PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI KE PERAHU FEI YANG


paku paku kecil yang terbentuk dari tetesan air hujan langsung menghujani tubuh si pria tinggi besar.


Sehingga si pria bertubuh tinggi besar itu langsung terjengkang kebelakang.


"Brakkk,..!!"


Tubuhnya langsung diam tidak bergerak.


Di susul dengan para pasukan pengawal juga jatuh malang melintang, menjerit jerit kesakitan merintih rintih diatasi lantai kapal besar itu.


Beberapa pemuda yang berada di balik tirai juga ikut terkapar di atas lantai.


Yang paling parah tentunya adalah pemuda yang sedang berusaha melecehkan gadis itu.


Dia langsung tewas di tempat, sama seperti si tinggi besar itu.


Sedangkan teman teman mereka meski terluka cukup parah, tapi masih tertolong nyawanya tidak sampai mati.


Setelah menyapukan pandangannya, di mana sudah tidak terlihat ada lawan yang masih berdiri di sana.


Fei Yang baru menghampiri kakek yang mengenaskan itu.


Fei Yang memasukkan dua pil luka dalam kedalam mulut kakek itu, membantunya minum.


Menotok dan mengurut dada dan punggung nya sejenak.


"Kakek,.. kakek,.. kakek.. ! hu,.


hu,..hu.. kakek tidak apa-apa kek..!?"


"Jangan tinggalkan Hua er kek,..!"


ucap gadis cantik yang pakaian nya compang camping itu, sambil berlutut di hadapan kakeknya menangis cemas.


"Kamu tenang saja, kakek mu tidak akan apa apa, ini kamu pakailah untuk sementara.."


ucap Fei Yang iba melihat keadaan gadis tersebut.


Fei Yang memberikan sebuah jubah penutup punggung yang lebar, milik para pengawal yang terkapar tidak jauh darinya.


Gadis itu menerimanya dengan wajah merah padam, sambil menahan malu dia segera membungkus tubuhnya dengan jubah lebar itu.


"Terimakasih banyak tuan penolong, Budi besar anda sampai matipun, Hua er tak akan pernah melupakan nya.."


ucap gadis itu yang bersujud dan menempelkan dahinya di atas lantai di hadapan Fei Yang.


"Tak perlu seperti itu, sesama manusia saling tolong menolong itu sudah wajar.."


"Kamu bangunlah, kamu bantu aku awasi kakek mu, aku mau ke dalam sana melihat lihat sebentar."


Gadis itu mengangguk cepat, dia segera duduk bersimpuh di sebelah kakeknya, yang masih belum sadarkan diri.


Tadi kakek ini karena terlalu stres melihat keadaan cucunya, dia tidak kuat sehingga jatuh pingsan.


Fei Yang masuk kedalam bilik kapal di mana terlihat lima pemuda yang terluka parah sedang merintih rintih di sana dan seorang lagi sudah terkapar tak bernyawa.


Fei Yang memeriksa dan mencari cari di pakaian pemuda yang meninggal itu.


Dia berhasil menemukan sekantong uang dan beberapa kertas cek yang bernama (Yun Piao).


Satu lembar Yun Piao itu paling rendah bisa di tukar dengan 500 Tael emas di bank negara.


Itu bukan jumlah yang kecil, Fei Yang menyitanya, selanjutnya dia memeriksa, tubuh beberapa pemuda itu, dari saku di dada mereka masing-masing.


Fei Yang juga menemukan sejumlah kantung yang jumlahnya tidak sedikit dan ada beberapa lembar Yun Piao lagi, yang berhasil dia temukan, Fei Yang menyita semuanya.


Selama Fei Yang bertindak di dalam bilik ruangan itu,. tidak ada diantara mereka yang berani mengeluh ataupun bersuara sama sekali.


Setelah mendapatkan semua yang di carinya Fei Yang pun meninggalkan tempat tersebut, kembali menghampiri Hua er dan Kakek nya.


