
Melihat rekannya yang di pecundangi, kawan kawan Yue Lin yang lain tidak terima.
Mereka maju mengeroyok dan memukuli Nan Thian beramai ramai.
Awalnya Nan Thian bisa melawan, tapi karena kalah kuat juga di keroyok beramai ramai.
Akhirnya mereka berhasil menangkap kaki dan tangan Nan Thian.
Membantingnya kebawah, lalu mereka beramai ramai menendang dan memukulinya tanpa ampun.
Melihat adiknya di siksa, Yue Lin menjadi tidak tega.
Dia mencoba maju mencegah teman temannya, ingin melerai.
Tapi teman temannya yang sudah kalap tidak mau mendengarkannya.
Akhirnya terjadilah perkelahian Yue Lin satu melawan 8 anak yang jauh lebih dewasa.
Tapi karena Yue Lin sejak kecil rajin berlatih ilmu bela diri, sangat meminati hal itu.
Meski ke 8 pemuda tanggung itu jauh lebih besar lebih kuat dan ramai.
Yue Lin mampu menghadapi mereka dengan baik, bahkan satu persatu berhasil dia robohkan.
Salah satu pemuda yang di hajar oleh Nan Thian sebelumnya tidak puas.
Dia diam diam mencabut pisau lalu menikam kearah Yue Lin dari belakang.
Selagi Yue Lin sedang sibuk menghadapi tendangan dan pukulan dari 8 orang yang kini tersisa 4.
Karena datangnya serangan tiba tiba dan terjadinya sangat cepat.
Yue Lin juga hanya bereaksi mengikuti reflek dan insting seorang ahli bela diri.
Dia memutar badannya sehingga tikaman lewat disampingnya, pergelangan tangan yang menyerangnya dengan cepat ditangkap.
Diseret kedepan, saat tubuh si penyerangnya tertarik kedepan karena kehilangan keseimbangan.
Tangannya yang memegang pisau ditekuk kembali oleh Yue Lin.
Tahu tahu darah langsung menyembur dari leher pemuda tanggung itu.
Dimana lehernya tertancap pisaunya sendiri.
Semua kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat dan tak terduga.
Bahkan Yue Lin sendiri tidak menyadari, dia telah melakukan tindakan fatal.
Dia baru sadar, saat melihat temannya itu jatuh berkelenjotan diatas lantai bersimbah darah.
Dengan kedua tangan di gunakan untuk menutupi luka di lehernya sendiri.
Dia terus mengeluarkan suara mengorok seperti ba BI di sembelih.
Pemuda pemuda lainnya yang ketakutan langsung berhamburan melarikan diri.
Di sana hanya tersisa Nan Thian yang wajahnya babak belur, dengan Yue Lin yang berdiri dengan wajah pucat ketakutan.
Karena tanpa sengaja dia telah membunuh orang untuk pertama kalinya.
Sedangkan Mei Mei dia dari tadi sudah pergi mencari bantuan, sejak Nan Thian di keroyok beramai ramai oleh teman Yue Lin.
Di saat Yue Lin sedang bingung dan ketakutan, Nan Thian perlahan-lahan merangkak bangun.
Dia menghampiri mayat pemuda itu dan berkata,
"Kak pergilah, ingat sampai mati jangan mengaku.."
Lalu Nan Thian dengan cepat memegang gagang pisau itu mencabutnya.
Lalu menikamnya berulang kali, hingga darah membasahi wajah dan tubuhnya.
Yue Lin yang ketakutan langsung mengangguk dan melarikan diri dari sana.
Belum lama Yue Lin pergi, Yue Feng dan Hong Yi tiba bersama Mei Mei.
Mereka semua sangat terkejut dengan kejadian yang terpampang di depan mata mereka.
Mereka sulit percaya putra mereka yang lemah dan pendiam, tidak suka beladiri.
Kini malah menjadi pelaku tersangka utama pembunuhan sadis.
Atas kejadian inilah Nan Thian akhirnya oleh ayah ibunya,.meski sedih, mereka terpaksa menitipkan Nan Thian di perguruan Qing Hai Pai, diketuai oleh Pai Wang, yang merupakan sahabat ayah Nan Thian, Yue Feng.
