
Nan Thian berjalan memasuki Gua tersebut, dia tidak masuk terlalu dalam.
Di saat pikirannya sedang kalut dan kacau, akibat perjumpaan terakhirnya tadi dengan Zi Zi dan Li Sun.
Tanpa Nan Thian sadari, dia malah berbelok masuk kedalam Gua ini, lalu duduk diam bersila di sana seperti patung.
Di hari ketiga, saat pikiran Nan Thian sudah jauh lebih tenang dan ingin meninggalkan tempat tersebut.
Dia justru merasakan kesibukan di luar Gua, tepatnya di portal cahaya dimensi.
Nan Thian yang mengira ada tamu tak di undang datang berkunjung.
Dia dengan hati hati, mencoba melihat keluar sana.
Tapi saat melihat yang sibuk mondar mandir adalah Fei Yang, Fei Hsia, Li Sun.
Mereka terlihat keluar masuk pintu portal secara bergantian.
Nan Thian pun menjadi lega.
Tapi kesibukan mereka sedikit mengundang penasaran Nan Thian, untuk mengamatinya lebih lanjut.
Saat melihat Fei Yang membawa dupa lilin merah besar dan berbagai pernak pernik berwarna merah.
Fei Hsia juga begitu, Li Sun juga melakukan hal yang sama.
Nan Thian pun tersenyum pahit, dan kembali duduk bersemedi.
Dia sadar yang sedang mereka persiapkan adalah, peralatan dan perlengkapan sembahyang, serta semua yang berhubungan dengan acara pernikahan.
Nan Thian didalam hati sudah bisa menebak, semua peralatan itu untuk pernikahan siapa.
Tapi hati kecilnya kini menjadi sangat tidak tenang, penasaran, dia ingin melihat nya secara langsung.
Meski dia tahu hal itu akan membawa dampak luka di hatinya menjadi semakin dalam.
Tapi dia tetap ingin melihat dan memastikannya secara langsung Hatinya terus membujuk nya untuk melihat yang terakhir kalinya.
Nan Thian yang tidak berhasil mengalahkan keinginan hati kecilnya.
Akhirnya hanya bisa diam pasrah, menanti semuanya berlangsung.
Di hari keempat dan kelima kesibukan terlihat semakin menjadi jadi.
Bahkan di hari ke 6 Xue Lian terlihat di bawa naik menuju puncak Yu Ni Feng.
Tak lama kemudian Zi Zi, yang dalam balutan pakaian merah lengkap dengan penutup kepala kain merah.
Juga ikut di bawa naik kepuncak Yu Ni Feng, kini sadarlah Nan Thian rupanya acara pernikahan di selenggarakan di pondok bekas tempat tinggal nya di puncak Yu Ni Feng.
Mungkin kedepan nya, tempat itu akan menjadi kediaman baru bagi sepasang pengantin baru itu.
pikir Nan Thian dalam hati sambil tersenyum pahit.
Saat semua orang di atas sana sedang sibuk, Nan Thian mengambil jalan memutar, naik keatas puncak Yu Ni Feng.
Kemudian dia bersembunyi di balik hutan bambu, yang tumbuh di tepi kolam, yang menjadi sumber mata air di puncak tebing Yu Ni Feng.
Dari sana Nan Thian bisa melihat dengan jelas semua prosesi pernikahan tersebut.
Meski acaranya di lakukan dengan sederhana tapi cukup meriah.
Semua orang terlihat bahagia dan bergembira, kecuali sang pengantin wanita sendiri.
Dari kepala hingga kewajah tertutup kain merah, sehingga Nan Thian sama sekali tidak bisa melihat ekspresi wajah mantan kekasihnya itu.
Prosesi acara sembahyang langit dan bumi, pemberian hormat kepada orang tua, hingga sepasang pengantin saling memberi hormat.
Semuanya terlihat berjalan dengan lancar, hingga akhirnya sepasang pengantin diantar masuk kedalam kamar.
Tak lama kemudian Fei Yang, Xue Lian, Fei Hsia dan si kembar terlihat meninggalkan tempat tersebut, kembali kekediaman mereka.
Hujan gerimis perlahan-lahan mulai turun dari langit jatuh membasahi bumi.
