
Musashi secara reflek langsung melepaskan Tebasan sinar merah secara vertikal menyambut cahaya sinar emas yang berasal dari energi pedang Xuan Yuan.
"Wussss..!"
Serangan penghalau dari Musashi lewat begitu saja.
Cahaya Emas yang bisa meliuk diudara, menghindari benturan.
Kemudian mengejar cepat kearah Musashi, Musashi buru buru melempar diri menghindar, sambil memalangkan pedang panjangnya untuk melindungi diri.
Tapi Musashi tidak tahu ini adalah jurus unik dari Wu Ming Cien Pu Kitab pedang tanpa nama.
Selama dia masih memiliki keinginan dan ambisi, serangan energi pedang Xuan Yuan, yang di lepaskan oleh Xue Lian.
Tidak akan pernah berhenti mengejarnya, apapun usahanya, sebelum mencapai target serangan jurus itu tidak akan berhenti.
Cahaya pedang emas akhirnya berhasil memaksa Musashi terpojok.
Pedang Musashi yang di lintangkan di depan dadanya tetap gagal menahan energi pedang Xuan Yuan yang melintas melewati perut dan pinggang nya.
Musashi jatuh berlutut di atas tanah dengan kepala botak nya membentur tanah.
Dia terlihat meringkuk diam tak bergerak, hanya darah menggenang membanjir keluar dari perutnya yang terbuka lebar.
Ditempat lain Thian Tu yang terus di kejar kejar oleh energi pedang Xuan Yuan.
Dia mengorbankan jari kelingkingnya, di lewati cahaya tersebut.
Sambil berbaring diam diatas tanah tidak bernafas maupun tidak bergerak.
Dengan cara ini dia berhasil menipu energi pedang yang sudah melesat kembali bergabung dengan pemiliknya.
Xue Lian yang tidak menyadari kelicikan Thian Tu, dia menerima kembali energinya.
Energi itu telah melukai anggota tubuh Thian Tu yang penuh racun.
Menerimanya kembali energi yang terkontaminasi hawa beracun Thian Tu.
Tentu saja Xue Lian langsung keracunan hebat.
Tiba-tiba wajah Xue Lian menghijau, tubuhnya melayang jatuh dari udara.
Xue Lian terlihat kejang kejang di udara dengan mulut mengeluarkan busa putih.
Sepasang matanya mendelik keatas.
Fei Yang yang melihat hal itu sangat kaget, tanpa memperdulikan lawan lawannya.
Dia langsung melesat cepat menyambar tubuh istrinya.
"Lian Mei kamu kenapa..?"
"Lian Mei,.. kamu dengar aku..?"
ucap Fei Yang panik sambil menepuk-nepuk pipi istrinya.
Melihat tidak juga ada respon.
Fei Yang bergerak cepat memberikan beberapa totokkan di tubuh istrinya.
Dia juga dengan gerakan cepat, menjejalkan beberapa pil berwarna pelangi kedalam mulut Istrinya.
Setelah itu, Fei Yang langsung terbang ke angkasa menghilang dari tempat tersebut.
Raja Dewa Utara Zee jatuh terduduk lemas di atas tanah dengan badan penuh luka.
Dia sangat bersyukur Fei Yang pergi secara tiba-tiba, karena istrinya kejang kejang.
Bila tidak hari ini riwayatnya tentu akan tamat.
Fei Yang sudah tidak tahu apa yang sedang di lakukan dan rencanakan oleh musuhnya.
Fokusnya kini cuma satu, menyelamatkan nyawa istrinya.
Setelah terbang cukup jauh meninggalkan arena pertempuran.
Fei Yang akhirnya mendarat di tepi sungai yang berair jernih.
Fei Yang menurunkan Zi Zi yang masih terikat bersama ibunya, juga menurunkan Yun er dari gendongan di punggungnya.
"Ayah Ibu kenapa ?"
tanya Zi Zi yang baru saja bangun tidur.
"Ibu tidak apa-apa kan ayah ?"
"Ibu...ibu...! ibu kenapa ? ibu bangun ibu..!"
teriak Zi Zi dengan airmata bercucuran sambil menggoyang goyang tangan Xue Lian.
