
"Aku permisi duluan Nona, "
ucap Afei lalu dia meninggalkan tempat itu.
Saat melewati taman, Afei bertemu dengan Li Cing yang terlihat sedang termenung, sambil berulang kali menghela nafas panjang.
Seperti ada beban pikiran yang menghimpit perasaannya.
Yang sulit di ungkapkan keluar, tapi di simpan di dalam hati juga menyesakkan dada dan pikirannya.
"Paman Li,.. paman Li kenapa ? kenapa terlihat begitu bersusah hati ? apa karena ulah Afei dan nona Sian Sian yang selalu bertengkar, sehingga membuat paman bersusah hati ?"
Tanya Afei hati hati.
"Ohh Afei kamu ada di sini.. bagaimana ruangan makan apa sudah rapi..?"
tanya Li Cing sambil menatap kearah Fei Yang sambil tersenyum lembut.
Afei mengangguk dan berkata,
"Ya paman Li semuanya sudah beres.."
"Kamu yang bereskan sendirian semuanya..?"
tanya Li Cing kembali.
"Tidak paman kami,... kami mengerjakan nya berdua.."
ucap Fei Yang berbohong.
Li Cing tersenyum dan berkata,
"Afei duduklah kemari,.Sian Sian cucu ku, bagaimana aku bisa tidak tahu sifatnya.."
"Dia terlalu manja, mana mungkin dia sanggup kerjakan hal seperti itu.."
"Afei paman bukan bersusah hati karena kalian, paman bersusah hati karena masalah lain."
ucap Li Cing sambil menghela nafas panjang, di raut wajahnya terlihat kesedihan penyesalan dan kekecewaan mendalam.
"Kalau boleh tahu apa yang menjadi beban pikiran paman,? mungkin bila berbagi dengan ku, bisa sedikit meringankan beban perasaan paman.."
ucap Afei sambil menatap Li Cing.
Afei sangat ingin tahu situasi dan kondisi istana, termasuk keadaan kedua orang tua nya.
Tapi Afei tidak mau bertanya langsung, yang akan menimbulkan kecurigaan Li Cing padanya.
Bila waktunya belum tepat, Afei tidak mau membongkar indentitas nya, dia ingin bersikap sehati hati mungkin.
Agar bisa lebih jelas mengenali wajah asli, siapa yang layak menjadi kawan, siapa yang layak menjadi lawannya..
Dengan demikian dia akan mengurangi peluang dirinya di jebak oleh orang terdekat nya.
Dalam menghadapi intrik dan politik istana yang kejam, Afei harus bersikap extra hati hati, bila tidak ingin salah langkah.
Dan mengalami kekalahan total, sebagai harga yang harus dia bayar mahal.
Li Cing menghela nafas panjang kemudian berkata,
"Begini Afei, sepuluh tahun yang lalu, aku pernah salah perhitungan."
"Memaksa Baginda raja Li Yuan Ming, mengirim putranya ke kerajaan Song bersama Li Yuan Tan."
"Yang menyebabkan tragedi hilangnya putra mahkota dan Li Yuan Tan.."
"Dalam hal ini akulah yang paling berdosa, karena akulah yang mendorong putra mahkota kedalam bahaya.."
"Untuk hal itu aku sungguh menyesal.."
"Yang lebih menyedihkan lagi, adalah setelah kehilangan Li Yuan Tan.."
"Li Yuan Hao maju memaksa mengambil alih kekuasaan Li Yuan Tan "
"Kemudian dia kembali ke istana, memaksa Baginda raja Li Yuan Ming mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepadanya."
"Sedangkan aku saat itu, sama sekali tidak bisa apa-apa, hanya bisa melihat dengan mata kepala ku sendiri, Baginda raja dan ratu di kurung sebagai tahanan hidup di istana belakang."
ucap Li Cing sambil menghela nafas sedih.
"Lalu bagaimana keadaan istana dan Baginda raja dan ratu saat ini..?"
Sambil menghela nafas panjang, dia berkata.
"Baginda raja dan ratu cukup baik keadaan nya, hanya saja setelah kehilangan putranya."
"Baginda sendiri sudah kehilangan semangat, untuk merebut kekuasaannya kembali.."
