
"Kakak jawab aku.."
ucap Zi Zi dengan airmata bercucuran.
"Zi Zi tiada yang lebih ku sayangi dan cintai selain kamu.."
"Kamu adalah matahari dalam hidup ku, setelah dia pergi.."
"Tak perlu ku katakan kamu pun pasti tahu.."
"Hanya Tuhan yang tahu betapa aku juga sangat tidak ingin pergi menjauh dari mu.."
"Tidak bersama mu, hari ku kedepannya adalah kegelapan yang tersisa.."
"Tapi aku saat ini bisa bagaimana, selain menerima keputusan ayah mu.."
"Beliau adalah orang yang paling ku hormati melebihi kedua orang tua ku, bagaimana mungkin aku bisa melawan keputusannya.."
ucap Nan Thian penuh perasaan, sayangnya dia adalah Nan Thian.
Nan Thian yang tidak pandai bicara, apa yang terucap itu semua hanya bisa tersimpan di dalam hati nya.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya selain kata,
"Maafkan aku Zi Zi,.."
"Semua ini salah ku,.."
"Bila kamu ingin marah, kesal, benci, ke aku saja.."
"Aku pantas untuk itu.."
ucap Nan Thian pelan dengan kepala tetap tertunduk.
Sedikitpun tidak berani beradu tatap dengan Zi Zi, dia sadar sekali menatap mata Zi Zi, dia tidak akan kuat menolak apapun permintaan gadis itu padanya.
Zi Zi terlihat terus menggelengkan kepalanya dan terus bergumam pelan sambil terisak,
"Tidak,..tidak..tidak..tidak boleh begitu.."
"Aku tidak mau.."
"Ini jelas tidak benar.."
gumam Zi Zi dengan airmata yang membanjir semakin deras.
Dia terlihat benar benar sangat menyedihkan, gadis manja cantik dan periang itu, seketika berubah menjadi terlihat menyedihkan.
Sayangnya semua ini, sama sekali tidak terlihat oleh Nan Thian, yang terus menatap kearah pecahan piring dan mangkok.
Sama seperti hati dan perasaan nya yang pecah hancur berkeping-keping.
Sentuhan lembut di bahu Zi Zi oleh Hong Yi seketika membuat bendungan yang sedari di tahan kini jebol.
Zi Zi langsung berbalik menubruk kedalam pelukan Hong Yi.
Hanya kata ini yang keluar,
"Bibi..."
"Hu..hu..hu...hu...hu..hu...!"
Pecahlah tangis keras Zi Zi yang sebelumnya selalu dia tahan tahan.
Kini sama sekali tidak mampu dia tahan lagi, Zi Zi menangis sejadi jadinya sambil memeluk Hong Yi erat erat melepaskan semua kesedihannya dalam suatu tangis panjang.
"Anak baik menangis lah, keluarkan semua, bila itu bisa membuat mu lega.."
ucap Hong Yi pelan sambil terus membelai rambut dan kepala Zi Zi dengan lembut.
Hong Yi juga tidak bisa menahan airmata nya sendiri yang ikut runtuh.
Dia sangat menyukai juga menyayangi Zi Zi yang sudah dia anggap sebagai putrinya ini.
Kejadian tragis ini siapapun tidak ada yang menghendaki.
Sebagai seorang ibu dia jelas tahu, meski putranya tidak berkata apa-apa.
Putranya sebenarnya tidak kalah sedih di bandingkan dengan Zi Zi, hanya saja dia tidak pandai mengungkapkan nya saja.
Semua dia tahan di dalam hati nya, hal ini justru yang jauh lebih mengkhawatirkan dan berbahaya ketimbang orang yang bisa mengungkapkan perasaan sedih nya.
Putranya seperti sedang memendam dinamit, kapan pun saat meledak akan menghancurkan semua nya, termasuk dirinya sendiri.
Nan Thian yang sedang tertunduk, perlahan-lahan melihat bayangan iblis hatinya sendiri yang sedang tertawa mengejeknya.
"Dasar bodoh, buat apa kamu bersusah hati, bawa tiduri dia..bila hamil ayahnya bisa apa ?"
"Jantan lah sedikit, jangan hanya bisa bersedih seperti betina saja.."
ucap Iblis hati itu lewat pikiran Nan Thian.
