PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SENIOR TOPENG BESI


"Ahhh,..! "


Kakek itu menatap Fei Yang dengan kaget dan berkata,


"Jadi Hei Mo San pelakunya..?"


Fei Yang menganggukkan kepalanya dengan tegas, menjawab keraguan kakek itu.


"Kalian bertujuh berangkatlah, tangkap dan bawa Xu Da kemari, untuk di adili.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Senior bila mereka yang pergi, aku jamin mereka akan pulang tinggal nama."


"Apa maksud mu ?! kamu mentang mentang punya sedikit kemampuan, mau remehkan kami ?!"


bentak salah satu Pendeta jangkung kesal.


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Percaya atau tidak terserah kalian, aku hanya memberitahukan yang sebenarnya."


"Lagipula itu bukan urusan ku, saat ini urusan ku adalah ingin ke puncak ambil teratai salju."


Kakek rambut putih tersenyum lembut dan berkata,


"Asal kamu bisa kalahkan aku, kamu boleh keatas sana.."


"Tapi aku mau ingatkan mu, di atas sana masih ada leluhur kami Yang Jian, yang 700 tahun lalu di kenal dengan si topeng besi.". (LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM)


"Kalau kamu berhasil melewatinya, maka teratai salju boleh menjadi milik mu.."


ucap kakek rambut putih itu ramah.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Baik senior, Fei Yang akan beranikan diri untuk mencobanya, mohon pengajarannya."


Kakek rambut putih itu mengangguk lalu dia melepaskan energinya, tujuh bayangan pedang langsung muncul di hadapannya berputar-putar pelan.


Sesaat kemudian dia bersama ke 7 pedangnya melesat menyerang Fei Yang.


Dari kedua jari tangannya meluncur sinar putih transparan setajam pedang, melesat menyerang Fei Yang.


Fei Yang menggunakan langkah ajaib menghindari serangan sinar putih dari jari kakek itu.


Begitu sinar tersebut mengenai patung hiasan di belakang Fei Yang, patung batu tersebut langsung berlubang.


Fei Yang bergerak mengimbangi kecepatan serangan kakek itu.


Ke 7 pedang itu juga berulang kali bergerak sendiri menyerang Fei Yang.


Bila Fei Yang membalas. menyerang balik kakek itu, ke 7 pedang itu akan berbalik membantu kakek itu bertahan.


Fei Yang sepasang telapak tangannya kini berubah menjadi merah dan biru, karena sudah terisi api dan es semesta.


Meski Fei Yang tidak bersenjata, tapi dia masih bisa mengimbangi kakek tersebut.


Fei Yang meningkatkan kekuatan tenaga dalamnya hingga level 7, setelah bertarung hingga 50 jurus, Fei Yang mulai bisa membaca arah gerak serangan kakek itu.


Bahkan Fei Yang bisa meniru memberikan serangan balik, dengan sinar merah biru dari kedua ujung jarinya.


Perubahan suhu ekstrim sebentar panas membara, sebentar dingin membeku, membuat pergerakan kakek itu menjadi terganggu.


Tepat jurus ke 70 Fei Yang berteriak,


"Maaf kek,..terima kasih sudah mengalah..!!"


Tubuh kakek itu terdorong mundur terhuyung-huyung kebelakang.


Kakek itu kesulitan mempertahankan posisi kuda kuda kedua kakinya, setelah kedua jarinya berbenturan dengan sepasang jari Fei Yang.


Akibat benturan itu, selain terdorong mundur, sebagian baju hingga jenggot dan rambut kakek itu sebagian hangus terbakar, sebagian lagi membeku.


Tubuh kakek itu sebentar mengigil kedinginan sebentar dia gemetar menahan rasa panas yang luar biasa.


Kakek itu menjura kearah Fei Yang dan berkata,


"Aku tetua Thian San Pai Ce Sin Tao Cang mengakui keunggulan mu anak muda.."


"Boleh saya tahu siapa nama mu anak muda dan apa gelar mu..?"


"Nama ku Li Fei Yang, orang orang memanggil ku Ping Huo Ta Sia, aku juga tidak tahu itu gelar atau apa ?"


