PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KESEDIHAN BIKSUNI CANTIK


Zhao Yuan Zuo memumtahkan darah segar dari mulutnya.


Dengan ujung lengan bajunya, Zhao Yuan Zuo menghapus sisa darah di ujung bibirnya.


Lalu berusaha bangkit berdiri, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Zhao Yuan Zuo memejamkan sepasang matanya, dan menancapkan pedangnya keatas tanah.


Dia membentangkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, semua energi kegelapan muncul dari dalam tanah dan dari atas langit.


Berkumpul mendekati Zhao Yuan Zuo, kemudian masuk kedalam tubuhnya.


Seluruh tubuh Zhao Yuan Zuo bergetar hebat seperti sedang kerasukan roh.


"Arggggghhh,...!!"


Zhao Yuan Zuo mengeluarkan suara teriakan yang menyakitkan telinga.


Tubuhnya berubah, seluruh pakaiannya sobek sobek karena tubuhnya membesar.


Semua otot di tubuhnya terlihat menonjol seperti seorang atlit binaraga.


Kulit di tubuhnya berubah warna menjadi biru kehitaman, dari kepalanya muncul dua tanduk besar.


Energi gelap terus menyelimuti seluruh tubuh nya, yang perlahan-lahan melayang di udara.


Pedangnya yang tertancap di atas tanah, bergetar hebat kemudian ikut terbang ke udara.


Mengikuti arahan sepasang telunjuk dan jari tengah Zhao Yuan Zuo.


pedang itu membelah diri menjadi 6 kemudian melesat kearah Fei Yang.


Fei Yang yang di dalam otaknya sudah tergambar jelas, apa yang akan di lakukan Zhao Yuan Zuo.


Semua kelebihan dan kelemahan jurus yang akan di lepaskan oleh Zhao Yuan Zuo, semua tergambar jelas di depan mata nya.


Fei Yang dengan mata terpejam melepaskan enam cahaya yang membentuk 6 batang pedang melesat menyambut serangan yang datang.


Seluruh energi alam semesta yang tidak berbatas terus memasuki tubuh Fei Yang, hingga tubuh Fei Yang pun ikut melayang di udara.


Seluruh tubuhnya memancarkan enam cahaya yang terdiri dari merah biru kuning putih ungu dan warna gabungan ke 5 warna tersebut.


"Blarrr ,..!!"


benturan terjadi di udara, menimbulkan ledakan dahsyat di sekitarnya.


Ke 6 pedang hitam saling menekan di udara berhadapan dengan ke 6 cahaya pedang yang Fei Yang lepaskan.


Zhao Yuan Zuo terus mendorongkan sepasang tangannya kedepan untuk menambah daya dorong energi kegelapan nya.


Kabut hitam di tubuhnya menyebar kemudian bergerak maju ingin membungkus tubuh Fei Yang.


Tapi kabut hitam itu sebelum berhasil mencapai sasaran nya.


Kabut hitam itu meledak sirna di hancurkan oleh ke 6 cahaya yang memancar dari tubuh Fei Yang.


Seiring dengan hal tersebut 6 cahaya pedang Fei Yang juga bersinar semakin terang.


Fei Yang sendiri menghilang dari posisinya, muncul tepat di belakang Zhao Yuan Zuo.


Sebelum Zhao Yuan Zuo menyadari keberadaan Fei Yang di belakangnya.


Sebuah tebasan pedang energi 6 cahaya melintas melewati lehernya.


Kepala Zhao Yuan Zuo langsung terlepas menggelinding di atas tanah.


Tubuhnya tumbang jatuh keatas tanah tanpa kepala.


Darah berceceran memenuhi sekitar tubuhnya.


Semua energi kegelapan buyar tak berbekas, tubuhnya kembali kebentuk asal, begitu pula dengan kepalanya yang terpisah dari badannya.


Pedang hitamnya jatuh tergeletak di atas tanah kehilangan cahaya nya, berubah menjadi sepotong besi rongsok penuh karat.


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


Fei Yang melayang ke udara, mendekati arena pertempuran yang kacau balau.


Dimana pasukan kerajaan Song yang tersisa 200.000 orang terlihat cerai berai sedang bertempur secara terpisah pisah di bawah kepungan pasukan Li Dan dan Lan Yi.


