PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
HUKUMAN


Pria yang menjadi pimpinan kelompok pengemis itu, menatap kearah Nan Thian dan berkata,


"Benarkah anak muda ? apa kamu datang kemari hanya ingin mencari ribut dengan kami..?"


Nan Thian tersenyum mengejek dan berkata,


"Fakta atau dusta hanya tuhan yang tahu.."


"Aku bilang anak buah mu dusta, memberikan fakta, kamu juga belum tentu percaya.."


"Kamu ketuanya, ulah anak buah mu tak mungkin kamu tidak tahu.."


"Sudahlah anggap saja aku yang cari ribut, kalian mau apa,..?"


ucap Nan Thian sambil tersenyum mengejek.


Ucapan Nan Thian ini lah, yang di tunggu tunggu oleh ketua pengemis itu.


Dia yang dari awal memang hanya sedang mencari alasan bagus, untuk menyerang Nan Thian.


Karena Nan Thian sendiri sudah mengaku, bahwa dia lah yang sengaja datang mencari masalah dengan mereka.


Kini peluang menjadi terbuka, jalan membalikkan fakta terbuka lebar, dia tidak perlu berkhawatir lagi.


Awalnya dia masih sedikit cemas.


Nan Thian berani datang membuat keributan seorang diri, ini hanya berarti.


Nan Thian sendiri memilki ilmu tinggi, atau di belakang Nan Thian ada tulang punggung kuat yang mendukungnya.


Kalaupun suatu hari masalah ini menjadi besar, dia tidak perlu takut pusat akan menyalahi nya.


Bahkan dia bisa menarik pusat untuk turun tangan membantu menghajar Nan Thian.


Bila secara tidak terduga, hari ini dia di kalahkan oleh Nan Thian.


Dengan berbagai pertimbangan cermat, kini ketua pengemis itu menjadi percaya diri.


Dia langsung berteriak,


"Serang dia..!"


"Habisi saja jangan ragu..!"


Bentak pimpinan pengemis itu, sambil ikut bergerak maju dengan tongkat di tangannya.


Dengan di sertai bentakan riuh rendah, tongkat berhamburan memenuhi udara terarah ke Nan Thian.


"Hyaaaaaat...!"


Hyaaaaaat...!"


Hyaaaaaat...!"


"Wunggg..!"


"Wunggg..!"


"Wunggg..!"


Nan Thian dengan gerakan tenang menggunakan Qing Hai Sen Kung ( Tenaga Sakti Qing Hai ) menahan semua tongkat yang datang dengan sepasang tangan kosong.


Lalu dia mendorong nya keatas, untuk mementalkan semua tongkat yang menyerangnya.


Sambil melakukan gerakan jurus Qing Hai Pai,


"Menyapu barisan pengepung.."


Dengan tubuh berjongkok ke bawah, Nan Thian membuat sapuan dengan kakinya di bawah sana, membentuk sebuah lingkaran besar.


"Wussss..!"


"Dukkk,..!"


Dukkk,..!"


Dukkk,..!"


"Aaahhh,..!"


Aaahhh,..!"


Aaahhh,..!"


Para pengemis berteriak kaget, saat tubuh mereka terjungkal kebelakang.


Terkena sapuan kaki Nan Thian yang datang bagaikan badai.


Pimpinan pengemis yang datang menyerang belakangan, terpaksa membuang diri mundur kebelakang.


Menarik kembali serangannya, untuk menghindari tubuh anggotanya yang terpental bertabrakan langsung dengan nya.


Setelah bersalto membuang diri kebelakang, setelah kakinya menyentuh tanah.


Dengan menotol ringan di atas tanah.


Tubuh si pimpinan pengemis itu, kembali meluncur kedepan dengan tongkat teracung kedepan.


Ingin menusuk kearah kepala dada dan perut.


"Brakkkk..!"


Tongkat di tangan pengemis itu hancur berantakan tekena pukulan "Tapak pemecah karang.." yang juga merupakan salah satu ilmu andalan Qing Hai Pai.


Pimpinan pengemis itu sangat terkejut, dia langsung melempar sisa tongkatnya.


Kearah Nan Thian, sambil buru buru bergerak mundur.


Tapi gerakan Nan Thian jauh lebih cepat, dengan ilmu meringankan tubuh berjalan di udara.


"Wutttt,..!"


"Blukkkk..!"


"Ngekkk..!"


Kerah baju dan ikat pinggang, ketua pengemis berhasil di cengkram oleh Nan Thian.


