
Ribuan cahaya pedang putih meluncur deras menghampiri Fei Yang.
Di depan tubuh Fei Yang, secara otomatis muncul sebuah diagram berbentuk Pat Kwa merah dan biru.
Seluruh cahaya pedang putih yang datang dari membentur diagram Pat Kwa merah biru, langsung tersedot masuk kedalam pusaran tenaga alam semesta.
Setelah energi ribuan pedang putih habis tersedot kedalam pusaran Pat Kwa.
Diagram Pat Kwa merah biru, ikut hilang tanpa bekas.
Fei Yang lalu bergerak melepaskan dua tebasan di udara, dua energi tanpa wujud melesat kearah Lin Hsia.
Lin Hsia yang tidak menyadari ada kekuatan dahsyat sedang bergerak menghampirinya.
Begitu dia melihat energi pedang nya tidak berhasil mengalahkan Fei Yang.
Lin Hsia sendiri langsung bergerak memberikan serangan susulan.
Di mana seluruh tubuhnya langsung menyatu dengan pedang sinar putih, kemudian membentuk satu titik garis lurus.
Meluncur kearah Fei Yang, seperti mata Bor, tubuh Lin Hsia berputar-putar cepat di udara, sambil terus meluncur cepat kearah Fei Yang.
Tapi gerakan Lin Hsia tiba tiba berhenti di udara, tubuhnya tertahan diudara, kemudian dipentalkan oleh energi tanpa wujud yang sangat kuat.
"Aaiihh,...!!"
jerit Lin Hsia tertahan karena kaget.
Tubuhnya langsung terpental mundur puluhan meter kebelakang.
tidak sanggup menahan daya dorong energi tanpa Wujud yang sangat kuat.
Lin Hsia terpaksa melakukan salto di udara, untuk mematahkan kekuatan daya dorong itu.
Setelah posisinya sudah kembali stabil, tiba tiba sekitar tubuh Lin Hsia mengeluarkan cahaya pelangi yang berwarna warni.
Cahaya pelangi ini, kemudian membentuk sebuah pedang bercahaya pelangi, berputaran di sekitar tubuh Li Hsia.
Sebelum akhirnya melesat kearah Fei Yang dengan kecepatan, yang menimbulkan seberkas cahaya yang terdiri dari 7 warna, yang membentuk sebuah garis memanjang di udara.
Melihat serangan tersebut Fei Yang juga melepaskan serangan Naga Es dan Phoenix api bersatu menuju keabadian.
Seekor mahluk aneh berkepala naga es bertubuh Phoenix api, melesat menyambut gadis itu di udara.
Terjadi ledakan dahsyat di udara,.saat kedua kekuatan raksasa bertemu.
Fei Yang terhuyung-huyung mundur dengan langkah tidak teratur.
Sedangkan gadis itu tubuhnya kembali terpental ke udara, untuk mematahkan tenaga dorongan dari Fei Yang.
Gadis itu terpaksa kembali bersalto diudara.
Tapi akibat dari benturan keras yang terjadi sekali ini, cadar dan gulungan rambut Lin Hsia terlepas.
Rambut Lin Hsia terlihat berkibar-kibar tertiup angin, tubuhnya yang sedang melayang di udara tiba-tiba bermandikan cahaya pelangi yang turun dari langit.
Di tengah tengah dahi gadis itu, juga muncul sebuah cahaya pelangi, yang sangat menyilaukan.
Seiring dengan teriakan keras melengking dari gadis tersebut, sebuah pedang cahaya pelangi raksasa, langsung ditebaskan dari atas kebawah mengarah ke Fei Yang.
Di susul dengan seberkas sinar pelangi yang berasal dari dahi gadis tersebut, menembak kearah Fei Yang bagaikan sinar laser.
Fei Yang yang sempat terpesona oleh kecantikan wajah gadis bercadar itu, langsung tersadar.
Begitu dia melihat tubuh gadis itu, tiba-tiba bermandikan cahaya pelangi dari langit.
Fei Yang yang sadar dari keterpesonaannya, segera mengerahkan seluruh kekuatan api dan es semesta nya.
Untuk menyambut serangan pedang pelangi gadis itu,.dua garis cahaya merah biru membentuk bayangan pedang api dan es raksasa melesat ke atas, secara menyilang.
Untuk menangkis, sekaligus terus melesat untuk menggunting tubuh gadis itu, yang sedang melayang di udara.
