PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KERIBUTAN DI HUTAN KECIL


Setelah tiba di desa, Fei Yang yakin,


para gadis itu pasti aman dan bisa menemukan jalan langsung kembali kerumah mereka masing-masing tanpa harus dia mengurusnya.


Fei Yang begitu memasuki losmen, dia langsung kembali ke kamarnya sendiri.


Saat tiba di kamarnya melihat kondisi Yue Feng, yang terlihat mengenaskan dengan seluruh bagian belakang tubuhnya penuh luka.


Sedang di obati oleh Hong Yi dengan mengoleskan obat luka secara hati hati.


Hati Fei Yang sedikit terenyuh dan merasa bersalah atas luka yang di terima oleh Yue Feng.


"Paman guru kamu sudah tiba, ?"


"Bagaimana keadaan paman ? para tawanan gimana ?"


tanya Hong Yi tanpa menoleh.


Yue Feng sambil berusaha menahan rasa nyeri, dia memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata,


"Adik Yang,.. duduklah dengan santai,.. jangan khawatir,..


aku baik baik saja."


"Diamlah sudah seperti ini, masih bilang baik baik saja..,"


"Sudah berapa kali aku bilang,..bila tak cukup kuat jangan memaksa diri..."


"Lihat jadi konyol kan..?"


tegur Hong Yi mengomeli Yue Feng,


Padahal di hatinya, dia sangat kagum dengan keberanian Yue Feng yang selalu maju membelanya.


Padahal Yue Feng jelas tahu bahwa kemampuannya tidak cukup,.tapi dia tetap nekad mengorbankan diri untuk menjaga Hong Yi.


Menanggapi omelan Hong Yi, Yue Feng malah tersenyum.


Karena dia tahu, meski terlihat memarahinya.


Tapi sebenarnya Hong Yi sedang mengkhawatirkan keadaannya.


Bagi Yue Feng ini adalah suatu kemajuan hubungan, yang cukup menggembirakan.


Yue Feng yakin suatu hari dia pasti akan mengerakkan perasaan gadis galak dan dingin, tapi sangat menarik baginya.


Fei Yang duduk tidak jauh dari mereka berdua dan berkata,


"Keadaan ku baik baik saja, para tawanan juga telah berhasil kembali dengan selamat ke desa."


"Para perompak tidak ada yang selamat, kecuali kakek gundul itu."


"Dia telah berhasil meloloskan diri, menghilang tanpa jejak."


ucap Fei Yang menutup penjelasannya.


Hong Yi mengangguk, lalu melanjutkan berkata,


"Paman guru,.. bila paman guru terburu buru ingin mencari musuh dan melanjutkan petualangan."


"Paman guru boleh duluan, aku akan merawatnya hingga sembuh baru menyusul paman..."


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Aku tidak buru buru, mari kita rawat kakak Feng bersama sama."


"Setelah kak Feng pulih, kita baru lanjutkan perjalanan kita..."


"Maaf aku yang tidak berguna, malah menjadi beban yang menghambat perjalanan kalian."


ucap Yue Feng merasa tidak enak hati..


"Makanya kalau tahu kemampuan diri rendah, yang rajin belajar mengejar ketinggalan.."


"kami juga tidak akan pelit mengajari mu.."


ucap Hong Yi ketus, padahal dia mengisyaratkan, dirinya bersedia mengajari Yue Feng ilmu silatnya.


Yue Feng lagi lagi menanggapi omelan ketus Hong Yi, dengan tersenyum gembira.


"Paman guru kamu bantu aku teruskan mengoleskan obat luka, aku mau pergi beli sedikit obat dan memasaknya untuk dia minum.."


ucap Hong Yi sambil menyerahkan obat luka di tangan nya ke Fei Yang.


Lalu Fei Yang menggantikan posisi Hong Yi, untuk meneruskan mengoleskan obat kebagian belakang tubuh Yue Feng yang penuh luka.


Berkat perawatan telaten dari Hong Yi dan Fei Yang secara bergantian


Di hari ketiga, kondisi luka di tubuh Yue Feng pun mulai mengering.


Mereka bertiga mulai kembali melanjutkan perjalanan santai, menelusuri pinggiran sungai kuning.


Sepanjang perjalanan, Hong Yi tiada bosan bosannya, memberi petunjuk dan mengajarkan ilmu meringankan tubuh meniti diatas daun.


