
Fei Yang yang kaget langsung mencabut pedangnya, sehingga darah pun menyembur dari dada kiri kedua orang di hadapannya.
Yuan Xi jatuh terkapar di atas tanah, dia langsung tewas di tempat, dengan sepasang mata dan mulut terbuka tak percaya akan akhir hidupnya yang sial.
Zhao Kuang Yi juga ikut jatuh terduduk diatas tanah tapi dia masih bisa bernafas, dan masih sempat melihat lubang di dadanya yang mengeluarkan darah dengan tatapan tak percaya.
Dia menoleh kearah putra pertamanya, lalu menoleh kearah Fei Yang, terakhir dia baru menoleh kearah putri kesayangannya yang masih mengenakan baju merah pengantin nya.
Tapi penutup kepala nya tidak terlihat, tidak tahu belum terpasang atau hilang di jalan.
Zhao Kuang Yi dengan tangan gemetar ingin menyentuh wajah Putri nya dan ingin mengatakan sesuatu.
Tapi mulutnya yang penuh darah sulit mengatakan sesuatu, selain menoleh kearah Fei Yang dan memsksakan diri berkata dengan suara tidak jelas.
"Dia,..dia,.. Fei Yang,..!"
Sebelum selesai kalimatnya, kepalanya sudah jatuh terkulai kedalam pelukan putrinya.
Tangannya juga ikut terkulai gagal menyentuh wajah Putri kesayangannya.
Mungkin dia sebenarnya ingin berkata dia Fei Yang tidak bersalah, atau dia Fei Yang bukan pelakunya..
Tapi kalimat yang gagal di selesaikan justru menimbulkan kesalahpahaman dan fitnah yang di tujukan kepada Fei Yang.
"Ayah,..! ayah,..! bangun ayah,..! jangan,.. jangan,.. jangan seperti ini.."
"Ayah Wen Wen mohon bangunlah,.. jangan tinggalkan Wen Wen,.. Wen Wen tidak mau.."
"Ayah bangunlah hu,.. hu,.. hu,.. hu,..!'
"Ini salah Wen Wen,.. ini salah Wen Wen,.. Wen Wen yang membawa petaka ini buat ayah.!"
"Tidak seharusnya Wen Wen membawanya kemari,..tidak seharusnya,.. hu,..hu,..hu,..!"
"Maafkan Wen Wen ayah,..!!"
teriak Wen Wen histeris sambil menangis dan memeluk jasad ayah nya erat erat.
Fei Yang sendiri hanya bisa berdiri mematung di sana tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Dia sangat kaget terkejut juga menyesal, dengan kejadian serba mendadak seperti ini.
Tapi terjadi peristiwa seperti ini, tidak ada satupun Yi Ling Cin yang bergerak.
Mereka semua berdiri mematung di sana, seolah-olah ini semua bukan urusan mereka.
Zhao Yuan Zuo sendiri berdiri di sudut yang agak jauh pura-pura menangis ketakutan.
Tapi sesekali dia menyunggingkan senyum mengejek kearah Fei Yang.
Fei Yang yang tidak tega melihat Wen Wen kekasihnya menangis begitu sedih dan mengkhawatirkan keadaan nya.
Akhirnya dia maju berjongkok di sebelah Wei Wen dan berkata,
"Wen Wen aku,.."
Tapi belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, Wen Wen yang sedang menangis sedih merangkul jasad ayah nya.
Dia langsung mengangkat kepalanya menatap kearah Fei Yang penuh kebencian dan berkata,
"Kak Fei Yang aku tidak menyangka kamu sejahat ini, apa dosa ayah ku ? sehingga kamu tega berbuat begini..?"
"Wen Wen, kau dengarkan aku,..aku tidak.."
ucap Fei Yang berusaha ingin menjelaskan ke Wen Wen, tapi ucapan terputus di tengah jalan.
"Kakak Yang,..aku sungguh mencintaimu, tapi mengapa kamu harus memanfaatkan perasaan ku, untuk melakukan hal ini..'
"Bila kau ingin apapun kamu bisa katakan pada ku, mempertaruhkan nyawa ku sekalipun akan ku berikan pada mu.."
"Tapi mengapa kamu harus menyakiti ku dengan cara seperti ini ?"
