
Mahluk itu terus berusaha bangkit sambil meraung raung marah, tapi juga agak ngeri dengan kemampuan lawannya.
Fei Yang yang melihat luka mahluk itu mampu menyusut sepertinya memiliki kemampuan beregenerasi.
Fei Yang kembali melesatkan 8 pedang cahaya ungu menyusul kearah kadal raksasa yang sedang berusaha untuk bangkit itu.
Mahluk itu buru buru menggulingkan tubuhnya, membiarkan bagian punggungnya yang keras untuk menahan serangan Fei Yang.
"Blar,..Blar,..Blar,..Blar,..!"
"Blar, .Blar,..Blar,..Blar,..!"
"Arggghh,...!!"
Serangan Fei Yang memang tertahan, tapi tonjolan tonjolan batu di punggung nya, banyak yang terlepas patah tidak kuat menahan serangan Fei Yang.
Tonjolan mirip batu itu, sebenarnya adalah bagian dari tulang, mirip taring keras, yang tertanam di balik kulit dan daging punggungnya yang keras.
Dengan copotnya tonjolan tersebut menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa.
Belum lagi energi pedang yang berhasil menembus kulit tebal, hingga melukai daging.
Hal ini juga menimbulkan rasa perih di punggungnya, yang berlubang.
Mahluk itu sadar, bila tidak cepat cepat kabur dari sana, cepat lambat dia pasti akan tewas di tangan Fei Yang.
Dia segera menggulung tubuhnya menjadi seperti bola, melesat kearah Fei Yang dengan kecepatan tinggi.
Dia menggunakan bagian punggung nya yang keras dan banyak taring menonjol di sana, untuk menabrak Fei Yang.
"Deesss,..!"
Tubuh mahluk itu terpental bagaikan bola raksasa, tertangkis oleh tenaga energi tanpa wujud alam semesta tanpa batas..
Tubuh mahluk itu yang terpental menggelinding cepat bagaikan bola diatas tanah.
lalu menghilang di balik hutan sana.
Mahluk itu telah lari untuk menyelamatkan diri, karena tidak kuat menghadapi serangan serangan dari Fei Yang.
Fei Yang sebenarnya mampu mengejarnya, karena tubuh mahluk itu yang begitu besar, tidak akan mudah untuk melarikan diri dan bersembunyi di balik hutan itu
Tapi berhubung di antara mereka tidak ada permusuhan, status Fei Yang hanya ingin numpang lewat saja
Makanya Fei Yang sengaja membiarkan mahluk itu melarikan diri begitu saja, tanpa mencegahnya.
Setelah mahluk itu menghilang, Fei Yang kembali melanjutkan perjalanan nya, meninggalkan tempat yang hancur berantakan, akibat pertempuran dahsyat barusan.
Fei Yang melayang ringan dari satu pohon ke pohon lainnya, hingga akhirnya dia berhasil keluar dari hutan tersebut.
Begitu keluar dari dalam hutan tersebut Fei Yang akhirnya menemukan lokasi yang sedang di carinya.
Di hadapan Fei Yang, kini terlihat ada sebuah bangunan istana kuno, yang terlihat masih berdiri kokoh di sana.
Tempat itu terlihat sepi, selain kawanan monyet berbulu emas yang bergelantungan di pepohonan yang tumbuh dekat istana.
Tidak terlihat ada tanda tanda kehidupan lain di tempat itu.
Di bagian belakang istana adalah sebuah dinding tebing terjal yang sangat tinggi menjulang keatas, hingga menembus awan.
Kedatangan Fei Yang mengundang monyet monyet berbulu emas itu bercecowetan sambil terus menatap tajam kearah Fei Yang.
satu persatu monyet itu melompat turun keatas tanah, lalu mereka bergerak mengelilingi Fei Yang.
Fei Yang juga tidak ingin bersungkan dengan monyet monyet yang telah menculik Wen Wen itu
"Kembalikan Wen Wen,..maka aku akan anggap masalah kita selesai.."
ucap Fei Yang dengan sikap mengancam.
Sepasang pedang merah biru sudah berada dalam genggaman tangannya.
Fei Yang tidak tahu monyet itu mengerti atau tidak, dia tida terlalu perduli.