"Baginda lebih memilih mengalah mengundurkan diri, daripada terjadi perang saudara yang akan menyengsarakan rakyat kecil.."
"Toh pada akhirnya Baginda juga tidak memiliki penerus kerajaan.."
"Selama ini aku berusaha bertahan di istana, agar bisa diam diam melindungi Baginda raja dan ratu dari tangan keji siapa pun.."
"Kini aku di depak keluar dari istana dengan alasan sudah tua, dan di gantikan dengan Kok Su asal Tibet Vipasana lhama."
"Aku tidak menyesal kehilangan jabatan, yang aku menyesal adalah aku kehilangan kesempatan untuk menolong Baginda dari malapetaka besar ini.."
Mendengar cerita dari Li Cing, sekarang mengertilah Fei Yang.
Pamannya Li Yuan Hao kini telah sukses menggantikan posisi ayahnya menjadi raja, dan Li Yung juga sudah menjadi putra mahkota baru menggantikan posisi dirinya.
Untuk merebut posisinya kembali, tidak cukup dengan membunuh mereka berdua.
Hal itu hanya akan menimbulkan kekacauan di kerajaan Xi Xia.
Satu satunya cara adalah menghabisi para pendukung Li Yuan Hao, lewat pertempuran sengit.
Untuk itu demi meminimalisir korban di pihaknya,. Fei Yang harus mencari dukungan dari Kerajaan Song dan memastikan kerajaan Liao tidak berani ikut campur tangan membantu Li Yuan Hao
Bila Li Yuan Hao sudah kehabisan pendukung, Fei Yang baru akan melengserkan orang itu dari posisinya dan menunjukkan indentitas dirinya yang sebenarnya.
Saat ini yang paling utama adalah dia mengumpulkan pendukung ayahnya, lewat paman Li.
Setelah itu dia sendiri yang akan menerobos ke istana belakang menolong kedua orang tua nya keluar dari sana.
Nanti memanfaatkan nama besar ayahnya, dia baru bisa mengumpulkan lebih banyak pendukung, sebagai kubu yang berlawanan dengan kubu Li Yuan Hao.
Memikirkan hal itu, akhirnya Fei Yang berkata,
"Paman Li kenapa Paman Li tidak mencoba menggalang kekuatan, yang mendukung raja lama saat ini ?"
"Sehingga ada kubu tandingan buat Li Yuan Hao.."
tanya Fei Yang sambil menatap Li Cing.
Li Cing menghela nafas panjang, setelah itu dia baru berkata,
"Percuma saja Afei, karena Baginda raja dan ratu berada di tangan mereka, meski kita berkumpul semua, kita juga tidak berani bergerak.."
"Karena keselamatan junjungan kita ada di tangan nya.."
Fei Yang menatap paman Li dan berkata,
"Kenapa Paman Li tidak mencoba meminta pertolongan pada Ping Huo Ta Sia, untuk menyelamatkan Baginda raja dan ratu.."
Li Cing menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Orang seperti Ping Huo Ta Sia, bagaikan seekor naga sakti, yang terlihat kepala sulit terlihat ekornya.."
"Mau kemana kita mencarinya ?"
"Taruhlah bila bertemu, dia juga belum tentu bersedia untuk pergi menolong Baginda raja dan ratu.."
"Karena hal ini tidak ada hubungannya dengan dirinya."
ucap Li Cing sedikit putus asa.
Afei menatap Li Cing dan berkata,
"Paman tidak boleh berkecil hati, sebelum mencobanya, bagaimana mungkin paman bisa yakin Ping Huo Ta Sia akan menolaknya..?"
"Lagipula tiada salahnya kita mencobanya, perkara di terima atau tidak nya, itu bisa menjadi urusan nanti.."
Paman Li menatap Afei dengan sepasang mata berbinar, timbul secercah harapan dan semangat di sepasang mata tuanya.
Di saat mereka sedang asyik berbincang bincang, tiba-tiba muncul suara yang berputar-putar datang nya dari langit.
"Ping Huo Ta Sia, bila kamu bernyali dan bukan seorang pengecut, keluarlah untuk berhadapan dengan kami..!!"
"Jangan hanya tau bersembunyi saja .!!"