
"Kini saat dia menyadari harapan nya sirna rencananya gagal, ternyata hubungan kita baik baik saja."
"Malah semakin mesra."
"Ini tentu adalah pukulan berat buat dirinya."
"Bukankah dia pernah buat kita merasa marah sedih kecewa tak berdaya,? kini aku ingin dia mencicipinya."
"Sekarang kamu lihat tampangnya, nangis susah tertawa tidak bisa, seperti orang sedang nahan boker.."
"Lucu kan, ayo kita balas dia pelan pelan.."
ucap Fei Yang sambil menoleh kearah Hai Hai.
Xue Lian berusaha menahan tawa, melihat aksi suaminya, dia memukul gemas dada suaminya dan berkata,
"Ya sudah terserah kakak saja mau di apakan mahluk menjijikkan itu.."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Kamu nonton saja dari sini, bila tidak kuat tutup saja matanya.."
Xue Lian mengangguk kecil, lalu dia berdiri di sana menonton aksi suami nya.
Hai Hai kini terlihat pucat gemetar ketakutan wajahnya terlihat putus asa, sebentar sebentar dia menoleh kearah langit.
Seperti sedang menantikan sesuatu.
Fei Yang tersenyum dingin mengeluarkan sebatang belati milik Jai Hwa Sian sendiri.
Lalu dia goyang goyang kan di depan wajah Jai Hwa Sian yang terlihat semakin ketakutan.
"Tadi aku sudah memotong beberapa jari kanan mu, kini aku akan menambahnya lagi.."
ucap Fei Yang sambil mengambil tangan Hai Hai, lalu di letakkan di atas tanah.
"Arggghhh,..!" "Arggghhh,..!"
"Arggghhh,..!" "Arggghhh,..!"
"Arggghhh,..!" "Arggghhh,..!"
"Arggghhh,..!" "Arggghhh,..!"
Fei Yang dengan santai memotong satu persatu jari Jai Hwa Sian sambil tersenyum dingin..
Setiap satu jarinya di potong Jai Hwa Sian akan berteriak kesakitan.
"Jari mu ini yang telah lancang, dekat kamu harus rasakan akibatnya."
ucap Fei Yang sambil mengeluarkan sebuah botol kecil di tangannya.
"Tangan mu bila tidak di obati, kamu pasti akan mati kehabisan darah sebelum permainan usai.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum dingin.
Hai Hai hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata pelan,
"Jangan,.. ampun..jangan.."
Xue Lian setiap kali melihat jari Hai Hai di potong, dia mengernyit ngeri melihatnya.
Sementara itu tanpa memperdulikan permintaan Hai Hai, Fei Yang menaburkan garam ke arah luka di tangan Hai Hai Hai.
"Arggghhh..!"
teriak Hai Hai kesakitan, saat lukanya di taburi garam.
Saking gak kuatnya. Hai Hai akhirnya, jatuh tidak sadarkan diri.
Tapi dia dipaksa siuman oleh Fei Yang, yang menyiram wajahnya dengan air minum dari kantong kulit ditangan Fei Yang.
"Suara mu terlalu berisik sangat menganggu.."
ucap Fei Yang sambil menggunakan jari kelingkingnya mengorek ngorek lubang telinganya.
Mendengar ucapan Fei Yang Hai Hai buru buru mengatupkan mulutnya rapat-rapat
Hanya airmata yang bercucuran, karena sensasi sakit yang luar biasa pada kedua tangan nya.
Pendarahan di tangannya memang berhenti, tapi rasa nyeri ditangannya, yang terus berdenyut denyut itulah, yang sensasinya luar biasa menyiksa.
Fei Yang memegang rahang Hai Hai, menekannya hingga terbuka.
Dengan satu sentilan kuat di bagian jakun, Hai Hai yang terlihat naik turun.
Hai Hai langsung terbatuk batuk dan seperti mau muntah, tanpa di sadari dia menjulurkan lidahnya keluar.
Di saat itulah belati di tangan Fei Yang dengan cepat berkelebat lewat.
Darah menyembur deras dari mulut Hai Hai yang terbuka lebar.
Hai Hai ingin meraung kesakitan, tapi tidak ada suara yang keluar, hanya terdengar suara ngorok, seperti suara ngorok Ba..bi di sembelih.
