
"Lan Lan anak baik ibu cuma penyakit tua saja, istirahat satu dua hari juga sembuh ."
"Kamu tidak perlu membuang waktu mu di sini, lebih baik kamu temani Dan er temui paman bibi terutama nenek, dapatkan restu mereka.."
"Bila bisa melihat kalian cepat menikah, apalagi bila di beri kesempatan menimang cucu, matipun, ibu sudah tidak menyesal lagi.."
ucap ibu Li Dan sambil membelai kepala Lan Yi dengan lembut.
Lan Yi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ibu, kesehatan ibu yang terpenting saat ini.."
"Bila ibu sehat, semua harapan dan keinginan ibu,
Lan Yi berjanji,..akan,.. memenuhinya, agar ibu bisa bahagia.."
ucap Lan Yi sambil menundukkan kepalanya dengan wajah merah karena malu.
"Ibu,.. dengarkan saja Lan Yi, hal begituan mau cepat juga tidak bisa, semua tergantung yang di atas."
"Tapi bila ibu sehat, mudah mudahan kami bisa memenuhi harapan ibu."
"Di mana ibu kelak bukan hanya bisa menimang, tapi ibu bisa bermain dengan mereka, bukankah itu lebih baik..?"
ucap Li Dan membantu membujuk ibunya.
Ibu Li Dan tersenyum gembira dan berkata,
"Bagus,..bagus,.. baiklah ibu akan menurut pada kalian.."
"Tapi kalian berdua harus berusaha secepatnya, ibu sudah tidak sabar.."
Li Dan sambil tertawa melihat ke arah Lan Yi dan berkata,
"Ibu pikir aku bisa sabar,.? aku juga sudah tidak sabar Bu,..tapi setidaknya adat dan sopan santun kan tidak boleh di langgar.."
"Ibu Carikan saja hari baik, lebih cepat lebih baik, kalau ada besok itu lebih baik.."
ucap Li Dan sambil tertawa menggoda Lan Yi.
Lan Yi wajahnya menjadi merah padam,.dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dalam, sama sekali tidak berani bersuara, apalagi mengangkat kepalanya.
Ibu Li Dan langsung bangun duduk dengan semangat dan berkata,
"Bagus anak ku sudah dewasa, Melani besok kamu dan bibi Ciu pergilah ke kuil wakili ibu, untuk mencarikan hari baik buat kakak dan kakak ipar mu.."
Melani meski hatinya keberatan, tapi dia tidak berani membantah.
Dia hanya bisa memendam semua perasaan nya dalam dalam.
"Baik ibu,.."
jawab Melani dengan pelan.
Li Dan sambil tertawa gembira berkata,
"Terimakasih adik Melani, maaf jadi merepotkan mu, kakak mengandalkan mu besok.."
"Ya kak, sama sama.."
ucap Melani sambil menundukkan kepalanya.
Selagi mereka asyik berbicara, pelayan sudah datang membawa kertas dan alat tulis, bibi Ciu juga terlihat sudah hadir di sana.
"Ibu,..biar Lan Yi tuliskan resepnya sebentar,.. ya Bu,..?"
ucap Lan Yi begitu melihat alat tulis sudah di siapkan.
"Pergilah nak.."
ucap Ibu Li Dan, sambil tersenyum gembira.
Lan Yi dengan cepat menuliskan sebuah resep, untuk di berikan ke bibi Ciu.
"Bibi Ciu, tolong belikan obat obat yang tertera dalam resep ini."
"Nanti obatnya berikan saja pada ku, biar aku yang memasaknya sendiri.."
ucap Lan Yi berhati hati.
Lan Yi yang sudah kenyang pengalaman pahit, membuatnya tertempa secara natural, sangat berhati hati dan tidak mudah mempercayai orang lain.
Di dunia ini bagi Lan Yi yang bisa dipercaya sepenuh hati, hanya ada dua orang, pertama Fei Yang kedua Li Dan.
Sisanya siapapun tidak dia percaya.
"Nak Lan Lan kamu pergilah bantu Dan er mengenakan seragam kebesarannya, agar dia bisa cepat bersiap pergi menyambut Yang Mulia Raja Ratu dan Ibu Suri.."
ucap Ibu Li Dan sambil tersenyum lembut.
