
Tapi Fei Yang kini bisa menghadapi ke delapan Cakra emas itu dengan tenang.
Karena kini Kim Kim sudah berada di tempat aman, dia hanya perlu menghadapi kepungan 8 Cakra emas dan keempat lhama jubah merah saja.
Tidak perlu lagi berbagi konsentrasi melindungi Kim Kim dari serangan nyasar.
Fei Yang yang terus terkurung, mulai menggunakan tehnik membaca gerakan dasar lawan,. setelah puluhan jurus berlalu.
Fei Yang mulai menemukan kelemahan dari senjata Cakra emas, ke delapan lhama jubah merah itu.
Setelah mengetahui titik lemah senjata Cakra emas yang sangat berbahaya itu.
Fei Yang mulai menyerang titik lemah dari Cakra emas yang mengurungnya.
Satu persatu Cakra emas berhasil Fei Yang jatuhkan, setelah bagian titik lemah yang terletak di bagian tengah lingkaran Cakra emas, berhasil diincar oleh Fei Yang.
Cakra emas itu, kini tertahan berputaran di badan pedang Fei Yang.
Saat ke empat lhama itu menyadari senjata andalan mereka telah di pecahkan rahasia nya oleh Fei Yang.
Semua sudah terlambat, kedelapan Cakra emas itu, kini sudah tertahan di badan pedang Fei Yang.
Empat ada di tubuh pedang es, empat lagi ada ditubuh pedang api.
Fei Yang mengerahkan kekuatan Api dan es semesta nya, hingga level 10 ingin membekukan dan melelehkan ke delapan Cakra emas itu.
Dengan satu hentakan kuat Fei Yang ingin menghancurkan senjata mematikan dan berbahaya itu.
Agar kelak tidak bisa di gunakan untuk berbuat onar lagi.
Tapi Fei Yang terkejut, ternyata senjata itu sangat kuat, dia tidak berhasil menghancurkannya.
Hanya mampu membekukan dan membuatnya terbakar hingga kebiruan, dengan nyala api berkobar kobar di sekeliling lingkaran Cakra itu.
Tapi tetap saja tidak berhasil menghancurkannya.
Akhirnya Fei Yang menghentakkan kedelapan Cakra es dan api itu, untuk menyerang balik keempat lhama jubah merah, yang berdiri pucat menatapnya.
Kedelapan Cakra emas melesat dengan kecepatan bak petir, langsung menghantam kepala keempat orang itu.
Keempat orang lhama jubah merah, tidak sanggup menahan maupun menghindar dari serangan, yang Fei Yang lemparkan kembali kearah mereka.
Kepala keempat orang itu langsung meledak hancur, di hantam oleh Cakra es dan api.
Di di sana hanya tersisa 4 tubuh tanpa kepala yang perlahan-lahan jatuh bertumbangan keatas tanah.
Kim Kim yang melihat hal itu, langsung menjerit ngeri ketakutan, lalu jatuh pingsan terkulai lemas.
Tapi sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, tubuhnya sudah ditahan oleh Fei Yang.
Lalu Fei Yang, menggendong tubuh Kim Kim, sambil terus berjalan menuju desa kumuh tempat tinggal Kim Kim.
Saat melewati kecapi kuno ,bungkusan obat dan makanan yang tergeletak di atas tanah, Fei Yang sekalian menyimpan nya kedalam cincin giok putihnya, baru bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Saat masuk.kedalam desa itu, Fei Yang mulai bingung, dan baru sadar ternyata dia belum tahu di mana letak rumah Kim Kim.
Fei Yang terpaksa berjalan menuju tengah desa, saat melihat ada sekelompok pemuda, yang terlihat sedang berjaga malam, sambil mengelilingi api unggun.
Fei Yang pun menghampiri mereka dan berkata,
"Selamat malam,.. maaf mengganggu.."
"Saya ingin bertanya di mana letak rumah nona Kim ini tinggal..?"
Beberapa pemuda itu langsung bangkit berdiri, menatap Fei Yang dengan penuh rasa curiga.
