
Sedangkan pada mayat mayat yang bergelimpangan, setelah di rasuki bayangan merah dari dalam tanah.
Satu persatu mayat itu mulai bangkit dengan tubuh mengeluarkan bunyi tulang berkerotokan.
Mereka pada mengeluarkan suara raungan, lalu bergerak mendekat kearah Fei Yang, dengan kedua tangan terulur kedepan membentuk cakar.
Fei Yang juga tidak tinggal diam, tubuhnya melayang naik ke udara, sehingga mayat mayat hidup itu, hanya bisa mendongak keatas tidak bisa mengejarnya.
Fei Yang merentangkan kedua tangannya kesamping, tubuhnya berputaran semakin lama semakin cepat,.
Dari kedua telapak tangannya muncul jutaan mata pedang merah biru, menyambar kesegala arah.
Mirip tembakan senapan mesin yang tidak ada jedanya,. setiap mata pedang itu saat meluncur kebawah.
Mata mata pedang itu mengincar titik merah di dahi mayat mayat hidup itu.
Begitu terkena serangan Fei Yang yang terkena mata pedang cahaya merah akan meledak hancur menjadi debu.
Sedangkan yang terkena sinar biru pertama akan membeku menjadi patung es kemudian baru meledak hancur berkeping-keping menjadi potongan es kecil kecil.
Tidak butuh waktu lama mayat mayat hidup sudah tidak terlihat lagi.
Melihat jurus pembangkit mayatnya sudah di hancurkan oleh Fei Yang.
Xu Da pun bergerak sendiri melepaskan dua bola raksasa yang mengeluarkan cahaya putih, di sertai kilatan petir mengelilingi cahaya putih tersebut.
Xu Da sendiri menyusul di belakang kedua bola cahaya tersebut, dengan sepasang tapak tangan terbuka yang mengeluarkan cahaya kemerahan.
Semua energi pedang biru merah setelah menghancurkan barisan pasukan mayat hidup.
Mereka otomatis menyatu kembali ketubuh Fei Yang yang sedang melayang di udara.
Dari sepasang telapak tangan Fei Yang yang di katupkan , muncul sebilah pedang berwarna ungu yang di kelilingi oleh diagram kuno yang juga bercahaya ke ungu unguan.
Pedang ungu dan diagram kuno itu melesat kedepan menyambut dua bola cahaya sinar putih.
"Duarrr,..! Duarrr,..!"
terjadi ledakan kuat di udara saat kedua bola cahaya itu meledak di tembus oleh pedang cahaya ungu Fei Yang.
Pedang ungu meledakkan satu persatu dua bola cahaya itu, kemudian terus meluncur kearah Xu Da.
Xu Da yang kaget melihat kedahsyatan pedang ungu Fei Yang, dia membatalkan serangan tapak terbuka nya.
Melayang mundur menghindar, tapi pedang ungu seperti besi mengejar magnet, tidak mau menjauh darinya, terus menerus mengejarnya,
Meski dia sudah menghindar mengelak melompat kesana kemari, sekaligus mencoba menepis pedang itu.
Tetap saja pedang itu akan selalu kembali mengejarnya.
Sebaliknya setiap kali dia menepis pedang itu, tubuhnya akan seperti tersetrum listrik tegangan tinggi, yang perlahan-lahan malah mengurus tenaga saktinya.
Melihat Xu Da selalu berhasil meloloskan diri, Fei Yang membuat diagram kuno memisahkan diri dari pedang ungu.
Berputaran di udara, tepat di atas kepalanya Xu Da, semakin lama semakin besar, lalu cahaya ungu menyinari ke bawah.
Mengelilingi dan menyelimuti seluruh tubuh Xu Da mengunci pergerakan tubuh Xu Da.
Bagaimana Xu Da meraung sekuat tenaga tubuhnya tetap susah digerakkan.
Di saat itulah pedang ungu memecah diri menjadi 108 mata pedang yang berukuran normal.
Ke 108 mata pedang itu bergerak secepat kilat, menembus 108 titik nadi di seluruh tubuh Xu Da dan meledakkan nya.