Dia hanya ingin mengingatkan ulang memberi mereka kesempatan terakhir.
Sebelum dia mulai melakukan pembantaian terhadap kawanan monyet di hadapan nya.
Fei Yang yang sedang menunggu jawaban, malah di serang oleh puluhan ekor monyet yang menerkam dengan gerakan cepat luar biasa kearah punggung Fei Yang.
Tapi Fei Yang dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya membalik, melepaskan dua tebasan merah biru, yang melesat menyambut terkaman monyet monyet itu.
Tubuh tubuh yang terpotong menjadi dua berserakan di atas tanah dengan darah berceceran.
Melihat hal itu para monyet lainnya, langsung meraung marah, dengan kompak mereka semua nya maju menerjang kearah Fei Yang, sambil berteriak-teriak marah.
Fei Yang tidak ambil pusing, dia langsung membuka pantangan membunuhnya.
Dia kembali melepaskan tebasan merah biru, sehingga semakin banyak monyet berbulu emas tewas dengan tubuh terpotong jadi dua.
Tapi mahluk itu terlihat tidak ada takutnya, mereka terus menerjang kearah Fei Yang tanpa rasa takut sedikitpun.
Fei Yang juga tidak mau ngalah, tubuhnya berubah menjadi bayang biru merah, melesat kesana kemari.
Setiap tebasan nya tentu membuat monyet monyet emas itu terbelah dua.
Jumlah monyet yang mengepung Fei Yang semakin lama semakin banyak.
Mayat yang berserakan di halaman istana yang luas mulai bertumpuk tumpuk.
Pertempuran dari halaman istana, kini mulai berpindah ke undakan tangga panjang untuk mendekati pintu gerbang masuk kedalam istana.
"Trangggg,..!!"
Serangan Fei Yang di tahan oleh sebuah tongkat emas yang memanjang dari seekor monyet emas setinggi dua meteran.
Monyet yang berukuran cukup besar itu, sedang menatap kearah Fei Yang dengan tatapan mata tajam.
Sepasang matanya mengeluarkan cahaya keemasan.
"Anak muda kamu harus membayar atas kematian saudara saudara kecilku ini dengan jiwa mu.."
tegur monyet besar itu yang ternyata bisa berbicara layaknya manusia biasa.
Fei Yang menarik kembali senjatanya, berdiri diam menatap monyet besar itu dengan tajam dan berkata,
"Kamu bisa berbahasa manusia bagus,.."
"Kembalikan gadis yang kalian culik 18 hari yang lalu, aku pun tidak akan memperpanjang masalah.."
Monyet besar itu menatap kearah Fei Yang dengan dahi berkerut, dan berkata,
"Apa maksud mu,..!?"
"Gadis apa,? di sini selain kami tidak ada lagi mahluk lainnya.."
"Selama ribuan tahun, kamu adalah manusia pertama, yang berhasil mengacau hingga kemari."
Fei Yang menatap monyet besar itu dengan curiga dan kembali berkata,
"Bukankah 18 hari yang lalu, kamu yang membawa teman teman mu menyerang pasukan kerajaan Pagan dan menculik seorang gadis kemari..?"
"Kentut,..! kami dan kalian berbeda ras, buat apa kami menculik wanita tak berbulu seperti kamu .?"
ucap Monyet besar itu sambil menahan geram.
Fei Yang jadi sedikit meragu, mendengar ucapan monyet besar di hadapannya yang sepertinya cukup masuk akal.
Fei Yang menoleh kearah istana di sampingnya dan berkata,
"Biarkan aku memeriksanya kedalam, bila tidak kutemukan dia,.aku akan meminta maaf dan pergi dari sini.."
Monyet besar itu menyeringai dan berkata,
"Banyak alasan, katakan saja kamu kemari mau mencari harta itu kan ?"
"Taruhlah benar kamu mencari gadis mu itu, setelah kamu membantai begitu banyak saudara ku, kamu pikir aku bisa melepaskan mu pergi begitu saja..?"
ucap monyet besar itu geram.
Fei Yang tersenyum sinis dan berkata,
"Kalau begitu kita buktikan siapa yang lebih kuat, dia lah yang berhak bersuara.."
"Trangggg,..!
"Trangggg,..!
"Trangggg,..!