PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTEMUAN ORANG TUA


"Zi Zi kamu jangan tanggapi gadis nakal itu, biar dia nakal dan ucapan nya suka kelewatan.."


"Tapi dia sebenarnya sangat baik dan berbudi, bila bukan karena nya."


"Putra kedua ku yang bodoh ini tidak tahu akan jadi apa, setelah di buang dari keluarga Pai karena cacat..."


"Putra pertama ku Yue Lin, mungkin juga sudah gugur di bawah kepungan pasukan Mongolia, bila dia tidak datang menolongnya.."


"Jadi pandang lah muka bibi, jangan ambil hati dengan nya.."


ucap Hong Yi, sambil menggenggam kedua tangan Zi Zi dengan lembut.


Calon ibu mertuanya sudah buka mulut, Zi Zi mana berani melanjutkan adatnya.


Dengan kepala tertunduk Zi Zi mengangguk dan berkata,


"Bibi benar, Zi Zi kedepannya akan selalu mengingat ajaran bibi.."


"Maafkan sikap Zi Zi yang kurang dewasa dan memalukan.."


ucap Zi Zi merasa tidak enak hati.


Hong Yi tersenyum dan berkata,


"Anak baik kamu tidak perlu minta maaf.."


"Ohh ya siapa nama orang tua mu nak, di mana mereka tinggal..?"


Zi Zi belum jawab, Kim Kim kembali memotongnya.


Langsung kesana menemuinya, bibi juga akan tahu sendiri.


"Yang jelas calon anak tiri ku ini, ayahnya luar biasa tampan, baik dan sabar.."


"Pokok nya ni.."


ucap Kim Kim sambil memberi tanda jempol, lalu dia kembali berubah menjadi naga emas.


Zi Zi sekali ini tidak menanggapi Kim Kim lagi, dia hanya tersenyum sabar.


"Kim Kim jaga mulut mu, atau jangan harap aku menemani mu pergi cari saudara mu.."


tegur Nan Thian, karena Kim Kim semakin kurang ajar.


Sekali ini ancaman Nan Thian mempan, Kim Kim tidak berani banyak bersuara lagi.


Dia hanya mendekam diatas tanah menunggu yang hadir di sana naik keatas punggungnya.


"Ayah Ibu kakak, silahkan naik keatas punggung Kim Kim, bibi ayo kita juga ikut naik.."


ucap Nan Thian mengajak semua yang hadir disana, untuk segera naik keatas punggung Kim Kim.


Yue Feng dan istrinya naik duluan di susul oleh Yue Lin.


Zi Zi mengangguk kecil menanggapi ajakan Nan Thian, mereka berdua pun menyusul naik keatas punggung Kim Kim.


Setelah memastikan semuanya sudah duduk di atas punggung nya, Kim Kim segera melesat kearah tebing sebelah barat meluncur kedalam jurang.


Tidak jauh dari gua api surgawi, Nan Thian segera menggerakkan tangannya membuka segel formasi pintu portal dimensi.


Begitu pintu portal cahaya terbuka, Kim Kim langsung melesat masuk kedalam pintu portal dimensi tersebut.


Setelah melewati lorong panjang portal dimensi, akhirnya mereka tiba di depan halaman rumah kediaman Fei Yang.


Hong Yi dan Yue Feng sangat kaget saat melihat pria berambut putih yang bersama seorang gadis yang sangat cantik .


Sedang membantu seorang wanita lain, yang juga tidak kalah cantik, tapi sepertinya mengalami kelumpuhan, kini sedang belajar berjalan.


Hong Yi dan Yue Feng bersamaan melayang kehadapan Fei Yang dan Xue Lian.


Mereka berbarengan berkata,


"Paman guru Yang, bibi Xue Lian, kalian berdua tinggal di sini ? kenapa dengan kaki bibi Xue Lian..?"


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Kakak Hong Yi kakak Feng kalian telah datang, maafkan adik yang tidak bisa melakukan penyambutan dengan baik.."


Xue Lian juga mengangguk dan tersenyum lembut, ikut menyambung.


