PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MEMBERIKAN PELATIHAN


Melihat tuan mereka asyik berbaur dengan para koki memasak, ke 8 dayang itu pun menjadi ikut sibuk membantu melayani kebutuhan Fei Yang.


Seperti menyiapkan air, menambah kayu api, menyiapkan piring dan peralatan makan.


Sampai ada yang membantu mengasah golok dapur.


Tapi setelah semua masakan selesai, mereka semua makan bersama dengan sangat akrab tanpa membeda-bedakan status.


Mereka makan minum bersama tertawa bersama, dengan sangat gembira.


Baru setelah selesai makan, mereka mendengar cerita Fei Yang tentang jebakan yang di lakukan oleh Li Yuan Hao dan Li Yung untuknya.


Rata rata para koki itu marah marah, dan memaki maki Li Yuan Hao dan Li Yung.


"Kalau aku tahu mereka melakukan hal itu pada mu, setiap hari makanan ayah dan anak itu pasti akan ku ludahi, sebelum ku sajikan ke mereka."


ucap Paman Cao emosi.


"Benar itu, meracuninya tidak mungkin."


"Karena makanan mereka selalu di periksa oleh tabib istana, sebelum di sajikan.."


"Tapi kalau sedikit ludah ingus atau t*hi hidung, itu pasti lewat.."


ucap Paman Chin sambil tertawa.


Mereka semua pun kembali tertawa gembira.


Suasana inilah yang paling di sukai oleh Fei Yang, makanya, sewaktu kecil, dia paling suka main ketempat ini.


Fei Yang yang melihat beberapa dayangnya ada yang ngantuk, ada juga yang mulai mabuk.


Akhir nya dia pun pamit kepada para koki itu, dan berjanji lain kali baru datang lagi mengunjungi mereka semua.


Fei Yang terpaksa membantu memapah dayangnya, yang mabuk kembali ke kamarnya.


Lewat petunjuk dayangnya yang lain, Fei Yang baru sadar, ternyata ke 8 dayang nya, mendiami kamar yang sama dengan nya.


Hanya pisah ruangan saja, ada sebuah kamar yang lebih sederhana dengan 8 ranjang kecil, yang di sediakan khusus untuk ke 8 dayang nya itu.


Setelah membantu dayangnya yang mabuk kembali ke kamar.


Fei Yang yang merasa kurang nyaman dan kurang bebas.


Dia memilih duduk bermeditasi di atap kamar, sambil menunggu datangnya pagi.


Pagi pagi begitu sinar mentari mulai muncul, Fei Yang sudah berada di taman, tempat kemarin dia meninggalkan Lan Yi.


Saat Fei Yang tiba, Lan Yi terlihat sudah menantinya di sana dengan penuh semangat.


"Selamat pagi paman guru, kita mau berlatih di mana..?"


"Li Dan belum datang, kemungkinan dia menanti kita di lapangan latihan.."


"Ayo kita kesana sekarang.."


ucap Fei Yang.


Fei Yang sengaja melayang ringan menggunakan ilmu Meniti diatas daun.


Sekalian dia ingin menguji ilmu ringan tubuh Lan Yi, ternyata Lan Yi bisa mengimbangi Fei Yang.


Mereka berdua berkejaran berterbangan diatas pohon, genteng, hingga akhirnya mendarat ringan di sebuah lapangan yang cukup luas.


Dilapangan yang luas itu, di bagian sebelah kiri dan kanan nya terlihat ada deretan rak senjata dan peralatan berlatih yang tersusun rapi.


Li Dan terlihat sudah menunggu mereka berdua di sana.


Li Dan menatap kagum kearah Lan Yi dan Fei Yang, yang datang dengan melayang ringan turun dari udara.


Dia sendiri menguasai ilmu silat, tapi dia tidak bisa bergerak seringan mereka.


Paling bisa, dia hanya mampu melompat keatas pagar tembok setinggi 3 meter, atau maksimal 5 meter untuk naik keatas genteng.


Itupun dengan bantuan menjejak tembok, dinding atau yang lainnya untuk membantunya naik.


Li Dan diam diam sangat kagum dengan Lan Yi, yang selain cantik juga sangat hebat dalam ilmu ringan tubuh.