Saat Fei Yang kembali kesana, keadaan kakek itu sudah kembali normal.


Melihat kedatangan Fei Yang, kakek itu buru buru mengajak cucunya berlutut di depan Fei Yang dan berkata,


"Budi besar tuan penolong, pada kami Kakek dan cucu yang miskin ini, takutnya seumur hidup tidak akan pernah bisa membalasnya.."


Fei Yang membungkuk membangunkan mereka berdua dan berkata,


"Ucapan kakek terlalu berat, aku menolong tanpa mengharap kembali.."


"Yang ku lakukan hanya menjalankan prinsip dasar hidup manusia, hidup saling tolong menolong diantara sesama umat manusia tanpa pamrih apapun.."


Kakek itu menatap Fei Yang dengan penuh kagum dan merasa sangat berterimakasih.


"Tuan penolong, bolehkah aku tahu nama tuan penolong yang mulia."


ucap kakek itu penuh hormat.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Nama ku Li Fei Yang, biasanya teman teman memanggil ku Fei Yang.."


Kakek itu mengangguk, lalu berkata,


"Nak Fei Yang, harta milik ku satu satunya adalah cucu ku ini."


"Bila nak Fei Yang tidak berkeberatan, bagaimana bila kedepannya biar cucu ku ikut melayani dan mendampingi nak Fei Yang, kemanapun nak Fei Yang pergi.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Kakek ini bicara apa,? aku masih muda sehat segar bugar, mana perlu pelayan.."


"Justru kakek lah yang sangat membutuhkan Hua er untuk menjaga dan merawat kakek.."


"Tempat ini tidak cocok untuk berbicara, mari mampir Ke perahu ku saja.."


"Bersiaplah,.. jangan kaget, aku akan membawa kakek dan Hua er kesana.."


Selesai berkata, Fei Yang langsung membawa kedua orang itu terbang melayang kembali ke perahu nya.


Kedua orang itu langsung menjerit tertahan saat tubuh mereka di bawa terbang melayang di atas danau.


"Ahhhhh,..!!"


Secara otomatis mereka memegang lengan Fei Yang erat erat, tapi sebelum suara mereka hilang.


Mereka bertiga telah mendarat ringan di atas perahu Fei Yang.


Hua er dan Kakek nya masih gemetaran wajah mereka sedikit pucat, ini adalah kali pertama mereka merasakan terbang di udara.


Melihat sikap mereka Fei Yang hanya tersenyum, lalu dia menoleh kearah tukang perahu dan berkata,


"Paman tolong bawa perahu ke tepi danau.."


Tukang perahu mengangguk cepat tanpa berani banyak berkata, Dia langsung mengangkat sauh, kemudian membawa perahunya kembali ketepi danau..


"Ayo Hua er, kakek,.. jangan bengong aja, kita masuk kedalam dan ngobrol santai..."


ucap Fei Yang kemudian berjalan masuk duluan kedalam bilik perahu.


Hua er yang sudah sadar dari kagetnya, dia menggandeng tangan kakeknya ikut masuk kedalam bilik perahu .


"Silahkan duduk yang santai, maaf meja agak berantakan, ini ada dua botol arak Hang Zhou yang masih baru, bisa di minum untuk menghangatkan badan.."


ucap Fei Yang sambil memberikan dua botol arak nya ke Hua er dan kakeknya.


Hau er menerimanya, tapi dia meletakkan kembali keatas meja dan berkata,


"Maaf kakak Yang, Hua er tidak bisa minum, dan belum pernah minum.."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, kalau begitu Hua er minum teh Long Jing ini saja.."


Meski di meja masih banyak sisa makanan, tapi Fei Yang jelas tidak berani menawarkan ke mereka, Karena dia merasa kurang sopan menawarkan ke tamu makanan bekas dirinya.


Kakek Hua er menyambutnya dengan gembira dan berkata,


"Terimakasih kasih nak Fei Yang, meski kami asli orang sini, tapi belum tentu setahun sekali kami bisa minum arak mahal ini..'