
"Thian Er kamu,.. bagaimana keadaan mu..?"
ucap pria itu yang bukan lain adalah Pai Wang sendiri.
Panggilan suara yang sangat akrab itu.
Akhirnya menyadarkan Nan Thian, dari tertegun nya.
Dia buru buru maju mendekati Bai Wang dan berlutut di depannya dan berkata,
"Guru terimalah hormat dari murid tidak berbakti mu, yang pergi tanpa pamit..'
"Dan membuat kamu orang tua berkhawatir.."
ucap Nan Thian dengan suara sedikit tercekat.
Pai Wang tersenyum penuh haru, membungkuk membangunkan Nan Thian dan berkata,
"Anak baik, guru lah yang bersalah pada mu.."
"Maafkan guru nak.."
"Guru..."
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak guru, ini bukan salah siapa pun, ini adalah nasib dan takdir yang harus Thian Er hadapi.."
"Thian Er menerimanya dan tidak pernah menyalahkan siapapun.."
"Mari guru kita bergabung disana."
"Di sana juga ada Xue San Pai Cang Men Jen (Ketua Xue San ) Bai Xue Sethai.."
"Mari guru.."
ucap Nan Thian mempersilahkan gurunya ikut bergabung dengan penuh hormat.
"Nan Thian Sexiong..."
ucap sebuah suara lembut dari arah belakang.
Nan Thian menoleh dan menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum pahit.
Dan berkata,
"Siau Semei,.. Siau Setie.. apa kabar kalian ? marilah bergabung bersama..'
"Aku akan perkenalkan beberapa teman baru ku pada kalian.."
ucap Nan Thian, lalu membalikkan wajahnya sambil sedikit memejamkan matanya, mengambil nafas.
Sebelum melanjutkan langkahnya menghampiri teman teman barunya yang menunggu di sana.
Begitu tiba di sana Pai Wang dan Bai Xue Sethai saling memberi hormat.
Sedangkan Siau Yen dan Siu Lian terus menatap tajam kearah Pai Xue Xue dengan tatapan mata kurang suka.
Kedua gadis itu menyimpan rasa iri cemburu juga rasa kurang suka mereka kepada Xue Xue.
Mereka tidak tahu jelas, tapi dari yang pernah mereka dengar sekilas dari keluh kesah Nan Thian secara samar samar.
Juga melihat kedekatan Xue Xue dengan pemuda yang tidak kalah dengan Nan Thian yang berdiri disebelah Xue Xue.
Mereka sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang terjadi diantara Nan Thian, Xue Xue, dan Hung Ping Chi.
Nan Thian berusaha senormal mungkin, memperkenalkan semua teman temannya satu persatu pada guru dan saudara seperguruannya.
Siau Yen dan Siu Lian hanya memberi hormat seadanya ke Pai Wang.
Terhadap Xue Xue dan suaminya, bahkan melihat pun mereka tidak mau, hanya mengedikkan kepalanya sedikit saja.
Xue Xue menyadari hal itu, tapi dia tidak berkata apapun.
Karena dari awal memang dirinya dan Ping Chi lah yang bersalah terhadap Nan Thian.
Wajar saja bila teman teman baru Nan Thian tidak menaruh respek terhadap mereka.
Tidak semua orang bisa sesabar dan sebaik Nan Thian, itu adalah wajar.
Karena Nan Thian. memang adalah karakter yang sangat berbeda dengan orang lain.
Menanggapi sikap Siau Yen dan Siu Lian, Nan Thian tidak bisa apa-apa.
Dia hanya bisa tersenyum canggung dan tidak bisa berkata apa-apa.
Kim Hong sendiri meski tidak tahu apa pun, tapi melihat kecanggungan sikap Nan Thian, Xue Xue dan Hung Ping Chi.
Perasaan halusnya sebagai wanita, juga bisa menebak sedikit apa yang terjadi di antara mereka bertiga.
Tapi berbeda dengan sikap Siau Yen dan Siu Lian yang berterang memusuhi Xue Xue dan Hung Ping Chi.
