
"Harap tunggu sebentar panglima, gerbang segera di buka..!"
sahut prajurit jaga dari atas tembok benteng kota.
Tak lama kemudian perlahan lahan Pintu gerbang kota terbuka.
Li Dan menatap heran kesebelah dalam benteng kota, di mana di balik tembok terlihat di penuhi pasukan tameng yang bersiap siaga menghadapi pertempuran.
Tidak terlihat ada penduduk kota satupun, sepanjang mata memandang hanya ada kerumunan pasukan Xi Xia yang berbaris rapi.
Li Dan dan Lan Yi saling pandang, kemudian mereka menyentak tali kekang sambil menjepit perut kuda dengan kedua kaki mereka.
"Hyaaa,..!!"
Kuda tunggangan mereka yang tinggi besar pun bergerak pelan memasuki gerbang kota, di ikuti oleh rombongan pasukan elite Xi Xia yang mengikutinya dari belakang.
Di susul oleh kereta kuda kedua orang tua Fei Yang dan kereta kuda yang membawa jasad nenek Halimah dan Fei Yang.
Di bagian paling belakang mengikuti lagi pasukan elite barisan belakang, yang melakukan pengawalan di sisi belakang.
Setelah Li Dan dan rombongannya tiba di alun alun kota, mereka di sambut langsung oleh dua orang jendral Guo Si dan Li Jue..
Kedua Jendral ini di kenali oleh Li Dan sebagai tangan kanan dan kiri Panglima Li Yung.
"Salam hormat dari kami berdua, panglima Li Dan dan Jendral Lan Yi.."
ucap kedua jendral itu sambil berlutut di hadapan Li Dan dan Lan Yi.
Seluruh pasukan di belakang mereka pun ikut berlutut semua.
Li Dan dan Lan Yi melompat turun dari kuda mereka, lalu memegang bahu kedua jendral itu dan berkata,
"Tak perlu seperti ini, kita semua adalah saudara, ayo bangunlah semuanya..!"
Kedua Jendral itu pun kembali bangkit berdiri, di ikuti oleh seluruh pasukannya.
Dengan tatapan heran Li Dan pun berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi, tolong di jelaskan, Jendral Guo dan Jendral Li..?"
Jendral Guo Si dan Li Jue mengangguk, lalu jendral Guo Si bertepuk tangan.
Tak lama kemudian dari balik barisan terlihat puluhan prajurit menggiring puluhan orang ada yang berpakaian seragam militer, ada yang berpakaian pejabat sipil, dan ada beberapa orang bangsawan dan hartawan.
Persamaan mereka adalah semuanya datang dalam posisi tangan terikat dan wajah pucat tertunduk lesu.
Kecuali satu orang yang berjalan paling depan, orang yang mengenakan seragam militer mentereng berwarna biru itu.
Dia terlihat bersikap santai dan congkak, dia terus menatap kearah Li Dan penuh tantangan.
Tentu saja Li Dan sangat mengenalnya, bahkan Li Dan sangat membencinya.
Karena orang ini dan ayahnya lah yang menyebabkan ayahnya meninggal dalam tugas.
Sebelum Li Dan sempat bertanya, Guo Si sudah berkata,
"Manusia tidak tahu malu ini, masih diam diam berhubungan dengan ayahnya, yang kini menjadi guru negara di negara Liao.."
"Dia berniat memberontak, menguasai Yin Chuan, untuk menyambut kedatangan ayahnya bersama pasukan dari kerajaan Liao.."
Li Dan sedikit terkejut mendengar penjelasan Jendral Guo Si.
"Kami berdua adalah mata mata yang di susupkan oleh nenek ratu Halimah, untuk mengawasi gerak gerik orang ini.."
'Puluhan orang di belakang sana, mereka semua adalah antek anteknya."
"Kini semua kami serahkan kepada panglima Li Dan, untuk memutuskan nya."
ucap Li Jue penuh hormat.
"Ha,..! Ha,..! Ha,..! Ha,..!"
"Li Jue,..! Guo Si,.! kalian berdua adalah anjing tidak tahu balas Budi.."
"Kalian telah salah memilih tuan, sebentar lagi ayah ku dan pasukannya akan tiba, kalian akan tahu rasa.."
