PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENEMUI NAN THIAN


Ketiga tetua itu meski terlihat penasaran dan ingin tahu jalan ceritanya.


Tapi mereka berusaha menahan diri, karena di sana ada Lian Se Hua yang lebih berhak untuk bertanya.


Lian Se Hua setelah menenangkan perasaannya, dia pun berkata,


"Thian Er katakan apa yang terjadi dengan guru mu di Lian Hua Feng..?"


"Di mana Ping Chi dan Xue Xue..?"


tanya Lian Se Hua berusaha bersikap setenang mungkin, meski hatinya sebenarnya sangat berduka.


Sudah belasan tahun berlalu tanpa ada berita kabar tentang suami anak dan menantunya.


Dia sudah berulang kali mengirim orang ke Hua San Pai, dia sendiri juga sudah berangkat pergi menyelidikinya.


Tapi semua hasilnya nihil, selain menemukan bangunan Hua San Pai yang tinggal puing puing reruntuhan dan beberapa makam di puncak Lian Hua Feng.


Dia sana sekali tidak berhasil menemukan petunjuk apapun di sana .


Nan Thian mengangkat wajahnya menatap kearah Lian Se Hua dengan tatapan mata sedih dan bersalah,


Perlahan-lahan dia menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.


Nan Thian menutup ceritanya dengan kembali menyerahkan sebuah guci bekas arak, ke Lian Se Hua.


"Semu, harap tambahkan hati mu, terimalah, ini guci abu Xue Xue Semei."


"Maafkan Nan Thian, karena situasi dan sedang terburu buru."


"Nan Thian belum sempat mencari dan menggantinya dengan guci yang lebih layak ."


ucap Nan Thian sambil menahan kesedihannya.


Sekali ini Lian Se Hua tidak lagi mampu untuk menyambut guci abu putri tunggalnya itu.


Pukulan batin ini terlalu besar untuk nya, Lian Se Hua tidak sanggup bertahan lagi.


Lian Se Hua terlihat pingsan tidak sadarkan diri dalam pelukan Lie Pai Xue.


Melihat hal ini, Nan Thian pun terpaksa menyimpan kembali guci abu Xue Xue kedalam cincinnya.


Dia langsung maju membantu menggendong tubuh Lian Se Hua menuju kamarnya.


Setelah Nan Thian membantu mengurut dan menyalurkan tenaga dalam.


Akhirnya Lian Se Hua berhasil sadar kembali .


Begitu sadar Lian Se Hua langsung menatap kearah Nan Thian dengan tatapan mata sedih dan agak kosong.


"Di..dimana Xue Xue ku..?"


Nan Thian sambil menghela nafas sedih, dengan hati hati, Nan Thian menyerahkan guci abu Xue Xue kedalam pangkuan Lian Se Hua.


Lian Se Hua langsung memeluknya dengan sepasang tangan gemetaran, dia terlihat menangis dalam diam.


Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tapi sepasang matanya justru terus mengalirkan air mata tiada henti.


Hingga airmatanya dari putih berubah merah.


Melihat hal ini tentu saja Nan Thian sangat kaget.


Dia buru buru maju menotok titik Ya Men, Feng Fu, di tengkuk Lian Se Hua.


Untuk membuat Lian Se Hua tertidur pulas, melupakan kesedihannya.


Guci abu Xue Xue, Nan Thian serahkan ke Lie Pai Xue, yang sejak awal, selalu dengan setia terus mendampingi gurunya sekaligus ibu angkatnya itu, tanpa pernah beranjak sedikitpun dari sisi guru nya.


Setelah membuat ibu gurunya tidur dengan tenang, Nan Thian baru mencoba menotok titik Jiao Sun di bagian belakang daun telinga, dan titik Shi Zu Kong, didekat sudut mata.


Nan Thian mencoba merelaksasi kan syaraf mata uang ibu gurunya yang terlalu lelah, karena memproduksi airmata berlebihan.


Hingga ada syaraf di sana yang lecet berdarah.


"Nona Lie, kini Semu hanya ada kamu yang bisa di andalkan."


"Saya harap kamu bisa membantu dan menjaganya dengan baik.."


