
Fei Yang yang sedang bermeditasi membuka matanya, kemudian berkata dengan pesan suara,
"Waspada, ayo bangun,..! bahaya mengintai..!"
Wei Wen dan Zhao Heng terbangun dengan kaget.
Mereka segera melihat kesekitarnya, begitu melihat banyak titik merah dalam gelap sedang memperhatikan mereka.
Kedua kakak beradik itu buru buru, melepaskan akar rotan yang di gunakan untuk melilit dahan pohon dengan tubuh mereka.
Selagi mereka berdua sedang sibuk, ribuan pasang mata merah itu mulai mengeluarkan suara mencicit, kemudian menerjang kearah rombongan Fei Yang.
Fei Yang dengan gerakan cepat, melesatkan daun daun di sekitarnya, yang di jadikan sebagai senjata rahasia.
Untuk menyerang kepungan mahluk mahluk hitam kecil, yang memiliki sayap bisa terbang dan memiliki gigi runcing.
Sebagian dari mahluk itu yang tersambar lontaran daun Fei t langsung jatuh mencicit keatas tanah.
Sebagian lainnya kembali menerjang seperti kesetanan kearah rombongan Fei Yang.
Fei Yang kembali mengendalikan daun daun pohon, untuk di lepaskan kearah mahluk mahluk itu.
Hal itu terus berlanjut, hingga Wei Wen mengeluarkan mutiara ular hijau yang bersinar terang.
Melihat sinar tersebut, para mahluk itu bergerak mundur menjauh ketakutan sambil terus mencicit marah di kejauhan sana.
Kini yang tersisa hanya tersisa seekor mahluk aneh setinggi 5 meteran.
Bentuknya sama persis dengan mahluk mahluk kecil itu, hanya ukurannya saja yang super dan fantastik.
Mahluk itu selain memiliki sayap lebar gigi runcing, dia juga memiliki dua tangan berkuku runcing dan dua kaki yang juga memiliki kuku runcing dan sangat tajam.
Mahluk itu tidak takut dengan serangan daun Fei Yang, dia hanya dengan mengibaskan sayapnya, bubarlah semua daun yang sedang melesat cepat kearahnya.
Sambil menangkis serangan Fei Yang, mahluk itu melesat dengan kecepatan tinggi, menggunakan sepasang tangannya yang bercakar tajam, untuk menyerang Fei Yang.
Sepasang cakar berkuku tajam tertangkis oleh sepasang pedang merah biru yang muncul di tangan Fei Yang.
"Cringgg,..! Cringgg,..!"
Bunga api berpijar saat kedua benda sama keras beradu di udara.
Kuku mahluk itu sangat kuat, bahkan dia dengan berani beradu dengan sepasang pedang pusaka Fei Yang.
Mahluk itu tanpa gentar sedikitpun terung menekan dan menyerang Fei Yang dengan sangat cepat.
"Cranggg,.. Cringgg,..Cranggg,.. Cringgg, .Cranggg ,..Cringgg...
Cranggg,.. Cringgg,..Cranggg... Cringgg...!!"
Bunga api berpijar di mana mana, Fei Yang sudah meninggalkan pohon sana sama beterbangan di udara saling serang di udara.
Mahluk itu cukup kuat terutama sepasang sayapnya, setiap terdesak oleh serangan Fei Yang,.dia selalu.akan menggunakan sepasang sayapnya untuk melindungi diri.
Seperti saat ini, mahluk itu sedang di terjang oleh ribuan energi mata pedang merah biru.
Mahluk itu menggunakan sepasang sayapnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Sehingga seluruh serangan meski berhasil mencapai sasaran tai sama sekali tidak berhasil menembus pertahanan mahluk tersebut.
Saat Fei Yang menambah kekuatan mahluk itu hanya terpental menjauh.
Dia terlihat tidak terluka sama sekali.
Kondisi ini membuat Fei Yang kesulitan menahlukkan mahluk itu.
Tanpa terasa hari mulai terang, matahari mulai muncul.
Tapi Fei Yang dan mahluk itu masih terus bertarung dengan sengit.
Berbeda dengan mahluk kecil yang melakukan penyerangan pembukaan.
Tapi mahluk di hadapan Fei Yang, terlihat tidak terpengaruh dengan sinar matahari.
