
Dari cerita tersebut mengertilah Fei Yang tujuan dari Zhao Kuang Yi yang sebenarnya.
Rupanya yang dia incar adalah harta Karun itu, pantas saja dia begitu banyak membuang pikiran merancang siasat, hingga tidak ragu mengorbankan nyawa putra putrinya.
batin Fei Yang dalam hati.
Fei Yang menatap kedua gadis itu secara bergantian dan berkata,
"Apa sampai saat ini, lokasi harta Karun itu belum juga di temukan..?"
Kedua gadis itu menghela nafas panjang dan berkata,
"Di jaman kakek buyut ku, yaitu kakek dari ayah ku, kerajaan kami pernah di serang oleh kerajaan besar, yang datang melintasi laut selatan."
"Pasukan dan pimpinan pasukan itu sangat kuat, armada pasukan gabungan kedua pasukan kerajaan kami bukan lawannya.."
"Saat itu karena kakek buyut kami, takut peta harta Karun itu jatuh ketangan musuh."
"Jadi peta harta Karun itu mereka bawa untuk di simpan di Hutan Misteri Perut' Bumi."
"Tapi sialnya mereka bisa masuk tidak bisa keluar lagi, sejak saat itu peta harta Karun lenyap bersama mereka.."
"Peta yang ada di tangan ayah kami hanya peta menuju hutan Misteri Perut Bumi, bukan peta asli harta Karun itu."
ucap Sheva menyelesaikan ceritanya.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Terimakasih kalian berdua telah begitu percaya pada ku, hingga menceritakan semua rahasia leluhur kalian yang penuh misteri itu kepada ku.."
"Tapi aku sedikit penasaran dengan kerajaan yang menyeberangi laut selatan itu, apa kelanjutannya setelah mereka mengalahkan pasukan buyut kalian..?"
"Mereka ikut mengejar buyut kami kedalam hutan, sama seperti buyut kami mereka semua bisa masuk tidak pernah bisa keluar lagi dari sana.."
ucap Sheva menjelaskan.
Fei Yang mengangguk paham dan berkata,
"Sungguh hutan yang berbahaya penuh misteri dan mengundang rasa penasaran.."
"Tuan tertarik untuk mencobanya, kalau tuan tertarik boleh temui ayah kami.."
"Siapa tahu ayah kami bersedia memberikan peta lokasi menuju ke hutan tersebut.."
ucap Putri Bian penuh semangat.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Bertemu ayah kalian tentu bukan masalah, semakin banyak teman kan semakin baik.."
"Tapi mengenai rahasia keluarga kalian, adalah sangat tidak sopan, sebagai orang luar ingin ikut campur.."
"Tidak aku pribadi juga tidak tertarik dengan harta Karun.."
"Jadi lebih baik lupakan saja.."
"Ohh ya, kalian berdua lapar tidak ? bila lapar di sini ada ransum kering dan minuman kalian boleh gunakan untuk mengganjal perut.."
"Nanti di Xiang Yang kita baru cari restoran dan penginapan bagus untuk istirahat dan makan dengan puas."
ucap Fei Yang sambil meletakkan sebungkus daging sapi asap, beberapa mantou, dan sebuah tempat air minum.
"Terimakasih tuan kami tidak sungkan lagi.."
ucap Sheva dan Bian sambil tersenyum.
"Silahkan aja,..gak perlu sungkan,"
"Nama ku Fei Yang, terserah kalian mau panggil apa, asal jangan panggil tuan kurang enak di dengar.."
ucap Fei Yang tanpa menoleh .
"Kalau begitu kami panggil kakak Yang saja,.."
ucap Putri Bian gembira.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Itu lebih baik.."
Tepat awal Minggu keempat, Fei Yang membawa putri Sheva dan Putri Bian mendarat ringan di tepi tebing sesuai janjinya.
Kedatangan Fei Yang langsung di sambut oleh Shanti Dewi ketiga tetua dan pangeran Zhao Heng dan pangeran Duan Zhen Ming.
Fei Yang sedikit heran saat tidak melihat keberadaan si putri cerewet.
Shinta Dewi menatap kearah Fei Yang dengan tatapan tidak enak hati dan sedikit takut takut.