Berpikir sampai di situ dan teringat semua kejadian di Qing Hai Pai yang membuat ibunya semakin kecewa dengan nya.
Mau tidak mau Nan Thian kembali tersenyum pahit.
"Kakak apalagi yang kamu pikirkan, sehingga sedih begini.?'
"Jangan bilang baru saja keluar langsung teringat dengan wanita tak berjantung itu..?"
Nan Thian tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak bukan dia, aku hanya terkenang kenangan masa kecil saja..'
"Hayo kita mendarat, "
ucap Nan Thian kembali bersikap tenang.
Kim Kim segera mendarat di halaman reruntuhan bangunan perguruan Xuan Wu.
"Di mana mereka tinggal ?"
tanya Kim Kim yang kembali ke wujud gadis cantik dan imut.
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf aku lupa menanyakan ke paman Yang,. mereka tinggal di sebelah mana dari puncak ini..'
Kim Kim melirik kearah Nan Thian dan berkata,
"Ya sudah aku pakai Indra penciuman ku saja, mudah mudahan di puncak ini, tidak banyak manusia yang tinggal selain tabib dewa yang kita cari.."
Nan Thian mengangguk, dia membiarkan Kim Kim mengandeng tangan nya,.dua hanya mengikuti kemanapun langkah Kim Kim.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah barisan tebing batu.
"Aku mencium ada bau manusia di balik tebing batu ini.."
"Coba kita cari,.mungkin ada jalan rahasia untuk masuk kedalam sana."
ucap Kim Kim sambil bergerak meraba kesana kemari diantara batu batu disekitar sana.
Mencari tombol rahasia untuk membuka dinding tebing batu tersebut.
Tapi selagi mereka berdua sedang mencari cari tombol rahasia.
Pendengaran Nan Thian dan Kim Kim yang tajam menangkap ada pergerakan di balik.dinding tebing batu tersebut.
Nan Thian dan Kim Kim saling tatap, mereka hampir berbarengan mengangguk.
Lalu melayang keatas hinggap di atas salah satu puncak tebing batu.
Mengamati secara diam diam dari atas sana.
"Deeeerrrr.! Deeeerrrr.! Deeerrrr..!"
'Krreeekkk..!"
Salah satu dinding batu berderak hebat, kemudian mengeluarkan bunyi keras, roda rahasia sedang di putar.
Sesaat kemudian terlihat seorang pemuda berperawakan sedang berumur 30 an hampir 40 menemani seorang kakek tua yang mungkin umurnya sudah diatas 80 tahun.
Mereka berdua keluar dari balik batu dengan hati hati, sambil melihat kearah kiri dan kanan.
Memastikan tempat itu aman, tidak ada yang melihat mereka keluar dari balik jalan rahasia.
"Kalian tak perlu cari, kami ada di sini.."
ucap Kim Kim sambil.tersenyum nakal.
Pemuda itu adalah Hua Lung dan kakeknya Hua Sin Tabib dewa.
Mereka berdua sangat terkejut ada yang bersembunyi di atas mengamati mereka.
Mereka hampir saja berlari masuk kembali kedalam.
"Tabib Hua tunggu,..! jangan khawatir,..aku Nan Thian keponakannya Li Fei Yang.."
"Kami kemari mewakili beliau menjemput tabib Hua, untuk mengobati istri paman kami yang sedang sakit berat."
ucap Nan Thian yang sudah berdiri di hadapan tabib Hua.
Memberi penjelasan sekaligus memberi hormat, dengan membungkukkan badannya dalam dalam.
Tabib Hua dan cucunya membalas penghormatan Nan Thian dan berkata,
"Ayo, mari kita bicara di dalam saja..'
Tabib Hua dan cucunya mengajak Nan Thian dan Kim Kim mengunjungi tempat tinggal rahasia mereka.
Mereka tidak khawatir, karena Nan Thian adalah keponakan Fei Yang yang memilki hubungan yang erat dengan mereka.
Sambil duduk santai dan menyuguhkan teh buat Nan Thian.
Tabib Hua mendengarkan semua penjelasan Nan Thian hingga selesai.
Dia baru mempersiapkan segala sesuatunya untuk ikut bersama Nan Thian ketempat tinggal Fei Yang.