
Koai Tung San Kai melihat serangan balasan dari Nan Thian, mereka bertiga buru buru membatalkan serangan.
Mereka memutar tongkat mereka seperti kitiran berusaha menangkis serangan Nan Thian.
Sedangkan Kai Sun yang terkenal dengan tongkat angin badai nya.
Dia dengan penuh percaya diri, tetap meneruskan serangan nya, yang mendatangkan pusaran angin badai.
Tongkatnya berubah menjadi ratusan bayangan, menerjang kearah 3 ekor Naga Emas, yang sedang mementangkan mulutnya lebar-lebar.
"Blaaaarrr...! Blaaaarrr...!"
"Blaaaarrr...! Blaaaarrr...!"
"Blaaaarrr...! Blaaaarrr...!"
Tongkat Koai Tung San Kai pecah hancur berantakan.
Mereka bertiga membuang diri kebelakang bergulingan menyelamatkan diri, dari kejaran tiga Naga emas yang terus mengejar mereka.
Pria berbaju putih, melompat bangun dari posisi duduknya, dia langsung melepaskan 6 kali tebasan tangan kosong, yang menghasilkan 6 golok putih berkilauan.
Menyambut enam Naga emas yang di lepaskan oleh Nan Thian.
"Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..!"
"Blarrr,..! Blarrr,..! Blarrr,..!"
Terjadi 6 kali benturan dahsyat, di udara.
Koai Tung San Kai selamat dari kejaran 3 Naga emas, yang mengincar mereka.
Mereka bertiga terbelalak dengan wajah sepucat kertas.
Sedangkan Kai Sun saat benturan tongkat dan Naga emas terjadi, seluruh bayangan tongkat nya sirna.
Dia terpental mundur oleh keganasan 3 ekor Naga Emas, yang masih terus mengincarnya.
Kai Sun menggunakan tongkatnya, menangkis dan menyerang 3 ekor Naga emas, yang mengurungnya.
Di saat dua sedang terdesak tiga ekor Naga Emas itu, tiba tiba terpental kembali ke arah Nan Thian.
6 Naga emas masuk kembali kedalam tubuh Nan Thian setelah di pentalkan oleh serangan enam energi golok putih.
Keenam golok itu berbaris rapi 3 didepan, 3 di belakang, berjejer menerjang kearah Nan Thian.
Mengikuti alunan tangan pria baju putih, yang mengaturnya dari jarak jauh.
"Rooaaarrrrrrr,...!"
"Sepasang Naga mengejar mutiara.."
Dua ekor Naga emas berukuran jauh lebih besar, bergerak melingkar menggulung keenam cahaya golok putih.
Melilitnya menjadi satu, kemudian menghancurkannya.
"Blaaaarrr..!"
6 Cahaya golok hancur berkeping keping tak bersisa.
Kini ke 2 Naga emas melanjutkan menerjang kearah pria berbaju putih.
"Blaarrr,...!"
"Blaarrr,...!"
Pria berbaju putih, maju menyambut kedatangan kedua Naga emas yang mengejarnya.
"Blaarrr,...!"
"Blaarrr,...!"
Pria itu kali ini menggunakan kedua telapak tangannya, berhasil menebas putus batang leher dua ekor ular naga emas yang berusaha menyerangnya.
Sehingga bayangan Naga emas sirna, berubah menjadi ribuan butir cahaya emas kembali masuk kedalam tubuh Nan Thian.
Pria berbaju putih, tidak berhenti sampai disana.
Dia membentuk kuda kuda setengah berjongkok, sambil berteriak keras.
"Hyaat..!"
Dia merapatkan kedua telapak tangannya, melakukan gerakan menebas dari atas kebawah.
Muncul bayangan sebuah golok putih raksasa membelah langit langit ruangan, menerjang kearah Nan Thian.
Nan Thian sedikit terkejut, melihat kehebatan pria berbaju putih itu.
"Jangan khawatir kak, biar aku tunjukkan kemampuan ras Naga kami.."
ucap Kim Kim santai.
Lalu dia muncul menjadi sebatang pedang Naga emas di tangan Nan Thian.
Bagian ekor menjadi gagang pedang, bagian kepala dengan moncong terbuka menjadi ujung mata pedang.
Pedang itu menarik Nan Thian bergerak mengikuti gerakan nya.
Nan Thian terlihat berputar dengan bayangan pedang itu mengelilingi tubuhnya.
"Tranggg...!"