Nan Thian memejamkan matanya fokus konsentrasi mengedarkan energi panca warna nya, hingga bayangan itu akhirnya lenyap.
Dia baru membuka kembali matanya.
Baru saja dia membuka matanya, dia langsung mendengar suara panik ibunya.
"Zi Zi bangun,..ahh dasar gadis bodoh..mengapa jadi begini.."
"Thian Er cepat bantu ibu,..Zi Zi pingsan..cepat.."
ucap Hong Yi sedikit panik, sambil memeluk dan menepuk nepuk pipi Hong Yi yang terlihat pucat pasi.
Nan Thian dengan cepat maju memondong tubuh Zi Zi, lalu dengan langkah buru buru, dia memondong tubuh Zi Zi masuk kedalam kamar nya.
Setelah membantu Zi Zi duduk bersila diatas tempat tidurnya, dengan gerakan cepat Nan Thian menotok beberapa titik penting, di bagian belakang punggung Zi Zi.
Lalu Nan Thian sendiri ikut duduk bersila di belakang punggung Zi Zi, Nan Thian mengurut punggung Zi Zi sambil menyalurkan hawa Api Surgawi untuk menetralisir.
Kekuatan 9 Yin Zi Zi yang bergerak liar, menyerang pemiliknya sendiri.
Zi Zi memang mewarisi Ilmu Ciu Yin Cen Cing dari Fei Hsia, yang merupakan salah satu ilmu rahasia keluarga pulau pelangi,
Khusus di latih oleh murid wanita.
Sesaat kemudian setelah hawa 9 Yin berhasil di jinakkan oleh Api surgawi, tubuh Zi Zi yang dingin membeku.
Kembali hangat dan normal kembali, perlahan-lahan Zi Zi pun membuka kembali sepasang matanya.
Saat dia menoleh kebelakang menyadari siapa yang telah menolongnya.
Zi Zi pun meronta melepaskan diri dari tempelan tangan Nan Thian di punggungnya.
"Buat apa kakak menyelamatkan ku, bila kakak tidak menghendaki ku lagi.."
"Mengapa tidak biarkan aku mati saja, agar semua nya berakhir.."
"Menjauhlah dari ku..pergi...pergi..pergi..!"
bentak Zi Zi emosi, nafasnya kembali terlihat tidak teratur, wajahnya kembali terlihat pucat.
Melihat hal ini, Nan Thian dengan wajah sedih, tanpa berani beradu tatap dengan Zi Zi.
Dia turun dari ranjang menjauhi Zi Zi, lalu dengan kepala tertunduk dua berjalan keluar dari dalam kamar nya.
Saat berpapasan dengan kedua orangtuanya, Nan Thian berkata pelan,
"Ibu kondisinya sedang labil, bantu aku hibur dia.."
"Ayah bila hawa Yin nya kambuh, gunakan hawa 9 Yang ayah untuk bantu membuatnya stabil.."
"Aku pergi dulu.."
ucap Nan Thian pelan.
Selesai berkata, Nan Thian sudah melesat menghilang dari sana.
Nan Thian langsung terbang masuk ke jurang sebelah barat Yu Ni Feng.
Saat tiba di portal, dia pun membukanya, lalu melesat kedalam portal cahaya.
Beberapa saat kemudian Nan Thian sudah mendarat di depan pondok kediaman Fei Yang.
Nan Thian langsung melangkah masuk kedalam pondok tempat tinggal Fei Yang.
Saat tiba di depan pintu kamar Fei Yang, Nan Thian mengetuk dengan pelan.
"Thian Er masuklah,..pintu tidak di kunci.."
terdengar suara jawaban Fei Yang dari dalam.
Nan Thian pun mendorong pintu kamar hingga terbuka, lalu melangkah masuk kedalam kamar.
"Paman guru,.. Bibi guru.. senior Fei Hsia.."
panggil Nan Thian sambil memberi hormat.
Lalu tanpa banyak bicara, dan tidak perduli dengan tatapan mata ketiga orang itu.
Nan Thian langsung duduk menghadap kearah kaki Xue Lian.
Nan Thian seperti biasanya, dia langsung melakukan penyaluran energi api dan es surgawi ke sepasang kaki Xue Lian.