
Zi Zi mengangguk pelan dengan airmata masih bercucuran tiada henti.
Perlahan lahan dia melepaskan pelukannya, mundur menjauh dari kekasihnya.
Sambil menahan kesedihannya, Zi Zi kembali menatap Nan Thian, menatap wajah kekasihnya lekat lekat.
Seolah olah ingin mengukir wajah itu sebagai kenangan terakhir di hatinya.
Sesaat kemudian dia baru memutar badannya memunggungi Nan Thian.
"Baiklah kakak tampan, Zi Zi hargai keputusan kakak.."
"Zi Zi akan penuhi keinginan kakak, keinginan ayah untuk menikah dengan nya.."
"Tapi Zi Zi tidak bisa berjanji bisa memberikan hati ini untuk nya, karena hati ini sudah ada yang mengisinya.."
"Selamanya ini tidak akan berubah.."
"Selamat tinggal kakak tampan, jaga diri kakak dengan baik, hanya itu asa terakhir Zi Zi.."
"Semoga di kehidupan mendatang kita bisa kembali bersama.."
Selesai berkata sambil menutupi mulutnya sendiri menahan suara tangisannya agar tidak sampai terdengar keluar.
Zi Zi langsung berlari meninggalkan Yu Ni Feng tanpa menoleh kebelakang lagi.
Nan Thian hanya bisa berdiri mematung di sana, menatap bayangan punggung kekasihnya pergi menghilang dari hadapan nya.
Zi Zi langsung melesat terjun kearah jurang sebelah barat, menghilang di sana.
Setelah Zi Zi pergi, Nan Thian merasa seluruh jiwa dan semangatnya ikut di bawa pergi.
Kini hanya tersisa kepedihan dan kegelapan yang akan menyambut sisa hidupnya di dunia ini.
Cahaya kehidupannya telah pergi, tidak datang masih jauh lebih baik daripada setelah datang kemudian kembali pergi dan hilang.
Penderitaan seperti ini akan terasa dua kali lipat lebih kejam.
Nan Thian memejamkan matanya, sedikit menengadah ingin mencegah airmata nya mengalir turun kebawah.
Tapi percuma saja, dua butir air bening tetap saja menetes turun dari kedua sudut matanya yang terpejam.
Setelah menghela nafas melepaskan kepedihan hatinya, juga untuk mengusir dan menghapus, bayangan iblis hatinya, yang terlihat sedang menertawai kebodohannya.
Nan Thian membalikkan badannya dengan langkah lesu kembali kedalam pondoknya.
Setelah berbenah sebentar di dalam pondok.
Saat waktunya tiba, Nan Thian pun meninggalkan pondoknya.
Pergi mengunjungi tempat kediaman pamannya, dengan harapan bisa melihat Zi Zi.
Meski hanya bisa melihatnya sekilas lewat, dia juga sudah merasa cukup puas daripada tidak.
Tapi saat tiba di sana, hingga Nan Thian selesai memberikan perawatan, pada sepasang kaki Xue Lian.
Tidak sekalipun, dia berkesempatan bertemu, ataupun sekedar melihat cahaya kehidupan nya itu.
Sebelum pergi meninggalkan kediaman pamannya, Nan Thian sempat berhenti di depan pondok Zi Zi.
Dia berdiri seperti orang bodoh, di depan halaman pondok.
Menatap kearah pondok itu dengan tatapan mata penuh rindu.
Sesaat kemudian, dia akhirnya berlalu dari sana dengan kepala tertunduk lesu.
Kemudian melesat meninggalkan tempat tersebut, kembali ke pondoknya yang sepi dan suram.
Nan Thian tidak tahu bahwa di balik pintu jendela kamar Zi Zi yang tertutup, Zi Zi sedang mengintipnya dengan airmata bercucuran.
Sepasang tangannya dia gunakan untuk menutupi mulutnya dengan erat, agar jangan sampai ada syara yang terdengar oleh Nan Thian.
Hingga Nan Thian pergi, Zi Zi baru terjatuh duduk bersimpuh di atas lantai kamar.
Sambil menggunakan kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri.
Di sana dia menangis hingga sulit bernafas, hingga akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Sedikit harapan yang tergantikan oleh kenyataan yang kejam, membuat Nan Thian harus kembali ke pondoknya, dengan wajah terlihat sangat menderita.
Nan Thian membaringkan tubuhnya di atas kasur berbantalkan lengannya.