Cahaya keemasan yang berasal dari bayangan sisik seekor naga emas raksasa yang melingkari seluruh tubuh Nan Thian.
Melindunginya, menyambut serangan golok putih, saat bertemu, seperti terjadi pergesekan beda logam.
Hingga bunga api berpijar pijar, kemudian cahaya keemasan semakin berkilau meledakkan bayangan golok putih.
"Blaarrr..!"
Setelah meledakkan bayangan golok putih hingga hancur berkeping-keping.
"Growwwaaar,..!"
Naga emas raksasa meluncur mengejar kearah kakek baju putih, menerjangnya, dengan moncong terpentang lebar siap menelan pria baju putih itu.
"Boooom...!"
Kakek baju putih mendorongkan sepasang tapak nya kedepan, melepaskan pukulan udara kosong.
Meledak seperti halilintar menyambut Moncong naga emas.
Naga emas semesta terlalu dahsyat kekuatannya, pria itu terpental keluar dari dalam ruangan menghancurkan beberapa lapis tembok di belakangnya.
"Duaarr..!"
"Duaarr..!"
"Duaarr..!"
Debu mengebul di mana mana menutupi pandangan mata.
Naga emas yang kehilangan jejak pria baju putih, yang manfaatkan situasi debu asap beterbangan, menutupi pandangan.
Pria baju putih itu, telah kabur hilang tanpa jejak dari lokasi pertempuran.
Naga emas yang masih marah tidak menemui sasaran, dia menelan semua yang hadir di dalam ruangan tersebut kecuali Nan Thian.
Setelah puas, Naga emas baru kembali menyatu kedalam pedang di tangan Nan Thian.
Sesaat kemudian pedang itu ikut menghilang masuk kedalam tubuh Nan Thian.
Seekor Naga emas terlihat mengambang dalam samudra Dan Tian, milik Nan Thian.
Naga emas itu terlihat mengambang dengan perut buncit menghadap keatas.
"Wah puas sekali..aku sudah lama tidak makan sekenyang ini.."
ucap Kim Kim sambil menguap ngantuk.
Nan Thian di luar sana sampai menelan ludah melihat hasil dari aksi Kim Kim barusan.
Di dalam ruangan terlihat mayat malang melintang, tidak ada satupun yang selamat.
Termasuk Kai Sun, Koai Tung San Kai, juga dua orang perwira Mongol dan 4 pengawalnya.
Mereka semua juga tergeletak diatas lantai, dalam kondisi tak bernyawa.
Nan Thian diam diam bergidik ngeri, di dalam hati kecilnya, dia bersumpah.
Untuk lain kali bila tidak dalam keadaan sangat terpaksa.
Dia tidak akan pernah mengundang Kim Kim keluar membantunya.
Kim Kim yang bisa membaca jalan pikiran Nan Thian, dia berkata sambil tertawa,
"Hi,..hi,..hi,..! mengagetkan kakak ya selera makan ku.."
"Maaf aku terlalu lapar, sehingga tidak bisa mengontrol diri.."
"Kalau kakak takut terulang ada dua cara, satu jangan meminta bantuan ku, dua kakak harus tingkatkan energi Chi langit bumi lebih banyak lagi.."
"Isi penuh Chi kakak, memenuhi samudra ini, maka aku tak perlu cari Chi dari musuh kakak, untuk memuaskan rasa lapar ku.."
ucap Kim Kim santai tanpa dosa.
Nan Thian memukul kepalanya sendiri, lalu berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.
Tiba di luar ruangan, Nan Thian kembali menelan ludah, karena di luar semua pengemis juga mengalami hal yang sama.
Ratusan orang pengemis di dalam dan di luar kuil, tidak ada satupun yang tersisa.
Semuanya tewas dengan wajah menunjukkan ketakutan hebat.
Nan Thian sambil menghela nafas panjang berjalan meninggalkan kuil tersebut.
Rencana awalnya, hanya ingin memberi pelajaran kepada para pengemis arogan, yang suka berbuat semena mena menindas orang lain.
Tak di sangka, dia malah menyebabkan pembantaian secara besar-besaran.
Hatinya agak sedikit kurang nyaman.
Meski yang di bantai rata rata adalah penjahat, tapi tetap saja itu adalah sebuah nyawa.
Nan Thian kembali ke kota Lan Zhou dengan pikiran kacau balau, dia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya saja.
Sementara itu Kim Kim di dalam sana tidak ambil pusing, dia malah asyik tidur mendengkur keras.