"Suami ku, ajaklah tamu berbicara di dalam, biar Fei Hsia saja yang membantu ku menyusul kedalam.."


Fei Hsia tersenyum dan berkata,


"Pergilah kakak Yang, kakak Lian benar, kakak Lian biar bersama ku saja.."


"Terimakasih adik Hsia.."


ucap Fei Yang dengan tatapan mata tidak tahu harus bersikap bagaimana menanggapi kebaikan Fei Hsia.


Tapi hanya sekilas, dia pun sudah berlalu dari sana mengajak pasangan Hong Yi dan Yue Feng duduk di teras depan rumah.


Di sana ada bangunan baru pondok peristirahatan, yang di bangun oleh Fei Yang di bantu Nan Thian.


Fei Yang menyeduh teh wangi hasil tanam sendiri, buat kedua tamunya.


"Silahkan kakak Feng, kakak Hong Yi, maaf hanya ada teh kasar di tempat adik mu ini.."


ucap Fei Yang merendah.


Hong Yi dan Yue Feng tersenyum dan berkata,


"Paman guru, kamu terlalu sungkan seperti baru kenal saja.."


"Bagi kami ini sudah lebih dari cukup, apalagi putra kedua kami selama ini ternyata terus merepotkan paman guru di sini.."


"Kami justru yang merasa tidak enak hati.."


ucap Hong Yi sambil tersenyum lembut.


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kamu salah Hong Yi, justru putra mu Nan Thian lah yang telah sangat berjasa membantu ku menyembuhkan Xue Lian.."


"Bila bukan ada Nan Thian, nasib putri ku Zi Zi juga nasib istri ku dan kedua putra kembar ku tidak tahu akan jadi bagaimana..'


"Mungkin keluarga ini sudah lama hancur, kalian mungkin tidak bisa bertemu dengan ku lagi..'


ucap Fei Yang serius.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Yue Feng sedikit penasaran.


Karena dia tahu persis bagaimana sakti nya sepasang jagoan itu.


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Intinya semua ini adalah kesalahan ku, tidak bisa menjadi ayah dan suami yang baik bagi mereka.."


Fei Yang terlihat sangat menyesalkan dirinya sendiri.


"Kalian jangan dengarkan dia, dia memang selalu seperti itu, semua beban selalu mau dia pikul seorang diri.."


"Ini murni adalah cobaan berat buat kami, suratan nasib yang tidak bisa di hindari.."


"Sebagai suami dia sudah melakukan nya, melampaui batasan nya sebagai suami.."


ucap Xue Lian yang baru tiba di sana, di bantu oleh Fei Hsia.


Xue Lian ikut duduk di samping Fei Yang, memegang tangan suaminya dan menatap nya dengan mesra dan berterimakasih.


Fei Yang tidak membantah, dia hanya tersenyum lembut, lalu dia menambahkan dua cawan teh panas di hadapan Xue Lian dan Fei Hsia yang duduk berdampingan.


Setelah nya, Fei Yang baru bercerita pelan pelan semua yang dia alami bersama istri dan anak anaknya.


Yue Feng dan Hong Yi hanya bisa memandang Fei Yang dan Xue Lian dengan penuh simpati dan kasihan.


Hong Yi berulang kali harus menghapus air matanya yang runtuh, saat hatinya tersentuh oleh penderitaan yang dialami oleh pasangan itu.


Sedangkan Yue Feng berulang kali menghela nafas panjang mendengar cerita Fei Yang.


Sesekali Xue Lian akan ikut menimpali cerita suaminya.


Fei Hsia hanya ikut mendengarkan di samping dengan sepasang mata sedikit berkaca kaca.


Dia diam diam terus menatap laki laki yang sangat di cintai nya itu dengan penuh kagum.


Di sana angkatan tua sedang asyik ngobrol, di depan pondok tempat tinggal Zi Zi.


Terlihat angkatan muda juga sedang duduk berkeliling mendengarkan cerita Yue Lin kakak Nan Thian, tentang masalah yang terjadi di dunia ramai sana.