
Hasil temuan ini, kini meyakinkan Fei Yang bahwa pentolan utama Hei Mo Pang, memang sedang tidak berada di Hei Mo San, markas pusat mereka.
Dengan hasil ini, dan pembantaian yang dilakukan oleh Naga Hitam, Fei Yang yakin dirinya akan kesulitan menemukan 3 biang penyakit itu.
Mungkin untuk sementara waktu, dunia persilatan akan aman dan tentram, tapi itu mungkin hanya sementara waktu.
Karena sewaktu-waktu mereka bertiga bisa saja muncul menimbulkan prahara baru.
"Kak Hong Yi, ayo kita tinggalkan tempat ini.."
"Kedepannya, kita mungkin hanya bisa menempuh perjalanan darat mencari mereka keberbagai pelosok, tanpa arah dan tujuan jelas.."
"Kakak tidak keberatan kan ?"
tanya Fei Yang sambil menoleh kearah Hong Yi.
Hong Yi wajahnya terlihat merah, tidak tahu karena jengah atau karena tertimpa cahaya kawah,
Dia langsung menjawab,
"Asalkan bisa bersama paman guru, kemanapun Hong Yi tidak keberatan.."
Mendengar jawaban Hong Yi, Fei Yang langsung menelan ludahnya sendiri.
Tidak berani berkata, juga tidak berani menatap kearah Hong Yi, Dia langsung memutar badannya meninggalkan tempat tersebut.
Setiba di ruang depan, Fei Yang menghampiri Naga Hitam dan berkata,
"Hei Lung Siung, kami mau pergi dulu dari sini, kalau kamu merasa betah tinggal di sini tinggal lah."
"Tapi ingat kurangi nafsu membunuh mu bila tidak terpaksa, jangan sampai suatu hari kamu terkena hukuman dari langit.."
Naga Hitam mengangguk, tanpa berkata apa-apa dan kembali melanjutkan tidurnya.
Fei Yang menghela nafas kemudian berjalan meninggalkan Naga Hitam.
Di dalam hati Fei Yang berpikir, semua kembali pada pilihan Naga Hitam sendiri.
Yang bisa dia nasehati sudah dia katakan, mau dengar mau tidak, dia tidak bisa mengurusnya lebih banyak.
Kelak akan menjadi petaka ataupun berkah, itu adalah pilihannya, tugasnya sendiri masih banyak.
Dia tidak punya waktu mengurus yang ingin Naga itu lakukan.
Menjelang matahari terbit di pinggir sebuah hutan, terlihat seorang pemuda berbaju putih sedang di kepung oleh puluhan orang pria berwajah sangar.
Pemuda itu terlihat bertangan kosong, tidak membawa senjata apapun.
Sedangkan para pengepungnya masing masing membawa golok besar di tangan..
Salah satu perampok yang matanya buta sebelah, dia menunjuk kearah pemuda itu dan berkata,
"Yue Feng, kemaren kamu mengandalkan pasukan kerajaan mengacaukan rejeki kami.."
"Sekali ini, kamu jangan harap bisa keluar dari sini hidup hidup.."
Pemuda itu tersenyum tenang dan berkata,
"Siapa yang bisa keluar hidup hidup masih belum bisa di tentukan, siapa tahu tempat ini malah jadi kuburan masal kalian.."
"Keparat,.. kamu Yue Feng, ! ayo teman teman,..! kita habisi pemuda sombong ini..!"
Begitu perampok itu memberi perintah, golok dari berbagai arah pun bergerak menebas kearah tubuh Yue Feng.
Tapi para perampok itu menjadi terkejut saat golok mereka tidak berhasil menemui sasaran.
Disaat mereka sedang terkejut, Yue Feng yang menghilang dari hadapan mereka, langsung memberikan sebuah tendangan putar kearah wajah mereka, sambil meneriakkan jurus yang dia mainkan.
"Naga Sakti Mengibaskan Ekor..!!"
Plakkk,..Plakkk,...Plakkk,... Plakkk..!!"
Para pengeroyok itu langsung terlempar kebelakang jatuh mencium tanah.
Pemuda itu sambil tersenyum santai berkata,
"Bagaimana masih mau di lanjut ?"
"Atau segera tinggalkan tempat ini, jangan mengganggu perjalanan ku.."
"Angin keras,.!!"