Jendral Gong sendiri sudah tidak terlihat di antara mereka lagi.


"Wahai pasukan kerajaan Song dan pasukan kerajaan Xi Xia.."


"Segera hentikan perang ini..!!"


ucap Fei Yang mengerahkan Chi daam suara yang dia keluarkan.


Semua orang yang sedang bertempur di bawah sana, segera menghentikan pertempuran nya.


Li Dan dan Lan Yi memberi kode agar seluruh pasukan mereka bergerak mundur, membentuk lingkaran mengelilingi pasukan kerajaan Song yang tersisa.


Pasukan kerajaan Song menatap kearah langit, di mana Fei Yang berada, dengan tatapan mata putus asa dan tidak memiliki harapan.


Fei Yang menatap kearah mereka dengan tatapan mata kasihan dan berkata,


"Wahai pasukan Song dengarlah baik baik..!"


"Aku akan mengampuni kalian semua kembali ke negara song dengan selamat.."


"Aku juga akan membekali kalian dengan perbekalan yang cukup, untuk kalian bisa kembali ke negara kalian dengan selamat.."


"Asalkan kalian bersumpah untuk tidak pernah menginjakkan kaki kalian lagi, di kedaulatan Wilayah kerajaan Xi Xia."


"Anggap saja ini untuk membayar semua hutang Budi dan dendam ku, terhadap putri Wei Wen.."


ucap Fei Yang sambil termenung sedih.


"Selanjutnya diantara kita tidak saling berhutang lagi, aku akan belajar melupakan mu.."


gumam Fei Yang di dalam hati.


Seluruh pasukan kerajaan Song segera membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut.


Li Dan mengerti maksud Fei Yang, dia segera memberi kode agar pasukannya mendorong kereta perbekalan untuk di berikan kepada sisa pasukan Song.


Setelah itu mereka pun bergerak menghilang dari tempat tersebut.


Terdengar suara gegap gempita dari barisan pasukan Song.


"Terimakasih pangeran Li, kami akan ingat pesan anda,..!"


"Kami bersumpah selamanya tidak akan pernah menginvasi negara Xi Xia lagi...!"


Kemudian sisa pasukan itu bahu membahu menolong teman teman mereka yang terluka di naikan keatas kereta, kemudian mereka bergerak meninggalkan wilayah kerajaan Xi Xia.


Ketika tiba di perbatasan kerajaan Song, mereka mendengar informasi Kai Feng ibukota negara mereka telah jatuh ketangan kerajaan Liao.


Mereka terpaksa mengambil jalan memutar melewatkan He Nan langsung menuju kota Qin, Xing Yuan, terus menuju Xiang Yang ibu kota baru negara Song.


Mereka bergabung dengan pasukan keluarga Guo dan pasukan Zhao Heng, kaisar baru kerajaan Song.


Di sebuah ruangan yang megah yang di hiasi patung besar Dewi Kwan Im.


Terlihat seorang biksuni muda yang sangat cantik, sedang berdoa sambil menggunakan sebuah pentungan kecil memukuli sebuah kayu halus berwarna merah berbentuk bulat.


"Tok,..! Tok,..! Tok,..! Tok,..! Tok,..!"


Dari sepasang matanya yang terpejam terus bercucuran air mata, lalu bergulir turun melewati pipinya yang putih halus, jatuh keatas pangkuan nya, membasahi pakaian biksuni sederhana nya.


Kabar kepulangan pasukan yang di pimpin oleh kakaknya menyerang Xi Xia, kini telah terdengar hingga ke telinganya.


Kabar yang mereka bawa, bahwa mereka di lepaskan kembali oleh pangeran Xi Xia, untuk membayar hutang budinya, kepada putri Wei Wen lah.


Yang membuat biksuni cantik itu tidak bisa menahan airmatanya yang runtuh.


Meski dia terus berusaha membaca doa penuh semangat, pukulan alatnya juga semakin lama semakin nyaring hingga akhir alat pukul itu patah bagian ujungnya.


Biksuni itupun menghentikan doa nya, dia duduk bersimpuh disana, menggunakan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya dan menangis pilu seorang diri, di depan patung Dewi Kwan Im yang selalu tersenyum penuh welas asih.