Di saat mulutnya sedang terbuka, segenggam garam di suapkan oleh Fei Yang kedalam mulutnya.
Sepasang mata Hai Hai langsung mendelik keatas, dia kembali terguling pingsan tidak sadarkan diri.
Xue Lian sudah tidak sanggup melihatnya, dia buru buru membalikkan badannya, memunggungi tempat itu.
Fei Yang kembali mengguyur air kewajah Hai Hai, hingga sepasang matanya kembali terbuka.
Hai Hai menatap Fei Yang dengan ketakutan dan pasrah.
Fei Yang sambil tersenyum dingin berkata,
"Jari mu dan lidah mu yang berdosa sudah aku hukum.."
"Kini yang belum tinggal mata dan otak mu.."
"Bersiaplah,..!"
ucap Fei Yang sambil menggerakkan tangannya memukul dahi Hai Hai.
"Hentikannn,..!!"
tiba-tiba terdengar suara bentakan dari angkasa sana.
Fei Yang hanya melirik sekilas, dia tidak memperdulikan kehadiran mereka.
Tangannya tetap menghantam dahi Hai Hai.
"Duakkk,..!"
Sepasang mata Hai Hai, kini benar benar melompat keluar dari sarangnya.
Sepasang matanya yang indah, kini kosong melompong, sedangkan biji matanya yang berdarah' darah.
Kini terlihat tergeletak tidak jauh dari lidahnya yang terpotong tadi.
Tubuh Hai Hai akhirnya tergeletak tak bergerak di atas tanah, perlahan lahan tubuhnya berubah menjadi seekor Rubah putih dengan ekor bercabang 9.
Rubah putih itu terkulai lemah, bersimbah darah di atas tanah.
Tapi nafasnya masih ada, hal itu bisa terlihat dari perutnya yang kembang kempis.
"Sungguh dosa, berani kamu melukai mahluk peliharaan yang mulia kaisar langit..!"
Bentak salah satu dari empat orang berpakaian perang.
Mereka berempat melayang di udara menatap tajam kearah Fei Yang.
Orang pertama yang menegur Fei Yang, adalah seorang raksasa setinggi 4 meter, membawa senjata pedang dan sebuah gelang Kemala di tangan.
Orang kedua di sampingnya juga memiliki tinggi lebih kurang sama, dia bersenjatakan sebuah payung yang di hias mutiara di bagian pinggirnya.
Orang ketiga bersenjatakan sebuah mandolin dengan 4 senar.
Orang keempat bersenjatakan sepasang cambuk di kedua tangannya dengan ujung terikat bandulan kepala kirim emas.
Di belakang mereka di tempat yang lebih tinggi masih terlihat beberapa sosok lain, yang terdiri dari seorang panglima perang, yang memegang menara pagoda emas di tangannya.
Di sebelahnya ada seorang bocah yang bersenjatakan tombak gelang emas dan sepasang kakinya menginjak sepasang roda api.
Orang terakhir juga berpakaian panglima perang wajahnya tampan dan gagah, sepasang matanya bersinar cemerlang, di tengah tengah dahinya ada sebuah mata tambahan.
Dia memegang sebuah tombak cagak 3, di sebelahnya ada seekor anjing hitam.
Mereka semua sedang menatap tajam kearah Fei Yang.
Fei Yang yang tadinya sedikit terkejut, melihat Hai Hai berubah menjadi seekor rubah putih ekor sembilan.
Di tambah dengan kemunculan orang' orang yang mampu melayang bebas di awan.
Tapi setelah mendengar ucapan, salah satu dari keempat raksasa berseragam perang itu.
Fei Yang jadi mengerti, ternyata Hai Hai adalah mahluk peliharaan kahyangan yang lari ke bumi.
Sedangkan 7 orang yang melayang diatas sana, kemungkinan mereka adalah dewa utusan kaisar langit, untuk datang menjemput mahluk itu kembali ke kahyangan.
Fei Yang juga mulai paham kenapa Hai Hai selalu menatap kearah langit penuh harap, saat dia hendak mengesekusinya.
Setelah memahami situasi,
Fei Yang malah bersikap tenang.
Sambil bergandengan tangan dengan Xue Lian, mereka berdua juga ikut terbang melayang di udara, sejajar dengan ke 4 raksasa itu.