PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERNYATAAN FEI YANG


Saat Fei Yang menoleh kebelakang dan melihat Sian Sian yang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum.


Sesaat sebagai pria normal, Fei Yang tetap tidak bisa mengelak untuk mengagumi dan terpesona oleh kecantikan Sian Sian yang sangat luar biasa itu.


Fei Yang sempat melongo di buatnya sesaat.


Tanggapan dan reaksi, Fei Yang tentu saja membuat Sian Sian sangat gembira.


Sehingga dia sampai tidak kuasa menahan tawa, dan berusaha menutupinya dengan tangan nya sendiri.


"Kakak Yang kenapa ?"


tanya nya berpura-pura sambil menahan tawa.


"Eh,. oh,.. tidak, tidak apa-apa ayo kita berangkat.."


ucap Fei Yang panik.


Fei Yang menoleh kearah perdana menteri Li dan berkata,


"Paman Li kami jalan dulu.."


"Ya,.. silahkan hati hati di jalan.."


ucap perdana menteri tersenyum gembira.


Sian Sian langsung maju merangkul lengan Fei Yang dengan mesra.


Fei Yang terpaksa mendiamkannya, karena merasa tidak enak hati untuk menolaknya.


Fei Yang tidak ingin timbul suasana tidak enak sebelum mereka masuk kedalam obrolan serius.


Sian Sian bergandengan tangan dengan mesra bersama Fei Yang keluar dari kediaman nya.


Mereka berdua berjalan melintasi pusat keramaian di ibukota, yang meski sudah menjelang sore, tapi masih terlihat ramai orang berlalu lalang.


Mereka yang tidak mengenali Fei Yang, hanya bisa menatap iri kepada pasangan tersebut.


Yang pria akan iri dengan keberuntungan Fei Yang bersanding dengan Sian Sian yang sangat cantik, terutama sepasang mata dan alisnya yang sangat indah itu.


Yang wanita akan menatap iri ke Sian Sian yang bisa berjodoh dengan Fei Yang yang sangat tampan.


Mereka berdua sendiri bersikap cuek dan mengobrol santai.


Sian Sian dengan penuh antusias bertanya tanya akan pengalaman Fei Yang selepas meninggalkan Xi Xia tempo hari.


Dia juga bertanya tinggal siapa lagi sisa musuh Fei Yang yang belum di temukan.


Mendengar masih ada sisa dua pentolan penting yang belum berhasil Fei Yang temukan. Sian Sian agak sedikit kecewa.


Karena dia sadar betul, selama Fei Yang belum berhasil menemukan kedua orang itu, pernikahan mereka tidak bakal mungkin terwujud.


Tanpa terasa mereka berdua sudah tiba di tangga benteng kota.


Dengan manja Sian Sian berkata,


"Kakak Yang tangganya tinggi sekali gendong ya,..?"


Bila dalam situasi normal Fei Yang pasti akan meledeknya dan menolaknya.


Tapi mengingat dirinya masih ada obrolan penting yang mungkin akan menyakiti perasaan gadis itu.


Fei Yang menjadi tidak tega, dia tanpa banyak kata,


langsung berjongkok memunggungi Sian Sian dan berkata,


"Naiklah, biar aku memondong mu berkeliling benteng kota.."


"Kakak Yang serius ?"


tanya Sian Sian kurang percaya.


Tapi melihat Fei Yang mengangguk dengan tegas, Sian Sian dengan gembira langsung melompat ke punggung Fei Yang.


Dia melingkarkan kedua tangannya di depan dada Fei Yang, sambil tertawa gembira dia meletakkan dagunya yang runcing dipundak Fei Yang.


Sepanjang perjalanan tidak ada pasukan penjaga yang berpapasan dengan Fei Yang berani menghentikannya.


Mereka semua kenal, siapa pemuda yang sedang gendong gadis itu.


Karena mereka rata-rata pernah bertempur bersama Fei Yang, putra mahkota kebanggaan seluruh rakyat Xi Xia yang memujanya bagaikan dewa.


