
Ouwyang Fong terlihat terlempar kedalam lubang tempat asalnya.
"Braakkk...!"
Debu pasir tanah batu berhamburan menutupi jarak pandangan.
Nan Thian diatas sana tidak mampu melihat kondisi lawan nya.
Nan Thian memilih diam menunggu di udara sana, membiarkan tenaga benturan tadi menahan tubuhnya bergerak meluncur turun kebawah.
Nan Thian memilih mengamati situasi dari atas sebelum melepaskan serangan berikutnya.
Ouwyang Fong sendiri yang terpental jatuh kedalam lubang.
Meski sebagian pakaiannya terlihat hangus, sebagian lagi terlihat membeku.
Tapi secara keseluruhan dia baik baik saja keadaan nya, dia malah terlihat kembali mendekam diatas tanah.
Mencoba menetralisir Kekuatan api dan es surgawi, yang masuk kedalam tubuhnya.
Udara di sekitarnya sebentar panas membakar, sebentar dingin membekukan.
Tubuh Ouwyang Fong kembali terlihat membesar seperti balon udara.
Sebelah kanan memancarkan cahaya putih, sebelah kiri memancarkan cahaya hitam.
Udara di sekitarnya seperti habis tersedot kedalam tubuh Ouwyang Fong.
Hawa dari perut bumi, juga terus tersedot masuk kedalam tubuhnya yang terlihat seperti balon cahaya hitam dan putih.
"Kroook...! Kroookk...! Kroookk...!"
"Kroook...! Kroookk...! Kroookk...!"
"Kroook...! Kroookk...! Kroookk...!"
Kembali terdengar suara keras, yang berasal dari dalam lubang, yang kini sedang tertutup kabut debu.
Semua orang di sekitar arena pertarungan, kini menatap tegang kearah asal suara dari balik kabut debu asap.
Nan Thian yang sedang melayang turun segera mempersiapkan diri untuk melepaskan serangan lanjutan yang jauh lebih dahsyat lagi.
Bayangan mahluk setengah Naga setengah Phoenix kembali muncul.
Membayang di belakang tubuh Nan Thian, mahluk itu terbentuk dari cahaya hitam putih, yang lebih pekat warnanya.
Cahaya panca warna muncul mengelilingi sekitar tubuh mahluk itu.
Saat Ouwyang Fong yang berubah menjadi sebuah balon yang mengeluarkan cahaya hitam putih melesat keangkasa.
Di ikuti oleh bayangan seekor katak hitam putih raksasa di belakangnya.
Bayangan mahluk setengah naga setengah Phoenix di belakang Nan Thian langsung bergerak meluncur ke bawah.
"Booommm...!"
Kembali terjadi ledakan dahsyat di udara.
Cincin energi yang jauh lebih besar meluas kesegala arah.
Sekali ini Ouwyang Fong tidak terlihat lagi, hanya ada sisa serpihan pakaiannya, yang melayang layang di udara.
Di permainkan oleh angin yang membawanya bergerak kemanapun angin berhembus.
Nan Thian perlahan-lahan melayang turun dari udara, mendarat ringan di tengah lapangan.
Sedikit berlawanan arah dengan lubang di mana Ouwyang Fong sebelumnya mendekam .
Setelah memastikan dengan indera pendengarannya, bahwa Ouwyang Fong sepenuhnya telah tiada.
Nan Thian langsung bergerak cepat membantu para anggota Qing Hai Pai, yang terluka akibat melawan Ouwyang Fong secara langsung, ataupun yang terluka akibat dari efek pertarungan dahsyat Nan Thian melawan Ouwyang Fong.
Dengan gerakan menotok, mengurut dan menyalurkan hawa murni.
Satu persatu mereka berhasil di sembuhkan oleh Nan Thian.
Melihat Nan Thian kini sibuk mengobati murid Qing Hai Pai.
Para tetua dan Lian Se Hua menatap kagum bercampur haru dengan sikap Nan Thian, yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah.
Tidak banyak bicara, selalu ringan tangan, rajin membantu saudara saudara seperguruan yang membutuhkan pertolongan nya.
Lim Pu Se juga memimpin yang lainnya untuk turun rangan ikut membantu.
Lian Se Hua dan para tetua juga bergerak cepat merawat murid yang lukanya agak parah.