Tubuh Xu Da kembali normal, saat ke 108 nadinya meledak menyemburkan darah segar.
Xu Da jatuh berlutut tak berdaya sambil menyeringai menahan sakit.
Terjadi perubahan drastis pada wajah dan bentuk tubuh Xu Da.
Xu Da yang tadinya gagah dengan kumis jenggot terpelihara rapi berwana hitam.
Kini seluruh rambut alis hingga jenggot berubah menjadi putih semua, seperti benang perak.
Tubuhnya menyusut kurus kering, seperti tulang di balut kulit.
Fei Yang telah menghancurkan seluruh kekuatan kultivasi yang di latih nya selama 500 tahun.
Wajar saja dia kembali kebentuk aslinya, masih bisa hidup pun sudah hebat, karena roh abadi nya tidak di hancurkan oleh Fei Yang.
",Lan Yi ku serahkan bajingan ini untuk mu,.. terserah pada mu mau di apakan dia.."
ucap Fei Yang sambil menoleh kearah Lan Yi.
"Terimakasih adik Yang,.."
ucap Lan Yi dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran.
Sepasang matanya bercucuran air mata, saat teringat bagaimana si bangsat itu dulu mempermainkan dirinya, dan menghinanya sedemikian rupa.
Semua bayangan yang sudah lama dia buang kini satu persatu muncul kembali di depan wajahnya.
Tubuhnya sampai gemetaran menahan suara Isak tertahan.
Lan Yi melangkah pelan mendekati Xu Da yang berlutut lemas tak berdaya.
Xu Da mengangkat kepalanya menatap kearah Lan Yi dan berkata,
"Ayo tuntaskan dendam mu, jangan ragu ragu.."
"Aku tidak pernah menyesal, setidaknya kamu pernah menyerahkan pertama mu pada ku.."
"Dan melayani ku selama seminggu.."
"Ha,..ha,..ha,..!"
"Hei pecundang kamu cuma terima ampas ku..ha,..ha,..ha,.!"
ucap Xu Da sambil menoleh kearah Li Dan dan menertawainya.
"Tutup mulut mu bangsat,.!!"
teriak Lan Yi gemetaran menahan malu dan emosinya.
Pedangnya yang sudah terangkat tinggi siap di tusukan kearah jantung Xu Da tampak gemetaran.
Li Dan menghela nafas sedih, lalu dia maju menahan tangan Lan Yi yang memegang pedang.
Menariknya turun kembali, lalu membantunya menyimpan kembali pedangnya sambil berkata,
"Jangan dengarkan ucapan nya, dia sedang memancing mu mengakhiri hidupnya yang tidak berguna lagi.."
"Hukuman seperti ini adalah yang terbaik untuk nya, biar dia menikmati sisa karma nya.."
"Membunuhnya hanya akan mengotori tangan dan jiwa mu yang suci.."
"Yang lalu biar lah berlalu, yang paling penting adalah saat ini dan kedepannya.."
"Jangan bersedih lagi, ingat kamu tidak sendiri lagi, saat kamu sedih aku pun akan ikut sedih.."
"Saat kamu gembira aku pun akan turut bahagia.."
ucap Li Dan sambil menatap istrinya dengan mesra.
Lan Yi menyimpan pedang nya, lalu dia maju merangkul memeluk Li Dan, dia menangis terharu tapi bibirnya menyunggingkan senyum bahagia.
Li Dan balas memeluk istrinya dan menciumi pipi istrinya secara bergantian, lalu membimbing Lan Yi menjauhi Xu Da yang meraung Raung dan menangis seperti anak kecil meminta untuk di akhiri hidupnya.
Di tempat lain Yue Feng dan Hong Yi sudah mundur, di gantikan oleh Fei Yang yang sedang bertarung dahsyat melawan Ming Wang.
Langit yang kembali cerah setelah kalahnya Xu Da, kini kembali merah dan gelap bahkan semakin gelap.
Dari tanah yang merekah melayang roh hitam pekat semua tersedot masuk kedalam tubuh Ming Wang.
Lahar panas dari perut bumi menyembur keluar, membentuk pusaran lahar mengelilingi seluruh tubuh Ming Wang.