
Tak lama setelah Yi Yi membawa Yang Jian pergi, kini giliran Fei Yang yang membuka sepasang matanya, yang terlihat hampir sama dengan Yang Jian.
Dia menatap kearah para gadis muda itu dengan tatapan rakus, perlahan-lahan Fei Yang bangkit berdiri dari posisi bersila nya.
Dengan tubuh terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
Fei Yang melangkah menghampiri 7 gadis cantik yang sedang duduk di dekat api unggun.
Cahaya api unggun yang kuning kemerahan saat sinarnya menimpa wajah para gadis itu, membuat mereka semua terlihat semakin cantik menggoda.
Fei Yang seolah olah ingin menahan langkah kakinya, dan menahan tangannya yang terulur kedepan kearah gadis gadis itu.
Satu tangan terulur tangan lain berusaha menahannya.
Kedua pelayan utama Hoa San Lao Lao yang merasa heran dan aneh dengan sikap Fei Yang.
Kedua gadis itu langsung menghampiri Fei Yang dan berkata,
"Tuan muda Yang,..kamu kenapa..?"
Tidak bertanya dan tidak mendekat masih baik, begitu mereka mendekat dan bertanya.
Suara mereka, yang terdengar di telinga Fei Yang begitu lembut dan menggoda.
Langsung membuat hawa aneh di dalam tubuhnya, mulai bergerak liar, sulit di kendalikan.
Wangi rambut dan wangi tubuh khas wanita membuah Fei Yang semakin mabuk.
Di tambah lagi kedua gadis itu menyentuh lembut tangan Fei Yang.
Maksud baik mereka yang penuh perhatian, malah memicu ledakan hawa aneh yang sulit Fei Yang kontrol lagi.
Sesaat, pikiran waras Fei Yang hilang, dirinya sepenuhnya di kendalikan oleh hawa aneh itu.
"Aihhh,..!"
Teriak kedua gadis itu kaget saat tubuh mereka dipeluk erat dan di ciumi oleh Fei Yang dengan rakus, secara bergantian.
"Tuan muda jangan,.."
"Aihhh,..jangan,..Aihhhh,.. tolong,..!"
"Hentikan..! Jangan tua muda,.. Ahhh,..!"
teriak kedua gadis itu sambil berusaha meronta, dan menghindari ciuman Fei Yang, yang seperti orang tidak waras.
Tapi mereka kalah tenaga, setelah beberapa saat berusaha meronta tanpa hasil.
Akhirnya mereka berdua hanya bisa menangis ketakutan, dan terkadang mereka ikut merin tih kecil terpancing oleh gerakan Fei Yang yang semakin liar.
Kedua gadis itu hanya bisa menatap kelima junior mereka, sambil mengulurkan tangan mereka berharap bantuan dari kelima gadis itu.
Tapi kelima junior mereka malah saling berangkulan ketakutan, tidak ada yang berani mendekat ataupun memberi pertolongan.
"Breettt,..!"
"Breettt,..!"
"Breettt,..!"
terdengar suara kain robek berulang kali, kedua gadis itu kembali berteriak ketakutan.
"Ahhhh,.. tolong,... jangan,.. tuan muda,.. jangan disana,...! Ahhhh,..ampun,..Ahhhh,..!"
"Aduhhhh,.. Ahhhh,.. jangan,..Ahhh,..!"
Tapi Fei Yang seolah olah tidak perduli, dia masih terus melakukan nya tanpa ada rasa kasihan dan empati sedikitpun.
"Aihhhh,..!!"
jerit kedua gadis itu tertahan.
Mereka sangat terkejut dan semakin ketakutan, saat tubuh mereka yang setengah polos.
Kini di banting keatas tumpukan daun kering, Lalu tanpa malu Fei Yang menin dih dan menggu muli mereka berdua dengan rakus.
"Aihhh,..jangan,...aduh jangan,..tolong..jangan disana,..aduh..Ahhhh,...!"
jerit kedua gadis itu silih berganti semakin ketakutan sambil berusaha meronta-ronta dengan sia sia.
"Kakak Yang sadarlah,.. jangan lakukan itu pada mereka.."
"Lepaskan mereka,.."
terdengar suara lembut dari Hoa San Lao Lao.
Hoa San Lao Lao sendiri juga terlihat memburu nafasnya dan tidak teratur.