Dia berusaha bersikap senormal mungkin, tidak mau terlibat dan ikut campur, urusan pribadi orang lain.
"Thian Er kamu sedang hendak kemana..?"
tanya Pai Wang begitu mereka semua sudah saling berkenalan dan duduk semeja.
Nan Thian sambil tersenyum berkata,
"Aku berencana mengantar paman dan bibi kecil ku kembali ke orang tua nya..'
"Setelah itu, bila guru mengijinkan, aku ingin pergi ke tempat acara pertandingan, untuk melihat lihat keramaian.."
Pai Wang mengangguk dan berkata,
"Boleh saja, itu bukan masalah Thian Er.."
"Datang saja bukan masalah, meski tidak mewakili Qing Hai Pai."
"Karena aku sudah menunjuk Hung Ping Chi dan Xue Xue yang maju mewakili Qing Hai Pai."
Hung Ping Chi tidak berkata apa-apa, dia hanya diam diam tersenyum mengejek mendengar keinginan Nan Thian untuk ikut serta ke Hua San.
Siau Yen yang melihat hal itu, dia langsung meresponnya.
"Kamu kenapa ? apa ada yang salah dengan makanan ? atau memang wajah mu sedang gatal..?"
ucap nya langsung di tujukan ke Hung Ping Chi.
Senyum di wajah Hung Ping Chi menghilang berganti dengan wajah membelai dan menatap tajam kearah Siau Yen.
"Kenapa kamu pikir kami keluarga Chu, perguruan akar dewa akan takut dengan mu.."
ucap Siau Yen sambil balas menatapnya dengan berani.
Nan Thian menghela nafas panjang, kemudian berkata,
"Maaf guru dan semuanya, teman ku suasana hatinya sedang tidak baik.."
"Tidak perlu di tanggapi,.."
"Guru sampai bertemu dan bertemu nanti.."
"Thian Er permisi dulu.."
ucap Nan Thian mencoba mencairkan suasana tegang.
Setelah memberi hormat kesemuanya.
Nan Thian pun menarik tangan Siau Yen dan Siu Lian dengan lembut meninggalkan tempat tersebut.
Zi Zi dan Sun Er yang tidak mengerti apa apa hanya ikut saja, karena mereka memang dari awal juga sudah selesai makan nya.
Mereka berdua dengan santai melangkah, mengikuti dari belakang, sambil menikmati sisa Ping Tang Hu Lu mereka masing-masing.
Sambil berjalan, Nan Thian bertanya,
"Kamar sudah pesan ?"
Kedua gadis itu mengangguk cepat dan berkata,
"Sudah kami tadi pesan dua kamar besar satu buat Kakak dan Sun Er juga Siau Hei."
"Sedangkan yang lainnya buat kami bertiga ."
ucap Siu Lian.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Terimakasih Ya, kalian istirahat lah dulu.."
"Nanti sore kita baru jalan jalan melihat keramaian kota Chang An di malam hari.."
Mereka semua mengangguk cepat dan bersemangat.
Mereka sudah cukup lama tidak melihat keramaian, tentu saja tawaran Nan Thian sangat menarik.
Sehingga untuk sementara, lupa lah mereka dengan kejadian mengesalkan sebelumnya.
Nan Thian mengerti sikap kedua gadis itu tadi, dia tidak mau menegur maupun banyak membahas hal tadi.
Hal itu tidak akan ada manfaatnya bagi siapapun, bila di bahas lebih lanjut.
Setelah tiba di depan kamar mereka masing-masing, mereka pun berpisah menjadi dua kelompok.
Kim Hong tidak turut serta lagi dengan mereka, karena dia kini sudah ikut bergabung dengan gurunya dan murid murid Xue San yang lainnya.
Meski hatinya ingin tapi dia juga tidak berdaya dan tidak berani, menuruti kata hatinya.
Sementara itu Nan Thian sendiri setelahmasuk.kedalam kamar, dia langsung berlatih untuk meningkatkan kekuatan nya.