutkan ceritanya,
"Hanya saja waktu itu aku belum sadar sepenuhnya.. hingga kami kemudian kembali bertemu di gunung Hua San.."
Di mana dia diam diam menyamar menjadi seorang nenek tua, yang selalu muncul menolong ku, setiap kali aku dalam masalah besar.."
"Dalam keributan di Hua San diantara kami sempat terjadi suatu salah paham yang fatal, yang membuat kami terpaksa berpisah.."
"Semua rahasia ini baru terbuka, saat kami kembali bertemu di lembah tempat tinggal Xue Lian yang lama."
"Di sana aku baru tahu, sebenarnya selama ini dia tidak pernah jauh dari ku, dia dan nenek itu adalah satu orang.."
"Semua simpul salah paham kami terbuka, kita pun kembali bersama."
"Alasan kami memilih menikah tanpa ijin adalah kami tidak tahu apakah kami bisa berhasil atau tidak, menolong kedua orang tua Xue Lian.."
"Jadi kami hanya bisa menikah sembahyang langit bumi dulu, agar kami bisa bebas bersama."
"Baru setelah berhasil menolong kedua orang tuanya keluar, kami akan meminta restu dan melangsungkan pernikahan resmi nya di sini.."
"Semua ini adalah ide ku, situasi lah yang memaksa ku harus ambil keputusan seperti itu."
"Harap ayah ibu bisa mengerti dan memaafkan kami.."
ucap Fei Yang menyelesaikan cerita ringkasnya.
Li Yuan Ming menatap kearah putranya dan bertanya,
"Lalu kenapa dengan rambut mu ? apa yang sebenarnya terjadi..?"
Fei Yang tersenyum canggung dan berkata,
"Ini akibat salah paham antara aku dan dia, yang waktu itu sedang menyamar jadi nenek Hua San Lao Lao."
Sabrina yang bisa menangkap putranya pasti ada alasan canggung yang tidak bisa di sebutkan..
Dia pun berkata,
"Ya sudah, semua sudah berlalu, yang penting adalah saat ini."
"Lalu kapan rencana kalian ingin melangsungkan pernikahan resmi di sini..?"
ucap Sabrina terus terang.
"Semua mendengar pengaturan dari ibu dan ayah saja, kami tidak punya pendapat.."
"Bisa lebih cepat lebih baik.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum lembut ke ibunya.