"Ibu tidak apa apa nak, kamu tenanglah.."
"Ibu hanya lelah saja.."
ucap Fei Yang berusaha menghibur Zi Zi putri tunggalnya.
"Tapi ibu tidak pernah seperti ini ayah ?"
ucap Zi Zi kurang percaya.
"Zi Zi anak baik tenanglah, ibu memang sedang kurang enak badan, makanya begini.."
"Zi Zi dan Sun Er pergilah kesana, duduk dengan tenang.."
"Baru ayah bisa mengobati ibu mu.."
"Kalau kalian tidak segera cepat kesana ayah akan terlambat menolong ibu mu.."
ucap Fei Yang sambil berusaha meyakinkan putrinya.
Zi Zi masih terlihat berat dan agak ragu, tapi Sun er dengan cepat membimbing dan membujuk Zi Zi agar mau ikut dengan nya, menjauh dari tempat itu.
Agar Fei Yang bisa leluasa dan konsen mengurus penyakit bibinya.
pikir Sun er.
"Ayo Zi Zi, ikutlah dengan kakak kita duduk dan perhatikan saja dari sana.."
"Di sini kita juga tidak bisa bantu apa apa, yuk ikutlah dengan kakak ya.."
Zi Zi menatap Sun er dan berkata,
"Kakak ibu,.. ibu,.. dia tidak akan pergi tinggalkan Zi Zi dan ayah kan..?"
Sun Er membelai kepala Zi Zi dengan lembut dan berkata,
"Tidak,.. Zi Zi harus percaya, dan yakin dengan paman, paman pasti akan berusaha menolong bibi.."
"Ayo kita tunggu di sana ."
ucap Sun Er sambil menggandeng tangan Zi Zi membimbingnya menjauhi Fei Yang.
Sun er mencari sebuah tempat yang nyaman dan rindang, mereka berdua duduk di sana memperhatikan Fei Yang yang terlihat sibuk sendiri.
Di sana dengan hati hati Fei Yang yang memiliki sedikit kemampuan ilmu pengobatan.
Fei Yang membaringkan tubuh Xue Lian di sana.
Lalu dia dengan sangat hati hati, melakukan pemeriksaan dengan teliti terhadap keadaan tubuh istrinya.
Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Fei Yang mulai menggunakan ilmu tusuk jarum, menusuk beberapa bagian tubuh istrinya.
Setelah itu Fei Yang mencoba membantu Xue Lian untuk duduk dalam posisi bersila.
Supaya Xue Lian yang lemas tidak rebah kembali, Fei Yang menggunakan kedua tangannya membantu menahan.
Sebelum dia sendiri duduk bersila sambil menempelkan sepasang tangannya di punggung Xue Lian.
Xue Lian juga terlihat duduk bersila dengan tubuh memunggungi Fei Yang dan kepala tertunduk lemah kebawah.
Seluruh tubuh Fei Yang memancarkan cahaya merah biru yang terang, saat dia berusaha mengobati keadaan istrinya yang keracunan hebat.
Tadi setelah mendapatkan totokan darurat, dan di minumkan pil pelangi anti racun oleh Fei Yang.
Keadaan Xue Lian termasuk tertolong, racun berhasil terkunci di dalam Dan Tian, menyatu dengan hawa murni Tubuhnya yang lain.
Tidak lagi membahayakan organ penting dan aliran darah nya.
Tapi racun belum bisa di bersihkan, karena pil.pelangi tidak mampu menghilangkan.
Tapi hanya bisa di redam sementara daya kerja, dan penyebaran racun tersebut.
Kini Fei Yang mencoba berusaha menggunakan tusuk jarum di padu dengan energi api dan es nya.
Mencoba menetralisir racun di dalam Dan Tian Xue Lian.
Selama Fei Yang bekerja keras, Zi Zi yang melihat keadaan ibunya yang wajahnya pucat pasi dengan nafas lemah.
Dia mengira ibunya mau pergi meninggalkan nya, anak itu terus menangis dan memanggil manggil ibunya.
Akhirnya Zi Zi saking lelahnya tertidur pulas dalam pelukan Yun er.
Keberadaan Yun er sangat membantu, sehingga Fei Yang bisa fokus mengobati Xue Lian.
