
"Tranggg,.!"
"Tranggg,.!"
"Tranggg,.!"
Lagi lagi terdengar suara senjata beradu di dalam kabut asap putih.
Kini yang menjadi Lokasi sasaran adalah Lokasi Lan Ruo Se Thai ketua aliran Er Mei.
Lokasi ketua Khong Tong Pai Jian Kai, Lokasi ketua Kun Lun Pai Chang Qin.
"Wusss,..! Wusss,..!"
"Brakkkk,..!"
"Brakkk,..!"
Terdengar suara angin pukulan ke as berhembus di sekitar ketua Khong Thong Pai yang tertutup kabut.
"Argghh,..!"
"Kalian,..!"
Terdengar suara teriakan kaget dan marah dari ketua Khong Thong Pai Jian Kai.
Tapi belum juga suaranya selesai bicara suasana pun menjadi hening.
Ketiga biksu senior Shaolin bergerak cepat berpencar arah melepaskan pukulan Cahaya Buddha Menerangi Dunia..
Tapi tetap saja terlambat, begitu kabut hilang ketiga ketua partai itu sudah hilang tidak terlihat lagi ditempat.
Kabut hanya menyibak sebentar lalu kembali menyelimuti seluruh tempat tersebut.
Kini di sana hanya tersisa ketua Hua San ketua Shao Lin ketua Wu Dang, wakil ketua Kai Pang, Xiong Pa dan kedua pengawalnya, serta Shi Ma Cing Hu.
Rombongan itu semakin menyusut, di dalam kabut tebal Xiong Pa berkata,
"Tempat berbahaya jaga diri masing masing, kita harus segera keluar dari sini.."
Meski tidak ada sahutan tapi jelas yang lainnya setuju.
Mereka bergerak secepat mungkin meninggalkan tempat itu begitu kabut terbuka oleh kekuatan gabungan ketiga biksu senior.
Berkat kesaktian ketiga biksu senior, mereka yang tersisa kecuali ketua Hoa San, yang lainnya akhirnya berhasil keluar dari kabut asap di hutan Pinus itu.
Mereka masing masing sempat di serang dalam kabut asap, tapi karena mereka yang tersisa memilki kesaktian tinggi .
Tidak ada penyerang itu yang berhasil mencuri kesempatan.
Bila tidak tertutup asap mereka pasti bisa melihat, jasad puluhan gadis berbaju putih yang tewas di lokasi tersebut, terkena senjata maupun pukulan mereka yang dahsyat.
Shi Ma Cing Hu melihat rekan rekannya dan berkata,
"Penunjuk jalan kita Su Ma Tao Se sudah tidak ada, kita hanya bisa meneruskan perjalanan kita berdasar kira kira saja.."
"Kurasa deretan batu gunung di depan sana, adalah jalan menuju puncak gunung Hoa.."
"Bagaimana menurut kalian..?"
Menanggapi ucapan Shi Ma Cing Hu, yang lain hanya mengangguk tanda setuju.
Mereka kembali meneruskan langkah memasuki deretan barisan batu gunung.
Begitu mereka semua melangkah memasuki deretan batu gunung yang berjajar.
Batu batu di bagian belakang bergerak sendiri menutupi jalan mundur mereka.
Kita lewat udara saja, ucap Shi Ma Cing Hu.
Kemudian dia melayang pelan naik keatas sebuah puncak batu gunung.
Tapi saat dia bermaksud melayang kedepan, batu gunung itu melayang keatas menghadang jalannya
Sekaligus bergerak menabraknya agar mundur kembali ke posisi sebelumnya.
Shi Ma Cing Hu menggunakan kedua tapaknya yang mengeluarkan cahaya hijau untuk menyambut batu gunung besar itu.
"Blarrr,..!"
Batu gunung itu langsung hancur berantakan, tapi batu lain bahkan sampai 4 batu datang dari 4 arah menjepit Shi Ma Cing Hu.
"Blarrr,..!"
"Blarrr,..!"
"Blarrr,..!"
"Blarrr,..!"
Shi Ma Cing Hu bergerak berputaran di udara sambil melepaskan pukulan cahaya hijau keempat penjuru.
Pukulan nya berhasil menghancurkan 4 batu raksasa, yang bergerak hendak menggencet nya.
Tapi dia sendiri kehilangan momen untuk bergerak maju, dia terpaksa mendarat kembali di atas tanah.