Karena bekerja beramai ramai saling membantu, sebentar saja, pekerjaan itu pun selesai dengan lebih cepat.
Setelah selesai Lian Se Hua kembali mengajak Nan Thian kembali ke ruang Aula utama Qing Hai Pai.
Murid murid Qing Hai Pai yang lainnya, tidak ada satupun yang ikut serta.
Tiba di dalam Aula, Lian Se Hua dan ketiga tetua duduk di kursi kehormatan nya.
Lim Pu Se dan Siao San masing masing duduk di kursi ketua dan wakil ketua Qing Hai Pai.
Sedangkan keempat Tang Cu duduk berjejer di kedua sisi Lim Pu Se dan Siao San.
Nan Thian sendiri duduk di kursi tamu yang ada di bagian paling bawah.
"Thian Er kelihatannya kamu telah mengalami perkembangan yang luar biasa.."
"Kami semua turut bangga dan bergembira untuk mu.."
ucap Tetua Chen membuka pembicaraan sambil tersenyum lembut.
"Tetua Chen terlalu memuji, Thian Er masihlah tetap Thian Er yang sama dengan dulu.."
"Tidak ada bedanya.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat dengan sikap merendah.
"Kalian semua lihat, sikap seperti inilah yang patut kalian tiru.."
"Semakin tinggi kepandaian seseorang, maka dia akan semakin rendah hati dan pandai mengendalikan diri, selalu bersikap tenang dalam segala situasi.."
"Kalian semua harus ingat itu.."
ucap Tetua Liu mengingatkan yang hadir.
"Terimakasih tetua Liu atas nasehatnya.."
ucap Lim Pu Se diikuti oleh yang lainnya.
Nan Thian sendiri sambil tersenyum canggung, dia mengangkat kedua tangan nya yang terkepal kedepan.
Membalas memberi hormat kesemuanya dengan sopan.
Sesaat kemudian setelah situasi kembali tenang, Lian Se Hua baru berkata,
"Thian Er katanya kamu ada bawa informasi tentang Guru mu Pai Wang dan adik seperguruan mu Xue Xue.."
"Di mana mereka sekarang, mengapa tidak ikut dengan mu kembali kemari..?"
tanya Lian Se Hua penasaran.
Lian Se Hua terlihat cemas, saat berbicara tangannya terlihat tidak berhenti meremas kain celana di bagian pahanya.
.
Nan Thian bangkit dari duduknya, lalu dia berlutut di hadapan Lian Se Hua dan berkata,
"Maafkan Thian Er, Semu.."
"Kedatangan Thian Er membawa kabar duka yang kurang menyenangkan.."
"Harap Semu bisa bersikap tenang menerima kabar berita ini.."
ucap Nan Thian hati hati, dengan kepala tertunduk dalam dalam tidak sampai hati menatap kearah wajah Lian Se Hua.
"Apa yang telah terjadi Thian Er, katakan lah Seniang sudah siap menerima nya, apapun itu.."
ucap Lian Se Hua terlihat semakin cemas dan tegang.
Nan Thian mengeluarkan sebuah guci porselin, yang tertutup rapat dan berkata,
"Semu harap di terima dengan baik, abu jenazah guru Pai Wang, yang saya bawa dari Lian Hua Feng.."
Dengan tubuh gemetar, dan sepasang mata basah, Lian Se Hua perlahan-lahan bangkit dari duduknya.
Dengan langkah kaki sedikit terhuyung-huyung hampir terjatuh, bila tidak cepat disangga oleh Lie Pai Xue.
Lie Pai Xue membantu gurunya berjalan menghampiri tempat Nan Thian berlutut.
Nan Thian sendiri terlihat berlutut disana, dengan kepala tertunduk, sambil mengangkat guci abu gurunya dengan kedua tangan diatas kepala.
Lian Se Hua dengan tangan gemetar menerima guci abu tersebut dari tangan Nan Thian.
Airmata sudah tidak tertahankan lagi, jatuh menetes netes membasahi kain pelapis penutup mulut guci, yang ada di tangan nya.
Lian Se Hua terlihat memeluk guci itu erat erat dengan perasaan hancur.
"Suami ku, kamu boleh tenang sekarang,.."
"Thian Er telah antar kamu kembali kerumah kita.."
ucap Lian Se Hua tersendat sendat menahan Isak.