
Menjelang sore rombongan Nan Thian meninggalkan penginapan jalan jalan menikmati keramaian kota Chang An.
Kota yang begitu besar, ramai apapun ada di sana, membuat Siau Yen dan Siu Lian begitu gembira.
Kedua gadis yang baru pertama kali merantau tentu saja sangat bersemangat.
Melihat kesana kemari, terutama barang barang dagangan yang berhubungan dengan keperluan wanita.
Mereka bolak balik masuk toko yang satu pindah ketoko yang lain.
Tapi Nan Thian tidak ingin melarang dan menganggu kesenangan mereka.
Dia hanya mengikuti saja, begitupula Zi Zi dan Sun Er juga Siau Hei mereka cukup gembira menikmati suasana kota Chang An yang meriah.
Melihat kebahagiaan dan kegembiraan teman teman barunya ini, Nan Thian pun ikut tersenyum sendiri.
Tapi saat dia berjalan di tepi sungai kecil buatan, yang melintas di tengah kota itu.
Tanpa sengaja dia melihat diatas sungai ada sebuah perahu kecil yang memuat pasangan muda mudi yang duduk sambil berpelukan mesra.
Seketika senyum di wajah Nan Thian langsung hilang,
Berganti dengan wajah muram dan suram.
Sambil tersenyum pahit, Nan Thian mengalihkan pandangannya kearah lain.
Lalu dia menghela nafas pelan dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Di tempat lain di atas perahu, yang sedang terapung di atas kanal kecil.
Hung Ping Chi sambil memeluk istrinya Pai Xue Xue berkata,
"Bagaimana perasaan mu setelah melihat dia kini di sekitarnya selalu di kelilingi banyak wanita cantik..?"
Xue Xue melirik kearah suaminya dan berkata,
"Suami ku,.. dia hanya masa lalu, kamulah masa depan ku."
"Apa setelah sekian lama kita hidup bersama, bahkan aku kini sedang mengandung anak mu.."
"Kamu masih tidak percaya juga akan perasaan ku pada mu.?"
ucap Xue Xue sambil memegang wajah Hung Ping Chi yang tampan dengan lembut.
Hung Ping Chi membalas menggenggam tangan Xue Xue dan berkata,
"Aku percaya, tentu saja aku sangat percaya pada mu.."
"Di dunia ini aku hanya punya kamu, aku sudah tidak punya keluarga lain selain kamu.."
"Bagaimana mungkin aku bisa tidak percaya pada mu..'
Xue Xue tersenyum dan berkata,
"Bila kamu percaya pada ku, mengapa kamu selalu mengungkit ungkit masa lalu, yang sudah bukan hal penting lagi bagi ku itu..?"
Hung Ping Chi membawa tangan istrinya ke bibirnya dan menciumnya dengan lembut dan berkata,
"Kamu tahu itu, itu hanya karena aku terlalu mencintai mu.."
"Aku selalu takut kehilanganmu.."
Xue Xue menatap suaminya dengan serius dan berkata,
"Suami ku asal kamu tahu setiap pertanyaan mu tentang perasaan ku terhadap dia.."
"Itu adalah sebuah luka gores yang sangat menyakitkan bagi ku.."
"Terhadap dia aku kini hanya ada rasa hormat, rasa kasihan, dan rasa sesal saja.."
"Kini melihat keadaannya baik baik saja dan di sisinya, sudah ada gadis lain, tentu saja aku turut senang dan bahagia untuknya."
"Hanya dengan melihat nya bisa bangkit kembali dan bisa hidup berbahagia, rasa sesal dan bersalah ku terhadapnya baru bisa hilang.."
ucap Xue Xue sambil menatap suaminya dengan tatapan mata memohon pengertian.
Sesaat kemudian dia melanjutkan dengan memberikan ciuman lembut di bibir Hung Ping Chi dan berkata,
"Suami ku percayalah rasa sayang dan cinta ku, sepenuhnya hanya untuk kamu saja.."
"Selamanya hanya akan jadi milik mu saja ."
