
"Ayahhhh,..! paman guru sekalian..! tolong...!"
"Cepat,..! Tolonglah Nan Thian Sexiong...!"
Teriak Pai Xue Xue begitu masuk kedalam ruangan dengan nafas tersengal-sengal.
Seperti orang habis berlari sepuluh keliling lapangan sepak bola.
"Anak gadis bersikap sopan lah.."
"Ada masalah apa katakan pelan pelan, tak perlu mengagetkan orang tua menakuti anak kecil.."
"Ayo katakan yang jelas, apa yang terjadi..?"
"Mana Nan Thian? kenapa kamu cuma pulang seorang diri..?'
Pai Xue Xue mengatur nafas menelan ludahnya, setelah agak tenang dia baru berkata,
"Ayah Nan Thian Sexiong di danau Qing Hai dalam bahaya.."
"Kami bertemu tiga orang aneh dari Qi Lian San.."
"Cepatlah selamatkan Nan Thian Sexiong.."
"Ayah,..paman guru..Xue Xue mohon, cepatlah kesana.."
ucap Xue Xue serius.
"Qi Lian San Koai,..!"
"Pasti mereka..!"
ucap salah satu dari tiga tetua Qing Hai Pai, yang sedang duduk di sana.
Pai Wang kaget mendengar disebutnya nama Qi Lian San Koai.
Dia segera berdiri dari duduknya dan berkata
"Ayo mari kita lihat kesana.."
"Xue Xue kamu ikut ayah, tunjukkan jalan.."
Setelah itu tanpa banyak bicara lagi, Pai Wang membawa putrinya berlari bagaikan terbang menuju lokasi kejadian.
Di belakangnya mengikuti 5 orang yang masih terhitung adik seperguruan Pai Wang.
Di urutan paling belakang menyusul 3 orang tetua partai Qing Hai Pai, mereka masih terhitung paman gurunya Pai Wang.
Rombongan itu dengan terburu-buru terbang menuju lokasi kejadian.
Jarak dari Qing Hai Pai menuju danau Qing Hai cukup jauh, sehingga mereka butuh beberapa waktu baru bisa tiba disana.
Saat tiba di sana, tempat itu telah sepi, tidak ada terlihat ada siapa pun di sana.
Hanya ada Nan Thian yang tergeletak dalam keadaan menyedihkan, diam tak bergerak.
Tak ada bedanya dengan seonggok mayat yang telah tak bernyawa.
Hanya saja bila di lihat dengan teliti, bagian punggungnya masih naik turun.
Hal ini menunjukkan Nan Thian masih hidup, setidaknya dia masih bisa bernafas.
Pai Xue Xue hanya bisa berdiri dengan wajah pucat, dan airmata bercucuran.
Dia benar-benar tidak tahu, apa yang harus di lakukan, saat melihat keadaan Nan Thian yang seperti itu.
Pai Wang dan tiga tetua secara bergantian memeriksa keadaan Nan Thian.
Sesaat kemudian mereka berempat saling pandang dan menggelengkan kepala mereka.
Pai Wang lalu dengan hati-hati menggendong Nan Thian, yang masih belum sadarkan diri kembali ke perguruan Qing Hai Pai dengan wajah sedih dan sedikit terpukul.
Nan Thian adalah masa depan Qing Hai Pai, juga calon menantu pilihan yang sulit di cari dua nya.
Tapi dengan keadaannya yang seperti ini, bagaimana dia mau serahkan tanggung jawab besar ke Nan Thian kelak.
Kebahagiaan dan masa depan putrinya, dia terpaksa harus pertimbangkan ulang.
Terutama sekali adalah bagaimana dia nantinya harus menjelasankan kepada sahabatnya Yue Feng.
Yang telah mempercayakan putranya untuk di didik di Qing Hai Pai.
Meski ini adalah musibah tak terduga, tapi ada kejadian seperti ini.
Apalagi terjadi di wilayah yang masih termasuk daerah kekuasaan Qing Hai Pai.
Tentu sedikit banyak dia dan Qing Hai Pai harus ikut bertanggungjawab.
Pai Wang membawa Nan Thian keruangan khusus, tempat dia dan para tetua partai, biasanya menutup diri berlatih.
Di sana Pai Wang di bantu oleh ketiga tetua partai Qing Hai Pai.
