
"Adik ketiga jangan gegabah, hormati tuan rumah.."
"Selesai acara baru kita hukum dia.."
ucap orang pertama, dari ketiga biksu itu dengan suara pelan.
Orang ketiga itu, akhirnya kembali duduk tidak banyak protes lagi.
Nan Thian yang mendengar nama biksu muda itu, arah di dalam mulutnya sambil tersembur keluar masuk kembali kedalam cawan nya.
Siau Yen sudah tidak tahu mau bilang apa, akhirnya dia berkata,
"Baiklah Fho Ta ke, mari kita mulai saja.."
Setelah itu dia langsung mencabut pedangnya, bersiap menghadapi biksu muda itu.
Fho Diao Jiang, terlihat santai santai saja.
Dua bahkan tidak terlihat ingin mengeluarkan senjata atau memasang kuda-kuda,. untuk menghadapi Siau Yen yang sudah siaga dengan pedang nya.
Melihat hal itu Siau Yen sambil mengerutkan alisnya, dia berkata,
"Fho Ta ke di mana senjata mu, mengapa belum di keluarkan juga..?"
Biksu muda itu sambil cengar cengir berkata,
"Ini senjata ku,.."
Dia menunjukkan kedua lengannya kedepan, menunjukkan kepada Siau Yen.
"Baiklah Fho Ta ke bila itu keputusan mu, aku tak akan bersungkan lagi.."
ucap Siau Yen dengan wajah merah padam menahan kesal.
Dia merasa agak di remehkan oleh biksu muda ugal ugalan itu.
"Lihat serangan..!"
bentak Siau Yen.
"Singggg,..!"
pedang di tangan nya bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang dada si biksu muda itu.
"Trangggg,..!"
Pedang di tangan Siau Yen terpental kesamping.
Sebelum Siau Yen merasa tangan nya, yang memegang pedang terasa kesemutan pulih kembali.
Salah satu telapak tangan biksu muda itu, sudah tiba di depan wajah nya.
Siau Yen terpaksa membuang diri kebelakang, untuk menghindari serangan tersebut.
Biksu muda itu meski terlihat ugal ugalan, tapi pada kenyataan nya, ilmunya sangat tinggi.
Ketiga biksu Shaolin, yang menjadi tamu kehormatan sedikit kaget melihat ilmu tapak, yang di mainkan oleh pemuda itu.
Karena di kuil Shaolin sendiri, ilmu rahasia itu tidak pernah di ajarkan ke generasi muda.
Tapi herannya pemuda itu menguasai nya dengan sangat lancar dan baik.
Sedangkan di tempat pertempuran, setelah serangan nya gagal.
Biksu muda itu, langsung melanjutkan serangannya mengejar kearah Siau Yen, yang bahkan belum sempat berdiri kokoh, sudah di serang kembali.
Sepasang telapak tangan pemuda itu yang mengeluarkan cahaya keemasan.
Berubah menjadi banyak, mengepung semua jalan mundur Siau Yen.
Siau Yen terlihat sedikit panik dengan sedikit buru buru,.dia mengangkat pedangnya.
Untuk ditebaskan kearah telapak tangan biksu muda itu yang sedang meluncur mendekatinya.
"Trangggg..!"
Tangan biksu muda itu tidak bergeming terkena tebasan pedang Siau Yen.
Malah pedang ditangan Siau Yen, yang terpental terlepas dari pegangan tangan nya.
"Biksu jahat jangan ganggu kakak..!"
teriak suara nyaring yang berasal dari Zi Zi.
Belum hilang suaranya, Zi Zi sudah muncul di sana, dia menarik Siau Yen melakukan gerakan yang sangat aneh.
Tahu tahu sudah terlepas dari kepungan telapak tangan biksu muda itu.
Biksu muda itu melihat Siau Yen berhasil meloloskan diri dengan bantuan seorang anak kecil yang tidak tahu muncul dari mana.
Dia sedikit tertegun, tapi hanya sejenak saja.
Dia kembali datang menyerang tanpa menghiraukan di sana adalah seorang anak kecil.
Biksu muda itu kini menyerang dengan ratusan bayangan telapak tangan cahaya emas mengepung Siau Yen dan Zi Zi.
