PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENEMUI SANG PERKASA


"Yang ke ke apa aku seburuk yang di katakan ibu..?"


ucap Xue Lian dengan wajah sedikit tertunduk sedih.


Saat Fei Yang sedang mengoleskan salep dingin di daun telinganya yang merah.


Fei Yang menghentikan kegiatannya, lalu dia dengan lembut memegang wajah istrinya.


Agar melihat kearah nya dan berkata,


"Kamu adalah yang terbaik dan terpenting dalam hidup ku.."


"Jangan berpikir yang bukan bukan, ibu juga tidak bermaksud buruk.."


"Dia hanya ingin mengajari mu, apa yang menjadi kebiasaan para wanita pada umumnya.."


"Tapi percayalah bagi ku itu tidak mutlak bagi ku yang paling penting adalah ini.."


ucap Fei Yang sambil menunjuk hati Xue Lian.


"Kita punya keluarga sendiri, tentu punya aturan kita sendiri, buat apa perdulikan apa kata orang.."


"Asal kamu nyaman aku suka, lalu di mana buruknya, yang penting adalah kita, kita bahagia itu yang terpenting ."


"Jalani saja, yang penting kita gembira dan bahagia, buat apa pikir apa kata orang, yang bikin ribet dan gundah perasaan kita.."


ucap Fei Yang sambil menatap istrinya dengan tulus.


Xue Lian langsung menubruk kedalam pelukan suaminya, dia memeluk suaminya erat erat sambil berkata,


"Terimakasih sayang,..terimakasih ."


Fei Yang balas memeluk istrinya dengan mesra dan menciumi kepala nya dengan lembut.


Sesaat kemudian tiba tiba Xue Lian berkata,


"Yang ke ke, apa Fei Hsia pintar masak..? apa selama kalian bersama dia selalu masak untuk mu..?"


Fei Yang sedikit kaget dengan pertanyaan tersebut, jadi dia hanya bisa menjawab,


"Hmmm,.."


"Yang ke ke apa kamu menyukai istri baik dan sempurna seperti Fei Hsia..?"


tanya Xue Lian penuh selidik.


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku lebih memilih mu ketimbang dia, apa menurut mu bila aku lebih menyukainya aku akan memilih mu..?"


"Tidak sayang, kalian adalah dua orang berbeda, tidak bisa di bandingkan. Masing masing punya kelebihan, tentunya juga punya kekurangan..'


"Satu satunya yang harus kamu tahu sebaik apapun dia, di hati ku cuma ada kamu itu yang terpenting.."


"Masalah masak dan semua pekerjaan rumah tangga, di istana ku banyak, yang jauh lebih hebat darinya pun ada.."


"Apa menurut mu aku harus menikahi mereka semua ?"


"Jawabannya adalah tidak sayang, seperti yang kamu tahu aku pernah menjadi raja, sekeliling ku bila aku mau ada puluhan ribu wanita.."


"Semuanya pintar nari pintar nyanyi cantik tentu sudah pasti, masak dan semua pekerjaan rumah tangga mereka bisa."


"Tapi kenapa aku tetap cuma memilih mu, itu karena hati ini cuma ada kamu.."


"Percayalah pada ku, jangan berpikir yang bukan bukan lagi.."


ucap Fei Yang berbisik lembut di dekat telinga istrinya.


Xue Lian pun mengangguk dan tersenyum lega, dia tidak mau banyak berpikir lagi,


Sambil tersenyum bahagia dia mempererat pelukannya dan berbisik,


"Terimakasih sayang, aku merasa lega sekarang.."


Fei Yang sambil tersenyum nakal berbisik,


"Terimakasih saja gak cukup, tentu harus ada imbalan nya dong.."


Yang ke ke mau apa, ? aku sudah gak punya apa apa. semua yang ku punya sudah ku berikan, termasuk pedang Mestika Panca Warna kan juga sudah ku berikan.."


jawab Xue Lian polos.


Fei Yang tersenyum lebar dan berkata,


"Aku tidak mau itu, aku mau ini.."


Ucap Fei Yang sambil mendaratkan ciuman lembut nya di leher istrinya yang putih jenjang.


Xue Lian mengeluh halus, dia kini mengerti apa yang di inginkan oleh suaminya.


