PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TEMPAT TINGGAL DEWA AIR


Kim Kim melesat cepat meninggalkan daerah lautan beku, dia terus bergerak kembali kearah Palung laut dalam.


Di mana gurita raksasa berada.


Beberapa saat setelah hamparan lautan es beku berakhir.


Kim Kim kembali meluncur masuk kedalam lautan.


Nan Thian tetap duduk santai, di punggung Kim Kim, dia sepenuhnya di lindungi oleh sebuah gelembung udara, yang memancarkan cahaya warna warni.


Kim Kim bergerak meliuk liuk di dalam air membelah kedalam lautan.


Dia terus bergerak mengikuti insting nya.


Akhirnya mereka tiba juga di Palung laut dalam, Kim Kim tanpa banyak pikir langsung berenang masuk kedalam Palung yang hitam gelap gulita.


Saat memasuki kegelapan, sebutir mutiara sebesar buah kelapa keluar dari mulut Kim Kim.


Mutiara itu bersinar terang, dia bergerak sendiri menjadi penunjuk jalan, sekaligus sebagai penerangan bagi Kim Kim dan Nan Thian.


Kehadiran mutiara itu menjadi penghalau kegelapan di dalam palung.


Kim Kim terus bergerak kebawah bersama Nan Thian mengikuti mutiaranya yang bergerak gerak sendiri, di kelilingi oleh api keemasan yang tidak bisa padam, meski mereka berada di dalam air.


Beberapa waktu berlalu Kim Kim dan Nan Thian akhirnya mencapai dasar palung.


Dasar palung yang gelap gulita, saat terkena cahaya mutiara Kim Kim jadi terang benderang semua terlihat jelas


Dasar palung adalah hamparan pasir putih yang sangat luas tak berujung.


Beberapa mahluk laut dalam yang tidak terbiasa dengan cahaya, mereka langsung memilih bergerak menjauh.


Rata rata mahluk yang hidup di kedalaman itu, tubuh mereka mengeluarkan cahaya.


Ada yang biru, hijau, putih bentuknya pun bervariasi dari yang besar hingga kecil semuanya ada.


Selain mengeluarkan cahaya, ikan ikan di laut dalam ini, besar kecil sama.


Mereka memilki bentuk wajah menyeramkan dengan gigi tajam bermunculan di luar bibir mulutnya.


Bentuk mereka lebih mirip ikan purba yang belum berevolusi seperti laut atas sana.


Kehadiran Kim Kim si Naga Emas Semesta lah yang membuat mahluk itu, tidak ada yang berani mendekat.


Bila tidak dari awal pun Nan Thian sudah diserang oleh ikan ikan besar berwajah seram di dasar palung.


Kim Kim terus bergerak mengikuti pergerakan mutiaranya, hingga akhirnya mereka di bawa menuju sebuah Gua.


Gua yang terhitung cukup besar dengan pintu Gua terbuka lebar seperti moncong mahluk raksasa yang sedang terbuka, dengan gigi gigi runcing di langit langit mulut gua.


Sebelum Kim Kim bergerak memasuki Gua itu, seekor gurita raksasa diawali dengan tangannya yang banyak dan panjang bergerak keluar dari dalam Gua.


Gurita raksasa meraung marah saat melihat siap yang datang mengusik ketenangan nya.


Kim Kim juga tidak mau kalah, dia memberikan raungan keras balasan.


Hingga kedalaman Palung bergetar hebat oleh gelombang suara raungan marah Kim Kim.


"Kim Kim kamu mundurlah serahkan mahluk jelek ini pada ku saja.."


"Jangan kotori kuku dan taring mu dengan cairan mahluk jelek ini.."


ucap Nan Thian dengan pedang Naga Emas di tangan.


Begitu gurita raksasa itu terlihat bergerak menyerang dengan tangan tangannya.


Nan Thian pun ikut bergerak cepat menyambutnya dengan putaran sinar keemasan menerangi seluruh tempat itu.


"Naga keluar dari sarang.."


18 ekor Naga Emas melesat menerjang kearah tangan tangan gurita yang berseliweran ingin menangkap mereka.