Selama mereka berempat menutup diri mengobati Nan Thian, seorang murid senior Qing Hai Pai telah di utus oleh wakil ketua Qing Hai Pai.
Untuk pergi mengantar kabar berita ini ke Yue Feng dan Istrinya Ye Hong Yi di Xu San Pai.
Di hari keempat pintu ruangan menutup diri, baru terbuka dari dalam.
Dengan wajah lesu Pai Wang melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.
Begitu Pai Wang berjalan keluar dari dalam ruangan, dia langsung di sambut oleh putrinya.
"Ayah bagaimana kondisi Nan Thian Sexiong.?"
Sambil menggelengkan kepalanya, Pai Wang berkata,
"Nyawanya terhitung masih bisa di selamatkan, tapi luka luka di tubuhnya terlalu parah.."
"Ada kemungkinan dia tidak bisa berlatih silat lagi..'
ucap Pai Wang sambil menghela nafas berat.
"Maksud ayah Nan Thian Sexiong selamanya akan jadi manusia cacat..?"
tanya Xue Xue dengan mulut sedikit terbuka dan mata terbelalak kaget.
Pai Wang tidak menyahutnya, dia hanya mengangguk kecil, menghela nafas panjang, dengan kepala tertunduk, lalu dia berjalan melewati putrinya dan berkata,
"Carilah beberapa orang untuk membawa Nan Thian beristirahat di kamarnya.."
Pai Xue Xue hanya bisa mengangguk sedih, lalu dia pergi memanggil beberapa murid pria lain.
Menandu tubuh Nan Thian, untuk di pindahkan ke kamarnya sendiri.
Nan Thian belum bisa bergerak, tapi seluruh tulang patah sudah di sambung di beri obat dan di perban.
Dia terlihat seperti manusia mumi yang penuh kain perban, saat di tandu keluar dari dalam ruangan.
Nan Thian menatap ke arah Xue Xue dan berkata pelan,
"Xue Semei jangan bersedih, aku tidak apa-apa.."
Pai Xue Xue sambil berurai air mata mengangguk cepat.
Keadaan Nan Thian menjadi gosip besar seluruh perguruan Qing Hai Pai.
Sebulan berlalu, kondisi Nan Thian mulai berangsur-angsur membaik.
Dia mulai bisa berjalan sedikit demi sedikit.
Di tempat lain kedua orang tua Nan Thian, begitu mendapatkan kabar tersebut, mereka segera bergegas menuju Qing Hai Pai.
Pagi itu terlihat Yue Feng dan Istrinya datang berkunjung ke Qing Hai Pai.
Pai Wang dengan wajah di liputi perasaan tidak enak hati, menyambut kedatangan sahabatnya Yue Feng.
"Saudara Feng, akhirnya kamu tiba juga,.. maaf ini semua salah ku..Aku.."
ucap Pai Wang yang merasa tidak enak hati pada sahabatnya.
Yue Feng mengangkat tangan nya dan berkata pelan
"Ini adalah musibah, tidak ada yang menghendakinya, Saudara Pai tak perlu terlalu merasa bersalah.."
"Bagaimana keadaan Nan Thian ? di mana dia sekarang..?"
tanya Ye Hong Yi tidak sabar.
Sepasang mata nya merah dan agak bengkak seperti habis menangis.
Meski sudah berusia kepala empat, tapi dia masih terlihat tidak berubah, masih cantik seperti gadis berusia 25 an.
Ini adalah berkat ilmu Qian Kun Im Yang Sen Kung yang di latihnya.
"Keadaan Nan Thian cukup baik, Saudara Feng dan adik ipar.. silahkan lewat sini.."
ucap Pai Wang sambil mengantar kedua orang itu menuju kamar Nan Thian.
Yue Feng dan Istrinya berjalan mengikuti di belakang Pai Wang dengan wajah cemas.
Saat mereka tiba di depan kamar anaknya, mereka melihat putra mereka, sedang belajar berjalan di temani oleh Xue Xue kekasihnya.
"Thian Er...!"
panggil Yue Feng dan Hong Yi serempak.
Dengan sedih mereka mempercepat langkahnya mendekati putra mereka.
"Ayah Ibu..."
"Kalian telah datang.."