PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
FEI YANG SIUMAN


"Ahhh,..! kamu kenapa ikut ikutan,..?"


"Dia masih muda tidak tahu urusan, kenapa kamu malah mengikutinya..? ahh sungguh celaka.."


ucap kakek Wu sambil menatap istrinya dengan tidak puas.


Nenek Yang juga tidak mau kalah, dia berdiri di hadapan kakek Wu sambil bertolak pinggang, dia berkata,


"Ya,.. aku memang tidak tahu urusan,.. kamu yang paling tahu urusan ..!"


"Lalu kenapa kamu mau menikahi aku ? kenapa kamu tidak pergi cari Fu Mei mu di pulau bidadari sana ..!?"


"Dia yang paling pengertian dan tahu urusan..!"


"Ayo Hsia Hsia ikut nenek ke Thian San saja.."


ucap Nenek Yang sambil membalikkan badannya hendak bergerak kearah barat.


"Istri ku tahan,..! kenapa bicara mu jadi melantur kemana mana,? yang kita bahas adalah cucu kita, kenapa jadi melibatkan dia, yang tidak tahu apa-apa ?"


ucap kakek Wu kurang puas dan terlihat kesal.


Nenek Yang menghentikan langkahnya dan berkata,


"Ya,.. anggap saja aku yang bersalah, dia yang selalu benar dan paling pengertian,.. pergilah cari dia..jangan hiraukan aku lagi.."


"Kami keluarga Yang tidak akan mengemis cinta lagi dari keluarga Wu.."


"Putra ku telah pergi,.. kini demi nama dan wajahmu, kamu ingin cucu ku juga ikut pergi, itu tidak akan mungkin terjadi.."


"Maaf aku tidak bisa penuhi keinginan mu.."


"Aku sudah capek dan lelah,..ayo Fei Hsia kita pergi.."


ucap nenek Yang dengan mata berkaca kaca.


Fei Hsia yang masih duduk memangku tubuh Fei Yang, dia terlihat ragu.


Sebentar menoleh kearah kakeknya, sebentar kemudian menoleh kearah neneknya.


Dia tidak menyangka, keputusannya, malah membuat kakek neneknya yang biasanya sangat akur kini jadi bertengkar.


Kakek Wu tertegun mendengar ucapan dan reaksi istrinya yang terlihat sangat terluka dan bersedih .


Dia tidak menyangka istrinya yang biasanya penurut sabar penuh pengertian dan sangat tegar.


Ternyata juga ada sisi yang tak pernah dia perlihatkan dan selalu dia simpan rapat rapat di dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Tiba-tiba kakek Wu merasa sangat bersalah dan menyesal.


Dia bergerak cepat menotok tengkuk istrinya dan berkata,


"Sayang maafkan aku yang kurang memperhatikan perasaan mu.."


"Ayo Fei Hsia, bawalah dia,.."


"Kita pulang, bila ada yang menyalahkan hal ini, biarlah kakek yang akan menanggung semuanya.."


Kakek Wu melesat pergi menuju kearah timur sambil merangkul istrinya.


"Sayang kau maafkanlah aku, aku terpaksa membawa mu pulang dengan cara seperti ini.."


ucap Kakek Wu lembut.


Nenek Yang mengerjapkan matanya, sehingga runtuh lah air bening yang menggantung di pelupuk matanya.


Sesaat kemudian dia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di pundak kakek Wu.


Fei Hsia mengikuti dari belakang, sambil menggendong Fei Yang yang bertubuh tinggi besar di punggungnya.


Meski berat Fei Yang dua kali lipat dari berat tubuhnya sendiri.


Tapi Fei Hsia sama sekali tidak terlihat keberatan.


Dia bisa tetap bergerak gesit hilang timbul di udara, dengan ilmu meringankan tubuh Wu Ying 72 Pian Pu.


Dalam sekejap saja mereka berempat sudah menghilang dari daerah Tai Yuan.


Muncul di daerah Hu Bei, menggunakan kapal layar menyusuri sungai kuning menuju laut timur.


Satu hari satu malam menempuh perjalanan air, Fei Yang akhirnya mulai terbangun dari tidur panjang nya.