Sekaligus membasahi Nan Thian, yang terlihat berdiri diam di balik hutan bambu.
Nan Thian akhirnya dengan langkah ringan keluar dari tempat persembunyiannya.
Tanpa menghiraukan air hujan yang semakin lama semakin deras mengguyur kepala hingga seluruh tubuhnya.
Nan Thian terus menatap kearah jendela kamar itu, yang di terangi oleh penerangan Lilin merah pengantin, dari dalam kamar.
Dari posisinya, Nan Thian bisa melihat dengan jelas bayangan sepasang pengantin baru, didalam sana.
Mereka terlihat sedang duduk berdampingan.
Nan Thian terus berdiri diam di luar sana, tanpa memperdulikan keadaan dirinya yang sudah basah kuyup, di guyur hujan deras.
Dia terus menatap kearah jendela, dimana bayangan pasangan pengantin itu berada, dengan perasaan hancur remuk redam.
Airmata nya yang mengalir turun dari sepasang matanya, bercampur dengan air hujan.
Hingga sulit di bedakan lagi mana air hujan, mana air mata.
Saat kedua bayangan itu terlihat rebah kebawah menghilang dari pandangan nya, cahaya penerangan pun dipadamkan dari dalam.
Nan Thian memejamkan matanya yang basah hatinya serasa diremas remas melihat pemandangan itu.
Ini adalah kali keduanya, dia harus merelakan dan kembali melepaskan orang yang dia cintai ke orang lain.
Kali ini adalah yang paling menyakitkan, yang pertama adalah gadisnya yang meninggalkan nya.
Tapi yang ini dia lah yang menyerahkan gadisnya ke pelukan orang lain demi baktinya.
Sakit yang dia rasakan saat ini, sungguh sulit di lukiskan.
Dengan sedikit menengadah keatas, Nan Thian melepaskan suara tangisan kesedihan nya, yang tertutup oleh suara deras nya hujan.
Nan Thian membuka mulutnya lebar-lebar, menerima air hujan yang masuk kedalam mulutnya hingga penuh dan menelannya.
Seolah olah ingin menelan dan membersihkan seluruh luka dan sakit di hatinya.
Sesaat kemudian sambil menghela nafas sedih, Nan Thian dengan langkah sempoyongan, di sertai batuk batuk kecil.
Nan Thian memegangi dadanya, yang terasa nyeri bukan main, dia berjalan pelan meninggalkan tempat tersebut.
Dalam perjalanan menuruni puncak Yu Ni Feng, Nan Thian harus beberapa kali, terpaksa menghentikan langkahnya.
Dia harus berpegangan pada pohon besar di hadapannya, agar tidak terguling roboh, saat dari mulutnya menyemburkan darah segar, yang cukup banyak.
Saat Nan Thian berhasil keluar dari Cang Lung Lin, dia telah berubah menjadi seorang baru yang sulit di kenali lagi.
Dia bagaikan orang berbeda, yang baru terlahir kembali, terkadang tertawa sendiri, terkadang menangis.
Seluruh rambutnya yang biasanya selalu tersanggul rapi, kini telah terlepas dibiarkan riap riapan, menutupi wajahnya yang tampan, tapi terlihat menyedihkan.
Rambutnya yang tadinya hitam, kini sebagian telah berubah menjadi putih seperti benang perak.
Pakaian birunya yang biasanya bersih terawat, meski bukan terbuat dari bahan mahal indah dan mewah.
Kini terlihat basah kuyup bercampur dengan noda darah nya sendiri.
Sepasang matanya yang biasanya selalu tenang bersinar lembut, kini terlihat berputar putar liar.
Dengan langkah gontai Nan Thian terus melangkah, sambil tertawa dan menangis sendiri.
Hingga akhirnya tubuhnya tidak sanggup lagi bertahan, dia terjungkal jatuh tergeletak pingsan tidak sadarkan.
Saat Nan Thian pingsan tidak sadarkan diri, Kim Kim pun melayang turun dari udara.
Dia membantu menaikkan Nan Thian ke punggungnya, kemudian dia melayang ke udara meninggalkan tempat tersebut.