"Apa yang terjadi dengan Kim Kim, mengapa dia ada dalam keadaan pingsan dalam pondongan mu ?"
tanya salah seorang pemuda, terlihat cemas.
Fei Yang yang melihat tatapan cemas dari pemuda itu, dia yakin pemuda itu pasti mengenal Kim Kim.
Sehingga dia pun berkata, sambil menatap pemuda itu.
"Nama ku Fei Yang, Kim Kim pingsan karena ketakutan di hadang oleh lima lhama jubah merah di mulut desa."
"Tolong bantu tunjukkan rumah Kim Kim, aku nanti yang akan membantu menyadarkan Kim Kim.."
"Bila Kim Kim sudah sadar kembali, semua akan jadi lebih jelas.."
Pria itu pun mengangguk, lalu dia pun bergerak mengantar Fei Yang menuju rumah Kim Kim,
Sedangkan beberapa pemuda lainnya mengikuti Fei Yang dari belakang.
Di tengah jalan salah satu pemuda yang mengikuti Fei Yang dari belakang, berpencar lari memisahkan diri.
Dia pergi melaporkan hal ini, ke rumah kepala desa yang memimpin desa ini.
Apalagi menurut cerita awal Fei Yang, masalah Kim Kim dan Fei Yang berhubungan dengan lhama jubah merah yang sangat di takuti oleh seluruh masyarakat Tibet.
Karena saat ini di Tibet sendiri, terutama di kota Lhasa, sebagai pusat aliran Budha di tibet.
Kini terbagi menjadi dua aliran,
Aliran pertama adalah aliran kuil halilintar, yang di diami oleh lhama jubah kuning yang konvensional.
Mereka lebih memilih menjalankan aturan sila yang di ajarkan oleh sang Buddha, yang mereka anggap guru agung.
Dalam hal ini mereka memilih berfokus mengendalikan hawa nafsu diri masing masing, dan mengajarkan kesemua orang, agar mengutamakan kebajikan sesuai ajaran aturan sila dari sang Buddha.
Mereka cenderung menutup diri dari hal hal duniawi, terutama turut campur dalam masalah politik dan keduniawian.
Aliran kedua adalah aliran baru atau modern, yang cenderung bertentangan dengan aliran konvensional.
Aliran baru ini berpusat di kuil Nirwana yang di diami oleh lhama jubah merah.
Bagi aliran ini menjalankan sila aturan sang Buddha dan pengendalian diri tidak penting.
Yang paling penting adalah rajin menyembah sang Buddha, rajin berdoa, memohon pengampunan dan pencucian dosa, meminta rejeki, meminta berkat.
Semua penganutnya harus percaya penuh kepada ucapan dan perintah dari pimpinan tertinggi aliran tersebut, yang katanya adalah titisan atau reinkarnasi sang Buddha sendiri.
Mereka juga tidak di haruskan menjauhi hal hal duniawi.
Penampilan dengan jubah merah dan kepala di digunduli merupakan kewajiban para pemuka agama nya, yang bila diikuti oleh umat nya itu akan lebih baik, bisa menjamin mereka masuk surga.
Mereka tidak akan segan segan membunuh dan menyiksa siapa pun, yang berani mencibir ataupun mengkritik aliran, dan tingkah laku perbuatan mereka.
Mereka juga turut aktif berpolitik di dalam istana kerajaan Tibet, salah satu pimpinan utama mereka, menjabat sebagai Guru negara di kerajaan Xi Xia
Sehingga mereka sangat dekat dengan pihak kerajaan dan mendapatkan dukungan penuh dari kerajaan Xi Xia
Meski kehadiran mereka sangat meresahkan masyarakat, terutama yang tidak sejalan dan tidak sealiran dengan mereka.
Tapi tidak pernah ada yang berani menantang mereka, baik secara terang terangan, maupun secara diam-diam.
Selain orang orang takut dengan pihak kerajaan, yang menjadi pendukung mereka.
Orang orang lebih takut lagi dengan para lhama jubah merah, yang rata-rata memiliki kesaktian tinggi diluar nalar manusia.
Karena hal inilah makanya, salah satu pemuda buru buru pergi melaporkan kejadian di depan desa tadi ke kepala desa.