Dia masih dengan lincah bebas bergerak menyerang dan bertahan dari serangan Fei Yang.
Wei Wen dan Zhao Heng sudah turun dari atas pohon, mereka menyaksikan pertarungan dahsyat Fei Yang dari bawah.
Fei Yang terus membombardir mahluk itu dengan serangan energi pedangnya.
Tapi mahluk yang terbungkus dalam sayap lebarnya berhasil menahan serbuan ribuan pedang merah biru yang Fei Yang lepaskan.
Melihat hasil serangannya tidak membuahkan sesuatu, Fei Yang menghentikan serangannya.
Berpura pura kecapekan dan kehabisan tenaga.
Mahluk itu yang merasa serangan Fei Yang berhenti, dia mengintai dari balik sayapnya.
Begitu melihat keadaan Fei Yang, tanpa membuang waktu, mahluk itu langsung membentangkan sayapnya, kemudian menerjang kearah Fei Yang dengan kecepatan tinggi.
Melihat mahluk itu mendekat, Fei Yang melepaskan pukulan Naga api dan es melesat secara melingkar menyerang dari kedua sisi.
Hal ini untuk memaksa mahluk itu, membentangkan sayapnya ke kiri dan ke kanan untuk menyambut serangan Fei Yang.
Saat mahluk itu membentangkan sayapnya itulah, Fei Yang mengubah dirinya menjadi sebatang pedang sinar emas, melesat menembus pertahanan tengah mahluk itu.
Mahluk itu menggunakan sepasang tangan nya yang berkuku kuat untuk menahan serangan tersebut.
Tapi begitu tubuh Fei Yang berputaran di udara, pedang emas itu ikut bergerak berputar-putar seperti mata bor.
Menembus tubuh mahluk itu tanpa ampun, mahluk itu mengeluarkan suara jerit melengking keras.
"Cittttttt,...!!!"
Sebelum tubuhnya meluncur jatuh meluncur keatas tanah, setelah jatuh keatas tanah, mahluk itu berubah bentuk, menjadi tubuh sesosok wanita telanjang, yang terlihat tergeletak dalam posisi tengkurap, agak menyamping dengan wajah tertutup oleh rambutnya, yang panjang hitam lebat.
Fei Yang melepaskan tapak api' nya, yang mengeluarkan seberkas sinar putih, menyambar tubuh itu hingga hangus menjadi abu.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita,.."
ucap Fei Yang yang kembali kehadapan Wei Wen dan Zhao Heng.
Kedua kakak beradik itu mengangguk, mereka berdua langsung bergerak mengikuti Fei Yang melanjutkan perjalanan mereka.
Keluar dari dalam hutan belantara itu, di Penghujung jalan mereka berada di posisi puncak sebuah tebing air terjun.
Dari posisi itu mereka bisa melihat dengan jelas markas pasukan kerajaan Pagan.
Dari tempat mereka berdiri bisa melihat dengan sangat jelas pergerakan dan pasukan kerajaan tersebut.
Mereka juga menemukan letak gudang ransum musuh, letak kamp pelatihan dan pondok pondok darurat yang di dirikan sebagai tempat tinggal sementara,.pasukan besar itu.
Bila mereka turun dari tebing ini ke bawah, mereka bisa melakukan penyerangan dadakan yang mengagetkan pasukan musuh.
Hal ini akan memudahkan mereka yang berjumlah lebih kecil memenangkan pertempuran dengan cara cepat.
Hanya saja, sekarang permasalahannya,. adalah bagaimana cara pasukan mereka bisa turun ke bawah sana.
Setelah melihat sikon di hadapan mereka Fei Yang berkata,
"Ayo.kita pulang sekarang, segala hal dan strategi, nanti bisa kita bahas dan rundingkan di markas kita."
Kedua rekan Fei Yang mengangguk kemudian mereka bertiga bergerak mengundurkan diri dari tempat itu.
Perjalanan pulang menjadi lebih mudah dan cepat dengan menunggangi Kim Tiaw mereka bisa kembali ke markas dengan lebih cepat.
Setiba di markas Zhao Heng lah yang mulai sibuk melakukan persiapan bersama raja Tay Li Duan Xiping.
Fei Yang lebih banyak menghabiskan waktu bertamasya menikmati pemandangan alam wilayah selatan yang cantik.