Tapi setiap kali Naga Emas meluncur lewat, tangan gurita gurita itu akan putus terpotong darah biru meleleh dari bekas luka ditangannya.


Perlahan lahan tumbuh kembali, tapi sebelum sempurna lagi lagi terputus di serang oleh Naga emas yang lainnya.


Kejadian berlangsung begitu cepat, sebelum sempat memulihkan diri.


Gurita itu hampir berubah menjadi sebuah bola daging tanpa lengan.


"Menyerah dan bekerjasama tunjukkan Temat kediaman Gong Gong.."


ucap Nan Thian lewat telepati yang hanya terhubung ke Kim Kim saja.


Sementara Kim Kim berkomunikasi, Nan Thian menahan serangannya.


18 Naga emas berseliweran kesana kemari di sekitar tubuh gurita raksasa itu.


Setelah Kim Kim berbicara dengan gurita itu, tiba tiba gurita itu menyemburkan tinta hitam pekat kearah Nan Thian dan Kim Kim.


Dia sendiri langsung bergerak mundur, hendak masuk kedalam Gua.


Tapi pergerakannya terhenti, saat matanya menangkap ada sosok yang menghadang di situ.


Tanpa pikir lagi gurita itu kembali menyemburkan tinta hitam nya, kearah sosok yang menghadang pergerakan mundurnya.


Begitu tinta hitam tersembur keluar dua sinar merah biru melesat menerjang kegelapan tinta hitam.


Membuat gurita itu jatuh tergeletak tak berdaya, kesulitan bernafas.


Peredaran darah nya terganggu, karena dua dari jantung yang terhubung dengan insang telah tertembus oleh cahaya merah biru dari Nan Thian.


Sedangkan tinta hitam nya buyar di pindahkan oleh pusaran air yang dibentuk oleh Nan Thian untuk di dorong kearah lain.


"Jantung mu tinggal satu, tinta mu tidak akan berguna.."


"Kamu hanya akan mati konyol.."


ucap Kim Kim mengingatkan.


Gurita yang bernafas Senin Kemis, tergeletak sulit bergerak di atas pasir dasar palung.


Dia terlihat menatap ngeri kearah Nan Thian dan Kim Kim, sesaat kemudian baru berkata,


"Aku akan antar kalian kesana, tapi tunggulah tangan ku pulih dulu.."


"Aku tidak bisa bergerak dengan keadaan seperti ini.."


Nan Thian mengangguk, ke 18 ekor naga emas yang berseliweran sudah di tarik masuk kembali kedalam tubuhnya.


"Baik sekali lagi kami percaya pada mu, tapi bila kamu kembali mencoba coba. "


"Kamu akan tahu akibatnya sendiri.."


ucap Kim Kim mengingatkan dengan dingin.


Setelah itu dia baru menyampaikan nya ke Nan Thian.


Nan Thian tidak berkata-kata, hanya mengangguk kecil mendengar penjelasan Kim Kim.


Setelah lengan lengannya mulai muncul kembali, Gurita itu memenuhi janjinya.


Dia bergerak mengantar Nan Thian dan Kim Kim masuk kedalam Gua nya.


Gua bawah air itu mirip lorong panjang yang gelap gulita.


Gurita itu meski bertubuh besar, tapi tubuhnya sangat fleksibel, dua bisa melewati lorong lorong sempit di dalam gua tersebut.


Kim Kim juga sudah merubah tubuhnya menjadi kecil, agar memudahkan perjalanan.


Di penghujung Gua, mereka tiba di sebuah lokasi, di mana mulut Gua terletak di sebuah puncak tebing.


Menghadap kearah sebuah lembah di dasar laut, di lembah sana, terlihat sebuah kubah besar, menaungi sebuah kota dan istana, yang terletak di dalam kubah itu.


"Di dalam kubah pelindung itulah, Dewa air Gong Gong dan rakyat rakyatnya tinggal.."


ucap gurita itu ke Kim Kim.


Kim Kim kemudian menyampaikan nya ke Nan Thian.


Nan Thian mengangguk dan berkata dalam batin,


"Kim Kim ayo kita kesana."


Kim Kim langsung bergerak mengikuti Nan Thian yang sedang melesat menghampiri istana di dalam gelembung perisai tersebut.