Rakyat biasa masih banyak yang belum mengenalinya, tapi hampir semua pasukan Xi Xia tidak ada yang tidak mengenalnya.


Selain Ratu Sabrina, Li Dan suami istri, Fei Yang lah idola semua pasukan Xi Xia,.meski sekarang mereka berada di bawah Li Yung.


Tapi itu tetap tidak bisa merubah pandangan mereka terhadap keempat orang itu yang sudah membekas di dalam sanubari mereka kegagahan nya di Medan tempur.


Sebaliknya terhadap Li Yung mereka diam diam mencemoohnya, bahwa orang itu cuma beruntung karena terlahir sebagai keluarga kerajaan.


Kelebihan nya hanya pintar menjilat dan bermulut manis terhadap ratu Halimah, yang punya mata tapi tidak bisa melihat.


Fei Yang menggendong Sian Sian melihat pemandangan di luar tembok kota dari ketinggian sambil menikmati hembusan udara segar di sore hari.


Pemandangan di luar tembok yang merupakan lautan pasir yang bisa bergerak bergelombang saat angin berhembus terlihat cukup indah dan menarik.


Selain itu lautan pasir yang berkilauan tertimpa sinar matahari, juga membiaskan cahaya warna-warni yang indah mirip pelangi terlihat cukup menarik.


Sian Sian terlihat sangat menikmati itu semua, terutama Fei Yang bersedia menggendongnya dengan mesra tanpa mengeluh sedikitpun.


Menjelang matahari hampir terbenam, dimana cahaya lembayung menghiasi langit di kala senja.


Fei Yang membawa Sian Sian melayang berdiri di puncak menara pengawas.


Tiba diatas sana Fei Yang baru berjongkok dan menurunkan Sian Sian.


Setelah itu dia berdiri berdampingan dengan Sian Sian menikmati pemandangan langit yang indah dan cahaya matahari yang semakin lama semakin redup tenggelam cahaya di balik lautan pasir.


Sambil menikmati semuanya dalam hening Fei Yang pun berkata,


"Sian Sian sebenarnya, hari ini aku ada satu hal yang ingin di sampaikan secara terus terang dengan mu.."


Sian Sian sambil tersenyum bahagia menoleh kearah Fei Yang, dia terus memperhatikan wajah tunangannya yang tampan lekat lekat.


"Kakak Yang ingin sampai kan apa katakan saja, Sian Sian selalu siap mendengarkan nya,.."


Fei Yang membalikkan badannya menghadap kearah Sian Sian menatap sepasang mata Sian Sian yang indah lekat lekat sambil berusaha menguatkan hatinya yang hampir tidak tega.


Akhirnya lewat sebuah hembusan nafas panjang Fei Yang pun berkata,


"Sian Sian aku ingin membatalkan pertunangan kita.."


Meski suara Fei Yang sangat pelan, tapi di telinga Sian Sian suara itu datangnya bagaikan bunyi geledek di siang bolong.


Sesaat dia melongo menatap Fei Yang seperti orang bodoh, akhirnya dengan bibir gemetar dia berkata,


"Kakak Yang kamu tidak sedang bercanda dengan ku kan ?"


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Sayang nya tidak adik Sian, aku sangat serius.."


"Kenapa kak, apakah aku ada salah ?"


"Kalau ada kakak katakan saja, aku akan berubah.."


"Apakah ada sikap ku yang kurang berkenan di hati kakak, ? kalau ada kakak katakan saja, aku berjanji pasti akan merubahnya.."


ucap Sian Sian sambil menatap Fei Yang penuh harap.


"Maafkan aku adik Sian dalam hal ini bukan salah mu, kamu adalah gadis baik, yang sangat cantik dan manis."


"Dalam hal ini akulah yang bersalah padamu, aku tidak bisa merubah perasaan ku pada mu menjadi perasaan cinta.."


"Terhadap mu, perasaan ku hanya ada perasaan seorang kakak terhadap adik, perasaan seorang sahabat dan teman akrab, teman main dari kecil hingga dewasa.."


"Kita tidak mungkin bisa melangkah lebih jauh, selain sebatas hubungan kakak beradik dan teman akrab saja.."