Merapal mantra membentuk perisai pelindung diagram tulisan kuno.


Tehnik pengendalian energi Qian Kun Im Yang Sen Kung.


Semua itu dia ajarkan dan turunkan dengan serius ke Yue Feng.


Fei Yang tidak melarang, dia juga sesekali memberi petunjuk ke Yue Feng bila ada yang kurang.


Sehingga Yue Feng yang pada dasarnya memiliki bakat yang bagus, hanya sedikit di bawah Fei Yang, bahkan masih jauh di atas Hong Yi sendiri.


Yue Feng mengalami peningkatan ilmu yang sangat pesat,.meski masih dibawah kemampuan Hong Yi tapi selisih ilmu mereka sudah tidak begitu jauh lagi.


Bila Yue Feng rajin berlatih, bukan mustahil dalam 1 2 tahun kemudian, dia bisa melampaui kemampuan Hong Yi.


Pagi itu disebuah hutan kecil, ditepi sungai kuning, terlihat, ada sekelompok perampok gunung, sedang menghadang perjalanan, sekelompok orang orang yang bekerja sebagai pengawal.ekspedisi barang.


Bila di lihat dari seragam ringkas dan bendera yang mereka bawa, mereka ini adalah kelompok pengawalan bangau putih.


Kelompok pengawalan ini terlihat sedang mengawal sebuah kereta penumpang mewah, dan beberapa kereta yang berisi barang.


Kereta mewah itu sendiri masih di kawal oleh 4 orang pengawal berseragam pengawal kerajaan Song.


Dari penampilan dan seragam yang di kenakan oleh keempat pengawal kerajaan itu, bisa di pastikan yang duduk di dalam kereta sana, pasti seorang pejabat penting negara Song.


Kelihatannya pembicaraan dan negosiasi antara para pengawal expedisi bangau putih, dan pimpinan rampok menemui jalan buntu.


Sehingga bentrokan pun pecah, para pengawal ekspedisi yang kalah jumlah, satu. persatu tumbang roboh di tangan para perampok yang jumlahnya jauh lebih banyak.


Melihat hal ini, pimpinan pengawal berseragam kerajaan Song itu, segera berkata kepada ketiga bawahannya.


"Kalian bertiga maju bantu mereka.


Biar aku di sini melindungi kereta."


Ketiga pengawal lainnya mengangguk cepat, kemudian mereka melompat turun kebawah dari punggung kuda mereka masing-masing.


Mencabut pedang yang tergantung di pinggang mereka masing masing sambil berteriak.


"Hyaatt,..!!"


Ketiga orang itu berlarian ringan, langsung memberikan tebasan kearah perampok yang menghalangi langkah mereka.


Setiap pedang mereka berkelebat, pasti ada perampok yang tumbang.


Mereka terus bergerak gesit mengejar kearah tiga orang kepala perampok, yang


menggunakan.sepasang pedang taring serigala.


Tapi sebelum mereka kesampaian niatnya, mereka sudah di hadang oleh puluhan perampok yang menggunakan tombak yang bermata pedang taring serigala.


Mereka bertiga di kepung dan diserang tombak taring serigala,.dari berbagai arah...


Ketiga orang itu terus berusaha menangkis hujan tombak, yang terus berdatangan, dengan pedang di tangan mereka.


Tapi karena desakan yang datang bertubi tubi dan teratur, akhirnya satu persatu ketiga orang bersenjata pedang itu, mulai mengalami luka luka di sekujur tubuh mereka.


Mereka bertiga tidak berhasil melakukan serangan balasan, karena senjata mereka kalah panjang.


Setiap mereka bergerak gesit menghindar, sambil mengambil jarak dekat, untuk mencari kesempatan membalas serangan.


Mereka selalu akan di desak, untuk kembali mundur oleh rekan rekan dari target yang mereka incar.


Rekan rekan si target, selalu menggunakan tombak bermata gigi serigala, menghalau mereka mundur menjauh.


Lalu mencecar mereka habis habisan, sehingga mereka bertiga terpaksa melompat mundur menjauh.


Melihat ketiga anak buahnya tertahan di sana,.sedangkan para pengawal ekspedisi bangau putih jumlahnya semakin menyusut.


Pimpinan pengawal kerajaan terpaksa mencabut pedangnya.