Sambil memejamkan mata, dia berkata pelan,


"Yang ke ke pintu belum di kunci, kunci lah dulu.."


Fei Yang mengulurkan tangannya kebelakang, Pemalang pintu bergerak turun sendiri menutup.


Fei Yang mengerahkan ilmu tenaga alam semesta pengontrol unsur kayu.


Sehingga palang pintu bisa dia kontrol dengan mudah tanpa harus meninggalkan kegiatannya yang sedang nanggung


Satu persatu pakaian mereka berdua beterbangan di udara jatuh keatas lantai.


Kelambu ranjang ditemukan, sesaat kemudian dari balik ranjang terdengar suara rin tihan dan suara nafa memburu.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya terlihat Fei Yang terbaring sambil tersenyum puas.


Di mana Xue Lian terlihat sedang berbaring miring dalam pelukan suaminya sambil tersenyum bahagia.


Tubuh mereka berdua yang polos tertutup selimut hingga sebatas dada, hanya bagian atas yang di biarkan terbuka.


"Sayang, kamu lapar,?"


tanya Fei Yang pelan.


Xue Lian mengangguk kecil dan berkata,


"Lumayan sih tadi baru makan dikit, sudah di ganggu ibu.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Kamu tinggu di sini saja, aku kebelakang sebentar, nanti aku bawa ke kamar.."


"Jadi kita bisa makan sama sama gak ada yang ganggu lagi.."


Xue Lian mengangguk pelan, sambil melepaskan pelukannya.


Fei Yang mendaratkan ciuman lembut di kening istrinya, setelah itu dia langsung beranjak dari ranjang, mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan.


Sekaligus merapikan pakaian istrinya meletakkan nya di tepi ranjang.


Sesaat kemudian terlihat Fei Yang keluar dari dalam kamar nya sambil tersenyum riang.


Sudah lama dia berpuasa dari sensasi itu, kini setelah terpuaskan tentu hatinya sangat riang.


Moodnya sedang bagus, dengan penuh semangat dia langsung pergi dapur, sibuk seorang diri.


Jam makan siang sudah lewat tentu saja tidak ada orang yang berada di dapur.


Para awak kapal dan petugas dapur, kemungkinan sedang tidur siang.


Semua masakan nya tadi semua habis tanpa sisa sama sekali.


Termasuk jatah buat dia dan Xue Lian pun sudah lenyap tidak tahu berpindah kedalam perut siapa


Fei Yang kembali mengulang menyiapkan masakan yang jauh lebih unik dan enak ketimbang sebelumnya.


Karena moodnya sedang sangat baik, sehingga hasil kreasi masakan nya, tentu semakin liar biasa.


Belum juga dia selesai, satu persatu orang kembali muncul di dapur.


Termasuk kedua mertuanya pun ikut muncul dan berkata,


"Mantu ku kamu sedang masak apa wangi benar ? sampai sampai wanginya tersebar di seluruh kapal.."


"Tidak ada apa-apa ibu biasa aja, nanti bila selesai ibu boleh cicip.."


ucap Fei Yang


Diam diam dia sedikit ngeluh dalam hati.


Dia bikin porsinya gak banyak, dia saja takut Xue Lian merasa kurang.


Bila di bagi istrinya pasti akan kecewa, tapi gimana lagi, pangkat mereka lebih besar.


Fei Yang dengan berat hati membagi sedikit ke piring piring kecil lalu dia sajikan ke hadapan kedua mertuanya.


Sisanya dia simpan dekat meja masak, agar tidak di sambar orang.


Setelah menyelesaikan masaknya, Fei Yang buru buru berkata,


"Ibu ayah aku permisi dulu.."


Lalu semua masakan Fei Yang bawa pergi kembali menuju kamarnya.


Fei Yang berkata,


"Maaf aku cuma masak dikit, kalian carilah bahan yang banyak, nanti sore baru aku buatkan untuk kalian.."


Mereka pada menghela nafas kecewa, tapi bisa apa.


Semua yang di tangan Fei Yang bukan jatah untuk mereka.


Mereka hanya bisa menelan ludah saja, menatap masakan itu dibawa pergi oleh Fei Yang.