"Aku sungguh-sungguh membenci pada diri ku sendiri, punya mata tapi tidak bisa melihat."
"Aku telah salah menilai mu, aku yang bodoh aku pantas menerima semua ini.."
ucap Wen Wen sambil menyeka air matanya yang mengucur tanpa henti.
"Wen Wen aku sungguh mencintaimu, aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan menyakiti perasaan mu.."
",Aku di jebak, aku tidak ingin membunuh mereka, ini bukan kemauan ku.."
ucap Fei Yang berusaha meyakinkan kekasihnya.
"Cukup kak, kakak tak perlu katakan apa apa lagi, kenyataan sudah seperti ini.."
"Bila kakak di posisi ku, yang terbaring di sini adalah orang tua kakak, apa kakak bisa menerimanya?"
"Aku sudah melihat semuanya dengan mata kepala ku sendiri.."
"Kakak suruh aku bagaimana mempercayai nya..!?"
"Aku sungguh menyesal pernah begitu mencintai kakak,.."
"Kakak pergilah jauh jauh dari hadapan ku, aku tidak pernah ingin melihat kakak lagi.."
"Mulai hari ini kita tidak punya hubungan apa apa lagi, kakak jangan pernah muncul lagi di hadapan ku.."
ucap Wei Wen mencoba mendorong Fei Yang menjauhinya, dengan airmata bercucuran tanpa henti.
Hatinya sangat sakit, di saat bersamaan, dia harus kehilangan tiga orang yang di sayanginya.
Ayahnya, kakaknya Yuan Xi, meski dia kurang menyukainya tindak tanduk kakak nya, tapi dia tetap adalah kakak kandungnya.
Selama ini kakak nya juga cukup menyayangi dan memanjakan diri nya.
Yang terakhir yang paling menyakitkan adalah dia harus berpisah dari Fei Yang.
Pria yang sangat dia cintai dan dia kagumi ini, tapi dengan kejadian ini, hubungan mereka tidak mungkin bisa di lanjutkan lagi.
Perasaan sakit di hati Wen Wen benar'benar sangat mendalam hingga sulit di ungkapkan olehnya lewat kata-kata, hanya airmata yang tiada berhenti mengalir, yang menunjukkan seberapa terluka hatinya saat ini.
Fei Yang masih mencoba untuk memegang tangan Wen Wen dan berkata dengan wajah sedikit pucat.
"Wen Wen tolong jangan bersikap seperti ini, berilah aku kesempatan menjelaskan semuanya.."
"Yang kamu lihat belum tentu benar,.."
"Wen Wen tolong beri aku kesempatan,.. kamu harus dengarkan aku.."
"Lepaskan tanganmu dari ku,..!"
"Jangan menyentuh ku..!'
"Menjauhlah,.. aku sungguh membencimu.."
teriak Wen Wen marah, dia mengibaskan tangan Fei Yang.
Lalu dia melepaskan pelukannya dari tubuh ayahnya, meletakkan jasad ayah nya yang bersimbah darah keatas tanah dengan hati-hati.
Setelah itu Wei Wen berdiri menatap kearah Fei Yang dengan penuh kebencian.
Di tangannya terlihat sebilah pedang pendek berkilauan indah tertimpa cahaya matahari.
Dia menggunakan pedang pendek itu menunjuk kearah wajah Fei Yang. dan berkata,
"Cepat kamu pergi dari sini,..!"
"Jangan menguji kesabaran ku,..atau aku benar-benar akan.."
ucap Wei Wen dengan tubuh gemetar tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Sepasang matanya kembali berlinang airmata, tubuhnya gemetaran menahan suara Isak tangisnya.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak aku tidak akan pergi, bila itu bisa membuat perasaan mu jadi lega dan nyaman."
"Silahkan lakukan di sini,.. di sini akan mengakhiri semuanya..agar kamu percaya aku tidak bersalah.."
ucap Fei Yang sambil menunjuk kearah jantungnya yang terletak di dada sebelah kanan.
Sepasang mata Zhao Yuan Zuo langsung berkilat, saat mendengar rahasia letak jantung Fei Yang yang unik.
Fei Yang berjalan melangkah maju, meletakkan ujung pisau Wen Wen yang tajam tepat di dadanya.