Benturan dahsyat kembali terjadi di udara, kekuatan tenaga benturan yang dahsyat, membuat gunung tempat mereka bertempur berguncang hebat.
Cahaya tebasan pedang pelangi berhasil di patahkan oleh bayangan pedang api dan es semesta.
Tapi pergerakan bayangan pedang Api dan Es tertahan oleh sinar pelangi, yang berasal dari dahi gadis tersebut.
Fei Yang yang melihat hal itu dari bawah, segera melepaskan tenaga dorongan tambahan.
Sehingga kedua bayangan pedang api dan es, yang sempat tertahan di udara.
Kini meluncur deras membelah cahaya pelangi menjadi dua dan terus melesat kearah Lin Hsia.
Lin Hsia sangat kaget saat melihat serangan Fei Yang berhasil membelah cahaya yang berasal dari dahinya.
Kini serangan Fei Yang sedang bergerak cepat mengarah ke dirinya langsung.
Untuk sesaat dia terpaku, tidak tahu harus berbuat apa, ingin bergerak menghindar pun tidak bisa.
Karena serangan Fei Yang kali ini, telah mengunci pergerakan nya, dengan tekanan kekuatan tak terlihat.
"Ahhh,..!!"
tanpa sadar dia hanya bisa berteriak kaget dengan wajah pucat.
Sambil berusaha menyilangkan kedua lengannya didepan wajah.
Saat Fei Yang menyadari gadis itu, sudah tidak sanggup menghadapi serangan nya.
Semua sudah terlambat,
Fei Yang sendiri tidak berhasil menarik atau pun membelokkan arah serangannya.
Dia hanya bisa diam terpaku di tempat, menunggu hasil mengerikan tubuh terpotong dua.
Di saat kritis, tiba-tiba di depan gadis itu muncul seorang kakek dan nenek tua.
Pasangan tua itu mengibaskan tangan mereka kedepan menyambut bayangan pedang es dan api.
Serangkum angin kuat yang mengeluarkan cahaya pelangi, bergerak dari dua arah menyambut bayangan pedang Api dan Es.
Bayangan pedang api dan es, tergulung oleh kekuatan dahsyat itu, lalu di alihkan menghantam kearah lain.
Kekuatan Bayangan pedang Api dan Es yang teralihkan ketempat lain, menghantam sebuah tebing di puncak gunung lainnya.
Tebing tersebut langsung meledak, menimbulkan garis menyilang yang sangat dalam di tebing tersebut.
"Fei Fei,.. apa kakek bilang,..!!"
"Tapi kamu selalu tidak mau dengar, kini lihat,.. sedikit saja kami berdua datang terlambat.."
"Tubuh mu pasti sudah terbelah seperti tebing itu.."
"Ayo ikut kami pulang..!!"
"Tapi kakek aku masih,.."
jawab gadis itu ingin membantah.
Tapi sebelum dia sempat menyelesaikan kata katanya, dia keburu mengaduh.
"Aduh nek,..! sakit,..! nek ampunn,..!"
jerit Lin Shia tertahan.
"Gadis bandel, keras kepala, sekarang baru tahu sakit..!'
"Ayo pulang,..!"
ucap nenek itu sambil mengangkat rotan ditangannya menggantung di udara.
"Kakek mu terlalu memanjakan mu, jadinya begini..!'
"Masih berani mencoba membantah, lihat bagaimana nenek menghajar mu..!"
ucap nenek itu sambil mempelototi Lin Hsia dengan galak.
"Ba,..Baik nek,..Fei Hsia akan ikut nenek pulang.."
ucap gadis itu ketakutan, sambil mengelus-elus bokong dan lengannya yang terasa perih dan sakit.
Kakek itu melayang turun dengan ringan berdiri di hadapan Fei Yang dan berkata,
"Pendekar muda, bila ada perbuatan cucu ku yang kurang sopan.."
"Aku sebagai kakeknya mewakilinya, mohon maaf pada mu.."
Fei Yang buru buru menjura kearah kakek itu dan berkata,
"Senior terlalu sungkan, ini cuma salah paham saja..bukan masalah besar."
Adalah Fei Yang yang ceroboh, bisa melepaskan serangan, tapi tidak bisa mengendalikannya.."
"Fei Yang hampir saja menimbulkan petaka..untung senior datang tepat waktu.."
"Sehingga petaka itu bisa di hindari.."
ucap Fei Yang sambil membungkukkan badannya dalam di hadapan kakek itu.
Kakek itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut, lalu berkata
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, sampai jumpa.."