Sambil berteriak dia langsung melemparkan senjata rahasia berupa pisau berbentuk bintang kearah Yue Feng.
kemudian mereka segera berlarian meninggalkan tempat itu, masuk kedalam hutan.
Yue Feng yang diserang senjata rahasia, langsung melayang mundur, mengindari serangan tersebut, dengan tubuh berputaran di udara seperti gasing.
Sehingga senjata rahasia yang berhamburan kearahnya berhasil dia hindari semuanya.
Setelah berhasil menghindari serangan. para perampok gunung itu, Yue Feng mendarat ringan diatas tanah.
Tapi baru saja dia mendarat diatas tanah, puluhan tubuh perampok yang tadi melarikan.diri, kini terlempar berhamburan kearahnya.
Yue Feng terpaksa kembali menunjukkan kegesitannya, melayang kesana kemari,. sambil berputaran, akhirnya dia berhasil menghindari tubuh yang berhamburan kearahnya.
Tubuh perampok yang terlempar, sebelum sempat menjerit, mereka semua sudah kehilangan nyawa, dengan tujuh lubang panca Indra mengeluarkan darah.
Tak lama kemudian terdengar suara tertawa keras yang bergema memenuhi tempat tersebut.
Ha,..ha,...ha,...ha,..ha,...!!"
Yue Feng mencoba mengerahkan tenaga saktinya untuk coba bertahan.
Tapi suara tawa itu sangat kuat, akhirnya tubuh Yue Feng terdorong mundur sempoyongan kebelakang, dengan langkah tidak beraturan.
Yue Feng telah menggunakan kedua telapak tangannya menutupi lubang telinga, tapi tetap saja. dia merasa kesakitan.
Hingga akhirnya dia terjatuh, terduduk diatas tanah, dalam posisi bersila dengan wajah pucat dan terlihat sangat tersiksa.
Keadaan Yue Feng semakin tak berdaya, di mana sebentar lagi hampir bisa di.pastikan.
Yue Feng akan segera menjadi korban keganasan suara itu.
Di saat kritis itu tiba tiba di samping Yue Feng muncul sepasang muda mudi.
Dimana terlihat pemuda itu menempelkan tangannya di pundak Yue Feng.
Seketika wajah Yue Feng yang pucat kini sudah kembali normal.
"Terimakasih Sauw Sia." (pendekar muda).
ucap Yue Feng sambil menoleh kearah pemuda yang datang menolongnya.
Suara tawa dari balik hutan kini semakin keras dan kuat menyerang kedua orang pemuda dan seorang pemudi itu.
Pemuda dan pemudi yang baru saja datang ketempat tersebut adalah Fei Yang dan Hong Yi, yang sedang kebetulan melewati tempat tersebut.
Saat mendengar dan melihat keributan antara Yue Feng dan perompak gunung, sebenarnya Fei Yang sudah hendak berlalu dari tempat itu.
Tapi langkahnya terhenti, saat melihat para perampok yang hendak kabur kedalam hutan,.kembali terlempar keluar dengan kondisi kehilangan nyawa.
Di tambah lagi dengan suara yang sengaja di kerahkan untuk menyerang Yue Feng.
Melihat kondisi yang di alami oleh Yue Feng, Fei Yang menjadi tidak tega dan membatalkan niatnya untuk pergi.
Ye Hong Yi terlihat mulai terganggu dengan suara keras itu, tanpa menunggu lebih lama lagi.
Dia langsung mencabut pedangnya, kemudian menebaskan seberkas biru membentuk naga es menerjang kearah asal suara.
"Blaarr,..!!"
terdengar suara ledakan dahsyat di tengah hutan, tapi ledakan itu tidak menghentikan suara tertawa itu.
Malah suara kumandang itu kini semakin dahsyat memberikan tekanan yang lebih kuat.
Ye Hong Yi wajahnya mulai pucat, tangannya yang memegang pedang mulai gemetaran.
Melihat hal ini Fei Yang pun. melepaskan suara raungan dahsyat
Jurus ke tiga dari kitab tanpa tanding,.. Menggetarkan 1000 Li
Raungan dahsyat Fei Yang berhasil menenangkan keadaan Ye Hong Yi dan Yue Feng.
Sebaliknya dari arah hutan kini suara tawanya berhenti, terdengar sebuah suara berat berkata,
"Anak muda kamu hebat juga, kamu layak menjadi lawan ku.."