
Sesaat kemudian terlihat tabib Hua sedikit terburu-buru mengikuti Fei Yang kembali ke pondoknya.
Nan Thian dan yang lainnya ikut menyusul di belakang Hua Lung.
Tabib Hua setelah tiba di dalam pondok, dia terlihat melakukan pemeriksaan dengan teliti.
Mulai dari denyut nadi di pergelangan tangan, hingga lidah, mata, baru di lanjut dengan menyentuh dan mengetuk bagian tempurung lutut dan mata kaki Xue Lian.
Beberapa saat kemudian dia baru menghela nafas panjang dan berkata,
"Semua berjalan normal, hanya sepasang kaki nyonya butuh waktu penyesuaian hingga bisa berjalan secara normal lagi.."
"Akan berlangsung berapa lama tabib Hua ?"
tanya Xue Lian terlihat gelisah.
Tabib Hua tersenyum lembut dan berkata,
"Tidak akan lama, yang penting nyonya harus selalu percaya diri dan tetap bersemangat.."
Selesai berkata, dia pun beranjak keluar dari dalam ruangan.
Saat melewati Fei Yang dia memberi kode mata agar Fei Yang mengikutinya keluar dari dalam kamar.
Fei Yang mengerti, dia menoleh kearah Xue Lian dan berkata,
"Istri ku, Zi Zi sudah kembali, kalian ngobrol lah dulu.."
"Aku mengantar tabib Hua kedepan dulu.."
Xue Lian mengangguk pelan, lalu menoleh kearah Zi Zi dan kedua putra kembarnya.
"Kalian bertiga kemarilah, biar ibu lihat dari dekat.."
ucap Xue Lian sambil membentangkan kedua tangannya lebar lebar dan tersenyum haru.
Zi Zi dan Si kembar langsung bergegas maju memeluk ibunya secara berganti gantian.
Sementara mereka ibu dan anak sedang melepas kangen, Nan Thian Fei Hsia dan Kim Kim mengikuti Fei Yang menemani tabib Hua dan cucu nya keluar dari dalam pondok.
Saat berada di tempat yang cukup jauh dari pondok, tabib Hua menghadap kearah Fei Yang dan berkata,
"Pengobatan sudah selesai, dia bisa kembali pulih berjalan atau tidak.."
"Itu semua bergantung dari dirinya sendiri dan bantuan perhatian kalian.."
"Kalian bisa membantunya mencoba berjalan dan berjemur terutama sinar matahari jam 9 pagi Hingga jam 10 siang."
"Itu akan sangat membantu proses pemulihan nya ."
"Dalam hal ini, sebagai tabib aku sudah maksimal, aku hanya bisa sampai di sini saja.."
"Satu hal lagi, dalam keadaan darurat kemampuan istri mu yang terkunci bisa di buka kembali.."
"Bahkan kekuatan nya bisa meningkat dua kali lipat, begitu pula seluruh kondisi kesehatan nya, akan pulih total, hingga mencapai titik puncak maksimal."
"Kamu bisa tusukan jarum ini di titik Bai Hui, titik Zhi Yang dan titik Zhi Yin.."
"Semua harus di lakukan secara serentak, di tiga titik itu dengan kedalaman jarum 5 Cun.."
"Tapi efek sampingnya, umurnya hanya bisa bertahan tiga bulan."
ucap Tabib Hua menjelaskan.
Fei Yang mengangguk mengerti. meski dia tahu dan paham di mana dan cara menusukkan jarum ke ketiga titik yang di sebut oleh tabib Hua.
Dia tidak mungkin akan melakukannya pada istri tercintanya.
Titik Bai Hui terletak di ubun ubun kepala, titik Zhi Yin berada di telapak kaki bagian depan.
Sedangkan titik Zhi Yang terletak di bagian atas ruas tulang belakang keempat, bila di hitung dari ruas tulang belakang paling bawah.
Hal ini baik Nan Thian Kim Kim maupun Fei Hsia yang berdiri di samping Fei Yang, mereka paham letak titik tersebut.
Selesai berkata tabib Hua melanjutkan langkahnya menuju pondok kediaman sementara nya.