Nan Thian begitu melihat Zi Zi , bibi kecilnya bergerak maju kedepan.
Tanpa sempat berpikir panjang akan resikonya.
Bila dia muncul di atas panggung sayembara.
Nan Thian sudah muncul menghadang di depan Siau Yen dan Zi Zi.
Dia menggunakan Ciu Yang Hu Ti Sen Kung, melindungi mereka bertiga, membentuk sebuah kubah kemerahan yang di kelilingi oleh 9 matahari.
Untuk menahan serangan telapak cahaya emas biksu muda itu.
Di saat bersamaan, Nan Thian juga melepaskan pukulan telapak tangan kosong yang mengandung tenaga sakti Ih Jin Jing ( ilmu pengubah otot dan nadi ).
Angin telapak tangan kosong transparan, menghancurkan semua tapak.emas yang di lewatinya.
Lalu menerjang kearah si biksu muda itu.
Biksu muda itu menggunakan sepasang tangan nya yang mengeluarkan cahaya emas berkilauan menyambut serangan Nan Thian.
"Blaaaarrr..!"
Benturan dahsyat terjadi, mimbar roboh, hancur berantakan.
Nan Thian terbang menjauhi mimbar sambil merangkul dan menggendong Zi Zi dan Siau Yen mendarat di tempat aman.
Sedangkan Biksu muda terpental jauh kearah para penonton.
Para penonton yang tidak.mau tertimpa oleh tubuh si biksu muda.
Mereka segera menyingkir memberi ruang kepada biksu muda itu.
"Blukkk..!"
Tubuh si biksu muda terbanting di atas tanah,.dia berusaha untuk bangkit.
Tapi dia hanya mampu bangun untuk duduk, memegangi dadanya sambil memuntahkan darah segar.
Dengan wajah kesal dan kecewa, dia menunjuk kearah Nan Thian dan kearah keluarga Chu secara bergantian.
"Ini tidak adil, ! kalian berani membuka sayembara, tapi tidak berani menerima konsekwensinya..!"
"Aku jelas sudah hampir menangkan sayembara ini..!"
"Mengapa kalian menindas ku dan melukai ku, mengandalkan kemampuan kalian..!?"
teriak biksu muda itu mencari dukungan.
Suara pro kontra pun mulai bermunculan memenuhi tempat itu.
Bahkan ada yang muncul menunjuk kearah Nan Thian dengan tidak puas dan berkata,
"Bila kamu merasa dengan kemampuan mu, bisa menakuti peserta di sini.."
"Mengapa tidak kamu nikahi saja nona Chu, ? bubarkan acara yang cuma memberi harapan palsu ini..!"
Nan Thian menghela nafas panjang.
Dia sadar dengan dirinya muncul di atas mimbar dan ikut campur urusan sayembara.
Dia sudah menimbulkan masalah besar bagi dirinya sendiri.
Apapun alasannya dia tetap salah, apalagi dia tidak ada maksud untuk menikahi Siau Yen.
Itu adalah tindakan yang memberikan tamparan memalukan di wajah pihak penyelenggara.
Bila tidak dibicarakan dengan baik, dari pertemanan, bisa berubah menjadi permusuhan.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin diam saja membiarkan bibi kecil nya celaka.
Langit runtuh sekalipun dia akan menyangganya buat keselamatan paman dan bibi kecilnya itu.
Apalagi cuma masalah dunia fana seperti ini, dia benar-benar tidak punya alasan untuk berpangku tangan.
Dia sudah sekali mengecewakan kedua orangtuanya, dia tidak akan mungkin melakukan untuk yang kedua kalinya,
Nan Thian melepaskan rangkulannya dari pinggang Siau Yen, yang terus menatapnya dengan mesra.
Juga terus merangkul erat lehernya, seolah olah berat untuk berpisah.
Nan Thian juga menurunkan Zi Zi dari pondongan nya.
"Nona Chu, tolong bantu jaga bibi kecil ku."
ucap Nan Thian pelan.
Setelah itu Nan Thian memberi hormat dengan membungkukkan badannya kearah penonton dan kearah keluarga Chu.
Setelah itu dia baru berkata,
"Aku Nan Thian di sini meminta maaf kesemuanya, kecuali dia...!"
Nan Thian dengan tegas menunjuk kearah biksu muda itu.