Pelupuk matanya mulai bergerak gerak, dan terbuka pelan pelan.


Matanya yang belum terbiasa menerima sinar, merasa sedikit silau.


Fei Yang terus mengerjap ngerjapkan matanya hingga dia bisa sepenuhnya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.


Fei Yang baru mencoba untuk bangun dan melihat keadaan sekitarnya.


"Augggh,..!"


keluh Fei Yang sambil memegangi kepalanya sendiri yang terasa sangat nyeri.


Fei Yang sedikit kaget saat menyadari ada seorang gadis yang berwajah sangat cantik dan lembut.


Sedang tidur dalam posisi duduk, dengan kepala beralaskan lengannya sendiri, dia tidur dengan kepala miring di sisi tempat tidurnya.


"Siapa dia..?"


batin Fei Yang dalam hati.


"Lalu siapa aku,? kenapa aku bisa ada di sini?"


batin Fei Yang mencoba mengingat ingat.


Tiba-tiba di pikiran nya muncul bayangan samar samar lembah di tepi danau yang hancur berantakan.


"Augggh,..!"


Fei Yang kembali menjerit kecil sambil memegangi kepalanya sendiri yang terasa nyeri luar biasa.


"Apa yang sebenarnya terjadi.?" batin Fei Yang penasaran..


Fei Yang mengambil selimut menyelimuti tubuh gadis itu.


Melihat gadis itu bergumam kecil dalam tidurnya, Fei Yang pun tersenyum.


Lalu dia turun dari tempat tidur, mencoba berjalan menuju meja yang letaknya tidak terlalu jauh dari ranjang.


Fei Yang yang merasa haus langsung mengangkat teko air diatas meja.


Tanpa menggunakan cawan, Fei Yang minum langsung dari teko tersebut.


Setelah menghabiskan hampir satu teko air, Fei Yang baru merasa puas dan hilang dahaganya.


Tapi seiring dengan hilangnya dahaga, tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Kriukkk,..! Kriukkk,..! Kriukkk,..! "


Mendengar bunyi suara dari perutnya sendiri, Fei Yang buru buru mengedarkan pandangannya melihat kearah sekitarnya.


Saat mendapati di ruangan itu hanya ada dirinya dan gadis itu yang terlihat masih asyik tidur.


Fei Yang pun bisa bernafas lega, dan tidak perlu merasa malu.


Fei Yang setelah mengedarkan pandangannya, dia lalu dengan hati hati melangkah keluar dari dalam kamar


Keluar dari dalam kamar, Fei Yang menemukan sebuah ruangan lain yang cukup luas.


Ada sebuah meja pendek ditengah ruangan dan di kelilingi oleh beberapa bantal sebagai alas tempat duduk.


Di atas meja ada tersaji berbagai jenis masakan, yang belum tersentuh oleh siapapun.


Dari asap masakan yang masih mengepul, kemungkinan besar semua masakan itu masih baru selesai di masak, langsung di sajikan kemari.


Fei Yang yang melihat di sana tidak ada siapapun, tanpa sungkan dia mengambil sumpit mangkok.


Lalu dia mulai makan sendirian dengan lahap, mengisi perutnya yang sudah sangat lapar.


Setelah selesai terisi dengan kenyang, Fei Yang merapikan sisa makanan di atas meja.


Lalu dia mencoba keluar dari dalam ruangan tersebut.


Begitu keluar dari dalam ruangan, Fei Yang langsung di sapa angin sungai yang segar dan dingin.


Di luar sana terlihat gelap gulita, hanya di hiasi oleh bintang bintang berkelap kelip bertaburan di langit.


Melihat pemandangan di luar sana, Fei Yang sadar dirinya kini berada di atas sebuah kapal layar yang cukup besar.


Baru berjalan dua langkah keluar dari dalam bilik kapal,. Fei Yang langsung mendengar suara teguran yang berasal.dari bagian atas geladak kapal..


"Kamu sudah bangun anak muda,? syukurlah bila sudah bisa bangun.."


ucap kakek Wu yang sedang duduk santai di temani oleh nenek Yang di dekatnya.