Baru saja kakinya menginjak tanah, semua batu pecahan, yang sempat mengambang di udara.
Shi Ma Cing Hu terpaksa membentuk sebuah perisai, yang mengeluarkan cahaya hijau, untuk menangkis semua serangan yang datang.
Meski semua serangan tertahan, tapi Shi Ma Cing Hu sendiri terdorong mundur hingga ke posisi semula.
Pergerakan nya yang ingin lewat udara, telah gagal,.. di hancurkan oleh barisan batu formasi yang di siapkan oleh Hoa San Lao Lao.."
Melihat kejadian tersebut Siaw Hong dan ketiga biksu senior,.mereka dengan pengerahan tenaga sakti.
Mencoba meledakkan satu persatu batu gunung yang menghalangi langkah mereka.
Tapi batu gunung itu yang begitu banyak secara bergantian terus menutup langkah mereka.
Akhirnya mereka berempat terpaksa menahan serangan mereka.
"Pendekar muda,.. cara ini tidak bisa,.. kita akan kehabisan energi, bila terus memaksa dengan kekerasan.."
ucap Biksu Wu Yuen sambil mengatur pernafasannya.
Kedua saudaranya juga mengikutinya.
Siau Hong mengangguk setuju, menanggapi ucapan ketiga biksu senior yang sangat masuk akal.
Tapi saat dia melihat kearah belakang sana, di mana sudah cukup banyak batu yang mereka berempat hancurkan tadi.
Kini batu batu yang hancur telah menyatu kembali, menutupi jalan mundur mereka.
Meski menyatunya tidak rata dan banyak garis retakan terlihat.
Tai ini tetap hal yang mencengangkan nya.
Jadi perjuangan mereka tadi berempat sia sia.
Malah membuat mereka berempat terkurung terpisah dengan Xiong Pa dan Shi Ma Cing Hu.
"Bagaimana ini Biksu senior,..?"
tanya Siaw Hong kehabisan.akal menghadapi formasi batu di hadapannya.
"Omitofo,.. kelihatannya kita harus memecahkan formasi batu ini, baru kita bisa keluar dari sini.."
ucap biksu Wu Yuen tenang.
"Apa biksu bertiga punya cara memecahkan formasi ini..?"
"Ketiga biksu itu saling pandang, kemudian mereka berkata,
"Sayangnya kami tidak punya kemampuan itu.."
"Kalau saja adik kami Wu Neng berada di sini, mungkin dia bisa memecahkan formasi rumit ini.."
ucap Biksu Wu E berpendapat.
"Lalu kita harus bagaimana ? apa kita hanya bisa diam pasrah di sini..?"
tanya Siaw Hong kurang puas.
"Siapa di sana ?"
tanya Siau Hong sambil bersiap ingin melepaskan pukulannya.
"Ini kami tahan, pendekar Siaw,..!"
teriak suara Shi Ma Cing Hu dari balik batu..
Dia keluar dari balik batu bersama seorang gadis cantik berpakaian kuning.
Gadis itu sedikit bersembunyi sembunyi di belakang Shi Ma Cing Hu dengan wajah takut takut.
Melihat kemunculan gadis itu, Siaw Hong sangat kaget.
"Li Cu mengapa kamu bisa ada di sini, ? tempat ini sangat berbahaya..!"
"Mengapa kamu nekad, tidak dengarkan kata kata ku..!"
tegur Siaw Hong cemas dan sedikit emosi.
Li Cu sambil mengigit bibirnya sendiri, dia berkata dengan suara pelan hampir tidak terdengar,
"Maaf kakak Siaw,.. Li Cu sangat mencemaskan kakak.."
"Pendekar Siaw kamu tenang dulu,.."
"Kita bisa keluar atau tidak dari tempat ini, masih harus mengandalkannya.."
ucap Shi Ma Cing Hu berusaha menenangkan Siaw Hong.
"Apa maksud mu !?"
tanya Siaw Hong kurang senang.
Dia sangat mencemaskan Li Cu, tidak ingin Li Cu terlibat.
Tapi gadis itu malah nekad ikut kemari, dia juga tidak tahu, gadis nekad ini gimana caranya, bisa mengikuti mereka dan melewati hutan Pinus kabut yang berbahaya, hingga tiba kemari.
Kini Shi Ma Cing Hu, yang berkata seperti itu, seolah olah membenarkan sikap Li Cu, tentu saja hal itu menyulut kekesalannya.