Sebelum masuk kedalam pondok, tabib Hua membalikkan badannya dan berkata,
"Nona Kim Kim bersediakah kamu besok pagi mengantar kami berdua, kembali ke puncak Xuan Wu..?"
Kim Kim sambil nyengir berkata,
"Kalau mengantar tidak masalah tabib, tapi kalau menjadi cucu mantu mu, aku ogah.."
"Kalau jadi istri paman tampan ini aku...."
Saat di depan Fei Yang, berdiri menghadang Fei Hsia yang menatap Kim Kim dengan dingin.
"Percaya tidak, kalau aku masih mampu menyegel mu dan mengirim mu pergi ke tempat leluhur ku Wu Song berada."
Kim Kim langsung meletakkan lidahnya, tidak berani lanjut bicara.
Dia menarik lengan baju Nan Thian dan bergumam pelan,
"Kakak aku di tindas orang kenapa kakak diam saja..?"
Nan Thian sambil menahan tawa, berbisik,
"Makanya jaga mulut mu, jangan mencari susah sendiri.."
Kim Kim mencibir kearah Nan Thian, lalu sambil mundur menjauh dia mencibir kearah Fei Hsia dan berkata,
"Nenek peot, siapa takut dengan nenek tak laku seperti mu.."
"Wekkk..!"
ucap Kim Kim sambil menarik pelupuk mata kanan bawah nya, lalu menjulurkan lidah meledek Fei Hsia.
"Kau..!"
bentak Fei Hsia dingin, lalu dia hendak mencabut suling giok nya.
Tapi tangannya keburu di tahan oleh Fei Yang dengan lembut dan berkata,
"Adik Hsia tak perlu di tanggapi ucapan gadis kecil itu.."
"Dia memang sudah bawaannya seperti itu.."
Fei Hsia seketika reda kemarahan nya, begitu tangan nya di sentuh lembut oleh Fei Yang.
Bara api di ubun ubun nya, seolah olah tersiram oleh air es, seketika padam.
Dengan wajah tertunduk malu dia berkata,
"Maaf kakak Yang,.. sudah tua masih tidak bisa mengontrol emosi.."
Fei Yang tersenyum lembut dan berkata,
"Kamu tidak terlihat tua sama sekali, ayo kita kembali ke pondok menemui Xue Lian.."
Fei Hsia mengangguk pelan dengan kepala tertunduk dan wajah merah padam.
Sepasang mata nya bersinar gembira, saat mendengar ucapan Fei Yang yang tulus dan sangat menenangkan hatinya.
Fei Hsia akhirnya mengikuti langkah Fei Yang kembali ke pondok.
Sedangkan Nan Thian yang tidak mau Kim Kim pergi menganggu.
Dia bergerak menuju pondok baru untuk meneruskan membuat perkakas untuk mengisi bagian dalam pondok.
Seperti meja kursi lemari tempat tidur, semua itu dia belum sempat membuatnya.
Xue Lian saat melihat kedatangan Fei Hsia dan suaminya, dia tersenyum lembut kearah Fei Hsia.
"Adik Fei Hsia, lama tidak bertemu kamu semakin cantik saja.."
"Terimakasih kamu sudah menjaga melindungi merawat dan membesarkan putri ku Zi Zi.."
"Kami benar benar banyak berhutang Budi pada mu.."
ucap Xue Lian setulus hati.
Fei Hsia tersenyum canggung dan berkata,
"Kakak Lian tak perlu berkata seperti itu, Zi Zi anak yang baik, dia adalah murid ku.."
"Sebagai gurunya, sudah semestinya aku menyayanginya, dan melindunginya semampu saya bisa ."
"Kakak tidak usah berpikir terlalu banyak, saat ini yang penting kakak bisa segera pulih kembali, Itu sudah lebih dari cukup."
"Kami di sini semua, siap membantu kakak pulih kembali.."
ucap Fei Hsia sambil maju duduk di samping Xue Lian.
Kedua wanita itu saling pandang sejenak, seperti menemukan kesepakatan di mata masing masing.
Mereka berdua secara otomatis maju saling berpelukan, lalu sama sama tersenyum bahagia, dengan airmata membasahi pipi mereka masing-masing.
Fei Yang hanya bisa berdiri tersenyum sambil merangkul bahu kedua putra kembarnya.