Setelah tahu Fei Yang ternyata masih hidup, dan sikap Sian Sian sendiri terhadap dirinya juga sudah jauh berubah, semenjak pertengkaran mereka terakhir itu.


Li Dan sudah memutuskan tidak akan menaruh harapan pada Sian Sian lagi.


Setelah bertemu dengan Lan Yi, Li Dan diam diam mulai menaruh perhatian pada Lan Yi.


Meski Li Dan tahu masa lalu Lan Yi adalah Yi Lan, seorang wanita penghibur di Paviliun Bunga Bersemi, tapi dia tidak ambil pusing.


Bagi Li Dan asalkan Lan Yi bersedia , dia tidak akan berkeberatan.


Bagi Li Dan yang penting saat ini, dan masa depan, sedangkan masa lalu itu sudah lewat, dan sudah tidak penting.


Lan Yi sebagai wanita yang berperasaan halus, dia juga menyadari tatapan mata penuh kagum dari Li Dan padanya.


Tapi tentu saja dia tahu diri, dan tidak berani berpikir terlalu jauh.


Perbedaan mereka terlalu jauh, bagaikan langit dan bumi.


Li Dan adalah siapa, dia seorang jendral besar, masih kakaknya putra mahkota, berdarah bangsawan, masa depan sangat cerah.


Sedangkan dirinya, dengan setumpuk masa lalu yang begitu kelam, Lan Yi benar benar memikirkan nya saja, dia tidak punya keberanian..


Dengan ketampanan kegagahan dan kekuasaan yang di miliki Li Dan.


Wanita cantik mana yang tidak akan antri menunggu uluran cinta darinya.


Apalagi di wilayah Xi Xia yang mayoritas wanita nya sangat cantik, hal ini semakin membuat Lan Yi semakin tidak berani berharap banyak.


"Kak Li Dan sudah siap, baguslah mari kita segera mulai saja untuk menghemat waktu."


ucap Fei Yang sambil tersenyum.


Li Dan dan Lan Yi menganggukkan kepala mereka, dan berkata hampir bersamaan.


"Kami sudah siap.."


Mereka berdua saling pandang sejenak kemudian sama sama tersenyum.


"Kak Lan Yi, Kak Li Dan, sebelum saya memainkan jurusnya, ada baiknya saya akan menjelaskan teorinya dahulu."


"Marilah kita duduk dulu sebentar."


ucap Fei Yang.


Lan Yi dan Li Dan mengangguk, kemudian mereka duduk ber hadapan dengan Fei Yang.


"Jurus ini adalah jurus Tarian pedang Naga Es dan Phoenix Api."


"Pada puncaknya, yang berlatih jurus ini harus memiliki kekuatan api dan es, serta tehnik pengendalian terhadap Im Yang."


"Tapi tanpa penunjang kekuatan itu juga bisa, hanya saja efeknya tidak maksimal.."


ucap Fei Yang memberikan penjelasan dari awal.


Li Dan Lan Yi terlihat mendengarkan dengan serius penjelasan Fei Yang.


Setelah mengambil nafas sejenak, Fei Yang pun melanjutkan berkata,


"Jurus pertama adalah Tebasan pedang Naga es dan Phoenix Api membelah gunung.."


"Untuk memainkan jurus ini, pertama-tama, kalian harus kerahkan tenaga sakti kalian, untuk di salurkan ke pedang kalian masing-masing.."


"Untuk Kak Li Dan khususnya, yang memainkan pedang tunggal, dan tidak memiliki dasar tenaga I'm yang."


"Kak Li Dan hanya bisa melepaskannya secara bergantian, bisa Naga es lebih dulu, ataupun Phoenix api dulu.."


"Semua itu tergantung pada situasi dan lawan yang kita hadapi."


ucap Fei Yang sambil menatap kearah Li Dan.


"Nah sekarang coba kakak berdua ikutin petunjuk dari saya, untuk mencoba merubah tenaga sakti menjadi es ataupun api, agar bisa muncul dari telapak tangan kakak berdua secara bergantian.."


"Nah mari kita coba pelan pelan."


ucap Fei Yang sambil memberi petunjuk pelatihan secara sabar.