
Melihat hal itu, Fei Yang buru buru mengirim pesan Cian Li Cuan Im, ke Rajawali Emas agar datang membantunya.
Sesaat kemudian dari arah depan Fei Yang, terlihat titik hitam kecil sedang bergerak cepat mendekati nya.
Fei Yang tanpa pikir panjang dan banyak bicara langsung melempar Li Cing, di susul dengan Sian Sian.
Kearah titik hitam yang sedang mendekat, tanpa menghiraukan pekik kaget dan ketakutan dari Li Cing dan Sian Sian.
Fei Yang sudah memutar tubuhnya, lalu melesat ke arah Vipasana lhama, Sangha dan Dheva lhama yang sedang melakukan pengejaran kearahnya.
Tidak tanggung tanggung, Fei Yang langsung mengerahkan Tenaga Sakti Alam Semesta hingga level 8,
Tarian pedang Naga Es dan Phoenix Api jurus ke 10 Naga Es dan Phoenix Api bersatu mencapai keabadian.
Di kombinasi dengan jurus ke 7 Api dan Es pemusnah semesta.
Di awali dengan seluruh tubuh Fei Yang yang terus menerus menyerap kekuatan Api dan Es semesta dari langit dan bumi hingga titik maximal.
Baru Fei Yang melepaskan tebasan yang membentuk Naga Es dan Phoenix Api, yang menyatu membentuk Seekor mahluk aneh campuran Naga Es dan Phoenix Api.
Mahluk itu dari kepala hingga keleher berbentuk Naga Es, tapi dari leher kebawah berbentuk seekor Phoenix api, yang bersayap berekor dan memiliki sepasang cakar yang tajam.
Seluruh tubuh mahluk itu diselimuti cahaya meteor biru dan merah, yang bergabung menjadi satu.
Lalu melesat kearah rombongan Vipasana lhama yang sedang melakukan pengejaran.
Vipasana lhama, Sangha dan Dheva lhama juga tidak mau kalah, mereka bertiga masing-masing merapalkan jurus ke 8 dari Tapak Budha.
"Kesaktian Budha Tiada Tara..!!"
teriak mereka bertiga kompak, sambil membentuk mudra merapalkan jurus tersebut.
Muncul 3 Sosok Buddha Asurra raksasa, yang di kelilingi oleh ribuan Budha Asurra kecil kecil disekitarnya.
Lalu ketiga Budha Asurra dengan telapak tangan terbuka, melesat menyambut serangan tunggal Fei Yang.
Pergerakan Budha Asurra, di ikuti oleh 3 ribuan Budha kecil, yang masing-masing menyatu dengan Buddha Asurra raksasa di hadapan mereka.
Budha raksasa' Asurra itu kemudian menyerang dari tiga sisi atas bawah dan tengah.
Benturan dahsyat terjadi di udara, membentuk lingkaran Cincin kekuatan yang membias kesegala arah di udara.
Akibat ledakan dahsyat itu, hujan es pun turun jatuh kebawah membasahi bumi.
Seolah ingin mencuci bersih segala kotoran yang ada di dunia ini.
Saat benturan terjadi, 3 Budha Asurra raksasa lenyap tak berbekas.
Mahluk kombinasi ciptaan Fei Yang masih terus melesat mengejar kearah Vipasana lhama, Sangha dan Dheva lhama.
Vipasana lhama berhasil membentuk tameng bergambar cahaya Swastika Budha Asurra.
Menangkis serangan mahluk aneh itu, lalu membelokkan nya kearah Sangha dan Dheva.
Kedua orang itu, tidak sanggup menahan serangan tersebut, akhirnya mahluk aneh itu menembus pertahanan yang mereka berdua ciptakan.
Menghancurkan apapun yang mereka lewati, termasuk Sangha dan Dheva lhama yang langsung jatuh kebawah dalam kondisi pingsan tidak sadarkan diri.
Mereka berdua terluka cukup parah, terbaring lemah tak bergerak dalam pondongan Dote dan Jigme lhama.
Sedangkan Vipasana lhama setelah berhasil mengalihkan serangan Fei Yang.
Dia langsung merapalkan jurus ke 9,
"Semua Budha kembali ke asal..!"
teriak Vipasana lhama dengan suara lantang.
Terlihat semua bayangan Budha dari segala penjuru melayang keatas menuju surga barat.