"Bantu hibur lah dia, agar dia tahu di dunia ini dia masih ada kamu yang perduli dengan nya.."


"Sehingga pelan pelan dia bisa berpikir lebih terbuka, keluar dari kesedihannya.."


"Bila Nan Thian Sexiong tidak berkeberatan, panggil saja saya Pai Xue Semei, seperti yang lainnya biasa memanggil ku.."


"Pai Xue akan berusaha sesuai pesan Nan Thian Sexiong tadi.."


ucap Pai Xue dengan kepala tertunduk malu.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Baiklah, terimakasih banyak Pai Xue Semei.."


"Aku permisi dulu kedepan.."


ucap Nan Thian, lalu dia berdiri meninggalkan kamar istirahat Semu nya.


Setelah keluar dari kamar Semu nya, Nan Thian berjalan seorang diri.


Tanpa sadar langkahnya membawa dirinya menuju ke sebuah taman bunga.


Taman bunga penuh kenangan, baik suka maupun duka.


Di depan Nan Thian, tepatnya di sebuah bangku batu yang menghadap kearah kolam ikan dan air terjun kecil buatan.


Nan Thian melihat bayangan dirinya dan Siao Semei nya duduk berdua berdampingan dengan mesra.


Mengobrol bercanda dan tertawa bersama, wajah Siao Semei nya terlihat bersinar sinar di penuhi keceriaan dan kebahagiaan, saat sedang bercerita padanya.


Tanpa sadar Nan Thian yang sedang mengenang hal itu ikut tersenyum seorang diri.


Perlahan-lahan bayangan Nan Thian sirna berganti menjadi bayangan Lim Ping Chi.


Sesaat kemudian mereka berdua bergandengan tangan berlatih pedang bersama di sana.


Kemudian semua adegan saat saat dia dan Siao Semei nya, mengakhiri hubungan mereka.


Semuanya kembali terlihat dengan jelas, saat melihat pemandangan ini.


Tanpa sadar Nan Thian tersenyum sedih dan berkata seorang diri,


"Bila berjodoh sekalipun di ujung dunia, pasti tetap akan di takdir kan kembali bersama.."


"Bila tidak berjodoh, meski setiap hari dari kecil hingga besar bersama, tetap saja pada akhirnya takdir akan memisahkan nya.."


Setelah menghela nafas panjang, Nan Thian sambil menghela nafas panjang berjalan meninggalkan taman itu.


Nan Thian terpaksa bertahan di sana, menunggu hingga kondisi ibu gurunya membaik, baru dia bisa meninggalkan tempat itu dengan hati tenang.


Berkat bantuan Nan Thian, dan perawatan dari Pai Xue.


Di hari ketiga Lian Se Hua terlihat mulai membaik keadaan nya.


Dia mulai bisa menerima kenyataan kepergian suami dan putrinya.


Pagi itu sehabis diantar Pai Xue, pergi menyembahyangi suami dan putrinya.


Lian Se Hua, langsung berjalan menuju taman bunga, ditemani oleh Lie Pai Xue muridnya.


Sesuai dugaan Lian Se Hua, muridnya Nan Thian memang ada di sana.


Nan Thian terlihat duduk bermeditasi seorang diri di sana.


Dia terlihat duduk di atas bangku, yang terletak didepan kolam ikan .


Bangku yang sana, yang sering dia gunakan bersama Xue Xue menghabiskan waktu bersama mereka.


Nan Thian yang menangkap ada suara langkah kaki sedang mendekatinya.


Dia segera menghentikan latihannya, menoleh kearah asal suara langkah kaki


Sesaat kemudian, begitu melihat yang datang adalah Ibu gurunya, di temani oleh adik seperguruannya Lie Pai Xue.


Nan Thian pun bangkit berdiri, memberi hormat dan berkata,


"Selamat pagi Semu, hari ini kelihatannya Semu keadaan nya, sudah jauh lebih baik.."


"Mari silahkan duduk Semu, dan Lie Semei..*


ucap Nan Thian sopan.


Lian Se Hua mengangguk, dia dan Pai Xue, lalu mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan tempat duduk Nan Thian.