
Pagi pagi sekali Kim Kim sudah mengantar tabib Hua dan cucunya Hua Lung meninggalkan tempat kediaman rahasia Fei Yang.
Nan Thian yang sudah di ajari oleh Fei Yang cara membuka tutup pintu portal dimensi.
Dia menggantikan Fei Yang membuka pintu portal dimensi, agar Kim Kim bisa keluar dari tempat itu.
Nan Thian hanya tahu cara buka tutup pintu portal dimensi, tapi dia tidak bisa membuat alam dimensi seperti Fei Yang.
Karena itu ilmu rahasia keluarga Xue Lian, tidak bisa di turunkan ke orang luar.
Kini ada Fei Hsia dan Zi Zi membantu mengurus Xue Lian, ditambah Xue Lian sendiri sudah bisa berbicara dan bergerak.
Hanya kedua kakinya saja yang masih lemah.
Kondisi ini membuat Fei Yang punya lebih banyak waktu santai, hari hari dia isi dengan mendidik dan membimbing kedua putra kembarnya dengan segala kemampuannya.
Terkadang Nan Thian juga bantu menggantikan nya mendidik si kembar, Fei Yung dan Fei Lung.
Nan Thian yang punya banyak waktu senggang, dia isi dengan berlatih dan menyempurnakan Ilmu pedang yang di terimanya dari Fei Yang dan Wu Ming Lau Jen.
Berkat sumber daya buah persik kahyangan dan mata air surgawi, kekuatan Api dan Es surgawi milik Nan Thian terus berkembang dengan pesat.
Di waktu sore saat punya waktu senggang, Zi Zi dan Nan Thian akan pergi ke puncak Yu Ni Feng.
Mereka berdua berberes beres mengembalikan keadaan tempat itu kembali lagi ke bentuk semula
Sore itu di puncak Yu Ni Feng, di kediaman lama Fei Yang dan Xue Lian, yang sudah di rapikan oleh Nan Thian dan Zi Zi.
Di mana semua ternak sudah di isi kembali, kebun sayur dan buah, juga sudah di urus lagi.
Semua ini di kerjakan oleh Nan Thian bersama Zi Zi.
"Kakak Tampan kamu serius ingin pindah tinggal di sini..?"
tanya Zi Zi yang terlihat keberatan, dengan keinginan Nan Thian pindah dari kediaman keluarga nya.
Di mana bila Nan Thian pindah ketempat ini, secara tidak langsung mereka akan berpisah.
Nan Thian mengerti jalan pikiran bibi kecilnya, tapi dia tidak bisa menuruti keinginan Zi Zi untuk kali ini.
Karena dia tidak enak hati terus numpang tinggal, di tempat kakek paman gurunya itu.
Meski Fei Yang dan yang lainnya sangat menyambut baik keberadaannya di sana.
Tapi tetap saja ada rasa sungkan, terutama dia sedikit tidak enak hati dengan kakek paman gurunya dan Xue Lian.
Karena hubungannya dengan bibi kecilnya semakin lama semakin akrab.
Selama kakek paman gurunya dan Xue Lian, tidak buka mulut merestui hubungan mereka.
Nan Thian tidak akan pernah berani berterang mengungkapkan perasaan suka nya kepada bibi kecilnya itu.
Selain itu Nan Thian juga ada sedikit merasakan, meskipun Fei Yang dan Xue Lian sangat menyayangi dan menyukai kehadiran nya bersama mereka.
Tapi terhadap hubungan nya dengan Zi Zi sepertinya mereka kurang merestui.
Apa sebabnya Nan Thian tidak tahu, dia juga tidak berani menanyakan nya secara langsung.
Dia sebenarnya sempat mempertimbangkan untuk pergi dari sana.
Tapi hati kecilnya berkeberatan untuk berpisah dengan Bibi kecil yang sangat menarik perhatiannya itu.
Selain itu Kim Kim yang belum juga kunjung kembali setelah hampir sebulan pergi mengantar tabib Hua dan cucunya.
Itu juga membuat dia sulit bergerak.