Dengan satu kali sentakan, tubuh pimpinan pengemis itu melayang melewati atas kepala Nan Thian.


Kemudian jatuh terbanting keras di lantai halaman kuil yang keras dan berbatu.


Akibat bantingan keras itu pimpinan pengemis tersebut langsung pingsan tidak sadarkan diri.


Para anggota pengemis yang terjungkal jatuh bangun, di buat sapuan kaki Nan Thian.


Kini mereka semua sudah bangun, mereka menatap Nan Thian dengan sikap takut takut.


Mereka semua sadar, pimpinan mereka saja tidak sampai satu jurus.


Sudah pingsan tidak bergerak di tangan Nan Thian, apalagi mereka.


Mereka meski berjumlah banyak, mereka hanya seperti sekumpulan ngengat melawan api.


Bila mereka nekad, mereka jua lah yang akan terbakar habis secara sia sia.


Nan Thian mengulurkan tangannya kedepan dan berkata dingin,


"Katakan siapa pelakunya ?"


"Kembalikan uang ku cepat..!"


"Bila tidak, hari ini satu pun, jangan berharap bisa keluar dengan selamat dari tempat ini.."


ucap Nan Thian dingin.


Para pengemis itu saling pandang, salah satu diantara mereka yang bermuka tikus.


Bertubuh kurus kecil, dia langsung mundur mundur lalu membalikkan badannya hendak kabur.


Nan Thian menendang potongan tongkat di dekat kakinya.


"Wutttt..!"


"Takkk..!"


Si muka tikus langsung terjungkal, jatuh tengkurap di atas lantai dengan kepala bocor berdarah.


Terkena hantaman ujung tongkat yang di tendang oleh Nan Thian.


Saat dia hendak mencoba bangkit, tubuhnya tiba tiba terangkat keudara.


Salah satu pergelangan kaki nya, di cengkram oleh Nan Thian diangkat keatas tinggi tinggi


Sehingga tubuh si muka tikus, kini tergantung terbalik di udara.


Saat Nan Thian menguncang guncang tangannya, seluruh isi kantong si muka tikus pun langsung jatuh berserakan di atas lantai.


Di sana terdapat berbagai jenis barang mulai dari uang perhiasan makanan, hingga pakaian dalam wanita pun ada.


Teman temannya yang melihat ada pakaian dalam wanita, mereka meski sedang takut.


Tapi mereka sulit untuk menahan diri untuk tersenyum lebar.


"Kakak bajingan cabul ini jangan di ampuni kak..!"


teriak Kim Kim yang sebelumnya diam saja.


Kini terlihat marah dan kesal.


Nan Thian juga melihat pakaian dalam itu ada sedikit noda darah nya.


Dia tiba tiba jadi teringat dengan cara kotor Hung Ping Chi untuk merebut Siao Semei nya dari sisinya.


Amarah Nan Thian seketika, membumbung, dia langsung melampiaskan kekesalannya.


Dengan membacokkan telapak tangannya, yang mengandung energi pemecah karang, kearah ************ si muka tikus.


"Crokkk,..!"


"Arggghhh..!"


teriak si muka tikus kesakitan, hingga seluruh tubuhnya gemetaran.


Sesaat kemudian matanya mendelik keatas lalu matanya terpejam rapat


Si muka tikus yang tidak sanggup menahan rasa sakit, langsung pingsan saat itu juga.


Nan Thian langsung melemparkan tubuh si muka tikus yang diam tak bergerak keatas lantai.


Celana di bagian ************ si muka tikus terlihat basah, tidak tahu darah atau air seni.


Nan Thian tidak ambil pusing, dia mengambil kembali uang yang berserakan di atas lantai.


Nan Thian kemudian melanjutkan langkahnya, menghampiri pimpinan pengemis yang tergeletak tak bergerak.


Nan Thian memeriksa kantongnya, di sana Nan Thian menemukan beberapa bungkus uang.


Sebagai pengemis bagaimana bisa punya uang sebanyak itu, tanpa perlu di jawab pun.


Nan Thian bisa menebaknya, ini pasti uang hasil setoran anak buahnya.


Kemungkinan besar uang itu adalah setoran, yang di dapatkan oleh anak buahnya secara tak terpuji.


Nan Thian menyita semua nya, setelah itu tanpa memperdulikan pengemis lainnya.


Nan Thian berjalan pergi dari sana dengan tenang.