
Nan Thian dengan langkah terhuyung-huyung, saat menuruni lereng gunung Qing Hai San.
Dia bersenandung di bawah guyuran hujan salju deras, yang membasahi seluruh pakaian nya.
"Malam yang sepi tidaklah se sepi hati ku.."
"Bahkan bulan yang indah pun ikut bersembunyi, tidak ingin melihat kesuraman hidup ku.."
"Dahulu kamu adalah segalanya bagi ku.."
"Dahulu kamu adalah suar dalam hidup ku.."
"Tapi kini aku hanyalah orang asing yang sekedar melintas lewat di hati mu.."
"Dahulu pagi siang malam kamu adalah yang paling ku rindukan.."
"Tapi kini kamu adalah sebuah luka yang paling tidak ingin ku sebutkan.."
"Bila tahu akan sepahit ini, dari awal seharusnya aku tidak terlibat dalam pusaran cinta itu.."
"Sehingga lebih baik dari tidak bisa mencintai tapi juga tidak bisa melupakannya."
"Hanya bisa menikmati arti kepahitan cinta.."
Kabut hujan salju, dan arak di tangan ku, tidak cukup untuk membuat ku mabuk, sehingga bisa melupakan mu.."
"Siapa yang bisa mengerti penderitaan ku."
"Katakan pada ku, bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kenangan indah diantara kita."
"Ha..ha..ha..ha..! Yue Nan Thian kamu mau salahkan siapa ?"
"Ini adalah kebodohan dan kesalahan mu sendiri.."
"Kamu pantas menerimanya.."
"Punya rumah tak bisa pulang, punya perguruan tak bisa di tinggali..punya kekasih pun kini memilih pergi.."
"Yue Nan Thian, kamu adalah lelucon paling menyedihkan di kolong langit.."
"Ha..ha..ha..ha..!"
Yue Nan Thian terus bersenandung seperti orang gila, sambil meneruskan langkahnya menuruni Gunung Qing Hai San.
Karena gelap dan mabuk, tidak sengaja kakinya tersandung batu.
Dua langsung jatuh menggelinding di jalan yang curam dari atas hingga kebawah.
Tertahan oleh sebatang pohon besar, hingga kepalanya membentur pohon tersebut.
Akhirnya sesuai harapan Nan Thian, langit membantu nya, untuk melupakan semua penderitaan nya sejenak.
Hingga fajar menyingsing, cahaya matahari memasuki pelupuk mata Nan Thian.
Nan Thian menggunakan telapak tangannya yang lecet lecet dengan luka berdarah yang sudah mengering, membantu menutupi cahaya tersebut.
Perlahan lahan dia baru bangun dari posisinya, sambil membuka matanya, mengedarkan pandangannya melihat sekitar.
Melihat diri nya, ada di posisi jalan tidak jauh dari telaga biru, yang biasanya menjadi tempat kenangan dia bersama Semei nya, menghabiskan waktu bersama.
Selain itu juga merupakan tempat kenangan dirinya mengalami petaka, sehingga kini berubah menjadi lelucon dunia.
Di mana dari seorang pemuda paling berbakat, berubah menjadi pemuda yang kehadirannya hanya suatu kelebihan yang tidak di harapkan.
Nan Thian tersenyum pahit, saat terkenang hal itu.
Dia dengan menahan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama bagian jidatnya yang benjol sebesar telur puyuh.
Nan Thian berjalan menuju tepi telaga, melepaskan seluruh pakaiannya yang kotor.
Dia lalu masuk kedalam telaga yang berair sangat dingin, untuk berendam.
Dahulu dia merasa segar bila berendam di sini, tapi kini setelah seluruh kemampuan nya hilang.
Baru berendam sebentar saja, dia sudah mengigil dengan bibir membiru.
Dia langsung buru buru keluar dari dalam kolam tersebut.
Tubuhnya yang polos belum berpakaian terkena hembusan angin dingin.
Membuatnya bergidik mengigil kedinginan, dia buru buru memakai kembali pakaian butut nya.
Dengan tubuh masih mengigil, Nan Thian segera merapikan rambutnya yang basah.
Setelah itu dia buru buru meninggalkan tempat teduh tersebut.