Semalam suntuk Fei Yang bekerja keras mencoba menggunakan tenaga sakti dan pengetahuan pengobatannya mengobati Xue Lian.
Tapi hasilnya masih jauh dari harapan, menyadari tempat ini bukan tempat aman.
Dia juga tidak bisa sepenuhnya tenang mengobati Xue Lian, karena, bila tiba tiba musuh datang mereka datang kemari, sedangkan dirinya sedang berusaha menolong istrinya, maka bisa dipastikan mereka semua bisa celaka.
Setelah menimbang bolak balik, Fei Yang memutuskan membawa Xue Lian kembali ke Xu San.
Kembali ketempat kedua orang tua nya.
Kembali kesana adalah pilihan paling tepat, di sana selain mereka bisa membantu memberikan perlindungan.
Di sana juga merupakan tempat paling aman, di mana siapapun akan sulit masuk kesana.
Selain itu di Xuan Wu tempat kediaman Li Sian Sian kakak seperguruan nya yang telah meninggal.
Di sana ada tabib dewa Hua Sin dan cucunya Hua Lung yang tinggal di sana.
Hua Sin masih terhitung kakak seperguruan Thian Tu, mungkin dia punya akal.
Berpikir sampai di sana, tekad Fei Yang pun bulat, dia harus segera membawa Xue Lian dan kedua anak itu kembali ke Xu San.
Fei Yang menggendong Xue Lian yang terikat erat di punggungnya, setelah itu tangan kanan menggendong Sun er, tangan kiri menggendong Zi Zi yang masih tertidur ulas kelelahan, karena terlalu banyak menangis.
Dengan cara itulah Fei Yang kembali terbang ke angkasa melesat menuju kearah wilayah pegunungan Kun Lun San.
Hanya dengan melewati wilayah Kun Lun San inilah Fei Yang bisa secepatnya tiba di Xu San.
Setelah terbang melewati deretan pegunungan Kun Lun San, Fei Yang akhirnya melihat lima gunung, yang menjulang tinggi, dengan bagian puncak tertutup awan.
Puncak gunung tertinggi adalah gunung yang terletak di bagian tengah.
Itulah puncak gunung Xu San, yang merupakan tempat kediaman gurunya juga kediaman kedua mertuanya.
Untungnya di sepanjang perjalanan Zi Zi terus tidur, sehingga Fei Yang bisa konsentrasi dengan tujuan nya.
Fei Yang tidak langsung menuju Xu San, dia memutuskan mampir dulu ke puncak Xuan Wu.
Fei Yang mendarat ringan di depan deretan batu gunung yang menjadi pintu rahasia menuju kediaman tabib Hua Sin.
Dengan memutar tombol rahasia di sana, pintu batu gunung pun bergeser.
Sehingga Fei Yang bisa masuk melewati celah yang membawanya menuju tempat kediaman Tabib Hua, di mana dulu sekali tempat ini adalah tempat kakak seperguruan nya, Li Sian Sian menyepi dan berlatih.
Begitu tiba di tempat itu, Fei Yang melihat tidak ada yang berubah.
Semua tetap terlihat sama seperti semula.
Sedikit berbeda hanya kini di sana banyak di tanami tumbuh tumbuhan obat obatan.
Kedatangan Fei Yang langsung di sambut seorang pemuda, yang menggendong keranjang obat di punggung.
Sekali lihat Fei Yang langsung mengenali pemuda itu adalah Hua Lung cucunya tabib Hua Sin.
Hua Lung menatap Fei Yang dan rombongannya dengan tatapan mata heran,
"Tuan ini siapa ? kenapa bisa sampai kemari .?"
"Apa yang tuan cari di sini..?"
tanya Hua Lung hati hati.
"Lung Er kamu lupa dengan ku ?"
tanya Fei Yang sambil menurunkan Sun Er dan Zi Zi dari pondongan nya.
Lalu Fei Yang menyingkap rambut putih yang menutupi sebagian wajahnya.
Sun Er dan Zi Zi menatap kearah Hua Lung dengan heran.
Terutama Zi Zi, dia sedikit bingung, karena begitu bangun kini malah sudah ada di tempat ini.