Dia dan seluruh pasukannya tidak akan lolos dari malapetaka dan Fei Yang memiliki kemampuan untuk itu.
Dari awal dia tidak melakukan sesuatu pada mereka bukan berarti dia tidak mampu.
Melainkan dia tidak ingin sembarangan membunuh, sebelum tahu duduk persolan dengan jelas.
Kini dengan kejadian seperti ini, apapun alasannya kesalahan ada di pihak mereka.
Mereka tidak bisa pegang janji dengan benar, jadi bila Fei Yang menuntut, mereka tetap harus bertanggung jawab.
Fei Yang meski heran tapi dia tidak mencegah Putri Sheva dan Putri Bian dengan gembira berlari maju memeluk Shanti Dewi.
Fei Yang menoleh kearah Zhao Heng dan berkata,
"Kakak Zhao,.. di mana Wen Wen, kenapa aku tidak melihat nya.."
Zhao Heng dengan wajah lesu dan sedih berkata,
"3 hari setelah kepergian mu di sini telah terjadi masalah besar.."
"Apa itu ?"
tanya Fei Yang sambil mengerutkan alisnya, dia merasa seperti ada sesuatu yang besar telah terjadi, pada gadis nakal dan cerewet itu.
Zhao Heng menghela nafas panjang dan tertunduk sedih dengan mata berkaca-kaca sulit berkata kata.
Melihat hal ini ketiga tetua yang maju dan bercerita.
"Tiga hari setelah tuan pendekar pergi, tiba-tiba sekumpulan kera emas datang menyerang perkemahan dengan ganas.."
"Kami yang sedang tidak siap tidak mampu menahannya, ketika kami sedang sibuk menghadapi serangan mendadak yang kacau balau itu."
"Putri Wei Wen digondol pergi oleh seekor monyet berbulu emas berukuran paling besar.
"Mungkin monyet emas itu adalah pimpinan dari pasukan monyet yang datang menyerang."
"Setelah dia membawa pergi Putri Wei Wen, monyet monyet itu pun mundur dan menghilang kedalam hutan.."
ucap ketiga tetua itu bercerita secara bergantian dengan agak takut takut.
"Kalian tidak kurang dari 500,000 orang, bisa kehilangan seorang tawanan melawan sekumpulan monyet liar.."
"Kalian jangan bercanda dengan ku !?"
bentak Fei Yang sedikit emosi.
Meski Wei Wen sering membuat dirinya kesal, tapi hubungan mereka sebenarnya sangat dekat.
Kehilangan Wei Wen dengan cara seperti ini, apalagi sudah berlalu sekian lama, ini bukan hal baik yang bisa di anggap sepele.
"Maaf tuan pendekar, sesuai perjanjian damai gencatan senjata."
"Kami sudah menarik mundur seluruh pasukan utama kami,"
"Kami hanya menyisakan 3000 personil yang kami tugaskan buat berjaga jaga saja.."
ucap Shanti Dewi maju mencoba membela 3 tetuanya.
Fei Yang menatap kearah Shanti Dewi dengan sedikit emosi dan berkata,
"Lalu semenjak Wei Wen hilang hingga hari ini tidak kurang dari 18 hari apa yang kalian sudah lakukan..?"
Karena tersulut emosi hawa panas dan dingin yang terpancar dari tubuh Fei Yang menjadi tak terkendali.
Hal ini membuat orang orang pada mundur teratur menjauhinya.
Putri Sheva Putri Bian dan putri Shanti Dewi sedikit kaget dengan reaksi Fei Yang.
Selama ini mereka melihat Fei Yang sebagai sosok yang tenang ramah suka bercanda jarang emosi.
Tapi saat melihat Fei Yang emosi, mereka menjadi takut dan ngeri.
"Kakak Yang tahan dulu emosi mu, aku yakin adik Shanti dan semua pihak kami tidak mungkin tinggal diam.."
"Coba beri mereka kesempatan untuk menjelaskan semuanya.."
ucap Putri Sheva mencoba menenangkan Fei Yang.
Fei Yang menghela nafas, lalu menenangkan diri dan menarik kembali kekuatan es dan api nya.
"Kami sudah selidiki monyet emas itu berasal dari Hutan larangan, Hutan Misteri Perut Bumi.."
ucap Shanti Dewi takut takut.