Membiarkan sinar matahari pagi yang cerah dan hangat, membantu mengusir hawa dingin di tubuhnya.
Menjelang sore, Nan Thian baru tiba di sebuah kota kecil di kaki gunung.
Sekaligus menjual hasil hasil panen dan kulit binatang buruan mereka, di hutan puncak gunung sana.
Jadi dia cukup hapal dengan seluk beluk kota itu.
Nan Thian yang merasa perutnya lapar, dia langsung melangkah menuju salah satu restoran langganannya.
Nan Thian punya uang tabungan nya sendiri, dari hasil penjualan kulit binatang buas, yang di tangkap nya di hutan puncak gunung Qing Hai San.
Sehingga dia kini tidak perlu khawatir soal uang, untuk makan dan tidur di penginapan sekalipun.
Saat hendak memasuki restoran, dia sempat di hadang oleh seorang pelayan di restoran itu.
Karena melihat pakaiannya yang agak sedikit compang camping.
Tapi begitu mengenali Nan Thian, mereka buru buru mempersilahkan Nan Thian untuk masuk dengan sikap hormat.
Nan Thian mengambil tempat duduk yang sama seperti biasanya dia tempati bersama dia.
Nan Thian yang terbiasa memesan makanan, untuk mereka berdua.
Dia tanpa sadar langsung memesannya, untuk dua orang.
Dia juga berpesan agar berbagai pelengkap masakan, seperti daun seledri daun bawang jangan di gunakan.
Hal ini sudah menjadi kebiasaannya, karena Siao Semei nya tidak menyukai hal itu.
Tapi setelah pelayan pergi, tanpa sadar dia melirik bangku di sebelahnya.
Di mana biasanya si dia duduk menemaninya di sana, Nan Thian baru sadar.
Ternyata si dia kini sudah tidak ada, si dia itu bukan lagi miliknya, Si dia itu, kini sudah menjadi milik orang lain.
Tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya, dirinya kini hanya orang asing yang mungkin hanya sekedar lewat di hati si dia..
Menyadari kenyataan pahit ini, Nan Thian pun menghela nafas sedih.
Tapi dia tidak meminta pelayan membatalkan pesanan nya yang berlebih satu.
Nan Thian tetap membiarkannya, saat masakan pesanannya datang, dia pun tetap makan porsi di hadapannya.
Sedangkan porsi di sampingnya, dia biarkan begitu saja.
Sesekali dia akan melirik kesebelah nya, menghela nafas.
Setelah itu kembali melanjutkan makannya.
Selesai makan dan melakukan pembayaran Nan Thian pun meninggalkan makanan yang tidak tersentuh itu begitu saja.
Keluar dari restoran, Nan Thian mengunjungi toko pakaian, membeli beberapa stel pakaian.
Membungkusnya menjadi satu buntalan kecil, lalu dia melanjutkan langkahnya mencari penginapan.
Tiba di penginapan lagi lagi Nan Thian, saat di tanya mau pesan kamar untuk berapa orang.
Dia hampir saja memesan kamar untuk 2 orang, untung dia keburu sadar.
Sehingga dia pun membatalkan nya, dan hanya pesan satu kamar saja.
Saat hendak mengikuti pelayan penginapan menuju kamarnya.
Secara kebetulan Nan Thian melihat segerombolan tentara Mongolia.
Mereka terlihat sedang menarik paksa, tangan seorang gadis pengamen, untuk duduk menemani mereka minum.
Gadis pengamen itu mencoba menolaknya, dengan wajah penuh ketakutan.
Seorang kakek juga berusaha meyakinkan para tentara itu agar melepaskan gadis itu.
Tapi tindakan kakek itu malah menyulut emosi dari para tentara itu.
Sehingga salah satu diantar mereka yang bertubuh tinggi besar, langsung bangun dari tempat duduknya.
Dia langsung memberikan sebuah tamparan.
"Plakkkk,..!"
Lalu menyusulnya dengan sebuah tinju kearah perut kakek itu.
"Blukkk..!"
Kakek itu langsung jatuh meringkuk kesakitan di atas lantai.
"Dasar tua Bangka tidak tahu mampus..!"
"Blukkkk,.."
Dia kembali memberikan sebuah tendangan kearah punggung kakek itu.