"Kakak kita di mana ? bagaimana dengan Ibu..?"
tanya Zi Zi sambil menatap kearah Yun er dengan penuh tanda tanya.
Sun er tersenyum sabar membelai kepala Zi Zi dan berkata,
"Bibi tidak apa-apa, paman membawa kita kemari, untuk mencari tabib yang bisa menyembuhkan bibi seperti sedia kala.."
"Jadi ayah belum berhasil menolong ibu..?"
tanya Zi Zi dengan wajah cemas seperti akan menangis lagi.
Sun er sambil menghela nafas panjang, mengangguk kecil dan berkata,
"Zi Zi tenanglah jangan menangis, Zi Zi harus percaya paman sedang berusaha..
Zi Zi akhirnya mengangguk lesu, tidak banyak bertanya lagi.
Lung Er menatap Fei Yang lekat lekat sesaat kemudian dia berkata,
"Kak Fei Yang kah ? kenapa dengan rambut kakak ?"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Ceritanya panjang Lung Er, di mana kakek mu ?"
'Aku sedang memerlukan dia, untuk menolong istri ku, yang sedang keracunan."
"Ohh begitu ya,..ayo kak kita masuk kedalam pondok.."
"Kakek ada di dalam sana sedang meracik dan meneliti obat obatan."
ucap Lung Er menjelaskan dengan gembira.
Dia menarik tangan Fei Yang , mengikutinya masuk kedalam pondok.
Fei Yang sambil melangkah mengikuti Lung Er, dia menoleh kearah Sun er dan berkata,
"Sun er Zi Zi kalian tunggu di depan sini saja, jangan sembarangan berkeliaran."
"Paman kedalam dulu sebentar.."
ucap Fei Yang berpesan.
"Baik paman, Sun er akan temani Zi Zi menunggu di sini.."
Fei Yang mengangguk kecil dan berkata,
"Terimakasih Sun er.."
Setelah itu Fei Yang pun buru buru menyusul Lung Er masuk kedalam pondok, sambil menggendong Xue Lian yang belum juga sadarkan diri ikut masuk kedalam sana.
Tabib Hua Sin yang sedang menganalisa campuran obat obatan herbal di hadapannya.
Dia langsung menghentikan kegiatannya, menatap kearah Fei Yang dengan heran.
Sesaat kemudian dia pun berkata dengan kaget,
"Kamu Fei Yang kan ? ada apa dengan rambut mu..?"
"Cerita nya panjang, nanti saja ku ceritakan.."
"Saat ini yang terpenting, tabib Hua bantulah istri ku dulu.."
"Dia terkena racun dari Thian Tu adik seperguruan tabib Hua, yang kini bekerja pada pangeran Tolui dari Mongolia.."
Kakek Hua Sin sedikit terkejut mendengar penjelasan Guo Yun.,
Dia buru buru maju memeriksa keadaan Xue Lian.
Beberapa saat kemudian dia menatap kearah Fei Yang dan berkata,
"Menolongnya bukan tidak bisa, tapi ini akan menjadi sulit, karena dia hawa murni nya, telah terkontaminasi racun panca warna, yang sangat jahat dan ganas."
"Aku akan mencoba membantunya dengan ramuan obat dan tusuk jarum, tapi untuk bisa bekerja dengan maksimal.."
"Aku memerlukan orang yang memilki tenaga sakti jauh lebih kuat dari nya.."
"Tapi permasalahannya adalah hawa murni istri mu ini sangat tidak biasa.."
"Bukan sembarangan orang bisa membantu mengatasinya.."
"Karena orang yang memilki kekuatan diatasnya, kurasa agak jarang ada.."
"Itu akan menjadi semakin sulit, setelah dia sembuh, dia ada kemungkinan, akan kehilangan sebagian besar hawa murninya.."
"Sedangkan orang yang menolongnya, ada kemungkinan akan kehilangan seluruh hawa murninya.."
"Atau dengan kata lain penolongnya ada kemungkinan akan menjadi orang cacat atau orang tidak berguna.."
"Dia akan berubah menjadi orang biasa yang tidak memiliki kemampuan berkultivasi lagi."
ucap Tabib Hua Sin mengemukakan efek samping dan resikonya.