Saat masuk kedalam kamar, Fei Yang melihat istrinya sudah berpakaian rapi duduk di hadapan meja.


Sedang menantinya dengan sumpit di tangan.


Fei Yang menutup pintu depan ujung kakinya, lalu dia menyajikan semuanya di hadapan Xue Lian.


Xue Lian menggerakkan sumpitnya dengan alis berkerut berkata,


"Sayang masakannya sangat wangi , dan terlihat luar biasa."


"Tapi kenapa aku merasa porsinya agak beda..apa kamu makan di dapur ya ? gak nunggu aku lagi.?"


Fei Hsia sambil bicara menatap kearah Fei Yang dengan curiga .


Fei Yang sambil tersenyum kecut berkata,


"Maaf sayang kita perbanyak nasi nya aja, tadi ayah ibu hadir di dapur.."


"Jadi aku.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum kecut tak berdaya juga tidak melanjutkan kata katanya..


Sambil menggerakkan sumpitnya Xue Lian mengomel pelan.


"Dasar katanya wanita harus pintar masak, kenapa gak dia aja yang masak, malah ngehabisin jatah ku mulu.."


"Ssst jangan keras keras gak enak nantinya,..ayo makan saja.."


"Nanti malam aku akan masak yang lebih banyak lagi, ok..?"


Xue Lian menganggukkan kepalanya, lalu dia melanjutkan makannya dalam diam.


Fei Yang tidak tahu apa yang sedang di pikir oleh istrinya.


Dia hanya ikut diam, sibuk menyumpitkan lauk untuk istrinya.


Sedangkan dia sendiri lebih banyak makan nasi putih dengan sedikit saosnya saja.


"Sayang setelah menikah aku tidak mau kembali ke lembah, aku ingin kita punya tempat tinggal yang sepi nyaman tanpa ada gangguan."


"Hanya ada kita dan putra putri kita saja, bagaimana menurutmu..?"


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Itu terserah pada mu, aku nurut saja.."


"Nanti kita bisa tamasya jalan jalan sambil memilih tempat yang menurut mu cocok.."


ucap Fei Yang santai sambil menyumpit sepotong cingkong kepiting kupas buat istrinya.


Xue Lian kembali tersenyum riang mendengar jawaban suaminya, dia kembali makan dengan penuh semangat.


Melihat hal ini Fei Yang pun ikut tersenyum bahagia, menemani istrinya makan.


Selesai makan Xue Lian membawa semua peralatan makan kedapur untuk di cuci dan di keringkan lalu di susun kembali ketempatnya.


Dia juga membersihkan semua peralatan memasak Fei Yang tadi.


Memang beginilah keseharian mereka dulu.


Dan mereka sudah terbiasa dengan rutinitas seperti itu


Fei Yang sendiri terlihat sedang sibuk membantu para nelayan menangkap ikan dan apapun yang bisa di tangkap.


Berhubung mereka sedang berada di samudra luas, hasil tangkapan mereka sebagian besar hanya ikan dan cumi saja.


Udang kepiting tidak berhasil mereka dapatkan di sana.


Ikan ikan yang mereka dapatkan pun kebanyakan ikan ikan berdaging padat.


Tidak seperti ikan karang bintik di pulau ikan, yang berdaging halus lembut seperti daging kepiting.


Tapi Fei Yang yang kreatif dalam memasak, dia tidak mati kreasi akibat bahan dasar yang di dapatkan mereka.


Fei Yang yang sempat mendapatkan seekor ikan hiu pemangsa, siripnya dia jadikan Sop.


Sedangkan daging ikan hiu yang minim tulang dan durinya, oleh Fei Yang di jadikan bahan untuk membuat bubur ikan.


Sedangkan hasil ikan tangkapan mereka sebagian besar diambil dagingnya.


Kemudian di haluskan di oleh menjadi bakso ikan, bola daging ikan goreng, tahu isi baso ikan, kulit tahu bungkus cincangan daging ikan.


Di kukus dulu, baru kemudian di potong potong, lalu di goreng.


Berbagai kreasi Fei Yang membuat makan malam mereka menjadi ceria.


Begitu pula hati hari selanjutnya mereka selalu di manjakan dengan kreasi masakan Fei Yang yang banyak ragam dan semuanya sangat luar biasa.