Sejak hari itu dan hari hari selanjutnya, meski tinggal berdekatan.
Sehari mengunjungi kediaman nya hingga tiga kali untuk merawat kaki Xue Lian.
Tidak sekalipun Nan Thian pernah bisa bertemu, atau sekedar melihat cahaya kehidupan, yang hanya tinggal kenangan, harapan, dan penyesalan .
Baik kondisi Nan Thian maupun kondisi Zi Zi keadaan mereka makin hari makin terlihat terpuruk.
Sebaliknya kondisi Xue Lian sendiri makin hari makin membaik, dia sudah perlahan lahan terlihat mulai bisa berjalan sendiri, tanpa perlu bantuan.
Melihat keadaan Xue Lian, yang sudah membaik, tinggal menunggu waktu untuk pulih seluruhnya.
Pagi itu selesai perawatan Nan Thian, saat Nan Thian sudah keluar dari dalam pondok.
Fei Hsia tiba tiba berkata,
"Lian cie cie,..Yang ta ke,..kaki Lian cie cie, kini aku lihat sudah pulih, dan mulai bisa beraktifitas dengan normal.."
"Di sini pun ada Thian Er, Zi Zi, Fei Yung dan Fei Lung."
"Aku rasa sudah waktunya bagi Fei Hsia untuk berpamit.."
Fei Yang tidak berkata apa-apa, dia hanya bisa menatap Fei Hsia dengan tatapan mata bersalah dan sangat tidak enak hati.
Berbeda dengan Fei Yang, Xue Lian langsung menahan tangan Fei Hsia dan berkata,
"Fei Hsia mei mei, aku sangat berharap kamu jangan pernah pergi dari sini.."
"Anggaplah cie cie memohon pada mu, ikutlah dengan kami, kita bisa tinggal bersama di sini selamanya.."
Fei Hsia tersenyum pahit, dia menoleh kearah Fei Yang sekilas, yang terlihat serba salah.
"Maafkan aku Lian cie cie, aku hanya ingin melihat kalian berdua hidup bersama dengan bahagia.."
"Aku tidak ingin kehadiran ku di sini menjadi pengganggu kebahagiaan orang.."
ucap Fei Hsia pelan.
Xue Lian tersenyum dan berkata,
"Kalau kamu berpikir begitu, kamu salah Fei Hsia mei mei.."
"Aku justru akan sulit hidup berbahagia, bila kamu tinggal jauh dari kami.."
"Bukan begitu Yang ke ke..?"
ucap Xue Lian sambil menoleh kearah suaminya.
Mereka berdua jauh sebelum ini sudah pernah membahasnya, hasilnya Fei Yang menolak untuk menerima tawaran Xue Lian, agar menerima Fei Hsia sebagai istri kedua.
Tapi Fei Yang tidak menolak, jika Fei Hsia bersedia hidup bersama mereka disini.
Fei Yang tentu tidak bisa membantah bila Xue Lian yang berbicara, karena mereka sebelum ini sudah ada kesepakatan bersama.
Kini dia hanya bisa tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya saja.
Fei Hsia terlihat ingin membantah, tapi sebelum dia sempat bicara.
Xue Lian sudah menggenggam tangan nya dengan lembut dan berkata,
"Fei Hsia mei mei kembali ke pulau kamu juga hanya hidup sendirian, harus menghadapi kesepian seorang diri.."
"Sedangkan hati dan pikiran mu, tetap tertinggal di sini."
"Untuk itu mengapa kita tidak coba hidup bersama disini dengan hati gembira dan bahagia.?"
"Anggap saja kakak mohon padamu, untuk kebahagiaan kita bertiga, tinggallah di sini bersama kami."
"Anak anak bisa besar , cepat lambat mereka pasti akan pergi dari sini, mereka akan punya kehidupan mereka masing masing.."
"Kelak tempat ini akan tetap milik kira bertiga.. selamanya.."
Fei Hsia terlihat semakin ragu ragu, hati kecilnya tentu saja sangat ingin tinggal selamanya di situ.
Tapi dia selalu merasa tidak enak hati, bila Fei Yang tidak buka suara sendiri mengajaknya untuk ikut tinggal di sana.
"Yang ke ke kamu keluarlah sebentar, aku ingin berbicara berdua dengan Fei Hsia mei mei.."
ucap Xue Lian sambil tersenyum lembut menatap kearah suaminya.