"Kalian semua yang ada di sini, tidak akan ada satupun, yang akan lolos."
Dulu kalian menang karena mengandalkan pangeran Keparat itu.."
"Kini dia sudah terpikat oleh putri kerajaan Song, aku lihat kalian mau andalkan siapa ? untuk menyelamatkan nyawa kalian..'
ucap Li Yung dengan sombongnya.
"Tentu saja tetap mengandalkan aku,.!"
suaranya belum hilang, orangnya sudah berdiri di hadapan Li Yung..
"Kak sepupu apa kabar,..?"
ucap Fei Yang sambil tersenyum sinis.
Wajah Li Yung langsung sepucat kertas, dia berkata dengan suara gemetar.
Fei Yang tersenyum dingin tidak menjawab pertanyaan heran Li Yung.
Fei Yang malah menoleh kearah Guo Si dan Li Jue, dan berkata.
"Kalian berdua telah bekerja dengan baik, nanti ada hadiah menanti kalian di istana.."
"Sekarang kalian berdua bantu aku, segera ganti bendera kebesaran ayah ku dan kerajaan Xi Xia,. dengan Bendera kebanggaan orang ini.."
ucap Fei Yang tegas.
"Kami siap jalankan perintah pangeran..!"
ucap kedua jendral itu meski hati mereka merasa heran.
Lalu Fei Yang menoleh kearah Li Dan dan Lan Yi,
"Kakak Dan dan Kak Lan Yi, segera jemput pasukan hasil pelatihan kalian selama ini.."
"Kalian bersembunyi di sayap kiri dan kanan, tunggu perintah dari ku baru bergerak.."
"Siap,..!"
jawab Li Dan dan istrinya kompak.
Mereka berdua langsung berlari kearah kuda mereka dan segera memacu kuda mereka keluar dari kota Yin Chuan.
"pengawal,.!'
teriak Fei Yang.
"Siap pangeran,.."
ucap seorang pengawal maju memberi hormat pada Fei Yang.
"Kamu segera pergi ke penjara, jemput Jendral Watobi dan Toba Chen kemari.."
"Cepat,..!"
ucap Fei Yang tegas.
"Siap laksanakan pangeran..!"
jawab prajurit tersebut penuh semangat.
Lalu dia langsung berlari meninggalkan tempat itu langsung menuju penjara kota Yin Chuan..
Setelah memberikan perintahnya, Fei Yang kembali menoleh kearah Li Yung sambil tertawa mengejek Fei Yang berkata,
"Ada jalan menuju surga kamu tidak pilih, malah pilih jalan menuju neraka.."
"Baiklah ku kabulkan keinginan mu."
ucapan belum selesai, tanpa terlihat Fei Yang bergerak atau mencabut senjatanya.
Kepala Li Yung sudah menggelinding di atas tanah, dengan sepasang mata melotot tak percaya.
Darah menyembur-nyembur bagaikan keran bocor dari leher tubuh tanpa kepala Li Yung.
Perlahan-lahan tubuh tanpa kepala itu, tumbang keatas tanah bagaikan pohon pisang yang tumbang.
Puluhan orang anteknya Li Yung wajahnya langsung pucat seperti kertas melihat aksi yang Fei Yang tunjukkan.
Beberapa perwira militer yang tadi pura pura gagah, kini wajah mereka penuh keringat dingin.
Fei Yang menatap tajam kearah lima perwira militer yang berdiri di hadapannya dengan tubuh terikat.
"Pengawal,..!"
teriak Fei Yang kembali.
"Siap pangeran,..!"
Seorang prajurit segera maju memberi hormat di hadapan Fei Yang.
"Jawab pada ku, apa hukumannya untuk orang militer yang tidak setia..?"
tanya Fei Yang santai..
"Di hukum secara militer, pancung.."
jawab prajurit itu cepat dan tegas.
Sebelum sempat mengeluarkan suara, kelima pejabat militer itu kepalanya menggelinding di atas tanah, menyusul Li Yung.
Tubuh mereka juga tumbang keatas lantai tidak jauh dari posisi tubuh Li Yung.
Sisa dari orang orang yang terikat, langsung menjatuhkan diri berlutut dihadapan Fei Yang.
Suara mereka simpang siur, memohon dan menangis minta di ampuni.