Kakek rambut putih itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu berkata,


"Silahkan anak muda..semoga berhasil.."


Fei Yang mengangguk memberi hormat kemudian bergerak melewati tempat tersebut dan terus mendaki keatas.sana.


Setelah melewati deretan bangunan Thian San Pai,. Fei Yang akhirnya tiba di bagian halaman belakang bangunan tersebut.


Dari sana Fei Yang harus melewati deretan hutan bambu, yang pohon pohonnya bisa bergerak sendiri.


Berhubung Fei Yang sudah pernah di ajari formasi yang jauh lebih rumit oleh Xue Lian di hutan bambu sesat Di Xu San, hutan bambu ini menjadi tantangan sederhana baginya.


Setelah melewati deretan hutan bambu, Fei Yang di hadapkan dengan tebing terjal yang tegak lurus keatas.


Dengan menjejakkan kedua kakinya keatas tanah, tubuh Fei Yang melayang ringan keatas, lalu kembali menjejak dinding tebing dan kembali meluncur keatas.


Mengulanginya hingga puluhan kali, akhirnya Fei Yang tiba di bagian paling puncak.


Di atas sana hanya ada sebuah pondok sederhana, lainnya hanya halaman luas tidak terlihat ada apa apa.


Fei Yang sudah mengedarkan matanya mencari cari keberadaan Kolam dan tanaman teratai salju, tapi hasilnya nihil.


Dipuncak itu selain pondok itu, tidak ada hal lainnya.


Tiba tiba pintu pondok terbuka, seorang pria bertubuh sedang mengenakan topeng besi berjalan keluar dari dalam pondok.


Dia menatap kearah Fei Yang dengan tatapan kosong, sepasang mata di balik topeng hanya ada lubang gelap,


Pria bertopeng itu memiringkan sedikit kepalanya dan berkata,


"Anak muda tempat ini sudah ratusan tahun, tidak ada yang berkunjung, buat apa kamu datang kemari..?"


"Apa tujuan mu kemari..?"


Fei Yang sadar pasti inilah senior yang di katakan oleh tetua Thian San Pai tadi.


Dari pergerakannya yang tidak terdeteksi, tenaga di tubuhnya yang sulit ditebak.


Fei Yang yakin pria di hadapannya ini pasti memiliki kemampuan yang sulit di ukur tingginya.


Meskipun kelihatannya sepasang matanya bermasalah, tapi di balik itu Fei Yang yakin sekali, pria ini akan menjadi lawan beratnya untuk memperoleh teratai salju.


Fei Yang memberi hormat kearah pria itu dan berkata,


"Nama Junior adalah Fei Yang, tujuan junior datang kemari adalah ingin mendapatkan teratai salju.."


"Teratai salju ini sangat penting bagi junior untuk menyembuhkan penyakit teman ku.."


"Harap senior bisa bermurah hati meluluskan permintaan saya.."


"Anak muda teratai salju aku juga memerlukannya untuk menjaga kondisi kesehatan istri ku.."


"Maaf bila aku tidak bisa meluluskan permintaan mu, silahkan pergilah dari sini.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"maaf aku sudah bertekad akan membawa teratai salju pulang, baik di ijinkan atau pun tidak.."


"Bila kamu ingin bertarung, sebaiknya kita ke puncak sebelah sana.."


"Jangan di sini menganggu ketenangan istirahat istri ku.."


ucap pria bertopeng itu dingin, sesekali dia akan selalu menoleh melihat kearah pondoknya dengan tatapan cemas.


"Sayang kamu bicara dengan siapa ? di luar ada tamu ya ?"


tanya sebuah suara lembut dari dalam pondok.


Pria bertopeng besi terlihat gelisah, dia langsung mengirim pesan suara ke Fei Yang.


"Lekas pergi dari sini, tunggu aku dipuncak gunung sebelah sana.."


"Jangan bikin onar di sini.."


"Tidak ada siapa-siapa sayang,.aku sedang berbicara sendiri."


ucap pria bertopeng itu, lalu dia buru-buru masuk kembali kedalam rumah nya.