Di tambah dengan kondisi sepasang kaki Xue Lian, yang rutin sehari 3 kali.
Masih terus memerlukan bantuan penyinaran hawa api dan es surgawi miliknya.
Untuk membantu melancarkan peredaran darah dan menyembuhkan syaraf syaraf kecilnya yang rusak.
Berbagai pertimbangan kondisi ini lah, yang membuat Nan Thian belum bisa pergi dari tempat tersebut.
Dia mengurusnya dan berpikir tempat ini lah pilihan yang paling cocok sebagai tempat tinggal sementara.
Di sini dia bisa mengurangi rasa tidak enak hatinya, sekaligus bisa tetap membantu merawat kondisi Xue Lian.
Juga dia bisa menjadi penjaga bagi musuh musuh kakek paman gurunya yang sangat banyak.
Nan Thian akan menggunakan dirinya untuk memancing kedatangan para jagoan suruhan pihak Mongolia itu.
Bila mereka berani muncul, Nan Thian pasti akan menghabisi mereka semuanya.
Terutama Qi Lian Lao Koai yang ada dendam sedalam lautan dengan dirinya.
Nan Thian menatap Zi Zi dengan lembut dan berkata,
"Keputusan ku sudah bulat bibi, tempat ini lah yang paling tepat untuk ku tinggal.."
"Tapi aku.."
ucap Zi Zi tidak jadi melanjutkan kata katanya.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Di sini tempatnya tidak jauh dari tempat tinggal mu, kamu pun bisa datang kapan pun kamu mau.."
"Sehari tiga kali aku juga pasti akan datang kekediaman mu, sebenarnya tidak ada bedanya.."
"Malah di sini di kala senja dan pagi hari kita bisa duduk santai melihat matahari terbit dan tenggelam bukankah itu sangat indah."
"Bulan dan bintang di sini juga lebih cerah dan lebih terang, benar tidak..?"
tanya Nan Thian, yang sedang mencoba membujuk bibi kecilnya agar tidak kecewa dengan keputusan nya ini.
Zi Zi terlihat berpikir sejenak, lalu dia berkata,
"Baiklah, kita sepakati begitu saja.."
Lalu dia berjalan menghampiri bibir tebing, duduk di sana membiarkan sepasang kaki kecilnya menggantung di udara.
Nan Thian mengikutinya, lalu duduk disebelahnya.
Zi Zi menunjuk kearah awan di langit yang berwarna lembayung, di mana ada dua ekor burung besar berbulu putih melintas lewat.
"Kakak tampan lihat di sana, awannya sangat indah, sepasang burung putih itu terlihat menambah kesempurnaan nya, sangat mirip dengan lukisan hidup ya..?"
ucap Zi Zi gembira sambil menunjuk, dia merangkul lengan Nan Thian dengan mesra, seperti tanpa sengaja dia melakukan gerakan manja itu.
Nan Thian mengikuti arah yang di tunjuk oleh Zi Zi, dia mengangguk membenarkan pendapat Zi Zi.
"Kamu benar bibi, terkadang hidup memang sangat sederhana, manusia lah yang membuat nya menjadi rumit.."
"Alangkah bahagianya bila bisa hidup tenang dan damai seperti burung berpasangan itu.."
"Terbang bebas di udara berpasangan, selama nya tidak akan pernah kesepian.."
ucap Nan Thian sambil termenung menatap kearah pasangan burung putih itu.
"Kakak tampan tidak perlu khawatir akan kesepian, Zi Zi berjanji akan selalu menemani kakak selamanya.."
"Seperti pasangan burung itu, selamanya kita tidak akan pernah berpisah.."
ucap Zi Zi sambil menyandarkan kepalanya di pundak Nan Thian.
Nan Thian melirik kearah Zi Zi sambil menghela nafas pelan,
Dia bergumam dalam hati,
"Semoga saja bisa seperti itu.."
Sesaat kemudian mereka berdua terbelalak kaget menatap pemandangan indah mereka yang seketika buyar tak bersisa.