Lalu Sosok Budha Asurra itu, melepaskan sebuah telapak tangan terbuka, yang mengeluarkan cahaya emas kehitaman.
Membentuk sebuah bayangan telapak tangan raksasa melesat kearah Fei Yang.
Fei Yang langsung menyambutnya dengan serangan tebasan dengan kekuatan penuh seperti sebelumnya.
Seekor mahluk aneh kombinasi Naga Es dan Phoenix Api kembali melesat dengan kekuatan penuh menyambut serangan tapak raksasa yang tiba.
Benturan dahsyat terjadi di udara, Mahluk aneh berhasil menembus bayangan telapak tangan raksasa itu.
Dan menghancurkan tameng cahaya Swastika emas Budha Asurra.
Kemudian menabrak tubuh Vipasana lhama, hingga terpental dari udara, jatuh keatas tanah menimbulkan sebuah ledakan dahsyat yang berbentuk kawah raksasa.
Vipasana lhama yang jatuh terlentang di atas tanah, keadaan di sekitarnya membentuk sebuah kawah raksasa.
Dia lalu buru-buru bangkit duduk bermeditasi, meski dari mulutnya sempat menyemburkan darah segar beberapa kali.
Tapi setelah melakukan meditasi yang mirip yoga, tubuhnya perlahan-lahan, mulai bisa pulih kembali.
Sedangkan di posisi Fei Yang, Tapak Raksasa' Budha Asurra, yang berhasil di tembus, dan hancur berantakan berubah menjadi butiran cahaya.
Tapi dengan ajaibnya butiran cahaya itu kembali berkumpul, lalu membentuk tapak raksasa itu kembali.
Bahkan kini di dalam tapak raksasa yang terbuka, muncul cahaya Swastika keemasan yang bersinar terang.
Menghantam kearah Fei Yang, hingga tubuh Fei Yang terpental kebawah.
Akibat pergesekan antara tubuh Fei Yang dengan tanah di belakangnya, menimbulkan sebentuk garis memanjang, yang membentuk sebuah parit yang lebar dan dalam di bawah sana.
Berbeda dengan kondisi Vipasana lhama, yang bisa bangkit memulihkan diri.
Kondisi Fei Yang jauh lebih parah, seluruh pakaiannya compang-camping tidak karuan.
Dari panca Indra nya mengeluarkan darah segar, Fei Yang terlihat pingsan tidak bergerak, dengan sekujur tubuh terlihat urat-urat yang menonjol keluar dari menggumpal di sana sini, mirip orang yang mengalami varises.
Hanya saja varises biasanya suka muncul di satu atau beberapa tempat saja
Tapi dalam kasus Fei Yang varisesnya malah muncul hampir di seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya pun terlihat ada urat urat yang menonjol.
Melihat keadaan yang di alami oleh Fei Yang, Kipu Lhama sambil tertawa licik, melangkah pelan menghampiri Fei Yang.
Setelah berada di sisi Fei Yang dia baru berkata sambil tersenyum sinis.
"Ping Huo Ta Sia, akhirnya kamu ada juga akhir seperti hari ini.."
"Kamu pasti tidak menyangka, hari ini kamu akan tewas di tangan ku.."
"Ha,,... Ha,... Ha,...!!"
"Mampuslah,...!!"
teriak Kipu Lhama sambil tersenyum sadis.
Di kedua tangan nya, muncul sepasang Cakra emas, yang dengan sangat cepat, langsung diayunkan kearah leher dan kepala Fei Yang.
Saking cepatnya hanya terlihat cahaya emas yang bergerak dengan kecepatan tinggi menebas kearah leher Fei Yang.
Fei Yang sendiri terlihat hanya terkapar pingsan, tak bergerak menunggu ajal, yang sedang bergerak menghampirinya.
Di tempat lain, baik Li Cing maupun Sian Sian yang di lemparkan oleh Fei Yang secara mendadak.
Mereka berdua berteriak histeris, sambil memejamkan mata mereka, dengan sangat ketakutan dan pasrah.
Hingga tubuh mereka berdua dengan ringan, secara bergantian mendarat di atas punggung Kim Tiaw yang empuk.
Mereka berdua baru berani, perlahan lahan membuka sepasang mata mereka, untuk melihat keadaan sekitarnya.