Sehingga perjalanan mereka selama beberapa hari di lautan, jadi terasa cepat, tanpa terasa mereka telah kembali ke daratan tengah.


Setelah berpisah dengan para awak kapal rombongan Fei Yang menempuh perjalanan ke Xi Xia menggunakan jasa Kim Tiaw.


Di tempat lain di suatu lembah yang sunyi, di mana dulu lembah tersebut adalah lembah yang di ciptakan oleh kaisar langit.


Khusus untuk membuang dan mengurung para dewa yang sedang menjalani hukuman darinya.


Kini lembah itu terlihat sunyi dan sepi, semua berjalan sendiri sesuai mekanisme alam tanpa ada campur tangan manusia.


Di sebuah gua yang terletak di bawah sebuah tebing, yang dulunya di bagian puncak berbentuk lima jari.


Kini puncak tebing itu sudah berubah menjadi puing puing batu besar berserakan.


Di antara batu batu yang berserakan itulah di sana terlihat sebuah gua yang gelap gulita sunyi.


Tapi dari balik gua yang sunyi dan gelap terus memancarkan aura buas, yang membuat hewan di sekitar lembah tersebut.


tidak ada yang berani mendekat.


Tidak jauh di depan gua terdapat beberapa batang pohon dengan buah buah aneh tergantung lebat di sana.


Anehnya di sekitar sana banyak monyet berbulu emas berkeliaran, mereka tidak ada yang berani pergi mendekati pohon itu.


Apalagi mencoba mengambil buahnya, mereka hanya terlihat asyik bercengkrama di antara sesama mereka.


Tanpa ada yang berani mendekati mulut gua.


Para monyet itu lebih suka menikmati buah pisang, yang pohon pohonnya tumbuh subur sedikit lebih jauh dari area gua tersebut berada.


Pagi itu terlihat Dewi Kwan Im turun dari langit, sambil duduk diatas kelopak bunga teratai nya.


Aura lembut penuh kasih yang terpancar dari Dewi Kwan Im, membuat semua mahluk keluar dari persembunyiannya.


Melingkari Dewi yang maha suci dan maha agung itu.


Bunga bunga di sekitar sana pada bermekaran indah mengeluarkan wangi harum semerbak menyambut kedatangan sang Dewi agung.


Gua gelap bergetar hebat, sebelum terdengar raungan naga yang penuh kemarahan kekecewaan dan di liputi kesedihan mendalam.


Mahluk mahluk yang melingkar Dewi agung, terlihat sedikit gelisah dan ngeri.


Mereka tanpa ada yang memerintah, secara reflek bergerak mundur menjauhi mulut gua.


Mereka pada memilih bersembunyi di balik sang Dewi agung.


Bunga bunga yang tadi sempat bermekaran kini menguncup kembali.


Suara raungan menyedihkan terus terdengar keluar dari dalam gua.


"Ada apa kalian datang kemari ? setelah kalian merengut nya dari ku dengan alasan takdir.."


"Tapi juga melarang ku ikut dengan nya berenkarnasi bersama dengan alasan melanggar hukum alam.."


"Apa belum.puas kalian melihat aku menderita dan tersiksa.."


"Rooaaarrrrrrr...!!"


Sehabis terdengar suara keluhan manusia dari dalam gua, kini malah muncul raungan yang semakin mengerikan dan semakin dahsyat.


Seluruh area sekitar bergetar hebat, bahkan langit pun menjadi gelap petir sambar menyambar di udara.


"Putra ku yang perkasa, dengarlah apa yang kamu tunggu telah tiba.."


"Kini lah saat mu, untuk keluar melepaskan semua penderitaan dan kemarahan mu, agar bisa membantu umat manusia.."


"Sama seperti yang pernah di lakukan oleh istri dan ayah mertua mu semasa hidup, dan yang mereka harapkan setelah meninggal."


"Bila kamu bersedia berdiri keluar membantu umat manusia mengatasi bencana ini.."


"Satu kamu akan bisa memenuhi harapan orang orang yang mencintai mu itu.."


"Kedua aku berjanji akan membantu mu, mempertemukan kamu lagi dengan belahan jiwa mu itu.."