"Apa kamu mengerti..?"
Hung Ping Chi mengangguk dan tersenyum bahagia, dia lalu membalas memeluk istrinya dengan lembut.
Kemesraan mereka inilah yang secara tidak sengaja terlihat oleh Nan Thian.
Nan Thian kini kembali berjalan seorang diri sambil menatap dunia ini dengan tatapan hambar.
Semua yang di lihatnya hanyalah hitam dan putih saja.
Tidak ada lagi yang menarik baginya.
"Kakak tampan kamu kenapa,..? kenapa tiba tiba terlihat muram dan sedih.."
tanya Zi Zi polos sambil menggandeng tangan Nan Thian.
Nan Thian membungkuk menggendong Zi Zi duduk di pundaknya dan berkata,
"Kakak tidak apa-apa, hanya masalah orang dewasa saja.."
"Kelak jika Zi Zi sudah besar, tentu akan mengerti.."
"Ayo sekarang kita main ke taman wisata Pagoda Raksasa Angsa Liar yang bisa terlihat dari sini.."
ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah sebuah bangunan Pagoda Raksasa, yang menjulang tinggi ke angkasa.
Zi Zi mengangguk gembira, sambil tertawa kecil.
Dia terlihat menikmati duduk diatas bahu Nan Thian yang kekar dan lebar.
Apalagi saat tiba di halaman depan pagoda, yang luas dan di kelilingi oleh pohon pohon besar, yang rindang dan berhawa sejuk.
Nan Thian membelikan Ping Tang Hu Lu buat dia dan Sun Er.
Kedua anak itu terlihat semakin gembira.
Sedangkan Siau Yen dan Siu Lian mereka berdua terlalu asyik dengan kegiatan mereka sendiri.
berlari kesana kemari melihat berbagai macam barang yang di perdagangkan di pinggir area pagoda.
Melihat kegembiraan mereka semua, hati Nan Thian yang tadinya sangat galau, sedikit terobati.
Nan Thian terus melangkah menghampiri pusat bangunan Pagoda, melalui undakan anak tangga yang tersedia.
Tapi baru saja Nan Thian hampir sampai ke halaman yang di bangun di ujung anak tangga.
Dia sudah di hadapan oleh sekelompok pasukan prajurit Mongolia yang bersenjata tombak di tangan.
"Berhenti,..!"
"Tempat ini di tutup sementara, siapapun di larang mendekat..!"
Bentak pimpinan pasukan penjaga itu dengan sikap galak.
Nan Thian yang tidak ingin mencari keributan tidak perlu, dia buru buru mengangguk dan hendak bergerak mundur.
Tapi bertepatan dengan itu, dia melihat dari dalam pagoda berjalan keluar seorang berpakaian mewah, di lapis dengan jubah bulu hewan yang tebal.
Kumis hitam tebal melintang diatas bibirnya, menambah wibawa dan kegagahan nya dalam balutan pakaian mewah.
Tapi yang menarik perhatian Nan Thian bukan pria itu, tapi dua diantara 8 orang yang menyertai di belakang pria itu yang membuat Nan Thian kaget.
Karena dua orang itu adalah kakek berambut hijau dan berambut putih yang pernah menghadang perjalanan nya dulu.
Nan Thian buru buru membalikkan badannya, ingin segera meninggalkan tempat itu.
sebelum keributan menjadi besar, bila dia seorang diri tentu dia tidak akan gentar.
Tapi kini situasi berbeda,.di sampingnya kini ada Zi Zi.juga Sun Er, Siau Yen dan Siu Lian.
Dia tidak bebas bertindak dan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan matang.
Tapi sebelum Nan Thian pergi, kedua kakek itu sudah melihatnya.
Mereka segera berbisik pada pria berkumis tebal itu.
Pria itu langsung berkata dengan suaranya yang berat dan keras, dengan logat aksen Han yang kaku,
"Anak muda tahan..!"
"Pengawal undang lah dia kemari, aku ingin berbicara dengan nya."
ucap Pria itu memberi perintah dalam bahasa Mongolia.