Suara itu bagaikan siraman air dingin, yang membuat kesadaran dan pikiran waras Fei Yang pulih.
Fei Yang segera menggulingkan tubuhnya menjauhi kedua gadis itu.
Lalu dia mengibaskan kedua tangannya, yang satu di arahkan ke kedua gadis malang, yang terbaring dengan wajah pucat pasi, nafas memburu, dengan tubuh hampir polos.
Tangan yang lainnya Fei Yang arahkan kelima gadis junior, yang saling berpelukan ketakutan di dekat api unggun sana.
"Aihhhh,..!!"
terdengar jeritan kaget dari ke 7 gadis itu.
Tubuh ke tujuh gadis itu langsung melayang melayang keluar dari dalam gua.
Saat terjatuh di luar gua, tubuh mereka mendarat lembut di atas tanah tanpa terluka sedikit pun.
Sebelum kaget mereka hilang, terdengar bunyi ledakan keras dari dalam gua.
"Boooom,..!"
Mulut gua bergetar hebat, lalu dinding tebing batu di atas mulut gua runtuh kebawah.
Menimbulkan suara hiruk pikuk, debu batu pasir tanah berhamburan.
Beberapa saat kemudian saat situasi sudah hening dan normal, asap debu yang beterbangan sudah hilang.
Di tempat itu sudah tidak terlihat lagi mulut gua, yang ada adalah puing puing reruntuhan dinding batu tebing, yang sebesar kerbau Bun ting menutupi area di sekitar mulut gua.
Ketujuh gadis itu hanya bisa saling pandang dengan kaget, sesaat kemudian mereka berlarian kearah mulut gua berteriak,
"Ketua,...! Ketua,...! Ketua,..!"
"Tuan muda Yang,..!"
"Ketua,...! Ketua,...! Ketua,..!"
"Tuan muda Yang,..!"
Setelah berulang kali memanggil tanpa ada sahutan, ke tujuh gadis itu menjatuhkan diri berlutut di sana sambil menangis sedih.
Perlahan-lahan mereka mulai sadar, Fei Yang memang sengaja melempar mereka keluar dari dalam gua.
Karena Fei Yang ingin menyegel dirinya sendiri yang seperti kerasukan, di dalam gua sana.
Agar dirinya tidak bisa melakukan sesuatu yang menyakiti ke tujuh gadis itu.
Cuma yang mereka sedikit heran, kenapa Fei Yang hanya memilih melempar mereka semua keluar.
Tapi dia tidak melempar ketua mereka Hoa San Lao Lao ikut keluar.
Mereka jadi merasa heran aneh dan bertanya tanya dalam hati, meski Lao Lao ketua mereka adalah nenek nenek, tapi dia kan tetap seorang wanita juga.
Terutama kedua pelayan senior itu, mereka bahkan sempat berpikir, apakah Fei Yang sedang ada kelainan, ?
Sehingga lebih memilih menyukai nenek nenek ketimbang diri mereka yang masih muda dan masih gadis.
Tapi pikiran itu hanya muncul di benak dan hati mereka, mereka tentu tidak berani mengungkapkan hal memalukan seperti itu.
Sebenarnya di dalam hati kecil kedua gadis itu, .meski ada rasa takut malu, diam diam mereka cukup menikmati semua yang Fei Yang lakukan pada mereka.
Mereka meronta, menolak sambil menangis, itu hanya untuk menutupi rasa malu mereka.
Mereka tidak bersedia lebih karena faktor malu, bila harus melakukan yang pertama kali itu, di bawah tontonan banyak orang.
Bila dalam suasana berdua, mereka tidak mungkin akan menolak Fei Yang, yang selain tampan juga sangat mengagumkan kesaktian nya.
Bisa melayani dan mendampingi pria seperti Fei Yang mungkin itu adalah sebuah kebahagiaan terbesar dalam hidup mereka.
Makanya mereka sedikit merasa iri dan kurang puas, bila Fei Yang malah menyerah kedalam pelukan ketua mereka yang sudah bau tanah.
Mereka sama sekali tidak tahu kejadian sebenarnya, yang terjadi dalam gua saat itu.
Tentu saja saat itu Fei Yang bukan hanya melemparkan mereka saja,
Setelah mereka, Fei Yang juga mengibaskan tangannya kearah Lap Lao agar menyusul mereka keluar dari dalam Gua.