"Baik ibu, kalau begitu, Lan Yi permisi sebentar.."
"Nanti setelah selesai, Lan Yi baru kembali ke sini menemani ibu.."
ucap Lan Yi sambil memberi hormat kearah ibu Li Dan.
Ibu Li Dan tersenyum dan berkata,
"Pergilah nak, tenang saja,.. ibu di sini ada Melani yang menemani.."
Li Dan dengan gembira, menggandeng tangan Lan Yi pergi menuju kamarnya.
Lan Yi juga membalas menggenggam tangan Li Dan dengan penuh rasa bahagia, yang jelas terlihat dari senyum dan tatapan matanya.
Saat tiba di depan kamar Li Dan, wajah Lan Yi menjadi merah,.dia sedikit gugup.
Li Dan sambil tersenyum lembut, berkata,
"Lan Lan kalau malu, biarkan saja pintunya terbuka.."
Lan Yi mengangguk pelan, tanpa berkata apa-apa, dia mengikuti Li Dan masuk kedalam kamar nya.
Kamar Li Dan sangat sederhana, jauh lebih sederhana.daripada ruang tamunya yang terlihat lebih mewah.
Di dalam kamar tersebut hanya ada meja kursi sederhana, dan sebuah ranjang yang juga sangat biasa dan sederhana.
Sebuah meja baca dan sebuah rak buku yang berjejer buku strategi militer.
Tidak jauh dari sana ada sebuah pakaian seragam perang, yang terbuat dari baja berlapis emas tergantung rapi di tempat nya.
Lan Yi langsung menghampiri baju seragam yang tergantung itu.
Dengan mudah tanpa kesulitan Lan Yi membawa seragam yang berat itu, dan membantu Li Dan mengenakan nya.
Setelah semua terpasang dengan rapi, Lan Yi baru membantu Li Dan mengenakan mantel penutup punggungnya.
Lalu membantu memasangkan pedang di pinggang Li Dan.
Jarak mereka yang begitu dekat, hingga hembusan nafas mereka masing masing pun bisa mereka berdua rasakan.
Membuat wajah keduanya menjadi sedikit merah.
Saat semua seragam sudah terpasang dengan rapi.
Li Dan akhirnya tidak bisa menahan diri, dia maju merangkul pinggang Lan Yi, yang langsung dengan lembut berkata,
"Tunggulah aku kembali sayang.."
Lalu dengan lembut Li Dan mendaratkan ciuman nya, di kening Lan Yi..
Lan Yi menatap Li Dan dengan mesra dan berkata,
"Berhati-hatilah cepat pergi cepat kembali, aku menunggumu.."
"Bila ada kesulitan kirimlah orang untuk mengabari ku, jangan mengambil resiko sendirian."
Li Dan mengangguk dan berkata,
"Jangan khawatir, aku hanya pergi menyambut raja kembali, bukan pergi ke medan perang."
"Kalau ke medan perang, tentu aku akan selalu membawa mu..menemani ku.."
Lan Yi mengangguk dan membantu merapikan kerah baju Li Dan, sambil tersenyum bahagia, dia menepuk bahu Li Dan dan berkata,
"Pergilah, waktu sudah hampir sore.."
Li Dan mengangguk, lalu dia membalikkan badannya berjalan pergi meninggalkan kamarnya.
Lalu dia bergerak menuju halaman depan,.di mana pasukannya terlihat sudah berbaris rapi menunggunya.
Li Dan melompat keatas punggung kuda nya, kemudian menjalankan kudanya bergerak meninggalkan kediaman nya.
Sedangkan Lan Yi sendiri langsung pergi kearah taman samping, untuk menemani Ibu Li Dan mengobrol, sambil menunggu kepulangan bibi Ciu yang pergi beli obat.
Li Dan bersama pasukannya saat keluar dari benteng kota Yin Chuan, mereka bergerak maju 500 meter dari gerbang kota Yin Chuan.
Mereka membentuk barisan rapi untuk menyambut kedatangan rombongan Raja Li Yuan Ming
Perlahan-lahan dari kejauhan mulai terlihat iring iringan pasukan besar, yang di pimpin oleh Watobi dan Toba Chen mulai mendekat..